season 2: Kenza & kenzo
Lea Mahendra anak tunggal dari keluarga konglomerat tapi sama sekali tidak pernah merasakan yang namanya kasih sayang orang tua yang membuatnya mempunyai sifat dingin tak tersentuh. diusianya yang masih 16 tahun lea mewarisi mafia dari seorang kakek tua yang tidak segaja dia selamatkan di usia 13 tahun.
di usia 19 tahun lea mengalami kecelakaan yang diakibatkan oleh musuh bebuyutannya bukannya masuk neraka karena kejahatannya tapi malah masuk ke dalam buku novel yang pernah dia baca 'love for gracia' bersama dengan sistem
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon tia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
marga yang sama seperti kehidupan sebelumnya
Lift terbuka segera Gisel keluar dari sana terlihat dari pandangan di depannya sangat banyak orang yang tersiksa menahan kesakitan yang mereka alami.
......................
"Lo mau ap kesini dasar iblis berdarah dingin mati saja sana" teriak semua tahanan yang ada disana.
"ohh kalian sangat Senang yah gue datang kesini gue jadi terharu mendengarnya" Gisel pura-pura terharu dengan penyambutan yang di lakukan oleh para tahanan.
"siapa juga yang senang dengan berada Lo dasar iblis kejam bahkan lebih kejam dari pada iblis itu sendiri" teriaknya sambil berusaha berdiri.
"wah wah sepertinya dia sudah mulai berani dengan Lo Gisel" Gisel berbalik saat mendengar suara yang sangat dia kenali.
"itu benar Lea di sudah berani dengan gue" Gisel tersenyum miring menatap orang yang berani berbicara tadi.
"dia nggak tau saja kola Gisel itu menurut gue nggak kejam-kejam amat deh" Lea tersenyum iblis tidak ada yang menyadari hal tersebut karena menutup mulutnya dengan tangan.
Gisel berjalan ke arah pria yang berani berteriak tadi sambil tersenyum iblis dengan langkah pelan Gisel menghampirinya pria tersebut. berjongkok di depannya belati yang sendari tadi di pegang di arahkan ke wajah pria tersebut membuat ketakutan.
"Gisel Lo siksa dia dengan sadis gue mau mengurus orang yang ingin membobol identitas kita berdua" Gisel mengangguk paham mulai menyayat tubuh pria tersebut dengan sadis.
"na na na" Gisel bersenandung senang sambil tersenyum tipis mendengar suara teriak yang pria yang ada di depannya.
"gambar gue jelek Lea nggak boleh tau tentang itu kalo kaga pasti dia akan meledek gue sehari penuh karena itu" Gisel berpikir sejenak sambil menatap tubuh pria yang baru saja di sayap-sayap sambil menggambar di tubuh pria yang ada didepannya.
"aah gue punya ide bagaimana kalo gue bikin yang baru kan masih banyak tempat dan lagi gue masih belum memotong-motong jari tangan dan kaki Lo" Gisel kembali menggambar di iringi dengan suara kesakitan.
"dasar iblis kalo gue selamat dari sini gue akan melaporkan Lo ke polisi karena Lo sudah membuat gue kaya gini" Gisel berhenti sejenak langsung menampar pipi pria yang ada di depannya.
"Lo kira Lo bisa keluar dari sini hidup-hidup tentu saja nggak sudah banyak korban gue yang bilang kaya itu tapi buktinya mereka tidak bisa melakukan" pria tersebut pucat seketika.
"Lo itu beruntung gue yang turun tangan kalo Queen Le yang Turun tangan entah apa yang terjadi pada tubuh dua hari yang lalu" Gisel memotong-motong jari tangan dan kaki yah.
"nggak pernah berubah Lo Gisel selalu saja sadis menyiksa orang" Lea menatap apa yang di lakukan oleh Gisel dari layar.
"Queen Le komputer yang anda minta sudah selesai' Lea memutar kursinya lalu berbalik menatap pria yang ada di depannya dengan tajam setajam silet.
"tatapan yang menyeramkan" pria tersebut meneguk ludah kasar Lea berdiri melewati pria tersebut dengan santai menunju ke ruang TI.
di ruang TI Lea langsung duduk di depan layar komputer mengotak-atik komputer tersebut dengan lincah lalu menekan tombol enter.
semua informasi tentang siapa yang berani ingin membobol identitasnya dan Gisel langsung muncul di layar.
"Viona Rosalina seorang TI yang berkerja sebagai tentara bayaran dan juga seorang TI sudah di akui oleh dunia sebagai TI yang tak pernah gagal membobol" Lea tersenyum remeh menatap bio yang ada di depannya.
"menarik" Lea kembali mengotak-atik komputer alangkah terkejutnya saat mendapati marganya di kehidupannya dulu.
"Mahendra di dunia novel ini berbeda dari keluarga gue yang juga bermarga Mahendra" Lea membaca semua informasi tentang keluarga Mahendra di dunia novel ini.
"Queen Le tampaknya sangat serius membaca informasi di layar" batinnya sambil menatap layar yang ada di depannya.
Lea menatap jam hp di sana menunjukkan jam 06.00 di beranjak dari kursi lalu pergi dari sana tapi sebelum itu dia harus menemui Gisel untuk pulang bersama.
"Gisel ayo pulang" Lea menatap memandang di depan yang sudah sangat banyak mayat yang tak utuh.
"ayo tapi sebelum itu gue mau ganti baju dulu" Lea mengangguk pelan berjalan ke arah mayat-mayat yang ada di depannya lalu mengambil darah dengan jarinya lalu menghirupnya.
"sudah dua hari nggak menghirup darah segar" Gisel menatap Lea sejenak lalu berbalik pergi dari sana membiarkan Lea menghirup darah segar.
setelah Gisel selesai Menganti baju yang sama seperti yang dia pakai tadi kembali ke ruang bawah tanah menemui Lea. di sana Lea sudah tidak ada Gisel pun pergi dari sana keluar markas tampak Lea berdiri di samping mobil sambil melipat kedua tangannya.
"lama Lo" Gisel berdecak kesal tapi bisa di tahan menghela nafas panjang Gisel berjalan ke arah Lea.
"tanah" Lea mengangguk mengerti merasa bersalah karena tidak menelpon Gisel memberitahukan kalo dia menunggunya di depan markas.
"maaf" Gisel menatap Lea sejenak masuk ke dalam mobil di ikuti oleh Lea masuk kedalam.
"akhirnya mereka berdua pergi ayo kita party" teriaknya setelah mobil Lea dan Gisel sudah jauh dari sana.
"ayo" teriak mereka semua semangat langsung berlari keluar masuk ke dalam mobil lalu melajukan mobil mereka pergi dari sana membiarkan markas kosong.
......................
sekarang Lea dan Gisel berada di mansion Atmajaya mereka berdua keluar dari mobil terlihat di depan mansion banyak motor dan mobil yang terparkir.
"tamu" Lea mengangkat kedua bahu tidak tau kalo ada tamu di mansion keluarganya.
"bunda ayah" Lea membuka pintu lebar-lebar dengan Gisel berdiri di belakang. semua tamu langsung menatap kearah bunda yang melihat kedatangan Lea dan Gisel langsung menghampiri mereka berdua.
"nah semua dia adalah Lea anakku dan dia Gisel sahabat anakku" bunda menarik mereka berdua masuk ke dalam sambil tersenyum lembut.
"mereka berdua cantik bisalah jadi menantuku" bunda menggeleng pelan sambil tersenyum manis mendengarnya.
"enak aja Lo dia itu menantu gue jangan berani-berani Lo rebut dia" mama berdiri langsung memeluk Lea posesif.
"posesif mat Lo" dia menggeleng Pelan membuat mama melepas pelukannya.
Lea hanya diam menatap mereka semua hingga mata tertuju pada calvino yang sedang berkumpul dengan para anak remaja. Lea berjalan ke arah calvino di ikuti oleh Gisel di belakangnya karena tidak ingin berkumpul sama dengan ibu-ibu.
"yang boleh tidak aku dan Gisel bergabung bersamamu dan yang lain" calvino mengarahkan pandangannya ke arah suara yang dia kenali.
"tentu saja bisa kau ini dari mana saja Lea" calvino berdiri menghampiri Lea lalu memeluk dengan erat.
"cih" Gisel berdecak kesal melihat Lea dan calvino berpelukan.
"selalu saja seperti ini untung di sini banyak orang jadi nggak jadi nyamuk gue" Lea melepas pelukannya tersenyum manis sambil melirik ke arah Gisel yang tampak kesal.
"aku tadi sama Gisel jalan-jalan ke pantai di sana aku juga ketemu dengan Rebel dan lyndon yang sedang kencan" calvino tersenyum mengelus rambut Lea lalu mengajaknya duduk di sampingnya.
"Kaka Gisel sini duduk sama Rebel saja lyndon kau pindah ke sana aku mau sama Kaka Gisel" usir Reva sambil menunjuk tempat yang kosong.
"tapi" Reva langsung menatap tajam lyndon sambil menaruh kedua tangannya di pinggangnya membuat lyndon pasrah pergi dari sana.
"ini kepada banyak orang?" Gisel mengajukan pertanyaan duduk di samping Reva.
"setiap tahun orang tua kita semua berkumpul untuk reuni dan anak-anak juga harus ikut reuni ini walaupun gue malas ikut karena ada dia" Reva mengkode Gisel dengan mata. Gisel langsung mengarah pandangannya ke arah orang yang di kode oleh Reva di sana terdapat seorang gadis yang terlihat terlihat sangat sombong dan norak.
"dia memang terlihat seperti gadis yang tak benar" Reva mengangguk pelan membenarkan ucapan Gisel yang masih menatapnya.
"Yang tadi itu aku ketemu marga" Lea berhenti sambil menutup mulutnya lupa kalo dia orang yang bertransmigrasi.
"marga apa yang" Lea menggeleng pelan membuat calvino menghela nafas tidak menanyakan lebih lanjut.
Lea mengarah pandangannya ke gisel yang terlihat menanyakan sesuatu seperti 'ada apa dengan lo' itulah yang terlihat dari mata Gisel.
mulut Lea bergerak sedikit sebagai kode untuk Gisel 'nanti gue ceritain' itulah dari gerakan mulut dari Lea yang membuat Gisel mengangguk mengerti.
mana yang bener?🤔