Complete)
Zahra,gadis berusia 22 tahun yang dijodohkan orang tuanya dengan laki-laki yang tidak pernah ia kenali sebelumnya.Orang tuannya menjodohkannya dengan Fatan,laki-laki berusia 23 tahun.
Kebayang tidak?bagaimana jika kalian yang di jodohkan dengan orang yang tidak sama sekali kamu kenali,apalagi kamu tidak pernah mencintainya?
Bagaimana dengan kehidupannya yang akan datang?apakah mereka bisa saling mencintai?
Start: 4 Mei 2019
Finish: 7 Desember 2019
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon SILMA FEBRI ANISA, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
PART 23
Empat bulan sudah, Fatan berada di kota Bogor. Semenjak di Bogor, Fatan memang tidak pernah kontak an dengan Zahra maupun keluarga Zahra. Kini Zahra tengah kefikiran akan Fatan yang biasanya mengirimkan pesan seminggu sekali. Kini udah empat bulan tidak ada. Meskipun Zahra tahu kalau Fatan sudah di Bogor selama ini, namun kenapa Fatan tidak mengirim pesan pada Zahra. Orang tua Zahra pun heran kenapa Fatan juga tidak pernah mengkontak keluarga mereka seperti dulu.
Sebentar lagi Zahra akan selesai skripsi dan akan ada Sidang. Setelah selesai sidang, Zahra akan wisuda. Dan tandanya bentar lagi Zahra akan memenuhi janjinya pada orang tuanya untuk menikah.
" Zahra, Fatan pernah kirim pesan ke kamu enggak?." Tanya Umi
" enggak ada Mi. Semenjak Fatan kerja di Bogor. Fatan tidak pernah kirim pesan ke Zahra." Jawab Zahra.
" loh kok sama ya Nak. Pas waktu masih di Jakarta ia juga sering kirim pesan nanyain kabar ke Umi, Abi. Ini kok enggak ada. Kenapa ya dia?." Ucap Umi heran.
" mungkin sibuk Mi. Dia kan guru, sehari-hari di sekolah Mi." Ucap Zahra.
" iya mungkin Nak, terus bagaimana skripsi kamu?." Tanya Umi.
" Alhamdulilah Mi, minggu depan Zahra sidang. Doa in ya Mi." Ucap Zahra.
" iya Umi doa in kok."
" yaudah Zahra ke kamar dulu Mi."
Zahra menuju ke kamarnya untuk istirahat, di kamar ia tampak bingung apa yang sedang Fatan alami kini. Kenapa tidak menghubungi keluarganya seperti dulu lagi. Meskipun Zahra dulu tidak bisa menerima Fatan yang akan menjadi suaminya. Kini Zahra mulai mencintai dan menaruh rasa pada Fatan.
" ah sudahlah. Mungkin sibuk. Semoga dia baik-baik saja." Ucap Zahra.
Zahra langsung membaca baca buku untuk persiapan sidangnya minggu depan, karena ia tahu kalau penguji yang akan mengujinya pasti akan menanyakan yang aneh-aneh yang diluar dugaan. Zahra mulai mempersiapkan mental. Jangan sampai down di hadapan penguji. Kalau penguji tahu, Zahra akan di buat bingung.
"Assalamualaikum." Ucap Abi pulang dari kantor.
" waalaikumsalam." Jawabku dari kamarku berlari menemui Abi.
" wah tumben anak Abi semangat banget. Ada apa nih." Ucap Abi.
" gini loh Bi, kan minggu depan Zahra akan sidang. Nanti setelah Abi mandi, makan. Abi pura-pura jadi penguji Zahra ya. Zahra mau pemanasan biar enggak grogi Bi."
" hahaha. Zahra zahra, kenapa harus Abi. Kan bisa latihan di depan kaca. Kamu tuh aneh-aneh aja." Sahut abi terkekeh kekeh.
" bukanya gitu Bi. Ah abi, Anaknya grogi mau sidang kok malah di ketawain sih."
" iya iya nanti pura-pura jadi penguji."
" gitu dong Bi. Bak deh."
Sembari menunggu Abinya, Zahra bermain game di ponselnya. Dan tak lama kemudian Abinya menghampiri Zahra. Suasana ruang keluarga pun menjadi tegang.
" Zahra, enggak usah tegang Nak. Nanti pengujinya tahu loh kalau kamu tegang." Ucap Abi.
" makanya Zahra jadiin Abi sebagai uji coba."
" hem iya iya. Ayo di mulai. Rolling action."
" emang syuting Bi hahaha."
Umi yang melihat mereka berdua pun tertawa terbahak-bahak mengintip di belakang sketsel.
Hampir satu jam Zahra latihan bersama Abi. Setelah latihan, mereka sekeluarga langsung berkumpul di ruang keluarga. Terkecuali Abangnya, karena Abang Zahra sekarang kerja di sebuah perusahaan di Kalimantan.
〰〰〰〰〰〰〰〰
Malam menjelang Pagi, pukul 03.00 WIB, Zahra bangun dan langsung mengambil air wudhu untuk melaksanakan sholat tahajud. Sholat tahajud memang tidak pernah ditinggalkan oleh Zahra. Ia selalu memasang alarm untuk membangunkannya.
Setelah sholat, Zahra selalu berdzikir dan berdoa pada Allah SWT meminta yang terbaik baginta dan keluarganya.
Setelah Sholat selesai, sembaei menunggu adzan subuh, Zahra gunakan waktunya untuk membaca Al-quran meskipun hanya 1-2 lembar saja.
" asholatu khairum minan naum"
Suara adzan di masjid sudah berkumandang, Zahra langsung mengambil air wudhu dan langsung sholat berjamaah bersama keluarga.
................................
Pukul 07.00 WIB Zahra berangkat ke kampus dengan dihantar oleh Abinya. Zahra pun ditunggu Abinya di Parkiran. Karena Zahra ke kampus hanya mengambil buku yang ketinggalan. Dua puluh menit an Zahra berada di dalam kampus. Abinya pun heran kenapa Zahra tidak balik-balik yang katanya hanya mengambil buku.
Menunggu hampir setengah jam, akhirnya Zahra muncul dari dalam dengan seorang anak laki-laki. Laki-laki itu bernama Dafa, adik tingkat Zahra yang meminta Zahra untuk mengajari mengaji, karena Dafa adalah seorang mualaf. Melihat anaknya berjalan berdua dengan cowo, Abi pun yang asal wajahnya fresh sekarang kusut. Ia langsung memanggil Zahra.
" Zahraaaaaa.."
Melihat Abinya yang wajahbya kusut, Zahra langsung lari menemuai Abinya.k
" Iya Abi.."
" siapa laki-laki itu? Kenapa kamu harus berdua an sama dia."
Zahra belum sempat menjawab, laki-laki itu mendengar dan langsung menjawab pertanyaan Abinya Zahra.
" saya Dafa, Abi. Saya adik tingkatnya kak Zahra. Maaf kalau saya lancang. Saya bertemu dengan kak Zahra, hanya ingin minta tolong untuk membantu saya belajar mengaji, karena saya adalah Mualaf."
" iya Bi, benar kata Dafa. Zahra tadi kebetulan bertemu di depan situ kok."
Mendengar ucapan Zahra dan Dafa, Abi langsung mengajak Dafa untuk duduk disebuah kursi dibawah pohon. " kamu orang mana?" Tanya Abi pada Dafa.
" saya orang Jakarta. Keluarga saya non muslim. Dan saya baru 4 hari ini masuk muslim." Jawab Dafa.
" kamu mau belajar mengaji?."
" sangat mau."
" kalau kamu mau, tiap sore atau kalau kamu libur. Bisa datang kerumahku, rumah Zahra. Ini kartu nama saya. Nanti saya akan mengajari kamu mengaji." Ucap Abi Zahra.
" beneran? Makasih ya Abi, Zahra."
" sama-sama."
Zahra dan Abi pun langsung meninggalkan Dafa dan langsung pergi pulang ke rumah. Di rumah Zahra dan Abi sudah di sambut Umi dengan berbagai makanan enak.
" wah tumben nih Umi masak banyak, ada apa nih Mi?" Tanya Zahra.
" enggak ada apa-apa kok. Itung-itung umi kan libur. Jadi mau masak yang banyak buat keluarga." Jawab Umi.
Abi, Umi, dan Zahra langsung menyantap makanan yang ada di ruang makan.
〰〰〰〰〰〰〰〰〰〰〰〰〰〰
Ditengah malam, Zahra menikmati udara di Ibu Kota di kamarnya. Dengan ditemani secangkir susu dan sepiring roti. Zahra melihat ke arah kota Bogor. Hanya terlihat lampu-lampu yang bercahaya. Zahra kembali ke fikiran Fatan. Tak lama itu juga tiba-tiba ponsel Zahra berbunyi. Dan di layar Zahra terpampang nama Fatan. Melihat itu, Zahra langsung sedikit lega dan langsung mengangkat telfon dari Fatan.
" assalamualaikum."
" waalaikumsalam."
" maaf ganggu malam-malam Ra. Bagaimana kabar kamu dan keluarga?."
" alhamdulilah, semuanya
baik-baik saja."
" alhamdulilah. Bagaimana kuliah kamu?."
" alhamdulilah aku minggu
depan sidang Tan, doa in aku
ya."
" iya pasti. Aku lusa juga udah pulang ke Jakarta kok. Semoga aku bisa ikut ngantar kamu dan keluarga."
" oh begitu. Hati-hati kalau
gitu."
" udah dulu ya Ra, assalamualaikum."
" waalaikumsalam."
Setelah di telfon Fatan, Zahra sudah agak lega. Akhirnya Fatan menghubunginya semenjak 4 bulan yang lalu tidak memberi kabar.
Selamat membaca