"Alzena Morgan" terpaksa harus meningal kan kekasih nya karena di paksa sang papa untuk menikah dengan laki-laki pilihan papa nya.
Sempat memberontak dan ingin kabur namun gagal karena di ancam oleh sang papa.
"Menikah lah dengan putri ku, hanya kau yang bisa aku percaya untuk memiliki nya" ucap tuan Morgan kepada Gara.
"Apa? Om, apa aku tidak salah dengar?" tanya Gara kaget sekaligus bingung.
"Hanya kau yang akan mencintai nya dengan tulus dan bukan karena dia pewaris tunggal kelaurga kami," ...
"Elgara Aidenio" seorang CEO di perusahaan xx grup, yang kerap di panggil tuan muda Gara pemilik perusahaan terbesar di kota x, ayah nya adalah sahabat dekat tuan Morgan, namun ayah nya Elgara Aidenio sudah lama meningal.
Bagaimana kah kisah rumah tangga Alzena selanjutnya dengan suami pilihan sang papa? Ayo ikuti kisah "Suami Pilihan Papaku"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nadia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab #24
Vera memegang pipi nya yang terasa begitu sakit, akibat tamparan dari sang papa, proyek besar yang awalnya ada dalam genggaman tangan dalam hitungan menit langsung habis.
"Papa jahat! Papa menampar ku!"
Vera berlari keluar dari hotel dan meninggalkan sang papa yang saat ini sedang di liputi rasa kesal dan marah.
Sementara itu di sisi lain.
"Mengapa kau membatalkan kerja sama nya? Papa pasti akan marah, dan ini semua karena aku," ucap Alzena menatap Gara.
Kini mereka sudah tiba di villa, dan sudah berada di dalam kamar, malam ini Gara tidak lagi membiarkan Alzena tidur di kamar tamu karena besok mereka sudah harus pergi dari kota xx dan kembali ke kota mereka.
"Dia punya niat jahat, aku tidak akan membiarkan siapapun menindas mu, dan apa kau tidak melihat dia mencoba mendekati aku, apa kau memang benar-benar tidak khawatir ada yang mengambil aku dari mu? Tapi mengapa tadi kau sampai semarah itu saat dia ingin memberikan minuman nya kepada ku?"
Begitu banyak pertanyaan yang di lontarkan Gara kepada sang istri tercinta, dia juga berharap Alzena melakukan itu karena dia cemburu dan tidak mau ada yang mengambil nya, dari Alzena.
"Buk ... Bukan, maksud ku, ya aku hanya tidak ingin kau kenapa-kenapa, bukan kah besok kita akan kembali? Aku khawatir malah semakin lama di sini jika kau keracunan atau apapun itu,"
Alzena menjalas kan hal itu dengan gugup, dia bahkan tidak mau menatap Gara yang kini berdiri di hadapan nya sambil menatap dalam dirinya.
"Jadi kau benar-benar tidak cemburu?" tanya Gara lagi.
"Jangan sembarang bicara, aku tidak pernah cemburu, aku mau ganti baju dan tidur, besok sudah harus bangun lebih pagi kan,"
Alzena mengatakan hal itu lalu hendak berjalan meninggalkan kan Gara yang masih menatap nya dengan tatapan kesal.
"Tunggu," Gara memegang tangan Alzena, membuat wanita itu berhenti melangkah dan kembali berdiri di hadapan nya dengan mimik wajah yang penuh tanda tanya.
"Apa lagi?" Alzena mencoba untuk melepaskan genggaman tangan Gara dari pergelangan tangan nya namun tidak bisa.
Gara tidak pernah memikirkan kerja sama yang gagal, namun dia memikirkan apakah istri nya itu cemburu atau tidak, melihat ekspresi wajah nya tadi di perjamuan, jelas-jelas dia terlihat cemburu, tapi ternyata fakta nya tidak begitu.
"Jadi kau benar-benar tidak cemburu?" tanya Gara sekali lagi untuk memastikan.
"Aku tidak cemburu, lepas kan," ucap Alzena yang kemudian berjalan masuk ke dalam kamar mandi meningal kan Gara.
Gara yang kecewa dengan respon Alzena pun akhirnya memilih untuk diam, dia berfikir jika dirinya hanya terlalu banyak berharap saja, usaha nya selama ini pun masih belum terlihat menghasilkan, Alzena memegang mulai bisa menerima Gara di hidup nya, namun sama sekali tidak mencintai diri nya.
Gara pun berjalan keluar dari kamar tersebut, ia memilih untuk menenangkan diri di luar villa.
"Tuan muda, apa yang sedang kau lakukan di luar seperti ini? Kau akan masuk angin, cuaca nya sangat tidak bagus, lihat lah langit sudah mulai gelap," jelas Farel yang menghampiri Gara.
Gara berdiri di depan vila sambil menatap sekeliling nya, udara malam benar-benar sejuk membuat nya sedikit kedinginan, namun suasana ini bisa membuat hati jadi tenang.
"Menurut mu apa Alzena terlihat cemburu tadi?" tiba-tiba Gara buka suara dan menanyakan hal itu kepada Farel.
Farel terlihat kebingungan, dan kemudian berfikir sejenak.
"Seperti nya iya, dia cemburu," jelas Farel lagi.
"Salah, dia sama sekali tidak cemburu, barusaja dia mengatakan hal itu kepada ku, dan dia bilang dia hanya tidak mau aku kenapa-kenapa karena dia sudah tidak sabar untuk kembali ke kota besok," jelas Gara terlihat raut wajah nya begitu kecewa.
"Tidak mungkin, aku melihat sendiri wajah cemburu yang merah," jawab Farel membantah pernyataan Gara.
"Sudah lah, jangan bahas lagi, sebaiknya kau masuk dan istirahat, bereskan semua barang-barang untuk kembali besok," perintah Gara.
"Baik tuan muda, jangan menyerah, buat dia mencintai mu, kau pasti bisa," ucap Farel yang tak pernah luput dengan suport nya terhadap Gara.
Farel pun masuk ke dalam vila, dia tau saat ini Gara butuh waktu sendiri, untuk menenangkan diri nya.
Sementara itu ...
"Aishhh, aku tidak tau apa yang harus aku katakan? Aku ... Aku tidak tau apa itu cemburu, aku tidak mengerti, yang jelas aku tidak nyaman ketika dia di dekati atau di ganggu orang lain, aku merasa ketidak relaan itu datang secara tiba-tiba," ucap Alzena yang kini merasa gundah, ia bahkan beberapa kali mencuci muka di wastafel.
Sebenarnya kini Gara sudah berhasil masuk ke dalam hati Alzena, hanya saja, Alzena masih ragu dan dia juga merasa malu untuk mengakui bahwa dirinya cemburu dan tidak rela Gara di dekati wanita manapun.
Keesokan harinya
Kini mereka sudah berada di dalam pesawat, dan baru saja pesawat tersebut lepas landas menuju kota mereka.
"Akhirnya kita pulang juga ya," ucap Alzena kepada Gara yang duduk di sebelah nya.
"Hmm,"
Tidak seperti pertama kali naik pesawat, kini Alzena sudah tidak takut lagi, dia bahkan tidak ragu lagi menatap ke arah jendela, ini semua karena Gara tentu nya, Gara sudah berhasil membuat dia tidak takut ketinggian lagi.
Namun Alzena merasa sedikit ada yang berbeda, hari ini Gara tidak banyak bicara dengan nya, Gara juga terlihat sangat cuek dan dingin, hal ini membuat Alzena tidak nyaman karena didiami oleh Gara, yang biasanya selalu mencari-cari topik pembicaraan dengan nya kini malah terus diam,diam dan diam saja, hanya menjawab satu pertanyaan dengan satu jawaban.
Tidak ada kejahilan, tidak ada lagi hal yang terjadi biasanya, Gara benar-benar mendiami dirinya.
"Wahh, awan nya sangat cerah, tidak seperti kemarin," ucap Alzena memancing Gara agar berbicara dengan nya.
Namun Gara hanya diam dan memejamkan matanya, dia terlihat mengantuk dan kemudian mulai tertidur.
Alzena yang melihat itu menoleh ke belakang, ke selah-selah kursi dia melihat Farel yang sedang mendengarkan musik dengan erpon nya.
_"Semuanya sibuk, aku tidak tau harus bicara dengan siapa, apa yang terjadi? Mengapa Gara sangat dingin? Tidak biasanya dia mendiamkan aku, bahkan dari tadi pagi," batin Alzena sambil sesekali menatap wajah tampan Gara yang sedang tertidur pulas._
Keesokan harinya ...
Tidak seperti perjalanan pergi, perjalanan pulang membuat Alzena sedikit tidak nyaman, ya, tentu saja karena Gara yang tiba-tiba berubah menjadi dingin seperti es dan kulkas empat pintu.
Perjalanan pulang memakan waktu satu malam, dan akhirnya pagi ini Alzena, Gara dan Farel akhirnya tiba di kota mereka.
Bersambung ....
penasaran ni...lanjut thorrr