Bagaimana jika hubungan yang telah di jalin selama empat tahun terbentang oleh restu orangtua?
Apa harus terus bertahan hingga restu itu datang tanpa kepastian hubungan? atau memilih untuk mengakhiri hubungan dan menjalani kehidupan masing-masing? Atau malah memilih bertahan dan memantapkan hubungan itu meski harus melawan restu?
Begitu lah dengan kisah Kriss dan Delia yang hubungannya harus terombang-ambing karena RESTU.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Na_Les, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 23
Setelah membalas pesan itu, Elena memasukkan kembali ponselnya ke dalam tas lalu berdiri dari duduknya dan berjalan mendekati meja kerja Kriss.
"Jangan ganggu aku Len!!" Ucap Kriss memberi peringatan saat ia tau kalau Elena sedang berjalan mendekati meja kerjanya.
"Siapa yang mau ganggu, aku cuma mau pesen makanan kok lewat telepon yang ada di meja ini." Balas Elena. Kini Elena sudah sampai tepat disamping Kriss dan sedang memegang gagang telepon.
Kriss tidak menjawab dan kembali melanjutkan memeriksa laporan keuangan.
***
Sebulan kemudian.
Elena tak ada lagi di Singapura, ia sudah pulang ke Belanda, hanya dua minggu Elena di Singapura, namun dalam waktu dua minggu itu sudah banyak foto dirinya dan Kriss yang ia ambil, foto yang sebenarnya tidak romantis jika mengingat sejarah pengambilan foto. Namun tidak untuk mata yang hanya sekedar melihat foto-foto itu, pasti orang akan berpikir kalau Kriss dan Elena sedang berpacaran.
Foto-foto itu tidak hanya disimpan oleh Elena seorang, melainkan ia juga membagikannya pada Mama Lastri. Foto yang akan Mama Lastri gunakan kalau-kalau Delia datang lagi kerumahnya untuk menanyakan Kriss.
***
Di kontrakan Delia.
"Hooeeek... Hooeeek." Delia memuntahkan isi perutnya di closet kamar mandi. Sudah tiga hari Delia mengalami itu.
Setelah merasa perutnya sudah lebih baik, Delia pun mencuci mulutnya lalu menyekanya dengan handuk kecil.
"Apa jangan-jangan aku hamil?" Monolog Delia sambil menatap pantulan wajahnya di cermin yang tidak terlalu besar namun tidak terlalu kecil juga yang ada di kamar mandinya.
"Tapi aku kan minum pil kb setelah aku dan Kriss berhubungan badan." Monolog Delia lagi.
"Tapi udah satu bulan aku belum datang bulan." Katanya lagi menerka-nerka kondisi tubuhnya.
"Aku harus periksa!!" Daripada hanya sekedar menerka, Delia pun memutuskan untuk langsung memeriksakan kondisinya.
Untung saja hari ini adalah hari Sabtu, Delia tidak bekerja jadi ia tidak perlu menelpon kantor untuk meminta ijin.
Delia pun membuka pakaiannya satu persatu lalu mandi.
Satu jam kemudian.
Kini Delia sudah siap pergi kerumah sakit dan sedang menunggu taksi online yang sudah ia pesan.
Tak sampai sepuluh menit taksi online yang Delia pesan pun datang. Delia pun keluar dari dalam rumahnya tak lupa ia mengunci pintu rumahnya lalu berjalan sedikit keluar dari gang kontrakannya.
"Loh katanya disini. Mana?" Gumam Delia saat ia sudah berada di depan gang tapi tak melihat mobil yang biasanya di gunakan untuk taksi online. Karena yang ada ditempat itu saat ini hanya lah mobil mewah berwarna putih.
Delia pun menghubungi si supir taksi online.
"Pak dimana yah? Saya sudah ada di depan gang nih."
"Yang mobil putih loh Del." Jawab si supir.
Jelas saja mata Delia membulat saat sang supir menyebut namanya. Sepanjang sejarah ia menggunakan transportasi online, baru kali ini ada supir yang menyebut namanya langsung tanpa ada embel-embel di depannya.
"Del!!!" Teriak seorang pria yang mengeluarkan kepalanya dari dalam mobil.
Delia pun menoleh.
"Roy." Kaget Delia.
"Sini." Teriak Roy lagi.
Delia pun berjalan mendekati mobil putih itu.
"Ngapain kamu disini?" Tanya Delia saat sudah berada di samping pintu kemudi.
"Yah jemput kamu lah. Kamu pesan taksi online kan?"
"Kamu lagi gabut? Masa iya kamu bikin mobil mewah kamu ini jadi taksi online?"
"Kok kamu tau? Daripada aku gak ngapa-ngapain, yah mending aku cari penumpang." Jawab Roy sambil menyengir.
"Tapi gak pake mobil ini juga kali Roy, nanti kalau kamu di rampok gimana? Emang kamu gak baca apa udah banyak driver taksi online yang kena rampok. Mending kalau cuma mobil yang diambil, kalau nyawa kamu melayang gimana."
"Biasanya aku gak pake mobil ini Del, tapi mobil yang biasa aku pake tiba-tiba aja gak mau nyala. Ya udah terpaksa aku pake mobil ini." Balas Delia.
"Ya udah ayo masuk." Perintah Roy.
Delia pun berjalan menuju pintu mobil bagian belakang lalu masuk ke dalam mobil. Melihat Delia sudah duduk manis, Roy pun menjalankan mobilnya.
Bersambung...