Xilondra kembali jatuh cinta pada seorang wanita bernama Sania. Setelah cintanya bersama Vynnita kandas, beberapa tahun yang lalu.
Mereka berdua telah berniat untuk menikah. Namun, Xilondra diharuskan menyelesaikan tugas yang membuatnya mengalami kecelakaan.
Penyembuhannya memakan waktu selama satu tahun. Sehingga ketika Xilondra kembali, ia menemukan sebuah kenyataan jika, Sania telah menjadi seorang janda.
"Kau menikah dengan siapa? Bagaimana bisa, ketika aku kembali statusmu telah berubah?" Xilondra menghempas tangan Sania yang menggenggam tangannya. Lagi-lagi hatinya potek karena wanita.
"Aku telah mengecewakanmu, Xi. Aku tidak pantas di maafkan!" Sania berlari, dan memutuskan bekerja di kota.
Namun, setelah Xilondra mengetahui satu hal. Ia pun menyusul demi mendapatkan Sania kembali.
Bagaimana, perjuangan Xilondra dalam mengambil hati janda cantik ini?
Akankah ia berhasil atau memilih membujang selamanya?
Spin off, Hasrat Terlarang Pembantu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon chibichibi@, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab. 24. Pertemuan Xilondra dan Sania.
"Nyo–nyonya," ketua pelayan tersebut kikuk. Ia melirik sebentar ke arah anak buahnya. Karena kedatangannya begitu berisik sehingga, sang majikan sampai kaget dan keluar kamar. Ia juga tau apa yang baru saja terjadi terhadap sang majikan. Dalam hatinya, sang pelayan ikut mengutuk perbuatan kurang ajar si ajudan Bing.
"Aku tidak apa, sampaikan pada kepala desa. Agar menungguku di gazebo samping. Aku akan segera menemuinya," ucap Sania. Bagaimanapun ia harus mempersiapkan diri. Masa ini pasti akan datang dan ia harus menghadapinya dengan berani.
Sania kembali masuk ke dalam kamar setelah ucapannya diangguki oleh pelayan. Ia perlu berbenah diri. Keadaannya sungguh kacau. Wajahnya pucat dan pakaiannya agak berantakan. Sania memberi remasan pada pakaian bagian atasnya. Ia sungguh mengutuk perbuatan ajudan Bing tadi.
Untung saja ia langsung tersadar dari pingsannya. Kalau tidak, entah apa yang sudah diperbuat oleh ajudan kurang ajar itu. Entah darimana Trevino menemukan orang kepercayaannya. Kenapa sifatnya sebelas dua belas dengan dirinya. Sania membuka kedua matanya setelah ia berhasil mengumpulkan keberanian serta menghempaskan rasa kesalnya.
Sania mencuci wajahnya cepat berganti baju, serta mengenakan riasan sedikit. Ia hanya ingin tampil pantas di hadapan pria yang sangat dicintainya itu. Pria yang selama satu tahun ini ia nantikan kehadiranmu. Pria yang selalu membuatnya tersenyum dan tersipu malu karena pujiannya. Betapa sebenarnya, Sania merindukan kehadiran Xilondra. Serta berharap sangat besar pada pria itu, untuk mendatangkan kebahagiaan padanya.
"Bagaimanapun, aku juga harus memastikan kemana kau pergi selama ini, Xi? Kenapa kau tidak memberi kabar kepada kami? Seandainya saja kau kembali lebih awal mungkin --" Sania tidak meneruskan ucapannya, ia memutuskan untuk segera menemui pria yang hingga sampai saat ini masih sebagai pemilik hati yang sesungguhnya.
Sania melangkah tergesa-gesa. Hati kecilnya sangat rindu dan ingin bertemu. Namun, logika serta akal sehatnya lebih tau diri. Siapa dirinya saat ini. Secara tak langsung ia telah mengkhianati perjanjian keduanya.
Xilondra benar-benar menunggu sendirian. Ia memerintahkan agar, asistennya itu menunggu di luar kediaman Terry. Karena ia sengaja menemui Sania langsung ke sini. Setelah beberapa hari selalu menunggunya di klinik maupun belakang bukit Miwaru. Hingga, sang ibu tak tega diam.
Wanita itu pun menceritakan apa yang sebenarnya terjadi. Hanya saja, Prita tidak pernah menanyakan apa yang menjadi latar keputusan mendadak dari Sania. Mega pun sama. Ia hanya tau jika salah satu peracik obat di kliniknya itu menikah dengan anak dari bandar judi.
Xilondra, sungguh telah menyiapkan hatinya. Menguatkan jantungnya atas apa yang yang akan ia dengar nanti cari mulut Sania itu sendiri. Meskipun pada saat ini saja, dadanya telah seakan sulit untuk bernapas. Kedua telapak tangannya basah karena gugup, dan takut.
Takut tak mampu menguasai dirinya pada saat bertemu Sania nanti. Hingga, tiba-tiba sebuah suara lembut yang ia kenal memanggil namanya. Xilondra lekas berbalik dan runtuhlah kekuatan dan segala kalimat bijak yang ia bangun sejak tadi.
Ia merangsek maju dengan cepat. Kemudian, meraih tubuh Sania yang mematung ke dalam dekapannya. Seketika, Sania yang terpaku hanya mampu membulatkan kedua bola matanya. Kedua tangannya melayang di udara. Namun, ia menuruti apa kata hatinya. Agar menyambut saja pelukan dari pria yang selama ini ia rindukan kehadirannya.
Air mata itu pun tumpah di bahu, Xilondra. Pelukan Xilondra kepada Sania semakin erat dengan diiringi getaran pada punggungnya. Sania dapat merasakan debaran jantung pria yang mendekapnya ini. Ia dapat merasakan bagaimana ketakutan Xilondra. Ia semakin merasa bersalah. Sania mengusap punggung itu sekali dan ia lantas mendorong tubuh kekar itu menjauh.
"Cukup, Xi ... maafkan aku!" Sania menundukkan wajahnya sehingga air mata itu tumpah dengan deras menghujani lantai.
Xi, pasrah ketika wanita yang menjadi sumber kekuatannya untuk kembali ini menepis dirinya. Xi tau, Sania sudah menjadi milik orang lain. Tapi mengapa? Mengapa takdirnya sekejam ini?
"Aku bertahan untuk tetap hidup karenamu, Nia. Tapi, kenapa takdir sekejam ini padaku. Bukankah, lebih baik aku mati saja dan tidak perlu kembali. Jika yang harus ku dapati ternyata hanya sebuah luka di atas luka!" Xilondra mengeluarkan sesak yang ia tahan di dadanya selama beberapa hari ini.
"Kenapa kau tidak mengabarkan apapun, Xi. Setidaknya berikan petunjuk lewat mimpi padaku. Kau membuatku ... menunggu selama itu. Tidak sesuai dengan perjanjian kita. Kau memintaku menunggumu selama enam bulan. Tapi, kau pergi selama setahun tanpa kabar! Aku--" Sania tak mampu lagi berucap. Ia membekap mulutnya agar isak tangisnya itu tidak keluar.
"Kenapa kau tidak bisa menunggu, Nia. Perjuanganku untuk kembali sangat tidak mudah. Jika saja perasaanku terhadapmu serapuh salju. Mungkin, aku tidak akan pernah bisa kembali selamanya. Tapi, ternyata ... perjuanganku kembali hanya untuk menyaksikan takdir menabur garam di atas luka lama yang kau cabik kembali!" Xilondra tak tahan untuk melampiaskan amarahnya. Kedua matanya memanas. Ia menahan amarah yang akhirnya membakar dadanya sendiri.
"Kau tidak mengerti keadaanku, Xi. Kau tidak mengerti. Aku sama sekali, tidak bermaksud membuka luka lama di dalam hatimu. Tidak seperti itu ...," lirih Sania. Entah kenapa rasa sesak di dadanya membuat ia sudah menceritakan kejadian yang sebenarnya.
"Kau tentu saja melupakanku, Nia. Melupakan pria yang tak ada kejelasan ini. Ini salahku. Seharusnya sebelum pergi ... aku tidak memintaku untuk menunggu. Tapi menikahimu. Ini salahku, Nia. Aku pantas menerima ini," racau Xilondra sambil tertawa getir.
"Maafkan aku." Hanya itu kata yang bisa ia ucapkan pada pria menyedihkan di hadapannya. Hatinya sungguh sakit dan perih melihat pria yang sangat ia cintai ini terluka karenanya.
"Aku telah mengecewakanmu, Xi. Aku tidak pantas untuk di maafkan." Sania pun pergi berlari meninggalkan Xilondra menatap punggungnya nanar.
Ia kembali tertawa miris. Menertawakan nasib cintanya yang sadis.
"Kau wanita terakhir yang ku cintai, Nia."
...Bersambung ...