"Apa yang terjadi dengan kamu dan cucuku adalah hal yang tidak bisa dianggap sepele. Kalian berdua harus segera menikah."
"Tapi, Nek. aku tidak mau menikah dengan cucu nenek yang playboy itu."
"Bagaimana jika kamu hamil anak dari cucuku karena kejadian malam itu?"
Lana tidak bisa berkata apa-apa. Kejadian satu malam yang terjadi antara dirinya dan Noah membuat dua orang yang saling membenci itu harus hidup dalam satu ikatan pernikahan.
Lana yang sangat membenci Noah karena sepak terjang Noah yang seorang playboy selama ini. Pun dengan Noah yang menganggap Lana bukan gadis yang benar karena pernah melihat Lana menerima uang dari pria paruh baya.
Pernikahan yang seharusnya adalah hal yang bahagia bagi pasangan kekasih, tapi tidak bagi mereka.
Bagaimana mereka akan menjalaninya? Dan apakah mereka akan menemukan arti sesungguhnya dari suatu hal yang sakral, yaitu pernikahan?
Selamat membaca dan semoga jatuh cinta sama ceritaku.
IG : rinitri_87
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rey, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Acara Syukuran Part 1
"Noah, kamu keluar dulu!" Tangan Lana seolah sedang mengusir agar Noah keluar dari kamar ganti.
"Aku mau ganti baju, Lana." Noah malah berjalan dengan santai menuju lemari bajunya.
"Nanti dulu, Noah! Ganti sama aku!" Lana sudah bingung saja melihat Noah.
"Tidak mau! Aku takut terlambat, lagipula aku bisa kedinginan. Kalau aku masuk angin bagaimana?" tanya Noah santai.
Noah malah dengan santai membuka lemari bajunya.
"Noah, kamu jangan mencari alasan! Aku mohon kamu keluar dulu dari sini!" Lana memohon pada suaminya.
Noah malah melihat pada Lana. "Memangnya kenapa kalau kita berganti baju bersama? Kita ini sudah menikah."
"Tidak mau! Pergi, Noah!" usir Lana marah.
Lana melihat sekitarnya dan dia mengambil sepatu yang tepat berada di sampingnya. Lana dengan marahnya melempar sepatu itu pada Noah.
"Eh, Lana! Itu sepatuku! Jangan dilempar seperti itu! Sepatuku mahal, Lana." Noah mencoba menghindar dari lemparan sepatu Lana.
"Aku tidak peduli! Pokoknya kamu keluar dari sini!" Lana berteriak dengan marah.
"Iya-iya! Aku akan keluar, tapi aku mau mengambil bajuku dulu." Noah kembali memilih baju apa yang dia akan pakai. Kedua matanya sesekali melirik ke arah Lana yang masih duduk berjongkok di sana.
"Cepat, Noah!" Lana tidak sabar agar Noah segera pergi dari sana.
"Iya, sebentar!" Noah sengaja berpura-pura berpikir baju apa yang akan dia pakai karena dia senang melihat penampilan Lana pagi ini.
Otak Noah perlu dibersihkan sepertinya. Eh, tapi Lana itu istrinya, jadi tidak masalah sebenarnya.
"Cepat, Noah, aku kedinginan!" seru Lana sekali lagi.
Noah yang akhirnya kasihan mengambil kemeja warna putih dan celana berwarna coklat dengan bahan katun twill.
Dia berjalan menuju pintu ruangan ganti dan saat sampai di ambang pintu Noah melepaskan handuk yang mandi yang menutupi bagian bawahnya.
Lana yang melihat hal itu seketika memejamkan kedua matanya. "Noah!" geram Lana melihat tingkah Noah.
"Rasakan! Pagi-pagi aku sudah dibuat berdiri." Noah segera berlari menuju kamar mandi sekali lagi.
Lana yang berada di ruang ganti terlihat sangat kesal. Dia mengomel sendiri. Lana berharap dia segera keluar dari rumah ini dan hidup normal seperti biasanya, walaupun ada satu hal dalam hidupnya yang tidak akan mungkin bisa kembali.
Selesai berganti baju. Lana langsung turun ke bawah dan salah satu maid mengantar Lana ke ruang makan karena nenek Key sudah menunggu di sana.
"Selamat pagi, Nek," sapa Lana sopan.
"Selamat pagi, Cucu Menantuku. Lana, Noah mana? Apa dia belum bangun?" Nenek Key tidak melihat suami Lana.
"Hai, Nek!" Noah dengan lembut mengecup pipi Neneknya.
Kedua alis nenek Key mengkerut melihat Noah yang malah sudah duduk di kursinya. "Noah, kamu itu sudah punya istri, alangkah baiknya kamu juga mengecup kening istrimu juga setelah menyapa Nenek. Mendiang papamu juga sering melakukan hal itu karena bisa membuat rumah tangga lebih harmonis," terang nenek Key.
Noah dan Lana seketika saling melihat dengan wajah aneh. Lana pun langsung memberi isyarat pada Noah kalau Noah jangan sampai melakukan hal itu.
"Papa melakukan hal itu karena dia sangat mencintai mama. Beda denganku dan Lana, Nek," jawab Noah santai.
Nenek hanya bisa terdiam mendengar jawaban jujur cucunya.
"Nyonya, saya mau melaporkan jika acara untuk besok lusa sudah selesai seratus persen, bahkan gaun untuk Nyonya Muda Lana juga sudah siap."
"Terima kasih, Arya," kata Nenek sopan.
Noah melihat heran pada Neneknya. "Acara apa, Nek? Apa Nenek mau membuat sebuah pesta? Tumben sekali."
"Nenek akan membuat pesta sederhana sebagai bentuk rasa syukur atas pernikahan kamu dan Lana. Acara itu akan diadakah di gedung di mana Mama dan Papa kamu dulu menikah."
"Apa?" Noah sontak saja kaget.
Lana yang juga terkejut sampai terbatuk, dia langsung mengambil gelas airnya.
"Nenek kenapa malah membuat acara itu? Bukannya aku dan Lana tidak mau ada yang tau tentang pernikahan ini." Noah melihat heran pada neneknya.
"Kamu tenang saja karena nenek sudah mengatur semuanya. Teman kamu semua akan nenek undang nantinya. Lana pun nanti akan hadir sebagai tamu undangan. Tidak akan ada yang mengetahui jika acara itu untuk kalian berdua." Nenek Key tersenyum manis dan mereka diminta melanjutkan makan paginya.
Noah seperti biasa berangkat dengan Lana dan dia mengantar Lana ke rumah Sasa.
***
Sampai di kampus, Lana langsung berlari terburu-buru menuju ke toilet karena dia kebelet buang air kecil.
"Aduh, lega sekali." Lana merapikan bajunya dan berjalan ingin kembali ke kelas, tapi langkahnya terhenti saat dia mendengar suara seseorang menangis.
"Noah, aku sangat mencintaimu, jangan putuskan hubungan kita ini. Katakan saja apa yang kamu mau? Aku akan melakukannya asal kamu jangan tinggalkan aku," mohonnya Tania.
Noah menatap datar gadis di depannya itu. "Apa benar kamu mau melakukan apapun yang aku mau?" tanya Noah balik.
"Tentu saja, apa saja yang kamu mau, aku akan lakukan." Mata Tania berkaca-kaca.
"Baiklah! Buka semua bajumu dan perlihatkan tubuhmu padaku," ucap Noah tegas.
Mulut Lana seketika mangap mendengar apa yang Noah katakan. Lana ternyata belum pergi dari sana.
"Keterlaluan!" Lana keluar dari persembunyian dan berjalan mendekati dua orang itu. "Dasar brengsek!"
Plak!
Sebuah tamparan keras tepat di pipi Noah. "Bisa-bisanya kamu memanfaatkan perasaan cinta Tania sama kamu seperti itu!"
Noah hanya terdiam mendengar kemarahan Lana.
"Lana, kamu pergi saja dari sini! Kamu jangan ikut campur dengan urusanku sama Noah!" bentak Tania marah.
Lana tidak percaya jika dia yang ingin membela Tania, malah yang dibela tidak mau.
"Tania, kamu jangan bodoh! Noah itu tidak mencintaimu, dia hanya mempermainkan kamu," ujar Lana ingin menyadarkan Tania.
"Aku mencintai Noah dan kamu tidak perlu ikut campur. Pergi!" usir Tania sekali lagi.
Tania malah mendorong dengan kasar sampai tubuh Lana menabrak tembok dan ternyata ada paku di sana, sampai lengan Lana pun tergores.
"Aduh!" Lana melihat lengannya mengeluarkan darah.
"Aku sudah bilang jangan ikut campur! Noah, aku akan melakukannya untukmu." Tania mulai membuka kancing kemejanya dari atas.
Noah hanya menggelengkan kepalanya. "Tania!" Lana tampak terkejut Tania mau melakukan hal itu.
Tangan Noah seketika menghentikannya. "Kamu jangan menjadi gadis yang bodoh, yang dengan gampangnya mau melakukan apapun untuk lelaki yang belum tentu mencintaimu dengan tulus. Aku minta maaf karena aku sama sekali tidak pernah mencintaimu, aku menerimamu waktu itu hanya karena kasihan kamu sudah menyatakan cinta sama aku."
Noah berjalan pergi dari sana. Lana tampak terdiam melihat hal itu, sedangkan Tania malah kembali menangis di tempatnya.
"Tania, aku tidak tau perasaanmu saat ini, tapi memang lebih baik kamu melupakan Noah karena dia tidak pantas kamu cintai seperti itu."
Lana pun berjalan pergi dari sana. Dia mau mengobati luka di tangannya dan kembali ke kelasnya.
"Lana!" seru suara seseorang tiba-tiba di sana.
"Eh ...!" Lana kaget tiba-tiba tangannya ditarik oleh seseorang saat akan berjalan menuju kelasnya.
Lana terdiam melihat siapa yang sedang menguncinya di tembok dan juga membungkam mulutnya.
Kedua mata itu saling memandang datar. "Ikut denganku sebentar," ucap Noah karena Noah mendengar ada yang berjalan menuju ke arah mereka.