Snow Tierra Arashi, seorang host terkenal yang menikah dengan seorang arsitek muda bernama Panutan Aaric Semesta.
Tak pernah terbayangkan sebelumnya, jika kehidupan pernikahannya ternyata jauh dari kata bahagia, lantara ibu mertua dan adik iparnya selalu ikut campur dalam persoalan rumah tangganya.
Akankah Snow akan bertahan dengan rumah tangganya atau ia justru akan kembali pada Calla Nirwana, mantan kekasihnya yang masih begitu mencintai Snow?
Selengkapnya hanya di novel Snow in Paris.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Irma, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
CHAPTER - 24
Pukul 22.00 malam Snow terbangun oleh suara Aaric yang memanggil namanya. "Sayang kenapa kau tidur di sini?" Aaric membopong tubuh Snow dari balkon kamar tamu.
Seharian melamun, membuat Snow tak sengaja tertidur di balkon. "Eh.." ia terkejut dengan kedatangan Aaric. "Lanjut tidur di kamar kita ya," saat Aaric hendak membawanya ke kamar mereka, Snow langsung menolaknya.
Ia berusaha turun dari gendongan Aaric. "Aku mau tidur di sini saja," tolaknya sembari menatap Aaric, rasa kesalnya perlahan muncul mengingat Aaric telah merubah password wifi sehingga ia tak bisa membuka internet. "Kenpa mas Aaric merubah password wifi rumah ini? Bukankah mas Aaric tahu jika selama ini aku membantu Sky berjualan? Beberapa hari ini aku tidak bisa membantu sebab mas telah menyita handphoneku dan sekarang merubah password wifi.."
Aaric menaruh jari telunjuknya di bibir Snow. "Sssttt... Kau tidak perlu mencemaskan Sky, aku sudah suruh orang untuk membatu usahanya, termasuk memberikan modal tambahan untuknya. Bisnis dia akan berjalan baik-baik saja asalkan kau tetap bersikap manis dan tidak coba-coba kabur dari sini. Ngerti?"
Snow menggelengkan kepalanya. "Bagaimana aku bisa bersikap manis, sementara kau justru menfitnahku di depan ibumu?" amarah Snow kembali meledak mengingat perdebatannya antara dirinya dan ibu mertuanya tadi pagi. "Kau bukan hanya memfitanhku tapi kau juga memalsukan rekam medisku, kau benar-benar pria jahat." Snow memukuli lengan Aaric karena tak terima dengan fitnah yang di buat suaminya.
"Snow tenang dulu.." Aaric berusaha meraih tangan istrinya agar berhenti memukulinya. "Apa yang tenag mas? Pantas saja selama ini ibumu tidak pernah suka denganku ternyata justru kau sendiri yang mengatakan hal yang tidak-tidak tentang aku," Snow semakin tidak terkendali, ia merasa harga dirinya telah di hancurkan oleh suaminya sendiri, Snow terus memukuli Aaric hingga kahinya Aaric tak tahan dan mendorong Snow ke tempat tidur.
"DIA IBUKU!!" bentak Aaric. "AKU TIDAK MUNGKIN MENGATAKAN YANG SEBENARNYA KARENA BISA MEMBUATNYA KECEWA. NGERTI!!"
Kilatan sorot matanya sama seperti, dimana Aaric melukainya, hal itu membuat Snow ketakutan. Snow merangkak mundur menjauh dari Aaric ."PERGI... PERGI....!!" teriak Snow dengan tubuh yang gemetar begitu hebat.
"Jangan pernah kau coba-coba menceritakan kepada siapapun mengenai kejadian kemarin, atau aku buat usaha adikmu hancur!" ancam Aaric, sebelum ia melangakahkan kakinya pergi meninggalkan Snow.
Tangis Snow pecah selepas Aaric keluar dari kamar. "Ibu huhuhu.... Aku takut ibu.... Aku mau pulang huhu...." Snow benar-benar tak tahan dengan sikap Aaric maupun ibu mertuanya. "Tolong aku ibu..." rintihnya dalam ketakutannya, Snow sungguh sangat merindukan dekapan ibundanya.
Di saat yang bersamaan, Rini ibunda Snow yang tengah merapihkan meja makan tak sengaja menjatuhkan gelas.
Praanng...
Sky yang berada di kamar langsung berlari menghampiri ibundanya. "Ada apa bu?" tanyanya panik.
"Enggak, tadi ibu enggak sengaja menyenggol gelas hingga jatuh," ucap Rini, ia berjongkok membereskan sepihan gelas yang baru saja ia jatuhkan, namun Sky lasung melarangnya. "Ibu duduk saja, minum dulu, pasti ibu kaget. Biar pecahan gelasnya aku saja yang membereskan," cegahnya. Ia berjongkok dan mulai membereskannya. "Sudah malam bu, kenapa masih beberes? kan bisa di kerjain besok pagi sama bibik. Mending ibu tidur saja..."
"Nanggung nak biar sekalian beres, ibu tidak bisa tidur jika dapur belum bersih. Lagi pula besok kan kita kan sibuk mau bikin resep baru."
"Iya tapi tapi ini sudah waktunya ibu istirahat," Sky mengi gatkan. "Ibu jangan lewat sini dulu, aku mau ambil sapu dulu," ucap Sky, ia berlalu mencari sapu di dapur, sementara Rini duduk di meja makan sembari mengelus dadanya. "Perasaan ibu kok enggak enak ya Sky, tiba-tiba saja ibu kepikiran kakakmu," ucapnya dengan nada penuh kecemasan.
"Ibu tinggal telepon aja kalau rindu," ucap Sky dari dapur.
"Menurutmu mengganggu tidak ya? Ibu takut kakakmu masih capek pulang liburan sama suaminya."
"Coba saja bu, kalo di angkat ya berarti mba Snow lagi senggang, kalo enggak di angkat atau mati teleponnya berarti sudah istirahat, besok ibu telepon lagi." Sky mulai menyapu sisa sepihan gelas yang masih tersisa di lantai.
"Ya sudah ibu pinjam handphonemu dulu, handphone ibu ada di kamar."
Sky merogoh kantongnya, kemudian ia memberikan handphonenya kepada ibundanya sebelum ia kembali ke belakang untuk membuang serpihan gelas.
Pada deringan ke tiga Snow belum juga mengangkat teleponnya. "Apa sudah tidur ya?" gumam Rini, ketika ia hendak mematikan sambungan teleponnya, tiba-tiba ia mendengar suara menantunya yang mengangkat teleponnya.
"Assalamualaikum bu," ucap Aaric dari seberang telepon.
"Walaikumsalam nak." jawab Rini. "Maaf malam-malam mengganggu istirahatmu, apa Snownya ada?"
"Ooh maaf bu, Snownya sudah istirahat bu, kayanya ia sangat kecapean setelah sampai tadi. Maklum bu, kita habis keliling Jepang beberapa hari ini," ucap Aaric berbohong. "Nanti oleh-olehnya aku paketkan saja ya?"
"Tidak perlu nak, ibu menelepon bukan untuk menanyakan oleh-oleh. Ibu hanya rindu dengan Snow, ibu khawatir ia kecapean atau sakit."
"Ibu tidak perlu cemas, Snow sangat happy. Alhamdulillah trauma dan kesedihannya pasca kehilangan bayinya perlahan mulai hilang, dan kita sudah mau menyusun rencana untuk program kehamilan lagi bulan depan."
"Ya Alhamdulillah jika Snow sudah pulih, ibu titip Snow ya nak. Jaga dia baik-baik."
"Pasti bu, dia kan istriku."
"Ya sudah, kamu juga istirahat, pasti kamu lelah kan? Assalamualaikum."
"Walaikumsalam," Aaric mematikan sambungan teleponnya dan membuang handphone Snow ke tempat tidur. "Mengganggu saja," gumamnya, ia langsung menghubungi asistennya untuk membeli oleh-oleh khas Jepang dN mengirimkNnya ke rumah ibu mertuanya agar percaya jika dirinya dan Snow betul-betul habis liburan ke Jepang.
Sementara itu, setelah selesai mengepel lantai yang basah akibat gelas yang terjatuh tadi, Sky menanyakan keneradaan kakaknya. "Mba Snow apa sudah pulang bu?" tanyanya.
"Sudah tapi sudah istirahat kata kakak iparmu," jawab Rini.
"Wahh pasti Mba kecapean seminggu jalan-jalan di Jepang, tapi kok Mba Snow belum upload foto ya? Biasanya mba Snow selalu upload di story whatsappnya. Apa mba dan mas Aaric ingin benar-benar me time ya? Melupakan kesedihan kehilangan calon anak mereka."
"Mungkin saja," Rini mengangkat bahunya. "Tapi kok perasaan ibu masih tidak tenang ya?"
Sky mengelus lengan ibundanya dengan lembut. "Mba Snow baik-baik saja bu, dia malah baru seneng-seneng dengan suaminya. Mungkin ibu hanya rindu dengannya, nanti kapan-kapan kita ke Jakarta ya, nengokin mba Snow di rumahnya."
Rini menganggukan kepalanya, setuju. Kemudian ia mengajak anak bungsunya istirahat.
cinta akan tetap berpulang pada yang berhak walaupun sudah menikah kalau bukan jodohnya pastinya tetap bercerai juga