Wasiat perjodohan membuat dua insan di persatuan dalam sebuah ikatan , meski tidak ada cinta antara kedua nya , karena pria itu sudah memiliki kekasih yang cantik
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Langit Biru, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 24 pertemuan re_n_di
Malam semakin larut. Langit mulai berawan.
Reno melirik jam dinding: pukul 21.45. Ia masih berdiri di depan jendela, menggenggam ponselnya yang belum juga ia gunakan untuk menghubungi Dila.
“Aku harus ketemu dia malam ini,” gumamnya akhirnya. “Karena besok pagi aku harus ke kampung Mala. Mama udah nunggu, dan kalau aku batal lagi... Mama pasti kecewa.”
Ia tahu, kepergiannya ke kampung Mala bukan hanya urusan keluarga—tapi juga tentang citra, harapan ibunya, dan keutuhan pernikahan yang secara hukum masih sah.
Tapi hati Reno malam ini tidak tenang. Ada sesuatu yang mendesak dari dalam: ia harus bicara dengan Dila. Bukan sekadar menenangkan, tapi memastikan bahwa wanita itu... tidak hancur lebih dalam.
Reno mengambil kunci mobil. Ia melaju cepat menuju apartemen Dila.
Apartemen Dila – pukul 22.15
Dari luar, lampu balkon terlihat menyala. Tapi pintu apartemen tampak tertutup rapat. Reno mengetuk beberapa kali. Tidak ada jawaban. Ia mencoba memutar gagang—terkunci.
Ia mengeluarkan ponsel dan menelepon. Nada sambung berdering… dan akhirnya tersambung.
“Halo?” Suara Dila terdengar lemah di seberang.
“Dil… ini aku. Aku di depan apartemen mu.”
Hening beberapa detik. Lalu suara Dila lirih menjawab, “Ngapain kamu ke sini?”
“Karena aku nggak bisa pergi ke kampung Mala besok pagi tanpa bicara sama kamu malam ini.”
Dila membuka pintu perlahan. Rambutnya terurai, wajahnya polos tanpa makeup, dan matanya terlihat sedikit sembab. Reno menatapnya lekat-lekat.
wanita yang dulu begitu ia cintai, kini berdiri di hadapannya dalam keadaan paling rapuh.
“Masuklah,” ucap Dila singkat.
Reno melangkah masuk. Tak ada pelukan, tak ada senyuman. Hanya keheningan dan jarak yang aneh di antara mereka.
“Kenapa kamu datang?” tanya Dila, menatap Reno dengan mata lelah.
“Aku tahu kamu ke pernikahan Ira tadi. Dan aku tahu… itu berat buat kamu.”
Dila tersenyum miris. “Kenapa? Kamu khawatir aku nyakitin diriku?”
Reno menarik napas panjang. “Aku khawatir kamu kehilangan dirimu sendiri.”
Dila menatapnya lama. “Terus kamu ke sini buat apa, Ren? Buat minta aku legowo kamu pulang ke istrimu besok pagi?”
“Aku ke sini…” suara Reno menurun, “…karena aku pengen kamu tahu, apa pun yang terjadi, kamu bukan wanita gagal, Dila. Kamu bukan pecundang.”
Air mata Dila jatuh. Reno ingin memeluknya, tapi ia tahu… pelukan kali ini hanya akan menambah luka.
“Aku harus ke kampung Mala besok,” katanya pelan. “Tapi malam ini... aku hanya ingin kamu tidur dengan tenang. Tanpa membenci dirimu sendiri.”
Dila memalingkan wajah, menahan isak.
“Kamu bilang kamu masih cinta aku, Ren. Tapi kenapa rasanya aku selalu jadi pilihan terakhir?”
Reno tak menjawab. Ia hanya berdiri dalam diam, seperti pria yang tahu bahwa hatinya pecah di dua arah, dan tak ada satu pun yang benar-benar utuh.
Masih di malam yang sama, di apartemen Dila.
Setelah Reno duduk di sofa, terdiam dalam pikirannya sendiri, Dila melangkah pelan ke dapur. Matanya masih sembab, tapi raut wajahnya kini berubah lebih dingin, lebih terkendali. Ia membuka toples di dalam laci kolong dapur dan mengambil satu bungkus kecil serbuk putih, lalu menyelipkannya ke dalam saku jubah tidurnya.
“Kamu pikir kamu bisa pergi begitu aja, Ren? Pulang ke istrimu dan tinggalkan aku kayak tak pernah ada apa-apa?” bisiknya dalam hati.
Ia menuangkan air panas ke dalam dua cangkir teh. Wajahnya tampak tenang, bahkan sedikit tersenyum, saat tangannya diam-diam mencampurkan serbuk putih itu ke dalam salah satu cangkir.
“Sedikit saja… cukup untuk menghangatkan suasana,” gumamnya.
Dila kembali ke ruang tamu dan menyerahkan satu cangkir kepada Reno.
“Ini tehnya. Biar kamu lebih tenang sebelum besok pergi,” ucapnya lembut, seolah semua luka tadi telah sirna.
Reno tersenyum samar. “Terima kasih…”
Mereka duduk berdua dalam diam, hanya terdengar suara detik jam dan sesekali isapan teh.
Beberapa menit kemudian, Reno mulai merasakan tubuhnya menghangat, nadinya berdegup sedikit lebih cepat.
Kepalanya sedikit berat, tapi tidak pusing justru anehnya, ia merasa lebih... terangsang. Jiwanya yang tadi remuk, perlahan terasa seperti dialiri gairah yang tidak biasa.
Ia menatap Dila, yang kini duduk lebih dekat darinya. Pandangan mata Dila menajam, ekspresi lembutnya kini berubah jadi tatapan menggoda penuh kontrol.
“Kenapa? Badanmu panas?” bisik Dila sambil menyentuh tangan Reno.
Reno menatapnya bingung. “Aku… nggak tahu kenapa, tapi aku merasa…”
“Kamu cuma butuh kehangatan, Ren. Dan aku tahu caranya membuat kamu tenang malam ini. Kamu nggak harus pergi ke Mala besok. Setidaknya... gak dengan beban ini,” kata Dila sambil mendekat.
Reno menelan ludah. Kepalanya tahu ini salah. Tapi tubuhnya mulai kehilangan kendali.
“Dil… kamu ngapain…?”
Dila hanya tersenyum samar, lalu berbisik di telinganya:
“Malam ini... kamu milik aku. Sekali lagi.”
Malam itu, hujan turun pelan-pelan.
Angin menyusup dari celah jendela, membawa dingin yang justru terasa kontras dengan suhu di dalam ruangan apartemen Dila yang mulai memanas.
Dila tersenyum puas.
Suara rintik hujan di luar seolah menjadi musik latar untuk rencana yang sudah ia bangun dengan cermat. Rencana yang bukan lagi soal cinta... tapi tentang penguasaan.
Reno duduk di ujung ranjang, tubuhnya mulai kehilangan kendali atas logika. Bayangan dalam kepalanya berkelebat cepat antara wajah Mala, wanita yang tulus menunggunya di kampung, dan sosok Dila, wanita masa lalu yang kini berada di hadapannya dalam bentuk yang paling menggoda.
“Ren... kamu di sini, bersamaku,”
bisik Dila lembut di telinganya.
Reno tak bisa membedakan lagi kenyataan dan ilusi.
Kepalanya kabur, tubuhnya panas. Sentuhan demi sentuhan menyesatkan indra dan kesadarannya.
Malam itu, mereka larut dalam permainan penuh gairah, tanpa kendali, tanpa pengaman, tanpa kejelasan tentang siapa yang sebenarnya sedang dicintai atau dipermainkan.
Dila melayang dalam fantasi.
Reno yang liar malam itu, berbeda. Tak ada ragu. Tak ada perlawanan.
Hanya hasrat yang menyala, membakar semua logika.
Namun dalam hatinya yang terdalam, Dila tahu...
Dia tidak benar-benar memenangi Reno malam ini. Yang ia genggam… hanya tubuhnya.
Bukan hatinya.
Dan ketika tubuh Reno akhirnya jatuh tertidur di sampingnya, Dila tetap terjaga. Menatap langit-langit kamar dengan mata terbuka lebar.
“Kalau ini satu-satunya cara… maka aku akan lakukan semuanya.
Sampai dia benar-benar memilih aku. Sampai Mala… hilang dari hidupnya.”
Beberapa saat setelah keheningan menyelimuti kamar, Reno masih belum sepenuhnya tersadar dari gejolak malam itu. Nafasnya berat, tubuhnya lemas, namun pikirannya seperti tak berhenti berputar.
Dan yaa tubuh Reno beraksi lagi dan kembali menunggangi Dila, lima puluh menit berlalu Reno ambruk di atas tubuh Dila .
Dengan rudal yang masih menancap di dalamnya
Dila terbaring di bawahnya, wajahnya terlihat puas namun matanya menyiratkan lebih dari sekadar kemenangan. Ada rasa memiliki yang fanatik, dan keinginan yang belum tuntas, ia ingin Reno benar-benar miliknya, bukan hanya semalam.
“Kamu nggak akan pergi lagi, kan?” bisik Dila pelan, jarinya menyusuri pelipis Reno yang mulai terpejam.
Reno tidak menjawab. Ia hanya terdiam, tubuhnya tenggelam dalam pelukan Dila. Tapi dalam pikirannya, bayangan Mala kembali muncul, dengan wajah lembut dan tatapan penuh harap.
Dan dalam diamnya, Reno mulai sadar…
“Apa yang barusan terjadi… bukan cinta. Tapi pelarian.”
semangat thor.. mampir juga dong ke ceritaku..