Jika biasanya wanita dijodohkan dengan pria kaya, lain halnya dengan Elizabeth. Elizabeth justru dijodohkan dengan pria miskin yang tak memiliki apa-apa. Bahkan, untuk rumahku pria miskin itu tidak punya. Hal itu, membuat Elizabeth merasa sangat malang dengan hidupnya.
Bagaimana kisah selanjutnya? Apakah Elizabeth akan tetap meneruskan hubungan suami istri tersebut? Ataukah Elizabeth memutuskan untuk bercerai dari Alexander?
Yuk simak karya ini!!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon muliyana setia reza, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Part 24
Beberapa Hari Kemudian.
Alexander telah selesai dengan urusannya dan ingin segera kembali pada istrinya. Akan tetapi, sebelum ia kembali bersama dengan Elizabeth, Alexander ingin membeli hadiah kecil untuk istrinya itu.
“Bagaimana dengan kabar istriku?” tanya Alexander pada salah satu bawahannya yang ia utus untuk mengawasi keselamatan istrinya dari jauh.
“Lady Elizabeth baik-baik saja, Tuan Alexander.”
Alexander memutuskan untuk kembali ke salah satu Mansion mewahnya untuk menemui kucing kesayangannya, Vincenzo.
“Bawa aku menemui Vincenzo!” perintah Alexander pada Gabriel.
Kepulangannya itu masih Alexander rahasiakan dari istrinya. Alexander sengaja merahasiakannya karena ingin memberikan kejutan kepada Elizabeth.
***
Mansion The Glory.
Alexander telah tiba di salah satu Mansion mewah miliknya. Kedatangannya tentu saja untuk menemui kucing peliharaan kesayangannya, yaitu Vincenzo.
“Selamat datang, Tuan Alexander!” Semua Pelayan serta bawahannya menyambut kedatangan Alexander.
Alexander terus berjalan memasuki Mansion dan bergegas masuk ke dalam kamar Vincenzo.
“Vincenzo!” Alexander berjongkok seraya melebarkan kedua tangannya.
“Meow.. meow..” Vincenzo dengan semangat melompat ke pelukan Alexander.
“Oh My Vincenzo, I miss you,” ucap Alexander sambil memeluk lembut kucing penyelamat nya.
Alexander memanggil salah satu pelayan untuk membersihkan kembali kamar Vincenzo dan memberikan daging kualitas terbaik untuk kucing kesayangannya itu.
Pelayan itu mengiyakan dan memanggil pelayan yang lain untuk kembali membersihkan kamar Vincenzo.
2 Jam Kemudian.
Setelah menemani Vincenzo bermain, Alexander memutuskan untuk pergi ke salah satu pusat perbelanjaan. Pria tampan itu ingin membelikan gaun pesta untuk Elizabeth.
“Sekarang kita mau kemana, Tuan?” tanya Gabriel.
“Aku ingin membeli sebuah gaun untuk istriku,” jawab Alexander.
Gabriel mengiyakan dengan patuh dan bergegas mengantarkan Tuannya untuk pergi ke salah satu pusat perbelanjaan yang ada di kota itu.
“Lebih cepat!” perintah Alexander merasa bahwa Gabriel mengendarai mobil dengan sangat lamban.
“Maaf, Tuan Alexander,” ucap Gabriel dan mempercepat laju mobil untuk segera sampai di tempat tujuan.
Setelah mobil berhenti di area parkir, Alexander pun turun dari mobil dan pergi seorang diri untuk berbelanja sebuah gaun pesta yang akan dikenakan oleh istrinya.
Baru saja memasuki area pusat perbelanjaan, banyak pasang mata yang tertuju ke arah Alexander. Siapa yang tidak terpesona dengan sosok Alexander yang sangat tampan. Bahkan, ketika Alexander berjalan saja sudah membuat para wanita maupun pria terhipnotis.
“Oh My God, bagaimana bisa Tuhan menciptakan manusia ini dengan sangat sempurna?”
Alexander berjalan dengan penuh percaya diri karena ia pun mengakui bahwa wajahnya itu begitu memesona. Hanya Elizabeth saja yang bisa menikmati wajahnya dan seluruh tubuhnya.
“Hai, tampan. Ada yang bisa aku bantu?” tanya seorang pelayan ketika Alexander baru saja memasuki salah satu toko yang menjual segala macam gaun.
“Pilihkan satu gaun berwarna merah untuk istriku!” perintah Alexander dengan tatapan dingin.
Pelayan yang sebelumnya menyapa Alexander, saat itu menundukkan kepalanya. Tatapan Alexander begitu mematikan sampai-sampai ia takut untuk melihat Alexander.
“Baik, Tuan. Tunggu sebentar,” ucap Pelayan.
Malam Hari.
Elizabeth baru saja pulang dari cafe tempat ia bekerja. Ia merasa sangat lelah karena dari pagi sampai malam Cafe tidak pernah sepi pengujung.
“Seluruh tubuhku benar-benar sakit, sepertinya aku harus segera berendam dengan air hangat,” gumam Elizabeth.
Elizabeth dengan langkah berat menaiki anak tangga yang menuju kamarnya.
“Kenapa pintu kamarku terbuka?” tanya Elizabeth karena seingatnya pintu kamarnya tertutup rapat.
Seketika itu juga Elizabeth masuk ke dalam kamar dan terkejut mendapati sesosok pria bertelanjang dada tengah tidur dengan ranjangnya.
“Alexander, akhirnya kamu kembali,” ucap Elizabeth dan melompat naik ke tempat tidur.
Alexander tertawa lepas dan memeluk erat tubuh istrinya.
“Apakah kamu sangat merindukanku, Elizabeth?” tanya Alexander penasaran.
“Ya. Bagaimana mungkin aku tidak merindukanmu, Alexander? Kamu telah meracuni pikiranku,” jawab Elizabeth.
Elizabeth dengan agresif mencium bibir suaminya dan tentu saja Alexander membalasnya dengan sama agresifnya.
Rasa lelah Elizabeth seketika itu menghilang karena belahan jiwanya telah kembali ke dalam pelukannya.
“Akkhh... Kamu sangat nakal, Alexander,” ucap Elizabeth ketika Alexander menyentuh area sensitif nya.
“Bukankah kamu sangat menyukainya?” tanya Alexander yang sangat puas ketika mendengar suara desah*n Elizabeth.
“Ya. Aku sangat menyukainya,” jawab Elizabeth yang sangat menikmati permainan suaminya.
Malam itu, keduanya sangat bersemangat melakukan hal yang sempat tertunda selama beberapa hari.
Alexander tersenyum bangga ketika memberikan kenikmatan untuk Elizabeth pada malam itu.
Beberapa jam kemudian.
Alexander bangkit dari tempat tidur ketika mendengar dering ponselnya. Sebelum menerima sambungan telepon tersebut, Alexander menoleh ke arah istrinya yang sedang terlelap kelelahan.
“Katakan!” perintah Alexander.
Alexander mengakhiri sambungan telepon setelah tahu alasan mengapa salah satu bawahannya menghubunginya.
“Alexander, apakah terjadi sesuatu?” tanya Elizabeth yang masih dalam keadaan mengantuk.
“Tidak penting, ayo kita tidur lagi,” balas Alexander mengajak Elizabeth untuk kembali tidur.
Elizabeth menggelengkan kepalanya dan ingin membersihkan tubuhnya yang terasa lengket.
“Alexander, aku ingin berendam air hangat. Maukah kamu ikut berendam bersamaku?” tanya Elizabeth mengajak Alexander untuk berendam di bathtub.
“Baiklah, ayo!” seru Alexander yang juga ingin berendam di bathtub bersama Elizabeth.
Seusai berendam, mereka berdua bergegas untuk mengenakan pakaian dan memutuskan untuk mengisi perut mereka dengan pancake.
“Duduklah, sayang. Biar aku yang membuat pancake untukmu,” ucap Alexander meminta Elizabeth untuk duduk manis sambil menunggu pancake jadi.
Elizabeth tersenyum bahagia karena kerinduannya kepada Alexander telah terobati.
“Alexander, aku harap kita tidak akan terpisah lagi. Aku tidak bisa jauh darimu,” ucap Elizabeth.
“Aku pun tidak bisa jauh darimu, Elizabeth. Setiap hari aku memikirkanmu dan sangat takut bila ada pria lain yang merebutmu dariku,” ungkap Alexander memberitahukan ketakutannya.
“Aku rasa tidak ada pria lain yang membuatku berpaling darimu, Alexander. Kamu pemenangnya dan selamanya akan menjadi pemenang di hatiku,” balas Elizabeth.
“Kamu membuatku besar kepala, Elizabeth!” seru Alexander.
Sambil menunggu pancake siap dinikmati. Elizabeth menyiapkan sebotol wine yang akan menemani malam indah mereka.
“Elizabeth, bisakah besok kamu mengambil cuti selama 1 hari? Aku ingin mengajakmu makan malam romantis,” tutur Alexander.
“Apakah kamu akan menggunakan uang hasil kerjamu untuk mengajakku makan malam, Alexander?” tanya Elizabeth yang nampak keberatan dengan ajakan Alexander.
“Sayang, kamu tenang saja. Uang yang ku miliki tidak akan habis untuk beberapa bulan ke depan. Aku melakukan ini karena ingin membuatmu bahagia,” jawab Alexander.
“Baiklah,” balas Elizabeth yang tidak ingin membuat suaminya sedih.
“Terima kasih, sayang. Besok akan menjadi malam yang sangat indah untuk kita,” ucap Alexander.
Pancake buatan Alexander pun akhirnya siap untuk dinikmati. Elizabeth tersenyum seraya mengucapkan terima kasih dengan apa yang telah suaminya lakukan untuknya seorang.
“I Love You My Wife,“ ucap Alexander dan memberikan kecupan mesra di kening Elizabeth.
“I Love You Too My Husband,” balas Elizabeth.
👍🏻👍🏻👍🏻👍🏻👍🏻👍🏻👍🏻👍🏻👍🏻👍🏻👍🏻👍🏻👍🏻👍🏻👍🏻👍🏻👍🏻🥰🥰🥰🥰🥰🥰🥰🥰🥰🥰🥰🥰🥰🥰🥰🥰🥰🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤