NovelToon NovelToon
Marlangen

Marlangen

Status: sedang berlangsung
Genre:Horor / Misteri / Supernatural / Indigo / Tamat
Popularitas:249.3k
Nilai: 4.8
Nama Author: EliaAndri

Hidup Marlangen berubah ketika Bapaknya meninggal dengan tragis dan tidak wajar.
Ia pun berencana mencari tahu penyebab kematian Bapaknya.

Tapi teror demi teror dari para makhluk tak kasat mata membuat hidup Marlangen bertambah gelap.
Ditambah dengan sosok wanita setengah ular yang selalu mengusikanya.


Akankah Maralangen bisa menguak misteri tentang kematian Bapaknya ataukah Marlangen akan bernasib sama dengan Bapaknya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon EliaAndri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 23

Suasana yang tadinya tenang dan nyaman mendadak geger karena kabar dari pria muda yang barusan memberi kabar perihal kematian seseorang yang dijadikan tumbal pesugihan.

Perempuan setengah baya yang di datangi pria muda itupun menjerit tertahan sembari menangis, mungkin yang meninggal adalah suami atau sanak keluarganya. Ingin sekali aku mengikuti mereka, tapi aku tidak enak.

Akhirnya karena kondisi yang menjadi tegang, kamipun memutuskan untuk kembali ke Villa. Ternyata disana sudah ada Bi Imah yang sedang menyiapkan makan siang.

"Baru dateng, Bi?" tanya Aldi dengan menghempaskan diri ke kursi makan.

"Iya, Den. Tadi bibi kerumah Ceu Uus dulu soalnya suaminya meninggal mendadak," jawab Bi Imah sambil tetap memasak.

"Kecelakaan Bi?" tanyaku penasaran.

"Bukan, Non. Kaya yang sudah-sudah sepertinya jadi tumbal pesugihan"

"Udah lah, Bi. Jangan ngarang cerita begitu nanti temen-temenku nggak betah disini," tegur Aldi Bete.

Bi Imah langsung terdiam, mungkin karena takut kena omel lagi.

Saat teman-temanku yang lain beranjak ke ruang tengah untuk menonton tv, aku tetap berada di ruang makan yang menyatu dengan dapur.

"Yang barusan meninggal kondisinya juga sama seperti yang sudah-sudah Bi?" tanyaku sembari melangkah ke dapur untuk mengambil minum.

"Iya, Non. Sama persis. Padahal kata Ceu Uus istrinya Kang Tatang yang barusan meninggal, pas dia ke kebun teh. Kang Tatang masih baik-baik saja, nggak ada tanda sedang sakit"

"Sebenarnya saya pengen melayat, Bi. Tapi nggak enak soalnya saya bukan warga kampung sini"

"Nanti ikut aja, Non ke pemakaman. Kebetulan area pekuburan di belakang kebun teh ini jadi nanti rombongan pengantar jenazahnya juga lewat sini," ujar Bi Imah sembari mencuci sayuran yang akan dimasak.

Akupun kembali ke ruang tv menyusul teman-temanku yang lain.

******

Hari menjalang sore saat aku sedang santai di taman bersama Sella dan Amel. Terlihat rombongan pelayat yang mengiringi keranda berselimut kain hijau. Mungkin ini adalah jenazah orang yang diduga sebagai korban pesugihan.

Tapi mataku tertuju pada bagian paling belakang dari rombongan, aku melihat laki-laki paruh baya yang dibelakanganya diikuti oleh seekor kuda yang tampak lebih besar dari kuda yang biasa aku lihat. Kuda itu berwarna hitam dengan mata merah menyala. Aku tahu itu bukanlah kuda biasa, itu pastilah siluman kuda atau apapun yang berhubungan dengan teror pesugihan di kampung ini. Dan laki-laki yang diikutinya itu pastilah orang yang melakukan pesugihan.

Aku bergegas memanggil Bi Imah yang ada di dapur dan langsung membawanya ke Taman.

"Bi, laki-laki yang paling belakang itu siapa ya?" tanyaku pada Bi Imah dengan menunjukan seseorang yang ku maksud tanpa terlihat mencolok.

"Oh, itu juragan Jamal. Orang paling kaya di desa sini, Non. Kenapa atuh?" Bi Imah balik bertanya padaku dengan wajah polosnya.

"Nggak apa-apa kok Bi, cuma penasaran aja," kawabku kalem.

Bi Imah pun kembali ke dapur, Sella dan Amel hanya memandangku heran.

******

Keesokan harinya Bi Imah datang ke villa dengan mata sembab. Saat aku tanyai dia hanya bergeming.

Seperti biasa setelah menyiapkan sarapan Bi Imah mohon ijin pulang.

Hari ini kami berencana jalan-jalan ke dalam desa, kata Aldi didesa ada seperti semacam danau yang bagus untuk tempat foto. Mendengar itu tentu saja Sella dan Amel bersemangat sekali.

Kami pergi ke desa dengan berjalan kaki. Saat sedang berjalan menuju danau aku melihat satu rumah yang sangat berbeda dengan rumah lainnnya. Rumah itu besar dan mewah, meski tidak sebesar villa Aldi tapi rumah itu bertolak belakang dengan rumah penduduk yang lain.

Aku jadi ingin mampir ke rumah Bi Imah. Melihatnya dengan mata sembab seperti tadi perasaanku jadi ikut tidak enak.

"Al aku nggak jadi ikut ke danau, aku mau main ke rumah Bi Imah aja. Rumahnya yang mana ya?" tanyaku.

"Kok lo malah nggak ikut sih, Langen?" ujar Sella cemberut.

"Iya nih nggak asik," gerutu Amel.

"Mau aku temenin kerumah Bi Imah?" tanya Adit berbaik hati.

"Nggak usah, Dit. Kamu ke danau aja sama yang lainnya. Maaf ya, Sel, Mel," ucapku tidak enak.

Akhirnya Aldi menunjukan rumah Bi Imah yang terletak tidak jauh dari belokan ke arah danau. Akupun mengetuk pintu rumah Bi Imah dan yang membuka seorang anak kecil seusia anak SD. Pasti ini anak bungsu Bi Imah, pikirku.

"Bi Imah ada, Dek?" tanyaku ramah.

"Ada, mari masuk," jawab anak kecil itu juga dengan ramah.

Akupun duduk di ruang tamu rumah Bi Imah yang sangat sederhana. Saat Bi Imah menemuiku, dia masih terlihat sembab. Seperti baru saja menangis. Akupun bertanya masalah apa yang membuat Bi Imah sampai terus-terusan menangis. Disitu akhirnya Bi Imah cerita bahwa suaminya ternyata punya hutang banyak pada Juragan Jamal untuk judi, semalam Juragan Jamal kesini dengan centengnya untuk menagih. Bi Imah kelihatan takut.

"Orang-orang disini kalau butuh uang pasti pinjem di Juragan Jamal, Non. Kan dia orang paling kaya disini," ucap Bi Imah masih terisak.

"Termasuk orang-orang yang meninggal tidak wajar seperti kemarin?" tanyaku.

" Iya, Kang Tatang juga hutang dan dia nggak sanggup bayar jadi dia sempet di caci maki sama centengnya Juragan Jamal"

Jadi orang itu menjadikan orang-orang yang berhutang padanya untuk di jadikan tumbal. Entah kenapa ada rasa marah dalam hatiku.

Setelah cerita panjang lebar akupun pulang sendirian ke vila, saat berjalan pulang aku melewati rumah juragan Jamal lagi.

"Kamu bakal kena karma, Jamal!" gumamku tanpa aku sadari.

1
Oky Diana
kenapa jd bab 1 lagi ya thor? bab 2 nya mna
Oky Diana
knp dr awal sampe akhir babnya itu2 aja ya ???
Jama Sari
knpa ya d hp Sy cerita tiap bab nya SM dgn cerita prolog,smpai ta buka e pirang² bab ttp ae,tp klw BCA komentr² org² ky x gak keulang² deh bab x.bingung Sy padahal pnasaran
Jama Sari
ko d ulang² bab nya
senja
hiatus ya
Dena Denna
up thorr...
nurvi kekopo
lekk..lekkk ta enteni lekkk
Anonim
apakah ganti judul?udh lama nungguin up author nih
Novrii Gischaa Randana
kapan up thor
Umi Nur Aini
lanjut thoorr....banyak yg nungguin ini semangaatt berkarya 💪💪
NURYANTI
apakah cerita ini udah ga berlanjut ya
udah lama nungguin nya
udah hampir setahun
Yaz Q
Di lanjut boss
Lina Link
kok ga up lagi thor...jgn putus di sini dong..sayang cerita nya bagus thor..di tggu lanjutan nya
Yanti Yul
ayoo dong thorr .. cerita yg ini jg d lanjuut 😢 jgn kecewakan yg slalu ngintip 😅😁

d tunggu ya up nya 👍😃
Yaz Q
Lanjut
Novrii Gischaa Randana
kapan up ka?
Nureti
sukses kak
sudah mampir
Ai Emy Ningrum
misiiii ..pakeet...
Lintang Maharani
kok gak up lgi kak
Ciezwaty
thor ,semanat up ny , jangan lama" ,
q jd ngulang lg baca ny soal ny sedikit lupa 🤣🤣
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!