Terlahir kembali sebagai putri dari Duke Donovan, dia sadar bahwa dirinya yang sekarang adalah seorang antagonis yang nantinya akan meninggal dengan mengenaskan. Beruntungnya dia adalah seorang wanita mandiri di kehidupan sebelumnya dan pernikahan bukanlah hal yang besar untuknya.
"Saya tidak peduli bagaimana kalian memandang saya. Ini hidup saya dan saya memiliki hak atas hidup saya sendiri."
Monster dan pedang. Sihir dan darah monster terkutuk. Keberanian dan kesetiaan. Tanpa sengaja menjerat para protagonis pria. Bagaimana kehidupannya kali ini?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 24 : Malam Perayaan
Area istana begitu ramai, orang-orang yang dikirim oleh setiap bangsawan datang pada hari itu juga. Mereka kekar dan terlihat gagah dengan baju baja yang mereka kenakan.
Ya, mereka adalah ksatria yang akan mengikuti pembasmian monster besok.
"Permisi, bisakah Anda memberi tau siapa yang mengirim kelompok Anda?" tanya seorang pemuda kepada salah satu anggota sebuah kelompok ksatria.
"Duke Roan yang mengirim kami."
"Baiklah, tolong sebutkan nama kalian sebelum masuk."
Satu per satu ksatria menyebutkan nama mereka, kemudian masuk ke tempat yang khusus disediakan oleh kaisar. Pemuda tadi membereskan kertas dan alat tulisnya tadi.
Tugasnya sudah selesai, ksatria yang ikut dalam pembasmian monster besok sudah lengkap. Saat dia hendak pergi, seseorang datang.
Seorang pria bangsawan yang tampan yang merupakan pemimpin pembasmian monster besok. Duke Roan.
"Semuanya sudah ada di sini?" tanyanya kepada si pemuda.
"Sudah. Ini, saya kembalikan daftar orang-orang yang ikut." Si pemuda menyerahkan daftar nama ksatria di tangannya. "Kakak ada di mana?"
"Lenka sedang mengecek persediaan makanan. Tuan Muda Donovan tidak perlu khawatir, karena saya tidak melakukan apapun kepada kakak kesayangan Anda," ujar Duke Roan meledek pemuda di hadapannya. Noah.
"Tugas saya sudah selesai dan saya akan bekerja besok. Selamat siang, Duke Roan."
Noah pergi begitu saja tanpa menunggu tanggapan Duke Roan. Sebenarnya laki-laki itu sudah kesal sedari pagi karena Duke Roan memberinya pekerjaan yang tak ada habisnya.
Bukannya tidak suka membantu pekerjaan pelayan. Bukan juga tidak suka karena tidak bertindak sebagaimana bangsawan bersikap. Tetapi Noah tidak suka karena dia harus bertemu Duke Roan.
Ada alasan mengapa Noah tidak menyukai pria bangsawan itu. Ada dua alasan! Pertama, pria itu angkuh dan merasa dunia berputar kepada dirinya. Kedua, pria itu tidak memperlakukan Lenka dengan cukup baik.
"Tuan Muda Donovan! Kebetulan sekali saya bertemu dengan Anda!" pekikan seorang gadis bangsawan menyadarkan Noah dari pikirannya.
Laki-laki itu tersenyum.
"Saya hanya berjalan-jalan. Saya tidak menyangka akan bertemu Anda di sini," ujar gadis tersebut sambil mendekati Noah.
"A-ah, benarkah? Sungguh kebetulan yang luar biasa … saya rasa." Noah tersenyum lagi membuat pipi gadis bangsawan itu timbul semburat merah.
Suasana berubah menjadi sedikit canggung, kemudian Noah memutuskan untuk mengakhiri percakapan. Laki-laki itu berjalan dengan cepat karena tak ingin bertemu dengan nona bangsawan yang lain.
Karena sekarang dia hanya ingin bertemu dengan saudarinya saja!
"Kakak!" panggilnya saat melihat Lenka di kejauhan.
"Oh, Noah. Tugasmu sudah selesai?"
"Ya. Bagaimana dengan Kakak sendiri?"
"Sebagian, aku hanya kurang mengecek dapur untuk nanti malam. Kamu bisa makan lebih dulu, tidak perlu menunggu diriku." Lenka menepuk bahu Noah beberapa kali dan melangkahkan kakinya untuk pergi ke dapur.
Namun saudaranya itu menahan Lenka dengan cepat.
"Menurutku Kakak harus makan. Jika Kakak belum makan, maka aku tidak akan menyentuh piringku," kata Noah.
.
.
Hari sudah petang, matahari telah digantikan oleh bulan. Di sebuah ruangan yang cukup luas dengan banyak orang begitu ramai dipenuhi oleh celotehan.
Wajah orang-orang itu berseri-seri, bersemangat, dan penuh dengan antusiasme. Bagaimana tidak, mereka sedang berada di tempat perayaan yang penuh dengan hidangan lezat.
"Yang Mulia memberi kita perayaan hari ini sebelum kita pergi untuk membasmi monster besok pagi." Suara seorang pria yang penuh wibawa terdengar, menghentikan celotehan dan ruangan menjadi sunyi.
Pria itu memandang seluruh orang yang ada di dalam sana, mengedarkan pandangannya.
"Tidak ada yang perlu kukatakan lagi selain meminta kalian untuk bekerja keras dan mempertaruhkan diri kalian selama pembasmian berlangsung. Sekarang kalian dapat menikmati waktu kalian di sini." Pria itu menutup dengan mengangkat cawan yang ada di tangannya.
Sorakan pun terdengar dan mereka semua mulai memakan hidangan masing-masing, mengambil minuman, bercanda, serta hal lainnya.
Namun lima menit belum berlalu dan sesuatu terjadi. Salah satu ksatria meletakkan gelas kayunya dengan sangat keras dan berteriak, "Apa-apaan ini? Yang ada di gelasku bukanlah bir, melainkan jus buah!"
"Hei, punyaku juga. Kukira aku salah memilih drum minuman tadi," balas yang lain.
"Uhm, punyaku juga jus buah."
"Aku juga!"
"Aku juga!"
"Aku juga!"
Orang-orang itu mulai bersungut-sungut, kemudian salah satu di antara mereka pergi keluar untuk menemui pria tadi. Duke Roan.
Duke Roan yang menerima hal tersebut mengernyitkan dahi dan meminta ksatria itu untuk kembali dan menunggu dirinya. Selagi pria itu berjalan, dia bersungut-sungut.
Setelah tiba di depan pintu kamar Lenka, pria itu mengetuknya dan si tuan menampakkan diri.
"Selamat malam Duke Roan, ada apa Anda mencari saya malam-malam begini?" tanya Lenka langsung.
"Anda tidak meminta saya untuk masuk, Nona Donovan? Anda sungguh tidak tau bagaimana memperlakukan tamu Anda."
Lenka menghela napasnya dan membuka pintu kamarnya lebih lebar. "Cepatlah masuk dan segera selesaikan urusan Anda, Duke Roan. Saya sudah muak melihat Anda hari ini."
"Terima kasih."
Duke Roan pun melangkah masuk, tapi itu adalah keputusan yang buruk setelah pria itu berada di dalam. Duke Donovan dan dua monster Lenka ada di sana.
Entah mengapa udara di sekitarnya bertambah berat dan Duke Roan merasa dirinya sulit untuk bernapas. Padahal jendela kamar Lenka terbuka lebar-lebar.
"Duke Donovan … selamat malam," sapa Duke Roan kepada pria yang tengah memandangi dirinya.
"Selamat malam Duke Roan."
"Baiklah Duke Roan, katakan kepentingan Anda kemari dan mari selesaikan dengan cepat. Anda cukup membuang waktu saya."
Berbalik ke arah Lenka berada, Duke Roan menanggapi dengan suara kecil, "Kamu bisa sombong sekarang, tapi tidak besok."
"Ya! Perlu saya ulang kalimat saya, Duke Roan?" balas Lenka.
Pria bangsawan itu menarik napas dalam-dalam dan memasang wajah seramah mungkin. "Nona Donovan," katanya dengan nada ramah.
"Salah satu ksatria bilang kalau mereka mendapatkan jus dan bukan bir. Saya hanya ingin memberi tau Anda untuk meminta pelayan di dapur untuk menukarnya dengan bir. Lain kali tolong lebih teliti dalam bekerja," lanjutnya.
"Oh, saya lupa memberi tau Anda, Duke Roan. Saya memang sengaja memberi mereka jus buah malam ini. Saya khawatir jika besok pagi mereka merasa mual atau pusing karena terlalu banyak minum … mungkin."
Duke Roan menatap Lenka tak percaya. "Kami biasa minum dan akan terasa aneh jika kami minum jus di malam perayaan seperti ini."
"Tidak bisa, saya sengaja menyimpan banyak drum minuman untuk pesta perayaan setelah kita kembali. Lagipula jus yang saya berikan cukup menguntungkan bagi mereka nantinya."
"Mengapa begitu?"
"Karena saya mencampurkan ramuan yang dapat mempercepat penyembuhan luka ke jus itu. Dan lagi efek dari ramuan itu bertahan cukup lama. Ramuan seperti itu cukup mahal, dan saya memberikannya dengan cuma-cuma."