seorang janda muda yg terpaksa menikah dengan atasannya. dan terlibat cinta segitiga antara dia, suami dan mantan suaminya. siapakah yang akan dia pilih?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lin Aiko, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
24
"Selamat siang nona Alea" sapa Zia dan Kartika, mereka berdiri didepan Senja sebagai benteng.
"Mohon maaf, sesuai perintah tuan Langit anda tidak diperkenankan untuk menemui Nona Senja." Zia memberi peringatan dengan sopan
"cih, memang siapa dia sampai kalian melarangku menemuinya?? kalian lebih tau gue siapa!!??" Alea kesal
"Silahkan masuk Nona" Kartika memapah Senja untuk masuk ke dalam.
Senja bingung, ia merasa tidak sopan meninggalkan Alea, tapi Kartika memaksanya untuk masuk ke dalam jadi ia menurut saja.
"Gila!! kalian dah bener-bener gak ngehargai gue!!" teriak Alea.
Ella yang menderangar keributan akhirnya keluar, ia melihat Zia sedang menahan Alea.
"Mohon anda tidak mempersulit kami Nona. Kami sangat menghargai kedatangan anda, tetapi jika kedatangan anda untuk bertemu Nona Senja kami tidak akan mengijinkannya." kata Ella.
Alea menatap Ella kesal, ia tahu jika tetap memaksa masuk dia akan mendapat masalah. Akhirnya dia memutuskan untuk pergi dari sana.
"Lebih cepat dari yang ku perkirakan. Mulai sekarang jaga Nona Senja lebih ketat. Nona Alea tidak akan semudah itu melepaskan Nona Senja." Ella memberi peringatan pada Zia.
Sedangkan Senja sedang kebingungan. apa yang harus dia katakan jika dia bertemu Alea. Dia sadar berada di posisi yang salah diantara hubungan Alea dan Langit.
********
Sekitar pukul delapan malam Langit sudah menginjakkan kaki dirumah. Ella melaporkan apa yang terjadi tadi siang pada Langit.
Ketika Langit masuk kamar, Senja sudah berdiri. Ia terlihat sedang menunggu kedatangan Langit.
"Kenapa??" tanya Langit ketika melihat wajah Senja terlihat bingung
"Tadi bu Alea datang kemari, pak." jawab Senja.
"Trus??" Langit melepaskan jas dan dasinya, melemparkan keatas tempat tidur.
"Sepertinya bu Alea sudah tahu kalau saya istri anda." jawab Senja lagi.
"Kalau lo gak mau dengerin dia ngoceh, pinter pinter lo ngehindari dia lah." kata Langit, masuk ke ruang ganti meninggalkan Senja yang masih kebingunan.
"huuft, gimana mau menghindarinya kalau kerja aja sekantor. Pasti dia bakal nyari aku besok." Senja berkeluh kesah sendiri. " bakal terbongkar deh semuanya."
Senja merapikan jas dan kemeja Langit yang berantakan di atas tempat tidur, membawanya ke tempat baju kotor di dalam ruang ganti. Langit terdengar masih mandi, ia memutuskan untuk menunggunya diluar lagi untuk menuntaskan pembicaraan yang belum kelar.
Tak lama Senja menunggu, Langit keluar dari ruang ganti sudah memakai celana pendek selutut dan kaos oblong putih. Ia mengeringkan rambutnya yang basah dengan handuk.
"Udah lo ganti?" Langit melihat kaki Senja.
Senja mengangguk cepat.
"Masih ada yang harus saya tanyakan, pak." kata Senja.
Langit merebahkan badannya diatas tempat tidur, "Apa?"
"Bagaimana jika bu Alea memaki saya dikantor? karyawan lain akan tahu tentang pernikahan ini." tanya Senja
"Dia tidak akan berani melakukkannya. Turuti saja apa yg gue bilang, hindari dia sebisa lo!!" jawab Langit.
"Mungkin bagi anda ini mudah, tapi tidak bagi saya" Senja terlihat muram, "Saya berada diposisi yang salah diantara kalian. Walaupun saya mempunyai status sebagai istri anda, tapi semua orang tahu hubungan kalian sudah berjalan lama. Semua orang akan menganggap saya sebagai perusak hubungan anda dan bu Alea. Hal itu membuat saya terlihat seprti bukan wanita baik-baik."
Langit diam, tak memandang Senja. Matanya fokus menatap langit-langit kamar.
"Seharusnya dulu saya benar-benar harus berfikir panjang ketika pak Subagio meminta bantuan saya." Senja menutup pembicaraannya karena tidak ada tanggapan dari Langit. Ia kembali ke sofa dan mencoba untuk tidur.
*********
Pagi ini Senja duduk diam didepan meja riasnya, memandang bayangan dirinya dicermin. Baju tidur masih melekat ditubuhnya walaupun ia sudah mandi.
Senja merasa tidak nyaman untuk kembali ke kantor. Membayangkan bagaimana orang-orang memandangnya pun sudah membuat dirinya malas.
"Lo mau bolos lagi?" tanya Langit yang baru selesai mandi.
Senja hanya menatap Langit dari cermin, ia sedang memakai kemeja putih.
Tak mendengar jawaban dari Senja, Langit menatap Senja. Pandangan mata mereka bertemu di cermin membuat Senja terkejut.
"ssayaa.... " Senja tak melanjutkan kalimatnya. ia ragu akan menjawab apa.
Langit menghampiri Senja. ia berdiri dibelakang Senja. Kedua tanganya menekan meja rias Senja, membuat badan Senja sedikit membungkuk karena tertekan dada Langit.
Langit menatap Senja lewat cermin, "Jangan membuat diri lo seperti yang mereka pikirkan." kata Langit
Senja diam, bukannya apa. Tapi ia merasa susah bernafas, Langit terlalu dekat dengannya. jantungnya pun berdegub lebih kencang.
Jedug!!
"Aaargggh!!"
teriak Langit memegangi dagunya karena tersundul kepala Senja yang tiba-tiba berdiri.
"Maaaf maaaf pak" Senja kelabakan, ikut memegangi dagu Langit.
"Aaah, sial Lo!! sakit banget!! kepala lo dari batu apa??" umpat Langit. "jadi merah kan!!" Langit mangangkat dagunya melihatnya di kaca.
"Enggak kok, gak kenapa-kenapa" Senja berusaha menyelamatkan diri.
"Gak kenapa-kenapa gimana?? nih lihat!!" Langit sedikit membungkukkan badannya, mengarahkan dagunya ke Senja. Ya, karena memang Senja hanya setinggi Bahu Langit.
"Ada apa pak??" tiba-tiba Hengky masuk.
Langit dan Senja langsung melihat Hengky dan reflek saling menjauhkan badan.
"Ah maaf mengganggu kalian, saya mendengar teriakan bapak tadi. Jadi saya buru-buru lari ke sini." Hengky memberi penjelasan, melihat pose Langit dan Senja seperti mereka akan berciuman. "Saya akan mundurkan jadwal anda, silahkan lanjutkan kegiatan anda, pak." Hengky mundur.
"Hei brengsek!!" Langit melempar Hengky dengan Sandalnya "Lo mikir apa ***!!" teriak Langit.
Hengky keluar dengan cekikikan, ia merasa senang bisa mengerjai Langit.
Senja buru-buru mengambil baju kerjanya dan masuk ke kamar mandi, sedangkan Langit lanjut mengancingkan kancing kemeja yang belum sempat ia kancingkan.
Hengky memberikan senyum menggoda ketika Langit baru keluar ruang ganti. "Anda tidak perlu buru-buru Pak." kata Hengky.
"Mau mati Lo!!??" kata Langit Kesal.
"Apa anda mau mendahului kehendak Tuhan, Pak?" tanya Hengky.
Langit hanya mendengus kesal, ia duduk di sofa memakai sepatunya.
"Bagaimana dengan perintahku semalam?" tanya Langit
"Saya sudah mendapatkannya, setelah semua beres akan saya sebarkan." jawab Hengky.
"Zia dan Kartika akan bertugas sebagai karyawan magang di Lantai delapan, mereka akan mengawasi Alea agar tidak mendekati Nona Senja." lanjut Hengky
Langit hanya mengangguk.
"Kenapa lo gak ngelepasin Alea saja, Lang?" tanya Hengky
Langit menatap Hengky. "Lo pikir gue gak mau? Lo bakal tanggung jawab kalo sampai dia bunuh diri lagi?"
"Gue sedih lihat kalian berdua." kata Hengky.
"Gue berharap dia gak nyakitin lebih banyak orang karena keegoisannya." Langit berdiri dan keluar kamarnya diikuti Hengky.
Senja mendengar percakapan Langit dan Hengky. Yang bisa ia simpulkan, selama ini Langit menjalin hubungan dengan Alea pun juga karena terpaksa. Bukan karena cinta.
-bersambung-
aku sih yes SM langit
jgn² di suruh si lea muncul ini