Arumi sangat kesal dengan kedua orangtuanya. Di umurnya yang belum genap 23 tahun sudah di nikahkan dengan laki-laki yang tidak dia sukai. Meski laki-laki yang menjadi suaminya itu sudah ia kenal. Tapi tetap saja ia membenci Akbar. Bahkan di belakang Akbar, Arumi menjalin kasih dengan laki-laki lain yaitu salah satu cowok terpopuler di kampusnya.
Apakah Akbar akan mengetahui kelakuan Arumi?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Arkya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Niat selingkuh
"Gila, habis dari mana kemarin? Aku telpon berkali-kali tapi nggak aktif. Kamu tahu, kemarin Kak Akbar menjemputmu tapi kamunya malah ngilang. Pergi ke mana sih, kamu?"
Rindi mencecar Arumi dengan banyak pertanyaan begitu gadis itu melihat Arumi di ruang kelas yang masih sepi. Hanya ada tiga mahasiswi yang jarak duduknya cukup jauh karena Arumi lebih memilih duduk di pojok kiri belakang.
"Pergi ke mall." Jawab Arumi. Ia sudah menebak sebelumnya, pasti sahabatnya ini akan mencecarnya jika mereka bertemu. Ia sengaja berangkat pagi-pagi sekali di saat kampus masih sepi.
"Sama siapa?" Tanya Rindi lagi sambil menarik kursi yang ada di depan Arumi.
Arumi tersenyum dengan menangkup kedua pipinya dan hal itu membuat Rindi menjadi curiga.
"Ngapain kamu senyam-senyum nggak jelas gitu?" Rindi jadi bergidik melihat sahabatnya itu pagi-pagi seperti orang tidak waras saja.
Senyum Arumi masih belum juga surut.
"Kamu tahu, aku pergi dengan siapa kemarin?" Tanya Arumi balik dan mencondongkan tubuhnya ke depan.
Rindi memutar jengah kedua bola matanya. "Ya mana aku tahu, Rum! Jangan pake teka-teki deh. To the poin aja." Sewot Rindi.
"Damar, kemarin Damar ngajak aku pergi ke mall. Terus kita juga nonton di bioskop. Ah.. dia so sweet banget pokoknya." Arumi tidak bisa menahan rasa bahagianya saat ini. Jika mengingat momen di bioskop, hatinya menjadi berbunga-bunga.
"WHAT!!" Pekik Rindi setengah tidak percaya. "Kamu pergi dengan Damar! Kalian kencan gitu?"
"Sstt.. jangan keras-keras, Rin!" Tegur Arumi. "Lihat, mereka lihatin kita tuh." Arumi menunjuk pada tiga gadis yang kini menatap ke arahnya.
Ketiga gadis tersebut lalu saling berbisik satu sama lain, mereka saling bertanya-tanya. Siapakah Damar yang di sebut Rindi tadi, apakah Damar cowok populer dari fakultas teknik? Jika iya, beruntung sekali Arumi.
Rindi mengibas tangan. "Masa bodo dengan mereka. Ini serius, kamu dan Damar kencan?" Rindi mengulang kembali pertanyaannya.
"Nggak juga sih, karena kemarin itu dia minta bantuanku buat nyari kado. Karena bentar lagi adiknya mau ulang tahun." Jawab Arumi.
"Terus kenapa ponselmu kamu matikan, Arumi!!" Gereget Rindi. "Bikin orang khawatir aja."
"Memang sengaja aku matikan karena aku nggak mau di ganggu. Kapan lagi coba bisa jalan sama Damar." Arumi tersenyum lebar saat mengatakan itu.
Rindi menghembus napas kasar, sahabatnya ini sepertinya sudah hilang akal. Tidak merasa bersalah sama sekali sudah membuat banyak orang cemas.
"Terus, kamu pulang jam berapa?"
"Jam enam."
"Haaah!" Rindi membelalak. "Selama itu? Dari jam dua kamu pergi, dan jam enam kamu baru pulang!" Seru Rindi.
"Iya, kenapa sih kamu, kayak nggak senang gitu?" Kening Arumi berkerut melihat ekspresi Rindi.
"Rum, kamu sadar nggak sih. Kamu itu udah ada yang punya. Nggak baik pergi sama cowok lain. Hormati Kak Akbar. Jangan selalu kamu abaikan." Suara Rindi tajam, tapi terselip sebuah nasehat.
Arumi menghela napas berat. Dia menunduk ketika Rindi menatap wajahnya lekat.
"Rin.. harus berapa kali aku bilang. Aku nggak pernah menerima semua ini. Aku tersiksa Rin.. aku tersiksa." Jawab Arumi pelan. Nyaris pelan.
"Aku ngerti. Tapi jangan selingkuh kamu jadikan sebagai jalan pintasnya." Sahut Rindi pelan juga.
"Nggak papa, lagian aku dan Damar saling suka. Aku juga ngasih tahu Damar kalo aku ini sama sekali nggak punya tunangan. Perkataan Akbar waktu itu hanya kebohongan semata."
"Dan Damar percaya sama omongan kamu?"
"Iya."
Tiba-tiba mata Rindi menyalang tidak suka. "Memang Damar udah nembak kamu?" Tanyanya ketus.
"Belum, tapi aku yakin. Bentar lagi Damar akan melakukannya." Arumi percaya itu.
"Mati dong kamu." Sindir Rindi dengan sinis.
Arumi bukannya tersinggung justru tertawa kecil. "Mati karena aku udah terjerat sama pesona seorang Damar." Arumi sok puitis.
Rindi sampai tidak bisa berkata-kata lagi. Hati dan pikiran Arumi sudah terkontaminasi virus jelek sepertinya.
"Kamu pulang jam segitu Kak Akbar nggak marah?"
"Marah banget, aku sampai di bentak." Jawab Arumi.
"Bagus itu, kamu memang perlu diberi pelajaran." Kata Rindi senang.
"Rin!"
"Coba kamu pikir, mana ada suami yang nggak khawatir. Lima jam kamu pergi, udah gitu ponsel dimatikan lagi. Kalau aku jadi Kak Akbar, aku kurung kamu seharian di kamar." Cerocos Rindi.
"Akbar nggak akan berani. Semalam aja dia kelihatan marah dan garang, tapi pagi tadi dia malah minta maaf sama aku." Arumi tersenyum jumawa.
"Kenapa Kak Akbar yang harus minta maaf?" Sahut Rindi cepat. Kesal juga ia lama-lama jika Akbar selembek itu. Tidak bisa bersikap tegas sama Arumi.
"Mungkin dia takut aku tinggal kali." Jawab Arumi santai, membuat Rindi menjadi gerah.
.
.
.
Bersambung.