Ayahnya Arumi terlilit hutang. Hal itu membuat sang ayah kena serangan jantung. Arumi tidak punya uang untuk membawa sang ayah berobat. Bahkan, rumah sebagai jaminan sudah ditarik rentenir. Dalam keadaan sulit itu, seorang dokter wanita menawarkan bantuan kepada Arumi. Akan membiayai pengobatan sang ayah, asal Arumi mau menikah dengan ayahnya yang sedang sakit.
Tidak ada pilihan lain, dalam keadaan terpaksa Arumi menerima tawaran itu, walau sebenarnya ia masih ingin melanjutkan studynya.
Pernikahan Itu pun terlaksana, dan ia dikejutkan dengan kenyataan bahwa, pria yang ia sukai di pandangan pertama adalah anak dari pria tua yang menikahinya, tepatnya. Arumi menyukai anak tirinya.
Bagaimana kah kelanjutan kisah cinta terlarang itu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Febriliani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
DARAH
Pukul 5 sore, Arum tiba di rumah. Pekerjaannya memeriksa proposal dari mahasiswanya Dimas belum selesai. Tapi, ia sudah memilih pulang. Ia sudah tidak bisa menahankan sakit perutnya lagi.
Saat sampai di rumah, ia kejutkan dengan keadaan rumah yang sepi.
"Koq sepi sih?" ujar Arum meringis kesakitan. Satu orang pun tidak ada di rumah itu.
Arum yang sudah kesakitan, tidak mau memusingkan itu. Ia berlari ke dapur. Setelah menyimpan tas nya di atas meja makan. Ia akan meracik jamu, untuk ia minum. Yaitu irisan kunyit, jahe, kencur yang direbus.
Sembari menunggu minumannya mendidih. Arum terlihat banyak minum air hangat, duduk dengan muka masam di kursi meja makan. Ya, dengan banyak minum air hangat. Rasa sakit di perut bagian bawahnya biasanya akan berkurang 2 hingga tiga jam.
"Orang-orang pada kemana sih. Pak satpam juga gak ada." Keluhnya, membawa jamu kunyit asam racikannya sendiri ke taman belakang rumah.
Di taman belakang juga sunyi senyap. Biasanya di Poppy heboh disaat ia datang. Tapi, kali ini burung itu malah tertidur.
"Pop,.poppy...!" teriak Arum kuat.
"Ma..malling... Maling.../" Oceh Poppy jenis burung beo yang kepintarannya hampir sama dengan anak SD. Bisa bicara lancar, dan berhitung.
"Iihh.. Kamu, selalu buat heboh. Kemana semua orang, koq sepi sih!" tanya Arum kepada si Poppy gemesh. Ia tahan kan rasa sakit diperut bagian bawahnya, mencoba rileks mengajak Poppy bercanda.
"Pulang... !" sabut Poppy melompat-lompat di kandangnya dengan ceriah.
"Oohh pulang!"
Arum mendudukkan bokongnya di kursi taman dekat kandang nya Poppy
Saat ini Poppy sedang bernyanyi. Hal itu membuat suasana hatinya Arum sedikit membaik. Walau ia merasa badannya sudah meriang, ingin muntah juga serta tubuhnya berkeringat dingin.
🎼Indonesia tanah airku.
Pak Jokowi presiden indonesia
Saat Ini Poppy si burung pintar bernyanyi random. Apa saja yang sering ia dengar, ia nyanyikan.
Arum tadinya menikmati lagu yang dinyanyikan oleh Poppy. Tapi, semakin lama, ia merasa o perutnya semakin sakit. Padahal ia sudah minum jamu dan banyak air hangat.
"Hadeuuuh.. Poppy lebih baik kamu diam deh!" keluh Arum, Setelah keluar dari kamar mandi. Ia Jadi kesal mendengar suaranya Si Poppy yang cempreng. Suasana hati jadi buruk. Ditambah ia merasa kepalanya jadi sakit pusing tujuh keliling. Mendadak air liur juga jadi terasa pahit.
"A, aku kenapa ya?" ujar Arum memegangi kepalanya yang sakit Itu.
"Aku Kenapa ya!?" Poppy meniru ucapan Arum.
"Pop, tolong!" mendadak pandangan nya Arum blur.
Bruuggkk..
Wanita itu pun ambruk di depan kandangnya Poppy.
"To..long.. Tolong...!" oceh Poppy dengan heboh nya di dalam kandangnya.
Satu jam kemudian, disaat hari sudah gelap. Poppy yang merasakan ada orang datang ke rumah itu mengoceh oceh Terus. Karena rumah itu audah terang. Tadinya rumah itu gelap gulita.
"Tolong... Dimas...!" ujar Si poppy burung pintar. Dari kejauhan ia bisa tahu kalau yang datang adalah si Dimas.
"A, Arum...!" teriak Dimas dengan penuh kekhawatirannya.
Ia rengkuh tubuhnya Arum, menggendongnya dan membawanya ke kamarnya Arum.
"Arum... Kamu kenapa?" Dimas berusaha menyadarkan Arum, dengan menepuk pelan pipi serta menggoyang lengannya Arum lembut. Ia sangat khawatir pada wanita itu.
"Da, darah...!" ia pun tersadar, kalau Tangannya kini terdapat darah. "A Arum.. Kamu kenapa?"
Dalam kepanikannya ia pun menelpon dokter