Sebutan sebagai wanita perusak rumah tangga orang tersemat pada diri Hanindya Ayu, Hanin tak menyangka jika kisah cintanya dengan Senggala Bimantara akan serumit ini.
Kisah ini di mulai setelah kejadian malam itu dan berlanjut saat Gala resmi bercerai dengan mantan istrinya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ShaNisha_icha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Talak.
Jakarta 2 Tahun lalu
𝙎𝙀𝙉𝙂𝙂𝘼𝙇𝘼.
Batas kesabaranku telah sampai di puncaknya, tanpa menunggu esok aku memutuskan pulang ke Jakarta.
Kali ini aku gak akan memberikan kesempatan pada Anggun, wanita itu sudah bertindak di luar batas.
Selama ini aku tertipu olehnya dia bersikap manis untuk menutupi keburukannya.
Selingkuh sudah seperti habit bagi dia merasa biasa saja melakukan kesalahan yang sama, harusnya Anggun tak termaafkan dan perpisahan adalah ganjaran yang pas.
Aku mengirim pesan pada Siti mengatakan aku akan pulang hari ini, dan meminta Siti untuk ke rumah bunda.
Aku kembali menjadi brengsek dengan meninggalkan Hanin, saat aku kembali ke kamar wanita itu masih tertidur dengan jejak air mata di wajahnya.
Tak tega rasanya pergi begitu saja tapi aku harus menyelesaikan masalah dengan Anggun aku harus berpisah dengan wanita yang menjadi ibu dari anakku.
Aku mengusap rambut Hanin, mengecup ujung kepalanya dan berjanji aku akan bertanggung jawab pada wanita ini wanita yang memenuhi hati dan pikiranku saat ini.
"Aku ke Jakarta dulu, ada yang harus aku selesaikan," aku berbisik pada Hanin entah wanita itu dengar atau tidak aku tak mau mengganggu tidur lelapnya.
Pesawat yang aku tumpangi mendarat di bandara soekarno-hatta pukul sembilan malam, sengaja aku tidak menghubungi supir untuk menjemput.
Aku yakin Anggun saat ini sedang bersama selingkuhannya, aku harus melihat sendiri apa yang dilakukan wanita itu.
Benar saja, kepala keamanan mengatakan jika Anggun menerima tamu sepasang suami istri dan meminta izin untuk menginap di rumah mereka.
Tiba di teras keadaan rumah sepi, semua lampu telah dimatikan, perlahan aku masuk kedalam rumah.
Ruang tengah masih terang dengan televisi masih menyala dan seorang wanita tengah tertidur.
Bergegas aku menuju kamar kami, jijik aku jijik mendengar suara ******* dari dalam kamar.
Dosa apa yang aku lakukan Tuhan sampai aku harus menghadapi semua ini.
Menarik nafas panjang aku membuka pintu kamar.
"Brengsek,,," ujarku.
Dua orang itu tengah bergumul di atas ranjang ku. Menjijikan rasanya.
"Mas,,," Anggun terlihat kaget bergegas mengambil jubah tidur yang terletak di sisi ranjang.
"Keluar kalian dari sini !!!" ujarku geram menahan marah.
"Kalian menjijikan," umpatku pada dua orang itu.
"Mas Galla,,," Anggun berlari ke arahku bersujud di bawah kakiku.
"Kamu,,, aku talak mulai detik ini kita tidak ada hubungan apapun," aku menepis tangan Anggun yang ingin memeluk kakiku.
"Dan untuk anda,,, silahkan bawa wanita ini keluar dari rumah saya," Aku menunjuk pria blasteran yang aku kenal sebagai talent dalam acara yang tengah Anggun kerjakan.
"Ada apa ini,,," wanita yang aku lihat tertidur di depan ruang TV tergopoh-gopoh masuk mendekat dan terlihat kaget saat melihat keberadaanku.
"Pak Senggala,," ujar wanita itu menelan ludah kasar.
"Anda bagaimana bisa anda membiarkan mereka,,!!!" Geramku pada wanita itu.
"Maaf pak saya,,"
"Silahkan bawa mereka pergi dari rumah saya !!!" teriak ku di depan muka wanita itu, meledak emosiku meledak bukan karena aku cemburu aku lebih ke kecewa dan marah kenapa mereka melakukan itu di rumah ku,rumah di mana ada Aryo putraku tinggal bersama kami.
"Mas Galla aku bisa jelaskan," Anggun mendekati ku.
"Jelaskan besok di depan ibu," aku beranjak meninggalkan semua,muak marah,kecewa semua perasaan ini bertumpuk menjadi satu.
Tuhan apa salahku kenapa harus aku? Aku memilih pergi ke rumah bunda dan berpesan pada keamanan tempat tinggalku untuk mengusir mereka semua dari rumah.
Waktu menunjukan pukul sebelas malam,aku kini berada di sebuah kedai kopi 24 Jam, hari ku kacau sekali hari ini.
Meraih ponselku untuk menghubungi Suri, sebelum kembali kejakarta aku meminta Suri untuk ke Lombok menemani Hanin. Aku menceritakan apa yang terjadi antara aku dan Hanin dan sepupuku itu memaki mengeluarkan semua nama binatang untuk menggambarkan diriku saat ini.
Ya sebejat itu aku meski kami melakukan tanpa sadar dan tidak ada paksaan tapi tetap saja di sini aku yang bajingan aku telah mengambil sesuatu berharga dalam diri Hanin.
Tunggu aku Hanindya Ayu aku akan bertanggung jawab atas semua ini dan tak akan aku biarkan kamu dengan yang lain, tekadku dalam hati.
𝘼𝙉𝙂𝙂𝙐𝙉
Setelah Aryo tertidur kembali, aku meminta Richard untuk pulang. Aku gak mau besok pagi Aryo bertanya tentang kehadiran Richard pagi hari di rumah.
Richard sempat menolak dan memaksa karena kami baru satu kali merengkuh kenikmatan, tapi aku menjanjikan nya jika besok aku akan menemuinya.
Beruntung kami sudah sama-sama mendapatkan puncak kenikmatan meski tak cukup sekali tapi ber cinta dengan Richard selalu membuat ku inginkan lebih.
Siang menjelang sore Siti meminta izin kepadaku untuk pergi rumah bunda bersama Aryo, tentu aku mengijinkan karena artinya aku gak perlu mencari alasan untuk menolak Richard yang sejak pagi tadi meminta bertemu sebelum dia berangkat ke Jerman.
Seperti biasa mbak Linda datang bersama Richard setelah jam makan malam, wanita itu mengatakan bahwa dia akan berada di sini sampai kami selesai menuntaskan hasrat kami.
Aku membawa Richard masuk kedalam kamar kami dan seperti biasa Richard bagi seekor singa yang kelaparan.
"Padahal kemarin sudah,," goda ku mengelus dada Richard.
"Kamu bikin ketagihan," ujarnya mengecup bahu ku.
"Malam ini amankan?" Richard berbisik di telingaku.
"Aman,, Aryo pergi ke rumah ahhh,," Richard membungkam mulutku dengan ciuman ya.
Kami sama-sama mengejar puncak kenikmatan tanpa memperdulikan keadaan sekitar kami hingga saat kami tengah sama-sama mengayuh suara maskulin yang aku kenal membuatku mendorong Richard dari atasku.
"Brengsek,," disana Mas Galla berdiri dengan tatapan penuh amarah rahangnya mengeras mengepalkan kedua tangannya.
"Mas,,," aku menyambar jubah tidur ku yang terletak di sisi ranjang dan turun dari ranjang mendekati mas Galla.
"Keluar kalian dari sini," sorot matanya tajam penuh amarah menatap kearah Richard yang tengah mengenakan pakaiannya.
"Kalian menjijikan," aku berlari mendekati mas Galla.
"Mas Galla,, " aku bersimpuh di bawah kakinya mencoba meraih kaki mas Galla.
"Kamu,,, aku talak mulai detik ini kita tidak ada hubungan apapun,," tanganku ditepis Mas Galla.
Aku terdiam hancur semua hancur, yang aku takutkan terjadi Mas Galla, menceraikanku dunia ku terasa berhenti aku tak tahu lagi apa yang terjadi, aku menyesal namun tak ada guna.
Aku masih terdiam menatap kearah Mas Galla tak percaya dengan apa yang baru saja Mas Galla ucapkan, apakah ini yang harus aku terima?
Kenapa semudah itu Mas Galla menjatuhkan talak apa Mas Galla tidak memikirkan perasaan ku, perasaan Aryo, keluarga mas Galla dan ibu.
Aku tertawa dalam hati selama ini bukannya aku yang jahat di sini aku yang tidak bisa menjaga perasaan mereka.
"Mas Galla aku bisa jelaskan," aku mengusap air mataku dan mendekati mas Galla.
"Jelaskan besok di depan ibu,," ujar mas Galla berbalik dan tak menoleh lagi kebelakang aku tertunduk lemas bagaimana hidupku kedepan tanpa Mas Galla?
mmh icha tetap semangat