Gladisia putri maharani siswi menengah atas yg begitu populer di sekolah nya tak ada yg tidak mengenal dirinya sosoknya yg cantik pintar dan yg paling penting ia adalah wakil ketua osis yg membuat dirinya sangat pamiliar di sekolah.
Tak hanya itu prestasinya juga terbilang bagus hanya saja sikap angkuh nya yg begitu tinggi membuat dirinya memiliki nilai plus bagi dirinya di mata para siswa siswi bahkan guru sekalipun.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ufika, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Part 24 Obsrevasi
Gladis seolah tidak tenang sejak dirinya duduk di samping Irfan membuat dirinya tak karuan meski Selena ada diantara mereka tetap saja ia merasa kesal pada Irfan dan juga Selena.
“Kalau area nya kayak gini harusnya kalian gak boleh bawa motor sendiri lihat jalan nya aja udah gini.” Ungkap Irfan yg kini bersuara setelah beberapa jam berlalu hanya diam saja.
“Ya juga sih, aku kira jalan nya gak gini sih pak,” ucap Selena yg langsung mengungkapkan apa yg ia pikirkan.
Mobil yg di kendarai Irfan sedikit lesulitan bahkan beberapa kali ia hampir selip karena jalan memang cukup berbatu.
“Udah deh lebih baik kita jalan aja.” Ucap Gladis yg sejak tadi memang ingin segera turun dari dalam mobil itu.
“Terus kamu udah tahu dimana lokasi kalian akan observasi gimana kalau masih jauh? udah diam deh.” Jelas Irfan tak ingin di bantah.
Gladis hanya membuang nafas beratnya ia melihat Frans sedikit kesulitan di depan sana membuat ia tidak tega.
“Aku turun di sini aja pak,” ucap Gladis lagi.
Akhirnya Irfan tak mempunyai pilihan lain selain mengikuti keinginan Gladis terlebih jalanan memang sedikit sulit mereka lewati.
“Kamu yakin kaki kamu sudah sangat sehat?” tanya Irfan kembali meyakinkan saat mereka kini sudah berada di luar.
“Udah kok pak,” jawab Gladis yakin.
Mereka pun berjalan beriringan menapaki jalan yg sedikit terjal dengan bebatuan. Sesuai perencanaan observasi di lakukan dengan kelompok lengkap bahkan anak-anak yg lain sudah lebih dulu sampai.
Terlihat Frans sudah bergabung dengan anak-anak yg lain dan di ikuti Selena yg kini datang memburu mereka sedangkan Gladis ia terus berjalan beriringan dengan Irfan karena mengingat kondisi kakinya yg baru saja sembuh membuat Gladis tak bisa berjalan terburu-buru.
“Sini biar saya bantu.” Seloroh Irfan yg kini langsung mengambil alih kamera dari tangan Gladis berikut buku yg sejak tadi ia pegang.
Lagi-lagi Gladis hanya bisa pasrah dengan sikap Irfan namun tak lagi ia pusingkan mengingat dirinya sendiri memang sedikit kesulitan.
“Jadi gini guys, letak lokasi observasi nya masih berada di sebelah tikungan sana, tapi gak terlalu jauh dan sekarang berhubung semua anggota sudah kumpul gimana kalau kita langsung tahap wawancara aja gimana?” tanya Frans memulai perencanaan.
“Ya gak apa-apa juga itu juga kalau kepala warga nya ada sih menurut gue emang lebih bagus juga kan?” Seloroh anggota lain.
“Gimana setuju gak yg lain? Tapi ada konsekuensinya juga sih.” Cetus Frans.
“Konsekuensinya kita agak sedikit lama, dan mungkin bisa sampai sore disini kita juga perlu menguatkan observasi kita tapi kabar baik nya kita gak perlu repot-repot bolak balik sini ya paling kalau ada yg kurang itu juga kalau kita ada yg kurang di tahap ini jadi gimana?” tanya Frans memastikan.
Setelah beberapa saat merundingkan langkah yg akan mereka ambil akhinya mereka mengambil pilihan ledua karena memang terbilang lebih efektif dan tidak memerlukan banyak waktu.
Frans sendiri memimpin jalan lagi karena memang sebelum langkah yg dia ambil diam-diam dia telah meneliti lebih awal dan ia lebih yakin jika tahap yg ia pilih itu lebih tepat.
Semua anggota mengikuti kemana Frans berjalan setelah Frans sempat menanyakan rumah ketua masyarakat disana karena memang bisa dibilang kelompok masyarakat disana masih memegang teguh tradisi adat istiadat leluhur mereka.
Gladis sedikit tak bersemangat terlebih ia menyadari sikap Frans yg tiba-tiba saja terasa berubah entahlah meski dia sendiri meyakinkan jika itu hanya perasaan nya saja tapi terlihat dari sikap Frans yg seolah tak menghiraukan dirinya.
“Aw,” pekik Gladis saat kakinya malah tersandung batu membuat dirinya langsung menghentikan langkah nya.
Irfan yg memang mengikuti mereka ia dengan cepat langsung membantu Gladis untuk duduk di pinggir jalan sebentar untuk memastikan kaki Gladis tidak apa-apa.
“Gimana masih sakit?” tanya Irfan dengan memegang pergelangan kaki Gladis.
Frans yg semula berjalan lebih dulu ia melihat ke arah dimana Gladis berada membuat dirinya lagi-lagi cemburu karena kebersamaan kekasihnya itu dengan gurunya.
Frans jelas tahu sikap apa yg Irfan tunjukan ia bahkan tahu rasa apa yg Irfan perlihatkan karena ia sendiri seorang laki-laki tentunya ia jelas tahu.
Sekilas terbersit rasa sakit dalam hati nya namun rasa cemburu yg kini ia rasakan membuat Frans mencoba untuk tidak peduli akan kondisi Gladis saat ini ia lebih memilih pergi dan meninggalkan mereka begitu saja.
Sekilas jelas terlihat kekecewaan Frans oleh Gladis ia sendiri merasa sedih tapi ia tidak bisa berbuat apa-apa mendapati sikap Frans yg terlihat berbeda membuat Gladis merasa sakit andai saja dirinya bisa menempatkan diri dengan pak Irfan mungkin kejadian seperti ini tak akan membuatnya kecewa.
“Kamu masih kuat Dis?” tanya Irfan menyadarkan Gladis dari lamunan nya.
“Oh mmm udah kok, sedikit lebih baik.” Cicit Gladis dengan berbohong.
Sungguh yg ia rasa amat sakit mungkin didera di kakinya memang belum sepenuhnya pulih tapi ia tidak ingin membuat suasana menjadi semakin buruk amat ada dirinya dan juga Frans.
Irfan segera bangun dan kembali memapah Gladis untuk segera ikut bergabung kembali.
Satu jam telah berlalu semua proses penelitian sudah hampir rampung hanya butuh beberapa data lagi membuat mereka banyak menghabiskan waktu disana.
Irfan masih tetap berada di sana tak mungkin baginya meninggalkan Gladis di tengah hampir sore nya hari karena ia sendiri yg semula menawarkan diri untuk mengantar Selena dan Gladis agar ikut bersama nya.
Hingga saatnya semua nya sudah dirasa cukup semua anggota pun meninggalkan lokasi observasi.
“Gue kira pak Irfan bakalan pulang duluan.” cetus Selena berbisik di telinga Gladis.
Gladis terlihat sedikit kesal pasalnya ia menduga jika pak Irfan akan memaksa dirinya agar pulang bersamanya lagi.
“Sel, gue pulang bareng Frans ya gue gak enak tuh sama si Frans.” Cicit Gladis balik berbisik.
Selena melihat ke arah Frans yg kini berjalan lebih dulu meninggalkan mereka bahkan ia bari sadar sejak tadi Frans terlihat berbeda pada Gladis.
“Ya sih gue rasa si Frans emang lagi gak mood gitu.”
“Hey tungguin!” teriak Clarisa yg berlari menghampiri dua sejoli itu.
“Ih Clarisa kebiasaan sih.” Kesal Selena dengan sungut nya merasa kesal karena obrolan mereka terhenti.
“Maaf, lagian main jalan aja udah tahu jalan nya gini tahu.”
Irfan langsung berdiri saat terlihat Gladis yg semakin mendekatinya membuat Gladis kembali merasa kesal.
“Bapak kenapa gak pulang?”
“Ya saya tunggu kamu lah, emang kamu mau pulang mau naik apa?” tanya Irfan dengan heran.
“Dis gue duluan ya, gue pulang bareng Clarisa yah dah.” Pamit Selena yg segera mempercepat langkah nya ia tidak ingin menjadi serba salah melihat Gladis yg terlihat memang kesal pada Pak Irfan.
Sementara Gladis ia terlihat tak percaya dengan sikap Selena sudah lengkap sudah penderitaan nya kali ini.
Bersambung....
langsung favorit deh
salam keluarga besar arsgaf ya ka