Jia harus menunggu Empat Belas Hari sebelum perceraiannya, ditengah ikhlas akan kandasnya pernikahan, Jia mendapati sebuah fakta yang bisa menyelamatkan pernikahannya.
Tapi takdir membuat Jia harus menelan sebuah pil pahit saat suaminya, Gao harus mengalami kecelakaan dan menghilang tanpa jejak.
Ditengah kesedihannya, Jia dinyatakan hamil, anak kedua mereka, Tujuh Tahun berlalu, Jia masih percaya kalau suaminya masih hidup.
Di hari Anniversary ke Tujuh Belas mereka, sosok Pria bernama Galih datang ke hadapannya dengan Wajah yang sama dengan Gao, suaminya.
"Kak Gao?"
"Gao? Saya Galih, salam kenal Mbak, tapi kayaknya sama Familiar dengan Mbak."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ridz, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 24. Tidak Akan Ada Yang Sendiri
Galih berdiri terdiam menatap wajah dua orang yang ada di hadapannya itu, dia tidak tahu bagaimana harus mengekpresikan apapun lagi sekarang, karena yang ada di hadapannya ini adalah masa lalu buruknya.
"Gao, kamu masih hidup?" Ayah Gao berjalan ke arah Galih yang membuat Galih langsung memundurkan dirinya beberapa langkah.
"M-Maaf saya bukan Gao, Bapak salah orang," jawab Galih menahan kesedihan di dalam hatinya karena hal ini.
Ayah Gao tersebut diam, dia tidak menjawab apapun pernyataan dari Galih tentang tudingan dirinya kepada Galih, bahwa Galih adalah Gao, anaknya.
"Maaf Pak, ada apa yah dengan sepupu saya, kok bisa dia di tahan?" tanya Garret memonopoli keadaan karena dia tahu kini Galih sedang bertarung dengan batin dan masa lalunya.
"Begini Pak, Mas Farhan menyerahkan diri ke polisi karena dia sudah melakukan penganiyaan terhadap Mas Gilbert sehingga membuat Mas Gilbert harus kritis dan koma di rumah sakit," jelas polisi tersebut yang membuat Garret mengangguk. "Kami akan memproses kasus ini sembari menunggu keterangan dari Mas Gilbert saat dia sadar nanti."
"Baik Pak, saya bisa bertemu Farhan?"
Polisi itu mengangguk, Polisi tersebut kemudian mengarahkan salah satu Polisi yang ada di sana juga untuk membawa Garret dan Galih ke tempat penahanan Farhan.
Garret dan Galih melangkahkan kakinya ragu karena mereka berdua tahu Farhan sangat tidak menyukai mereka apalagi keadaan Farhan sedang buruk sekarang.
"Farhan?"
Galih berucap kepada sosok Farhan yang tengah bersandar di tembok dengan wajah lesu, berantakan dan tidak seperti Farhan biasanya.
"Kamu baik-baik saja?" Galih kembali berjalan ketika Polisi tersebut membuka jeruji besi agar Galih dan Garret bisa masuk.
Tidak ada jawaban dari Farhan, keadaan Farhan benar-benar kacau, mentalnya terganggu dan dari matanya saja sudah bisa di pastikan Farhan benar-benar tertekan atas apa yang telah dia lakukan.
"Tidak usah dipikirkan, kami akan melakukan yang terbaik agar kamu bisa mendapatkan keringanan hukuman," ujar Galih yang membuat Farhan mengangkat kepala menatap sosok di hadapannya itu.
"Tidak perlu, Galih, saya pantas mendapatkan ini, anggap saja ini balasan atas semua yang saya lakukan kepada kamu dan istri kamu," jawab Farhan yang membuat Garret dan Galih saling melempar pandangan.
Galih mengulas senyum, pria bermata biru gelap itu meraih pundak Farhan dan menganggukkan kepalanya sejenak. "Apapun yang terjadi, kamu adalah keluarga kami, saya dan Garret sudah anggap kamu seperti saudara sendiri, jadi saya tidak akan membiarkan kamu terpuruk begini saja," jelas Galih pada Farhan.
"Bahkan ketika saya hampir menenggalamkan kamu dan istri mu di basemant waktu itu?"
"Its, Oke, setidaknya kamu sudah mengakui perbuatanmu, itu tidak akan merubah fakta bahwa kita keluarga," Galih tersenyumlah pelan.
Garret sendiri hanya bisa mengangguk setuju, walaupun terkadang Garret merasa bahwa kakaknya itu terlampau sabar dan mudah memaafkan seseorang, entah terbuat dari apa hatinya, selalu ada pintu maaf di sudut dirinya yang bisa di ketuk kapan saja.
Farhan menundukkan kepalanya, setitik bening air mata bernada penyesalan keluar dari pelupuk matanya, Galih tahu benar apa itu air mata penyesalan, Farhan mengangkat kepala dan langsung memeluk Galih.
"Sorry, saya benar-benar minta maaf, saya bodoh, saya tidak pernah membuka mata saya, semuanya tertutup harta dan kekayaan," bisik Farhan. "Maafkan saya."
"Tidak masalah Farhan, its okey brother! Menangis lagi tidak apa-apa, terkadang kita tidak menahan apapun itu sendiri, yang perlu kamu ingat bahwa setiap kamu berada di titik terendahmu, ingatlah bahwa ada Saya, ada Garret, ada Om Bram, ada Jia, ada Istri kamu yang selalu mendukung kamu, aku tahu Farhan kamu itu tidak jahat, keadaan memanipulasi isi hati kamu, kamu sangat menyayangi Mamamu, tapi aku minta setelah masalah dengan Gilbert selesai akuilah ini ke Om Bram dan mohon pengampunan kepada Tuhan," jawab Galih yang membuat Farhan mengangguk.
Tidak ada lagi percakapan diantara mereka bertiga, setelahnya Garret dan Galih harus pamit karena mereka akan mengecek kondisi dari Gilbert dikarenakan Ibu dan Ayah Gilbert sudah ada di rumah sakit setelah pertemuan di kantor polisi barusan.
"Tetap semangat, nanti saya akan meminta sopir untuk membawa kebutuhan untuk kamu selama disini, tentang Rein, saya akan menyampaikan hal ini," ujar Galih pamit kepada Farhan.
Galih dan Garret kemudian bertemu kembali dengan polisi yang pertama mereka temui bermaksud pamit untuk berangkat ke rumah sakit sekarang.
Tak butuh waktu lama di dalam perjalanan mereka untuk tiba di rumah sakit itu, Garret melirik arloji di lengannya, sudah jam sebelas lewat, artinya mereka sudah beberapa jam di luar.
"Bang Galih, masuk duluan saja yah, kayaknya adalah Telepon dari Papa aku," ujar Garret memilih mengangkat telepon dari Ayahnya.
Sementara itu Galih memilih masuk ke dalam rumah sakit dimana di depan ruangan Gilbert sudah ada Ibu Gilbert beserta Ayah dari Gao yang tadi Galih temui.
"Bagaimana dengan pertanggungjawaban kalian?" tanya Ibu Gilbert yang membuat Galih menghela napas panjang.
"Saya akan melakukan banding terhadap kasus ini, sepupu saya tidak mungkin melakukan itu tanpa alasan, ada sebab yang harus anda ketahui dan saya sudah punya buktinya."
"Apa maksud kamu?"
"Semisal rekaman suara percobaan pembunuhan, bukti percobaan pembunuhan, dari seorang Ibu dan Anak yang gila harta, maybe?" ujar Galih menyindir wanita tua itu. "Saya akan bertanggung jawab atas kasus ini sampai anak kesayangan ibu dan-"
Galih menghadap ke arah Ayahnya dan menghela napas panjang setelah menggantung ucapannya tadi. "Dan anak kesayangan, Bapak Gautama itu sadar dari Komanya."
•
•
•
TBC
Terus & semangat berkarya..
tp gpp sdh end jg....mksh thor
semoga polisi cpt bs membantu