Josephine Silva alias Joey merupakan seorang gadis lugu dan polos.
Suatu hari dia bertemu dengan Devano Geraldi atau biasa dipanggil Al.
Mereka saling mencintai dan saling percaya satu sama lain.
Hingga pada suatu ketika di acara pernikahan mereka, tiba-tiba saja Al menggagalkan acaranya tanpa alasan yang pasti.
Lambat laun, ketika Joey sudah menata hatinya dan bangkit kembali, ia bertemu dengan Marcus Hanson Antinio (Mark), dengan sifat yang berbeda jauh dengan Al.
Mark pria yang angkuh dan sombong.
Mark melakukan berbagai banyak cara untuk bisa mendapatkan hati Joey.
Akankah Mark berhasil mendapatkan hati dan juga cinta Joey?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon riana a s, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kedatangan Denitha
Ternyata Joey buru-buru pergi dari perusahaan Mark karena menerima telepon dari salah satu karyawan kepercayaan mama Olin.
Namanya Sinta. Ia masih muda. Lebih tua sekitar tiga tahun dari Joey. Sinta memberi tahu Joey kalau mama Olin pingsan di kantor dan saat ini sedang dirawat di rumah sakit.
Karena menlndengar kabar itulah, Joey langsung berlari keluar dari lerusahaan Mark. Ia sangat syok dan ketakutan. Tak ingin terjadi apa-apa dengan mama tercintanya.
Bahkan panggilan dari Mark juga ia abaikan. Ia ingin segera sampai di rumah sakit bertemu mama Olin.
Mobil yang dinaiki Joey pun melaju dengan sangat kencang. Pak Jupri, supir mama Olin juga tampak murung. Ia juga kasihan melihat Joey. Ia melantunkan doanya di dalam hati agar majikannya baik-baik saja. Pak Jupri pun fokus dengan setirnya.
Di kantor Mark.
"Permisi, bu. Ini pesanan ibu." ucap seseorang dari balik pintu.
Buru-buru Denitha membuka pintu. Ia tidak sabar lagi ingin makan segera. Denitha meraih kotak tersebut.
"Ngapain kamu masih di sini? Sana pergi! ucap Denitha mengusir karyawan yang membawakan makanan untuknya.
"Nanti akan saya kabari bila ada yng." ucap Denitha sinis kepada karyawan tersebut.
Karyawan perempuan itu pun berlalu dengan menundukkan kepalanya.
Lagi-lagi peraturan perusahaan yang dibuat sendiri okeh Mark. Siapa pun tamu yang berkunjung ke kantor Mark harus dihormati dan disegani.
Dan saat ini peraturan itu sangat berlaku untuk Denitha sebagai tamu Mark. Semua karyawan tau Denitha tamu khusus Mark karena mereka melihat Mark membawa perempuan itu masuk ke ruangannya.
Sudah lama mereka tidak melihat Mark membawa tamu perempuan ke kantornya. Selain Joey. Dan hari ini mereka melihat Mark menarik tangan seorang gadis dan membawanya masuk ke ruangannya.
Mark masuk ke ruangannya dengan wajah yang masih marah.
"Kakak kenapa? Kok wajahnya kayak ditekuk begitu? Banyak utang ya?" tanya Deniha bercanda.
"Ah, kamu ada-ada saja. Aku utang sama siapa?" tanya Mark balik.
Wajah Mark kembali tersenyum dan ceria seperti sebelumnya. Sirna sudah segala kemarahannya. Lupa juga dia tentang Joey setelah mendengar candaan adik sepupunya itu.
Dari dulu memang Denitha selalu bisa membuat Mark menjadi berubah. Dari sedih jadi tertawa, dari marah sampai tersenyum. Banyak hal lah. Dan saat ini sebagai buktinya. Seketika Mark lupa akan masalahnya. Lupa akan Joey dan keberadaan Joey.
Mark dan Denitha menikmati makan bersama di ruangan Mark. Kebetulan memang banyak makanan yang Denitha pesan. Suasana makan di ruangan Mark terlihat santai dan romantis.
Bagi orang yang melihat sekilas memamg romantis. Mereka bergantian saling suap-suapan.
Bahkan saling membersihkan jika ada sisa makanan yang tersisa di bibir, atau dagu mereka. Sesekali mereka bersenda gurau. Iya, Mark sudah melupakan Joey. Dan Denitha berhasil membuat Mark lupa akan pujaan hatinya.
Sementara Denitha tidak tahu sama sekali kalau Mark sudah mempunyai kekasih. Lama memang dia tidak bertemu dengan Mark, karena ia harus sibuk dengan pengabdiannya di kota lain sebagai mahasiawa mewakili kampusnya untuk kemajuan salah satu desa tertinggal dan terluar di daerah bagian timur kotanya.
Akses internet yang sangat minim membuat Denitha tidak tau perkembangan Mark dengan pacarnya Joey. Wajar saja dia memperlakukan Mark seperti itu. Karena
Denitha tak tau Mark sudah punya kekasih. Dilihat dari reaksi Mark juga tak ada rasa canggung atau menghindari Denitha. Masih sama seperti dulu. Dulu memang Denitha mencintai Mark.
Begitu juga sampai sekarang. Cinta itu masih ada. Dulu Mark tau itu, karena Denitha sendiri yang mengungkapkan. Tapi kala itu Mark mengatakan dia menganggap Denitha seperti adiknya sendiri.
Dan sekarang Denitha hadir lagi dalam hidupnya. Dengan masih membawa cinta yang sama. Tetapi Denitha tak tau Mark memiliki memiliki perasaan padanya atau tidak.
Namun melihat dan merasakan Mark memperlakukan Denitha seperti itu, perasaannya perasaan cintanya semakin memuncak saja. Tak bisa dipungkiri. Denitha sangat bahagia karena Mark memperlakukannya sangat baik. Namun ia tak mau buru-buru.
Biarlah kita nikmati hari-hari seperti ini. Aku akan kubur tentang perasaanku dalam-dalam. Jika nanti waktunya tiba, aku akan menanyakan lagi tentang hatimu kepadaku. Aku akan menunggu waktu itu dengan sabar. Batin Denitha.
Ia menikmati makanannya sambil sesekali memperhatikan Mark tanpa sepengetahuannya.
"Oya, kak. Aku mau ke rumah tante dong. Aku kangen nih. Boleh ya, kak?" pinta Denitha sambil menyendokkan makanan penutup ke dalam mulutnya.
Sudah lama memang Denitha tidak berkunjung ke rumah Mark. Sejak dia ke luar kota. Kurang lebih dua tahun.
"Iya, nanti. Habiskan dulu makananmu. Kita berangkat setelah jam kantor usai." ucap Mark dengan melirik ke arah makanan Denitha yang masih tersisa sedikit lagi.
"Ok, kak. Siap." ucap Denitha sambil membentuk huruf 'o' dengan jari jempol dan telunjuknya.
Denitha pun menghabiskan makanannya yang tersisa. Sementara Mark sibuk dengan ponselnya dan sesekali meneguk sisa air minumnya.
Mereka menghabiskan waktu di kantor Mark dengan membicarakan bagaimana Denitha menghabiskan waktunya di kota T.
Tanpa terasa jam kantor sudah menunjukkan pukul lima sore. Waktunya semua oenghuni kantor pulang ke rumah masing-masing untuk beristirahat melepas kepenatan seharian bekerja.
Begitu juga dengan Mark dan Denitha. Mereka maeninggalkan kantor dan menaiki mobil Mark menuju kediaman keluarga Mark.
Mark melajulan mobil nya dengan santai.
Suasana di jalan sangat ramai. Karena ini adalah jam pulang kerja bagi setiap pegawai/karyawan perusahaan.
Terlihat bus-bus yang melaju penuh dengan penumpang yang bekerja dari berbagai perusahaan.
Dan tak sedikit juga yang menaiki angkutan umum atau pun ojek bahkan ojek online. Wajah-wajah mereka terlihat kusut dan kusam. Ada juga yang sesekali menguap. Mereka sangat lelah, dan lesu akibat bekerja seharian.
Apalagi ini hari senin. Kesibukan sangatlah padat dibandingkan dengan hari-hari lainnya.
Meskipun kendaraan sangat padat, tapi mereka juga patuh dengan lalu lintas.
Polisi lalu lintas sibuk menertibkan jalanan akibat padatnya kendaraan.
Sesekali mereka mengusap wajahnya untuk membersihkan debu-debu yang menempel dengan sapu tangan mereka. Para polisi itu sangat antusias dalam bertugas.
Di dalam mobil Mark, suasana sepi. Tak ada ocehan-ocehan yang keluar dari mulut Denitha. Padahal biasanya dia sangat cerewet. Semenjak dia jadi mahasiswa, banyak perubahan yang terjadi padanya. Semakin dewasa tentunya.
Mereka sibuk dengan pikiran masing-masing sambil mendengarkan radio yang dari tadi menyala.
Beberapa menit kemudian, sampai lah mereka di kediaman kelaurga Mark.
Denitha langsung turun dari mobil tanpa mengucapkan sepatah kata pun. Mark juga ikut keluar.
"Wah. Masih terlihat sama. Tidak ada yang berubah. Hanya warna cat rumah ini yang ganti." ucap Denitha pelan.
Tetapi Mark bisa mendengarnya karena Mark berdiri tepat di sampingnya.