Ganteng tapi galak. Euh, punya manager gitu bikin nggak betah di kantor nggak sih?
Kerja di luar negeri memang enak. Punya banyak teman dari negara lain plus memiliki kesempatan untuk dapat calon laki yang H.O.T banget
Tapi apa daya jadi budak corporat startup, sebagai copywriter, Dania Daneswara cuma bisa duduk di balik komputer sambil di marahin sama manager super duper galak yang bikin hari tambah runyam di negeri asing.
"Ganteng mah bebas ya," pikirnya setiap kali si manager berkoar-koar di balik mejanya.
Keagan O'Malley, pria berdarah campuran Indonesia-Jerman. Sebagai manager, ia kerap dianggap galak dan tidak berperasaan.
Tapi ketika bertemu Dania, pelan-pelan pribadinya berubah. Lebih usil dan tengil.
IG : @althamirafrishka
Saran dan kritik sangat diterima. Terimakasih sudah membaca 😘
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Althamira Frishka, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Mobil Baru
What? Dania terlihat linglung setelah mengetahui Bu Mai ternyata adalah mantan pacar dari atasannya itu. Dania melihat Keagan kemudian kembali lagi ke Bu Mai.
Selera atasannya itu benar-benar luar biasa. Orang secantik Bu Mai, tinggi semampai, warna kulitnya kuning langsat, bibirnya kecil dan ranum. Apalagi tubuhnya yang body goal walau sudah punya anak membuat semua wanita iri kepada Bu Mai.
Bagaimana orang seperti Dania bisa bersaing dengan Bu Mai. Bahkan mendekati saja tidak. Mereka berdua sangat beda jauh.
“Keagan, bisa bantu aku ke toilet?” ucap Mai.
“Saya bisa bantu, Bu.” Tawar Dania.
“Kasian kamunya. Saya berat.” ucap Bu Mai berusaha memaklumi Dania.
“Wait a minute.” Keagan dengan cekatan memapah Mai. Melingkarkan tangannya ke pinggang Mai dan membiarkan tangan Mai memegang pundaknya.
Seperti melihat lukisan La Printemps karya Pierre Auguste Cot. Mereka bagaikan sepasang kekasih yang saling menyayangi. Tatapan intim dari keduanya sanggup membuat Dania salah tingkah. Antara menyaksikan atau tidak.
Dania hanya duduk di tempatnya. Melanjutkan mengupas apel menjadi potongan-potongan tipis. Bibirnya manyun. Wajahnya cemberut.
Emang pada dasarnya Keagan suka bantu orang sih ya. Udah kayak superman aja. Pikirnya senewen.
Keagan dan Mai kembali dari toilet. Memapah Mai dengan hati-hati dan mendudukkannya lagi di atas kasur. Dania bergeser sedikit untuk memberikan akses pergerakan mereka. Merasa tersingkir sedikit demi sedikit.
Du ilee, gue jadi kayak cicak yang suka ditembak pakai karet gelang aja.
Dada Dania seketika serasa sesak. Nyeri. Tanpa dia tahu penyebabnya. Mereka berdua berbicara cukup intim di depan Dania. Dania hanya berani mengintip sedikit di sela-sela ia sedang mengupas apel.
Ketika sudah menyelesaikan tiga kupasan apel, Dania mencuci tangannya. Mendekati Mai dan Keagan yang sedang berbicara. Padahal mereka tidak berbicara secara bisik-bisik, tapi tetap saja tidak terdengar oleh Dania. Dania merasa tersingkirkan oleh dunia mereka berdua.
“Bu Mai saya pamit dulu. Ibu cepat sembuh ya. Kalau butuh bantuan jangan sungkan kabari saya.” Ucap Dania malu-malu.
“Loh, kok sudah mau balik?”
“Masih ada kerjaan yang belum kelar.” Alasan Dania mengelus-elus tengkuk lehernya. Padahal dia mau nangkring ke kantor Rio.
“Oh ya sudah kalau gitu. Hati-hati di jalan ya.”
“Baik Bu. Pak saya pamit dulu.” Ucap Dania agak sungkan berbicara dengan Keagan.
Keagan hanya melihat mata Dania. Dania menjadi kikuk karena ditatap Keagan secara intens. Tatapannya tidak seperti biasanya. Bukan tatapan kesal atau marah. Bukan juga tatapan jahilnya yang biasanya. Tapi lebih seperti tatapan ragu.
Ragu?
Dania langsung berbalik dan meninggalkan mereka berdua. Begitu baru melangkah keluar dari kamar, Keagan memanggil.
“Dania kemari sebentar.”
Dania tidak sengaja memasang wajah sebal. “Yes, sir. What's up?”
Keagan mengeryitkan dahinya. “Tadi Pak Bao ngabari saya. Nanti malam ada turnamen. Kamu sama Roki bisa ke sana. Ambil dokumentasi foto pertandingan.”
“Yes, sir. Jam berapa? Dimana?”
“Di dojo mereka jam delapan malam.”
“Oke sir. Kalau gitu saya pamit dulu.” Ucap Dania. Melangkah pasti meninggalkan Keagan.
Dasar Keagan nggak bisa move on. Gitu aku disuruh move on segala. Cuih.
🍃🍃
Sore itu Dania kembali ke kantor. Menggosip di kubikel Rio dari divisi marketing. Tapi begitu Dania muncul dari balik kubikelnya, Rio hanya bersikap acuh tak acuh.
“Kenapa awak di sini?”
“Kamu kenapa masih di sini? Kan sudah jam pulang kantor.”
“Seperti awak tak tahu mengenai kerja pemasaran lah.”
Dania pun ber-haha hehe. “Oiya, kamu tahu mantan Keagan?”
Rio langsung memusatkan perhatiannya pada Dania. Berhenti mengetik untuk sementara.
“Kenapa? Ada bekas yang baru? Siapa?”
“Bu Mai yang sedivisi denganku!”
“Saya dah tahu pun. Dia itu teman wanita terakhir Keagan. Lepas tu tidak ada wanita lain.”
“Gagal move on dong.”
“Tak lah. Cuma tidak mahu bermain lagi.”
Dania pun mem-beo ucapan Rio. “Putusnya kenapa?”
“Mana tahu saya. Kenapa awak ni tanya perkara itu?”
“Mau tahu saja.” Ucap dania asal. Dalam hati bertanya-tanya siapa yang memutuskan siapa. “Begitu. Yasudah aku pulang dulu.” Ucap Dania meninggalkan kubikel Rio. Rio hanya memutar bola matanya.
Ketika keluar dari divisi marketing, Dania berpapasan dengan Britania. Wanita berambut sepinggang itu mengibaskan rambutnya. Mengenai sedikit wajah Dania.
Cantik-cantik sombong banget ni orang. Pikir Dania menggaruk pipinya yang sedikit gatal. Kalau bukan karena dia tidak mau berurusan dengan Kevin lagi, mungkin mereka berdua akan terus diusili Dania.
🍃🍃
Setelah bebersih diri, Dania membuka lemari pakaiannya. Memilih baju yang sesuai untuk pekerjaan lapangan. Dia sudah lama tidak ikut turnamen karate. Sehingga menonton pertandingan saja seperti ini, sudah mengobati kerinduannya pada seni bela diri yang digemarinya itu.
Dania bersenandung ringan. Lagu Way Back Home dari Shaun. Kalau soal genre lagu, Dania tidak pernah menggemari salah satu aliran musik saja atau bahkan bahasa tertentu saja. Asal irama musiknya nyaman di dengar olehnya, Dania seketika itu akan belajar menyanyikan lagu bahasa apa saja.
Akhirnya dia memutuskan akan menggunakan celana kulot tiga perempat bewarna coklat muda dan dipadu padankan dengan kaos putih polos. Dania memutuskan memakai kardigan warna krem karena cuaca malam hari cenderung sejuk.
Tidak lupa dia menyelempangkan tas kamera DSLR ke pundaknya yang ia pinjam dari bagian peralatan. Sambil berjalan keluar, Dania menghubungi Roki.
Dania : Roki aku udah siap. Kamu di mana?
Roki : Aku belum bilang kamu? Maaf ya orang tua aku sakit. Mungkin kecapekan habis mudik dari Jepang.
Dania : Wah ya sudah nggak masalah. Aku bisa pergi sendiri. Sebaiknya aku bergegas. Semoga lekas sembuh. Sampaikan salamku.
Roki : Terimakasih Dania tapi …
Belum selesai Roki berbicara, Dania sudah memutus sambungan telepon.
“Tapi aku sudah bilang Pak Keagan.” Ucap Roki melanjutkan obrolannya yang tidak selesai dengan Dania. Dia hanya tersenyum sambil menggeleng-gelengkan kepala. Seperti sudah memahami tabiat Dania.
Perubahan jadwal, Dania kembali ke apartemen. Mengambil kunci mobilnya karena sebelumnya dia berencana di jemput Roki. Berhubung tidak jadi, akhirnya dia berencana menyetir sendiri. Setelah itu dia menaiki lift menuju pelataran parkir.
Ting! Pintu lift terbuka dan Keagan berada di ambang pintu lift.
“Mau kemana?” tanya Keagan.
“Kerja Pak.” Ucap Dania tidak berdosa.
“Roki nggak ngabari kalau kamu pergi sama saya?”
“Enggak.” Jawabnya santai.
Dasar lelaki nggak move on. Pikirnya dalam hati.
“Nih bawa mobil saya ke depan. Tunggu di sana. Saya ganti baju sebentar.” Ucap Keagan dengan pakaian kusutnya dan berjalan melalui Dania.
“Yes, sir.” Jawab Dania sambil mencibir.
Kalau udah move on dia pasti udah cari yang lain.
Dania mencari-cari di mana mobil Lambhorgini milik Keagan. Tapi dia tidak melihat di mana pun. Sehingga akhirnya dia menekan remote mobil.
Sebuah mobil SUV masih baru lampunya menyala. Berkedip-kedip. Kening Dania berkerut dan dia mendekati mobil itu. Dania menekan remote-nya lagi. Ternyata benar, kunci mobil yang diberikan Keagan cocok dengan mobil di depannya.
Dania menyalakan mesin mobil dan membawa SUV itu keluar pelataran parkir. Tidak berapa lama Keagan menunjukkan batang hidungnya dan naik ke kursi penumpang.
“Mobil siapa nih pak?”
“Punya saya.”
“Bapak ganti mobil?”
“Kenapa memangnya?”
“Nggak ada sih. Lamborghini nya kemana?”
“Saya jual ganti ini.”
“Oooh.” Balas Dania tidak bertanya lagi dan kemudian ia menyetir dalam diam.
Kenapa Lamborghini-nya di jual?
🍃🍃
Dania bukan selera kamu keagan 😁
mangats Dania..keagan layak diperjuangkan 😀
aku suka..aku suka 😀