Sebuah misi yang di emban oleh dua saudara kembar tak identik. Namun, mereka memegang misi yang berbeda-beda. Bahkan, mereka pun terpisah oleh sebuah tragedi yang menimpa mereka semasa kecil.
Lalu, akankah mereka kembali di pertemukan oleh takdir yang saling berkaitan?
Apa jadinya bila seorang kakak kandung mencintai kembarannya sendiri?
Semua itu akan tersaji dalam sebuah kisah 'Misi Rahasia Si Kembar'.
Selamat membaca!
Terima kasih atas idenya pembaca setiaku!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ria Diana Santi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Suka ataukah Cinta?
Bandara Incheon Korea Selatan ....
Dua orang pria yang baru saja tiba di Korea. Mereka menunggu jemputan tiba. Namun, orang yang mereka tunggu urung jua terlihat di pelupuk mata.
“Kal, kok si Habib gak keliatan, ya?” senggol Adnan tepat pada sikut Vikal.
“Dih, mana gue tau. Emang, lu udah kabarin dia kalo kita udah nyampe?” tanya Vikal sambil melototi Adnan dengan mode seriusnya.
“Lah, lu gimana, sih? ‘Kan, dalam pesawat gak boleh main hp. Lupa apa amnesia, Lu?!” sentak Adnan yang tak kalah sangar dari Vikal.
Alhasil, mereka berdua pun adu mulut dan ribut.
Habib menyunggingkan senyum, kala bola matanya melayangkan pandang ke arah kedua sahabatnya.
Tangan menyilang dan tubuhnya bersandar di salah satu sudut dinding di bandara. Tampaknya ia masih enggan menghampiri. Dirinya masih ingin menikmati pemandangan yang ia rindukan selama ini.
“Biarin, deh mereka berdebat sebentar lagi. Setelah itu aku baru akan menghampiri mereka.” ujar Habib yang masih asyik dengan suguhan drama kedua sahabatnya.
Letih sudah kedua pria itu adu mulut dengan tak henti-hentinya saling sikut. Meributkan hal yang seharusnya tak perlu di ributkan sama sekali.
Aihhhh ... mereka memang aneh sekali.
“Sudah ributnya?” Satu kalimat tanya yang sukses membuat Vikal dan Adnan berlarian.
“Habib ...! Kita kangen sama lu, Bib ...!” Mereka tak memberikan Habib ruang untuk bernafas.
Sesak?
Ya, sudah pasti!
Mau bagaimana lagi?
Namanya juga melepaskan kerinduan. Mau tidak mau, suka tidak suka. Habib pun menerima pelukan paksa yang membuat tubuhnya hampir limbung seketika.
Beruntung rasanya bila mempunyai sahabat yang merindukan kita. Sama seperti yang Habib rasakan saat ini.
“Udah kali pelukannya. Sesak nafas, nih yang ada,” ungkap Habib yang mulai memasang mode cool-nya.
“Maaf-maaf! Kita terlampau seneng. Ya, gak, Ad?” sikut Vikal yang entah sudah ke berapa kalinya pada Adnan.
“Dih, apaan sih, Lu?! Gue gak sekuat lu yang meluk Habib sampai sesak nafas gitu,” balas Adnan sewot pada Vikal.
“Wah, nih anak gak setia bener dah. Lu ‘kan, juga ikutan meluk Habib gak kalah kenceng tadi,” protes Vikal yang tak terima di salahkan sendirian saja.
“Udah-udah! Oke, sekarang kalian berdua mau ikut aku pulang atau mau tetap lanjut debat di sini, nih?” seruan sekaligus pilihan Habib suguhkan.
“Ya, ikut kamu, dong, Bib. Iya, kali mau tiduran di sini. Gak etis amat. Amat aja belum tentu mau tidur di sini. Hehehe ....” kelakar Vikal yang selalu memecah gelak tawa diantara mereka.
...----------------...
Akibat dari kelakuannya yang agresif nan terbungkus sikap sadis. Jadilah Mi Kyong sebagai seorang perawat dadakan.
“Ya, Dohyeon. Nae peonchiga neomu manh-asseo, eung?”
{Hei, Do Hyun. Apakah pukulan-pukulan ku barusan itu sangat keterlaluan, hah?}
“Agassi, nae mom-e nan i meong-i dangsin-ui neunglyeog-eul midge mandeulgie chungbunhaji anhseubnikka? Eopdeulin jangmyeon-eul banboghaeyagessjyo?”
{Nona, apakah memar di tubuhku ini tidak cukup untuk membuat mu yakin pada kemampuan mu itu? Apakah harus kita ulangi lagi adegan di mana aku jatuh tersungkur, hah?}
Mi Kyong tersenyum dan sedikit tertawa. Sehingga, Do Hyun dapat melihat rona bahagia yang di pancarkan wajah cantik itu padanya.
“Joesonghabnida! Mianhae Dohyeon-a! Na--” Belum lagi sempurna kalimat permintaan maaf Mi Kyong, Do Hyun telah menyambarnya begitu saja.
{Maaf! Maafkan aku, Do Hyun! Aku--}
“Geuge balo jega wonhaneun geos-ibnida, Agassi. Hangsang sangsa-ege midgo jikyeojuneun salam-euloseo miseu. Yang-eul deo gang-inhage hunlyeonsikineun geosdo je uimu-ibnida. Nan jeongmal gwaenchanh-a, Agassi.”
{Justru itulah yang ku inginkan, Nona. Sebagai orang yang selalu di percaya oleh bos untuk menjaga dan melindungi, Nona. Melatih Nona untuk menjadi lebih tangguh lagi itu juga merupakan tugasku, Nona. Aku sungguh tidak apa-apa, Nona.}
Tercetak pula sebuah senyum penuh arti, pada bibir laki-laki yang tengah berbaring di atas ranjang persegi.
“Jeonyeog sigan-ibnida. Naega mueos-eul hagileul wonhasibnikka?” tanya Mi Kyong dengan berbaik hati. Namun, Do Hyun malah terkekeh sendiri.
{Sudah waktunya makan malam. Kamu ingin aku buatkan apa?}
“Ohaehaji maseyo! Sagwaui uimilo geuleohge haessseubnida. Geuge jeonbu-igo deo isang amugeosdo anibnida,” sanggah Mi Kyong dengan gayanya yang terlihat seperti ratu drama.
{Jangan salah paham! Aku melakukannya sebagai bentuk permintaan maaf. Itu saja dan tidak lebih.}
“Anida. Gwaenhi gibun-i johseubnida. Agassi, geudong-an singyeongsseojusyeoseo gamsahabnida. Gomawoyo, Agassi!”
{Tidak. Aku hanya merasa tersanjung. Nona, terima kasih sudah mau merawat ku selama ini. Terima kasih, Nona!}
“Chungbun hae! naneun deo isang dangsin-ui i deulamaleul cham-eul su eobs-seubnida. Dangsin-eul wihae jug jom meog-euleo gagessseubnida.”
{Sudahlah! Aku tidak tahan lagi dengan drama mu ini. Lebih baik aku pergi membuatkan bubur untuk mu.}
Mi Kyong pun beranjak dari posisi duduknya. Kemudian dia berjalan menuju pintu keluar.
Ketika pintu terbuka ... tampaklah di depannya wajah seorang ayah. Ya, ayah yang kini telah membuat perasaan Mi Kyong hancur berantakan.
“Migyeong, neo--” kalimat tanya itu belum lepas tersampaikan, Mi Kyong telah buru-buru berjalan.
{Mi Kyong, apakah kau--}
Pada akhirnya, Joon Woo hanya bisa menunduk pilu. Namun, ketika ia melihat wajah Do Hyun, keangkuhan kembali ia kuasai.
“Oneul yeonseub-eun eottaess-eo? Modeun geos-i sunjolobge jinhaengdoeeossseubnikka?”
{Bagaimana latihan hari ini? Apakah semuanya berjalan lancar?}
“Gyeolgwaneun jigjeob bosil su issseubnida, Sajangnim. Naui i gotong-i bunmyeonghan jeung-geoga doeji anh-assseubnikka? Jeug, Agassineun geunyeoui neunglyeog-eul jeonhyeo ilhji anh-assseubnida. Hajiman geudong-an geuneun jasin-ui gang-inhan jeongcheseong-eul musihaessseubnida.”
{Anda bisa melihat sendiri hasilnya, Pak bos. Bukankah, sakit ku ini sudah memberikan bukti yang nyata? Bahwa, Nona sama sekali belum kehilangan kemampuannya. Walaupun, selama ini dia mengabaikan jati dirinya yang tangguh itu.}
“Joh-a, naneun geuleul dangsin-ege matgibnida.” Joon Woo pun menepuk-nepuk pundak Do Hyun, lantas pergi setelahnya.
{Baiklah, aku percayakan dia padamu.}
...----------------...
Di sisi lain tepatnya di kediaman Habib. Mereka tengah berkumpul untuk melakukan ritual makan malam bersama.
Pauline menyiapkan beberapa menu masakan khas Korea. Demi memberikan kejutan untuk kedua sahabat putranya.
“Tante, tidak perlu repot-repot. Kalau bisa lebih banyak lagi masak seperti ini, Tante,” kelakar Vikal.
“Iya, habiskan saja. Besok akan Tante masakan lagi menu baru. Mau?”
“Dengan senang hati, Tante.” balas Vikal dengan tak tahu malu.
Seusai makan malam, ketiga pemuda itu duduk di tepian balkon. Menatap kelap-kelip lampu rumah-rumah penduduk yang ada di sana.
“Apakah kalian tau bedanya suka dan cinta? Aku sungguh dilema,” terang Habib dengan sorot mata teduhnya yang memandang ke segala arah.
Tiba-tiba saja satu pertanyaan Habib itu, sukses membuat kedua sahabatnya terbelalak tak percaya.
“Apa kamu sedang menunggu jawaban dari dilema mu itu, Bib?” tanya Adnan sembari memberikan rangkulan pada pundak Habib.
“Lebih tepatnya, apakah kamu tengah menyukai seseorang ya, Bib?” tanya Vikal pula yang juga ikut merangkul pundak Habib.
Hening!
...----------------...
yang terakhir adalah Aku Mencintaimu dan Menyukai Semua Bab Awal-Akhir 😍😘😘👌🏻
sama donk kitaa😅