NovelToon NovelToon
Benih Yang Kau Tinggalkan

Benih Yang Kau Tinggalkan

Status: tamat
Genre:Anak Genius / Anak Kembar / Kehidupan Manis Setelah Patah Hati / Romansa / Tamat
Popularitas:66.1k
Nilai: 5
Nama Author: Fidia K.R

Mengidap Endometriosis, bagai vonis mimpi buruk bagi wanita mana pun hingga terpaksa melakukan operasi dan proses bayi tabung, namun perceraian justru harus terjadi.

Berjuang sebagai orang tua tunggal dengan kehadiran kedua buah hati yang terlahir fraternal, membuat hari-hari Irene tidak terduga hingga pertemuan tak terduga kembali terjadi dengan Hendrik, menyisakan pertanyaan yang tanpa diketahui ada bahaya mengancam di saat kebenaran mulai terungkap.

Di saat pertemuan dan genggaman tangan itu menarikmu, apa kau akan berbalik untuk bersama atau justru meninggalkan kembali?

Ikuti kisah Irene & Hendrik selanjutnya, tak lupa Xander & Xavia yang menggemaskan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fidia K.R, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Cinta dan Benci 4

Andai ia mengetahui rasa sayang yang masih tersimpan, mungkin ia pun tidak menyangka mengapa diri ini masih bertahan berdiri menunggunya. Tidak perduli berapa banyaknya waktu yang diperlukan, jika hanya ingin agar dia kembali ke pelukan, semua dengan senang hati akan dilakukan.

Kepercayaan akan ketulusan pada cinta sempurna yang akan tiba. Berjanji tidak akan menghilang, kenangan pun tertinggal hingga tak tersisa lagi ruang hampa atau sisa rasa yang tertinggal di dada. Berharap dengan kesungguhan hati, tak ada salahnya menunggu kesempatan yang akan datang.

“Ren ... Irene! Apa kau bisa mendengarku?!” ucap Giselle sembari menepuk pelan wajah Irene yang terlihat semu kemerahan akibat pengaruh minuman alkohol.

“Berapa banyak tadi yang dia minum?” Hendrik menopang Irene, agar lebih leluasa baginya untuk bersandar dan berdiri tegap meski keseimbangannya hampir hilan sepenuhnya.

“Aku tidak tahu, tapi Luke memberikan 3 gelas penuh whiskey di saat mereka menyambut CEO Linfron,” balas Giselle seraya menjelaskan dengan penuh khawatir.

Bukan hanya Hendrik, tapi Giselle dan Bastian pun tahu kadar minuman atau jenia minuman dengan kandungan alkohol seperti apa yang bisa membuat irene sampai mabuk dan bagai berada di awang-awang, dengan singultus (cegukan) yang tak kunjung usai.

Selesai kepergian Luke meninggalkan acara begitu saja bersama CEO Linfron bersamanya, Bastian segera memesan sebuah kamar hotel yang akan digunakan Hendrik dan juga Irene untuk berganti pakaian, mengingat anggur merah pekat membasuh hingga lapisan kulit rambut dan pakaian yang dikenakan mereka, dengan noda bekas yang sulit dihilangkan.

Namun tidak menyadari kesadaran diri Irene yang semakin waktu semakin terbawa pengaruh alkohol, Kejadian tak terduga lainnya terjadi tak kala kaki yang menggunakan sepasang high heels itu berlari cepat secara tiba-tiba menuju lobby utama pintu keluar hotel.

Tentu bagi Hendrik, Bastian, dan juga Giselle tidak ada pilihan selain mengejar Irene yang tengah berlari menuju jalan raya di tengah ramainya ibu kota meski hampir memasuki waktu tengah malam. Tidak menghiraukan suara knalpot mobil yang menggerung atau klakson mobil yang membentaknya, Irene justru terlihat bahagia tertawa lepas berlari melintasi jalan.

“IRENE! KAU SUDAH GILA YA!” sentak Giselle yang sudah lagi tidak dapat menyembunyikan rasa kesalnya pada Irene yang masih terlihat terbawa pengaruh alkohol.

“Giselleee ... (HIKS) ... Kenapa kau membentakku? Kau bilang, (HIKS) ... Akan mendukungku,” lirih Irene dengan menunjukkan jarinya, berjalan memutari sambungan pipa air dipinggir jalan (fire hydrant), dengan terhuyung-huyung.

“Dia masih saja seperti ini,” Hendrik melepas dasi dan melonggarkan kancing kemeja yang dikenakannya seraya hanya agar lebih leluasa bergerak. Berjalan ke arah Irene, Hendrik menarik Irene dalam dekapannya agar terhindar dari hal yang tidak diinginkan.

“(HIKS) Apa ini CEO perusahaan Etheral yang terkenal duda tampan itu? (HIKS) ... Kemari, kemari, aku bisikkan sesuatu ... (HIKS)” Irene menekan-nekan pipi Hendrik dengan telunjuknya, lalu dengan polosnya menarik telinga Hendrik dihadapan Bastian dan Giselle hingga terkejut melihatnya.

“Pria hebat itu adalah pewaris keluarga Kessler ... (HIKS) dia ... adalah mantan suamiku yang ... (HIKS) masih kucintai sampai saat ini, tapi ... (HIKS) aku tidak boleh kembali bersamanya,” Irene mendorong tubuh Hendrik dan kembali berjalan dengan terhuyung-huyung, sepanjang jalan bersenandung.

“Apa tidak bisa kau menggendongnya saja lalu bawa ke hotel?! Tingkah lakunya semakin aneh,” ucap Bastian yang mulai terlihat kesal.

“Kau ... tidak dengar yang dikatakannya?” tanya Hendrik begitu tertegun menatap lurus pada Irene.

“Apa? Memang apa yang dikatakan Irene?” balas Bastian seraya mengerutkan kedua alisnya.

“Dia bilang masih mencintaiku ... Irene masih mencintaiku,” senyum bangga Hendrik pun melengkung, begitu terlihat bahagia bagai anak kecil.

“Please ... come on Hendrik, are you crazy?!” sentil Bastian dengan langsung berlari menolong Giselle, terlihat begitu kesusahan melarang Irene yang meminta memanjat pohon di tepi jalan.

Membiarkan Hendrik sementara waktu menikmati imajinasinya, Bastian dan Giselle dibuat kesulitan akan sikap Irene yang benar-benar berubah layaknya Xander atau Xavia. Berlari dengan sangat kencang kembali, Irene seketika menghentikan langkahnya pada sebuah tempat ibadah yang masih terbuka dengan pemuka agama yang terlihat sedang membersihkan pekarangan.

Irene berlari masuk tanpa malu dan dengan masih terbawa pengaruh alkohol berdiri di depannya, lalu tanpa sadar membungkuk dihadapan pemuka agama tersebut yang terlihat kebingungan. Menunggu beberapa detik hingga semua kembali berkumpul, Irene pun meminta sesuatu yang tidak masuk akal pada pemuka agama tersebut.

“Kumohon ... bisakah kau menikahkanku dengan pria bernama Hendrik Kessler?” (HIKS)

“Aa-apa? Me-menikah de-dengan?” balas pemuka agama tersebut dengan terbata-bata.

“Pria itu! Dia adalah mantan suamiku ... (HIKS) aku ingin sekali rujuk dengannya, tapi ... (HIKS) tidak berani berbicara dihadapannya,” Irene kembali berdiri tegap, meski masih terhuyung-hunyung, dengan jelas ia menunjukkan jarinya ke arah Hendrik.

“Kau ... Hendrik Kessler?” tanya pemuka agama tersebut sembari tersenyum malu.

“Benar, apa anda bisa menikahkan kami? Malam ini dan saat ini juga?” balas Hendrik dengan tegasnya, tanpa keraguan sedikit pun.

Gempa bumi, halilintar, atau bencana alam lainnya mungkin masih dapat dihindari seraya untuk menyelamatkan diri. Namun bagi Bastian dan Giselle saat ini, merasa benar-benar merasa kehilangan muka dengan tidak habis pikir melihat kelakuan Hendrik dan Irene yang terlihat konyol.

Namun bagi pemuka agama tersebut, dengan semua pengalamannya dalam menikahkan sepasang insan tentunya dapat dengan mudah melihat, membaca, keadaan dan tahu mana yang bersungguh-sungguh atau sekedar memaksakan diri.

Menaruh sapu ditangannya dan berbalik untuk membuka pintu kehormatan bagi Hendrik dan Irene untuk melangkah masuk bersama. Memapah Irene untuk berjalan bersamanya, Hendrik merapikan penampilan untuk bersiap-siap menyatakan janji sumpah suci dihapannya.

“Ini adalah cincin pernikahanku dengan mendiang istriku ... semoga cukup di jari kalian dan pakailah sebelum kau membelikan yang benar-benar cocok untuknya nanti,” ucap pemuka agama tersebut.

Hendrik tanpa segan menerima cincin itu dengan Irene yang juga terlihat tertawa bahagia di depannya. Saling bertatapan dengan Bastian dan Giselle yang menjadi saksi pernikahan mereka, sungguh apalah arti daya dan upaya yang dapat dilakukan pekerja biasa pada atasan mereka yang sudah teguh memberikan perintah.

Namun jauh didalam lubuk hatinya, Bastian yang juga menginginkan kedua insan itu untuk kembali bersama, melayangkan sebuah senyuman bahagia bersama Giselle yang sama-sama mendokumentasikan pernikahan yang suci ini dari balik kursi di belakang Hendrik dan Irene, saat dengan haru mengucapkan janji suci pernikahan yang sakral.

“Dengan ini, aku menyatakan kalian sah menjadi suami dan istri ... semoga ka—”

Tidak lagi dapat melanjutkan perkataannya, pemuka agama tersebut merasa malu pada Irene yang langsung menarik kerah kemeja Hendrik dan menciumnya begitu intens dan dalam. Bagai dunia milik berdua, Hendrik pun membalasnya dengan tidak lagi memperdulikan sekitarnya.

Merasa harus segera membawa mereka pergi, Bastian dan Giselle pun berpamitan lalu memisahkan Hendrik dan Irene sementara mereka karena harus kembali berjalan menuju hotel. Sesampainya di depan pintu kamar hotel, Bastian dan Giselle memberikan senyuman bahagia mereka pada pasangan yang baru kembali bersama setelah beberapa tahun terpaksa berpisah.

Hendrik mendudukkan Irene terlebih dahulu pada sebuah sofa di ruangan tengah, tersadar akan tubuh mereka yang tertumpah anggur merah. Membuka jas dan mantelnya, Hendrik berjalan menuju kamar mandi untuk mengisi penuh bathtub berukuran besar yang biasa menjadi salah satu fasilitas presidential suite room, dengan air hangat untuk membersihkan diri.

“Kau sedang apa?” tanya Irene yang tiba-tiba berdiri di belakang Hendrik.

“Aaahh ... aku mencoba menghangatkan air hangat untuk kau mandi lebih dulu. Noda anggur merah akan sulit hilang, jadi kau bersihkanlah dulu baru aku yang akan mandi. Aku akan menunggu di lu—”

Entah apa yang merasuki Irene saat ini, tanpa ragu ia merangkulkan kedua tangannya pada pundak Hendrik. Dengan memainkan sedikit jemarinya, Irene memainkan ruang di sela-sela rambut Hendrik, sama seperti yang biasa Irene lakukan dulu jika Hendrik sedang bersandar dipelukan Irene.

Saling menatap, hembusan nafas pun muali memburu tak kala jemari Hendrik membuka satu demi satu kancing kemeja Irene hingga terbuka lebar dengan pemandangan indah yang begitu sangat ia nantikan. Mengecut lembut pundak Irene, Hendrik pun membisikkan sesuatu.

“Bolehkah? ... Aku sudah menunggumu sejak lama.”

Tidak lagi berkata, Irene menyerang dengan regutan menarik kedua bibir tipis Hendrik seraya memainkannya beberapa waktu. Saling bersentuhan melengkapi gerakan satu sama lain, terlihat jelas bentuk lekukan bidang sempurna yang sebelumnya tidak pernah tersangka akan mereka lihat kembali satu sama lain.

Gemericik air hangat yang mengalir, bagai mengalun pada tengah malam melengkapi kedua insan yang sedang memadu kasih. Baik Hendrik dan Irene bagai terhanyut dalam belaian dan sentuhan yang diberikan satu sama lain, dengan perasaan tertahan yang akhirnya meluap tak tertahankan.

...***...

“Menurutmu mereka sedang apa saat ini?” tanya jahil Bastian pada Giselle saat berjalan menuju pintu lobby keluar hotel.

“Akhirnya setelah sekian lama ... aku bisa melihat Irene dan Hendrik kembali bersama, terlebih Irene tersenyum begitu bahagia,” ucap Giselle dengan mata berkaca-kaca.

“Bass? ... Apa maksud yang dikatakannya? Hendrik da-dan ... Irene??”

Terhenti langkah seketika, Bastian begitu terkejut saat membalikkan tubuhnya melihat kedua orang tua Hendrik berdiri tepat dihadapannya. Terlupa akan jadwal kedatangan mereka hari ini, jika bisa Bastian lebih memilih untuk melawan para mafia dari pada harus mengurus hal seperti ini.

“Bass, di mana anak itu?! Haruskah aku memaksa petugas resepsionis untuk membuka paksa pintu kamar mereka?!” sentak Wiliiam dengan begitu tegas pada Bastian.

“Tu-tuan ... Nyonya, kumohon dengarkan dulu ... ada kejadian yang tidak terduga terjadi, dan itu—”

“Siapa wanita ini, Bass? Apa dia kekasihmu? Setidaknya dia terlihat wanita baik-baik, tidak seperti Irene yang memalukan, melarikan diri begitu saja setelah dengan mudahnya ia ma—”

“IRENE WANITA YANG BAIK! Nyonya, saya adalah sahabatnya. Dan suka atau tidak suka, Hendrik kembali menikah dengan Irene, dan itu pun karena Hendrik yang juga memintanya!”

Bastian hanya dapat menunduk seraya mengusap kepalanya merasa pusing tak kala Giselle memutar rekaman video pernikahan Irene dan Hendrik sebelumnya, di hadapan William dan Mia yang membenci Irene dan keluarganya.

Jika sampai hal ini tersebar, perlukah kembali berpisah agar tidak ada yang terluka?

1
Katherina Ajawaila
William di mana, sm Mia 😆
Katherina Ajawaila
Iren terlalu anggap semua masalah bsa di selesaikan mertua udh tangan msh belagu dasar, keras kepala, rendah hati kalau ma sukse
Katherina Ajawaila
Iren gayanya ngeselin. juga kaya perek mau aja di buat bulan2 an, udh Terima suami lagi, msh aja gengsi mertua minta maaf msh keras tapi sm luke jawab nya spt jablai , colin saudara laki2 sprt banci. kel edan
Katherina Ajawaila
siap2 aja Anna, sarah , Jk Terima karma mu🤓
Katherina Ajawaila
Iren gemesin, hendrick. lemot, di luar netizen pada ngibah, bikin gemes, anak dia jadi korban. 🥸
Katherina Ajawaila
Luar biasa
Katherina Ajawaila
Iren aneh aja senang di dlm lingkaran setan, udh jelas kehidupan di salah guna in org bukan nya cerita biar hendrick tau😎
Katherina Ajawaila
makin tegang aja, semoga ketangkap Jk bersama luke dan Anne
Katherina Ajawaila
Hendrick, gercep donk kalau tdk mau kehilangan anak2 mu, iren juga ngulur2 waktu utk blbg identitas si kembar. outhour plases, yg baca jd snewen🥸
Katherina Ajawaila
mis komunikasi Iren, cerita biarHendrick tau selesai deh masalahnya, biar Anna Terima akibatnya
Katherina Ajawaila
gercep lah hendrick itu Anna dan antek2 nya JK😡
Katherina Ajawaila
pasti itu ulah Nya Anna, yg sering neror kel Iren 🥸
Katherina Ajawaila
hendrick kenapa mgk jebak Tantemu, Anna dan cecukuk nya JK,
Katherina Ajawaila
itu ulah ana yg ingin anaknya sarah menjadi istri hendrick 😁
Katherina Ajawaila
kenapa hendrick bisa menceraikan Irene thour, kelihatannya hendrick ngk merasa berbuat menceraikan, jadi penasaran 🥸
Katherina Ajawaila
awal cerita yg menarik, kasihan! irene, punya tante matre 😖
Surati
bagus
Ririn Nursisminingsih
kesalahpahaman yg dibuat oleh seseorang ane karena harta dan tahta
Fidia K.R ✨: /Grimace/ harta dunia memang menyesakkan..
total 1 replies
Ekowati Puji Lestari
duh semoga Irena anak2nya aman
Fidia K.R ✨: Gereget emang ka /Right Bah!/
total 1 replies
Ekowati Puji Lestari
Cerita yang menarik
Fidia K.R ✨: Terima kasih bnyak kak
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!