Ketika sebuah pernikahan mengantarkan seorang gadis pada kehidupan yang sama sekali tak pernah dia duga.
Suami tampan super sempurna, kehidupan yang mendebarkan, rahasia yang terkuak satu-persatu, dan dendam masa lalu. Semuanya bercampur menjadi satu mengantarkan si gadis pada situasi untuk memilih antara egonya atau hati nurani.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Axelle Axa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 24. Agafia
Ruangan itu sibuk dengan beberapa pelayan membersihkan lantai yang ternoda darah. Sedangkan beberapa lainnya memindahkan mayat seorang pria gempal dan membungkusnya dengan plastik. Sementara itu tak jauh dari kesibukan itu, dua orang pemuda tampan duduk dengan tatapan kosong—atau lebih tepatnya bingung.
Dua orang itu tak lain adalah Sean dan Anthony yang kini sibuk dengan pikirannya masing-masing. Namun wajah keduanya sama-sama memiliki jejak kekhawatiran.
“Apa rencanamu?” Anthony yang pertama membuka suara.
Sean mendengar pertanyaan Anthony, namun dia tetap diam seolah tak ingin menjawab atau mungkin juga bingung ingin menjawab apa. Sean menunduk dan kembali teringat saat Lou memasuki ruang kerjanya. Awalnya dia tak yakin apakah Lou melihat emblem itu, tapi sekarang dia seratus persen yakin, Lou sudah melihatnya!
Black Stone memang terlibat dalam penghancuran Laughing Coffin, tapi itu sepenuhnya terlepas dari dirinya dan Anthony. Pada saat itu, Black Stone sudah mulai terbagi dua dan salah satu sisi sangat mendukung penghancuran Laughing Coffin, sementara sisinya lainnya tak peduli.
Sean berada di sisi tak peduli karena dia berniat menginggalkan dunia bawah saat itu, tapi siapa yang sangka, hal yang tak ingin dia pedulikan dulu, malah menjadi masalah yang akan membuat istrinya membencinya sekarang.
“Aku bingung.” Untuk pertama kalinya dalam hidup Sean dia merasa bingung untuk mengambil keputusan.
Dia terlahir sebagai satu-satunya pewaris Hilton Corp, dia selalu hidup sebagai orang penting sejak dia kecil. Bahkan saat dia meninggalkan rumah bertahun-tahun lalu, dia tidak pernah merasa tak berdaya seperti ini.
Semua yang dia inginkan selalu berjalan sesuai harapannya dan hidupnya sangat lancar. Saat dia memutuskan untuk menjadi bagian dunia bawah, dia berhasil menjadi salah satu tetua paling berkuasa. Saat dia memutuskan untuk meninggalkan dunia bawah, dia bisa pergi tanpa masalah, ya walaupun ada banyak pertentangan tentang itu. Hanya kali ini, saat dia menghadapi Lou, dia baru mengenal apa yang disebut ketidakberdayaan.
Sementara kedua pria tampan itu berkutat dalam kebingungan, dua sumber kebingungan itu sendiri menjalani hari yang menyenangkan. Sudah cukup lama sejak mereka menghabiskan waktu di luar dengan bebas. Jadi pelarian ini terasa lebih menyenangkan, penuh dengan nostalgia.
“Kau punya tujuan?” May menatap Lou yang sedang menikmati sup ayamnya dengan senyum sumringah.
“Hm. Tentu saja. Aku perencana perjalanan yang baik.” Lou tak lupa membanggakan diri.
“Tapi pertama-pertama temani aku beli baju dulu.” Lou berkata sambil menggosok hidungnya yang gatal. Dia telah melarikan diri dari rumah, hanya mengenakan pakaian seadanya. Terlebih lagi demi menghindari penyadapan, Lou telah membuang semua pakaiannya yang hangat dan tebal, berganti dengan pakaian seadanya ini. Dia mungkin terlihat lebih miskin dari gelandangan sekarang.
May melihat pakaian Lou dan kemudan melihat pakaiannya sendiri, mereka memang belum sempat membeli pakaian lain yang lebih tebal. Terlebih lagi kondisi Lou sekarang sebagai wanita hamil, dia seharusnya tidak membuatnya kedinginan, atau itu tidak akan baik untuk ibu dan anak.
“Kalau begitu ayo pergi dan beli.” May berdiri dari kursinya. Namun sebelum dia pergi, Lou telah menariknya kembali untuk duduk. Saat ini keduanya berada di sebuah kafe di dekat penginapan tempat mereka menginap.
Keduanya telah menginap di sini selama semalam setelah mereka pergi dari salah satu cabang Koran Dunia Bawah. Mereka memilih tempat ini karena wilayah ini hampir tidak terpantau CCTV. Jadi mereka akan aman untuk sementara waktu.
“Kenapa?” May menatap Lou bingung.
“Tunggu dulu. Kita akan pergi setelah Agafia datang.” Lou berkata pelan setengah berbisik, memastikan kata-kata itu hanya bisa didengar oleh mereka berdua.
May tertegun mendengar bisikan Lou, dia bahkan menatap Lou mencoba memastikan apakah yang dia dengar benar atau salah. Namun wajah tenang Lou membuktikan bahwa dia memang tidak salah mendengar.
“Agafia?” May berbisik setelah duduk lebih dekat dengan Lou.
“Hm.” Lou mengangguk tanpa keraguan, membuat May meringis.
“Apa kau gila?” May tak habis pikir mengapa sahabatnya ini yang malah menghubungi Agafia.
Agafia adalah salah satu rekan mereka saat mereka masih berada di dunia bawah. Namun setelah mereka memutus semua hubungan dan meninggalkan dunia bawah, mereka tak lagi berhubungan dengan dunia bawah.
“Bagaimana kau bisa menghubunginya?” May bertanya agak bingung. Dia bahkan merasa curiga apakah Lou selama ini masih terhubung dengan dunia bawah.
“Nomor teleponnya masih sama.” Lou menjawab acuh tak acuh.
“Kau menyimpan nomor teleponnya.” May tak habis pikir.
“Maaf May, kau tahu aku sulit merelakan koneksiku dengan dunia bawah. Aku selalu berharap akan ada kabar dari Jack.” Lou menundukkan kepalanya, sepenuhnya mengakui kesalahan yang telah dia lakukan.
May tak bisa berkata-kata. Dia selalu tak bisa memarahi Lou bila itu sudah berkaitan dengan Jack. Karena May tahu betul bahwa hal ini adalah titik lemah Lou. Dia bahkan secara terang-terangan akan mencoba menghindari topik itu dulu, sepenuhnya memendam rasa sakitnya dalam hati.
Setelah kepergian Jack, Lou selalu mengalami mimpi buruk dan bahkan nyaris gila karena tertekan. Dia telah merawatnya saat itu, jadi dia tahu seberapa parah luka batin Lou saat itu. Dia secara pribadi melihat pembunuhan Niana dan selalu menyalahkan dirinya sendiri. Dia tak pernah bisa memaafkan dirinya akan kesalahan yang sebenarnya tidak perlu dia pikul.
Namun sikap pengecut Jack yang langsung menghilang tanpa kata-kata saat itu menjadi beban berat lainnya bagi Lou. Dia selalu menganggap kepergian Jack sebagai kesalahannya. Dia selalu berpikir Jack membencinya atas kematian Niana, karena dia telah gagal melindungi Niana saat itu.
Sedikit banyak May mulai membenci Jack saat itu, namun dia tak bisa berbuat apa-apa. Dia bahkan harus mulai melakukan hypnotherapy demi menyembuhkan Lou. Akibatnya Lou banyak melupakan hal-hal mengerikan itu. May berpikir mereka akan bisa melarikan diri dari masa lalu itu selamanya. Namun siapa yang tahu bahwa mereka sebenarnya hanya menunda penyelesaian itu sedikit lebih lama. Karena saat ini mereka kembali terseret ke dalam masalah itu lagi.
Keduanya menunggu sambil menikmati makanan hangat mereka. Sampai beberapa saat kemudian seorang wanita yang cukup tinggi memasuki kafe. Tubuhnya kurus dan dia memiliki wajah yang dingin dan tegas. Tatapan ketiga wanita itu bertemu, namun tak satupun mencoba menyapa.
Wanita yang baru masuk itu adalah Agafia yang telah ditunggu Lou dan May. Namun dia sepertinya tak berniat mendekati keduanya. Dia duduk di kursi paling pojok dan memesan makanan.
Lou dan May sama sekali tak terburu-buru mendekatinya. Mereka tahu Agafia mungkin dengan sengaja menjaga jarak dari mereka karena suatu alasan. Hanya saja yang perlu dipertanyakan adalah apa alasannya?
“May, di sini dingin. Ayo mendekat ke pemanas.” Lou membuka suara. Pemanas yang dia maksud kebetulan berada dekat dengan tempat duduk Agafia saat ini.
May menyetujui saran Lou dan keduanya pindah ke meja di belakang Agafia. Lou dan May duduk tepat di belakang Agafia dan entah karena sengaja atau tidak kursi ketiganya menjadi sangat dekat walaupun saling membelakangi.
“Dimana yang aku pesan?” tanya Lou sambil terus menikmati bubur hangatnya.
“Ada,” jawab Agafia sambil terus membaca Koran yang entah dia temukan dari mana.
Sikap keduanya sangat alami sehingga tak ada satupun orang di kafe itu yang akan curiga. Namun ini justru membuat Lou dan May makin bingung. Haruskah Agafia sehati-hati ini?
Agafia tak mengatakan apapun lagi dan kemudian berdiri untuk pergi. Dia pergi ke kasih dan membayar pesanannya sebelum keluar, meninggalkan Lou dan May dalam kebingungan.
Lou menoleh dan melihat koran Agafia yang masih tertinggal di meja. Lou menoleh ke arah May dan May langsung mengangguk mengerti. Keduanya lalu berdiri sambil terus bercakap-cakap santai.
Saat Lou melewati meja Agafia, dia dengan santai mengambil Koran yang telah ditinggalkan itu. Samar-samar dia bisa merasakan ada sesuatu yang disembunyikan di dalam Koran dan Lou mengagguk pelan sebagai tanda untuk May.
Lou dengan cepat meraih benda di dalam koran dan kemudian membuang koran itu ke kotak sampah selagi May membayar makanan mereka. Setelah itu mereka pergi meninggalkan kafe dan kembali lagi ke penginapan, namun keduanya memutuskan untuk pergi setelah melihat beberapa orang mencurigakan di sekitar penginapan itu.
Lou dan May pergi dan masuk ke sebuah gang kecil tak jauh dari sana. Setelah memastikan tak ada yang melihat, Lou mengambil benda pemberian Agafia dari dalam sakunya dan segera memeriksa benda itu. Ada buku tabungan atas nama Mila Spencer dan dua buah paspor dengan nama berbeda lagi. Lou membuka buku tabungan dan mengambil kartu ATM yang melekat di bagian dalam buku. Bersamaan dengan kartu ATM terdapat sebuah surat kecil dan Lou segera membukanya.
Yumi Scarlate. Lorraine Hilton.
Lou melihat empat kata di surat kecil itu dan langsung mengerti mengapa Agafia sangat berhati-hati tadi.
Yumi Scarlate adalah salah satu elit Laughing Coffing dan tak lain adalah May sendiri. Namun nama ini telah lama hilang dari dunia bawah, Lou tahu benar maksud Agafia menulis nama ini bukanlah untuk menyapa, tapi untuk memperingatkan.
Lou dan May saling menatap. Mungkinkah identitas mereka terbongkar?
Lou dan May selalu sangat berhati-hati, seharusnya taka da yang tahu siapa mereka. Kenapa hal ini bisa terjadi? Terlebih lagi banyak orang yang telah menunggu mereka di penginapan, artinya ada orang yang berhasil melacak mereka.
Lou mengeluarkan ponsel pintarnya dan menatapnya sejenak. Sekarang dia sudah mengetahuinya. Bukan Sean yang menanam Ghost di ponsel pintarnya. Karena kalau itu Sean dia tak akan menggunakan banyak orang seperti itu tapi langsung masuk ke kamar yang dipesan Lou dan menangkapnya dalam kondisi tak tahu apa-apa.
Senyum kecil menghias sudut bibir Lou dan dia dengan percaya diri menjalankan aplikasi buatannya dan melakukan pemrograman ulang pada ponsel pintarnya, sepenuhnya menghapus Ghost.
“Bukan Sean yang menanam Ghost.” Lou membuka suara.
“Kau ingin mengatakan ada pengkhianat di kediaman Sean yang ingin kau celaka?” May bertanya setelah berpikir sejenak.
“Mungkin juga.” Lou mengangkat bahu tak peduli, karena yang terpenting adalah pelakunya bukan Sean. Sedangkan untuk siapa pelaku aslinya, dia sama sekali tak peduli. Dia yakin Sean bisa menyadari dan menyelesaikan itu.
Sekarang dia hanya perlu fokus menghadapi apa yang ada di depannya dan melindungi dia dan anak yang ada dalam kandungannya. Memikirkan ini membuat Lou secara tak sadar menyentuh perutnya yang rata.
“Apa rencananya berubah?” May melihat gerakan Lou dan menyela.
“Tujuanku melarikan diri adalah untuk mencari tahu apa Sean terlibat dengan kematian Niana atau tidak.” Lou menjawab dengan wajah cemberut.
May menghela napas. “Ya ya,” jawabnya acuh tak acuh.
Keduanya lalu lanjut berjalan dan membeli beberapa pakaian tebal sebelum pergi ke toko mobil bekas. May mengurus semua pembelian dan Lou hanya mengikuti di belakangnya. Setelah semuanya selesai mereka melanjutkan perjalanan menuju ke St. Petersburg.
anyway ini aku yang ketinggalan sesuatu, atau lupa, tapi emang disini extra partnya ga ada ya kak? padahal udah nunggu hihihi walopun masih sempet inget sih ending pas di w***pad gimana hihi tp ttp pengen bnget baca lagi sampe akhir skrng apa lagi yg side storynya 🤩 MANGAT TERUS KAKK! TETAP DITUNGGU EXTRA DAN SIDE PARTSNYA DAN DITUNGGU DIPUBLISH HIHI 🤩
ceritanya komplit Thor...sedepp bangettt
⭐⭐⭐⭐⭐