¤¤ Budayakan like, komen dan Vote ya, setelah membaca.
Kiran berasal dari keluarga kaya, dia berusia 24 tahun. Kehidupannya Glamor. Sifatnya plinplan suka menyakiti hati laki-laki. Kehidupan malam dan kemewahan lekat padanya.
Sebenarnya dulu Kiran adalah anak yang penurut, namun berubah ketika putus dengan pacar pertamanya. Hingga membuat dia berbuat sesukanya.
Kiran akhirnya dijodohkan dengan sopir pribadinya. Yang bersifat baik dan sholeh. Dia adalah Andrian, awalnya Kiran menolak perjodohan itu. Karena, dijodohkan dengan pria miskin yang tidak sesuai dengan kriterianya. Tetapi karena paksaan orang tuanya akhirnya Kiran menerima dengan terpaksa dan menikah dengan Andrian.
Andrian sebenarnya bukanlah dari keluarga miskin. Penasaran? Yuk simak ceritanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hijrah Muslimah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Eps.24 Kekecewaan
Andrian tau bagaimana perasaan Kiran. Tapi dia juga tau bagaimana jika dia membiarkan Kiran hidup bersama laki-laki yang hanya membuatnya semakin terjerumus.
Kiran tampak keluar dari perusahaan, lalu mendekati Andrian.
"Sopir mana kunci?" Kiran meminta paksa kunci mobil.
Sopir sopir yang lain menatap heran. Andrianpun memberikan kuncinya karena malas ribut.
Tanpa berkata apapun Kiran berlalu, lalu melajukan mobilnya.
"Mau kemana dia, jangan-jangan?" Pikiran Andrian kacau takut jika Kiran mengambil jalan pintas.
"Aku harus mengikuti dia." Andrian lalu buru-buru memanggil Taksi. Dan mengikuti Kiran.
Ternyata Kiran pergi kesebuah cafe dan menemui sahabatnya Friska. Andrian tampak lega dan menunggu diluar. Sembunyi dari pandangan mereka.
"Beb!" Kiran lalu memeluk Friska.
"Eh ada apa?" Friska tampak heran.
"Hiks hiks!"Kiran melepas pelukannya dan menangis.
"Kenapa kamu beb, cerita jangan nangis gitu? Friska merasa cemas.
"Hiks hiks sopir beb." Kiran tidak meneruskan pembicaraannya.
"Kenapa sopir itu, apakah sudah berbuat tidak sopan padamu?" Ujar Friska emosi.
Kiran menggelengkan kepala, sambil terus menangis.
"Trus kenapa dengan sopir itu, dia dimana sekarang." Ujar Friska tak mengerti.
"Aku dijodohkan dengan sopir itu. Hiks hiks" Tangisan Kiran semakin kencang.
"Apa aku tidak salah dengar beb?" Ujar Friska terbelalak.
Kiran hanya mengangguk dan menutup wajahnya dengan kedua tangannya.
"Sudah jangan nangis lagi. Friska memeluk Kiran.
"Bagaimana dengan Leo?" Ucap Friska bingung.
"Ini semua karena dia juga, aku sudah ngajak dia nikah. Dia gak mau." Kiran sesenggukan.
"Ya terus kamu semudah itu menerima perjodohan?" Friska merasa emosi.
"Pernikahan bukan main-main beb, bagaimana bisa kamu menerima perjodohan dengan laki-laki miskin lagi." Friska semakin tak habis pikir.
Hiks hiks ini kemauan nyokap." Kiran masih terus menangis.
"Leo juga tidak mengangkat telfon, puluhan kali malah dirijek." Kiran tampak kesal.
"Sabar beb, jalani saja dulu. Jika suatu saat kamu tak bahagia. Tinggalkan dia!" Ucap Friska lembut.
Entah mengapa hati Kiran sudah mulai lega, dan menghapus air matanya.
Friska memencet nomor hp, Friska berusaha menghubungi Leo.
"Hallo!" Jawab Leo.
"Leo kamu tau Kiran akan menikah?" Ujar Friska ketus.
"Menikah?" Leo tampak terkejut.
"Hmmm!" Jawab Friska jutek.
"Kenapa bisa, nikah sama siapa?" Ujar Leo cemas.
"Ga perlu tau sama siapa, lagian kamu diajak nikah kenapa nolak. Telfon dia juga kamu rijek." Friska tampak emosi.
"Bukan maksud begitu Friska. Aku sangat sibuk, dan masalah gak mau nikah. Masih ada yang harus aku raih Friska." Ucap Leo menjelaskan.
"Eh Leo, dulu aku ngenalin kamu ke sahabatku itu. Aku kira kamu itu beda dengan cowok lain. Ternyata sama saja ya!" Friska tampak emosi dan mematikan panggilannya.
Kiran hanya terdiam dan menatap sahabatnya marah-marah.
"Hallo hallo." Suara Leo penuh kecemasan.
"Menyebalkan enak saja mainin sahabatku seenaknya saja. Kalau gak bisa berkomitmen kenapa menjalin hubungan." Gerutu Friska memaki Leo.
"Terimakasih beb, kamu sangat perhatian." Kiran memeluk Friska.
"Maafin aku beb." Tak terasa bulir air mata menetes dipipi Friska.
Kiran hanya mengangguk dan tersenyum
Andrian melihat dari luar, dia merasa tenang. Karena Kiran bisa mencurahkan isi hatinya pada sahabatnya.
Kiranpun kembali keperusahaan. Sampai didalam Kiran memanggil Maya untuk masuk keruangannya.
"Ya bu ibu memanggil saya?" Ujar Maya sopan.
"Hmmm duduklah!" Kiran tersenyum pada Maya.
"Maya 2 hari lagi aku nikah."
"Apa bu Alhamdulillah, sama siapa bu?" Maya memotong pembicaraan Kiran.
"Aku dijodohin May." Ucap Kiran menahan sedih.
"Bu ga papa dijodohin, pilihan orang tua itu pasti baik bu." Maya berusaha menghibur Kiran.
"Tapi aku tidak mencintainya." Jawab Kiran tampak lesu.
"Bu cinta itu bisa tumbuh seiring berjalannya waktu, percayalah." Maya tersenyum.
"Ah kamu kayak pernah nikah saja." Kiran tampak cemberut.
"Hehehe itu bu, kan sering baca cerita." Maya tersipu.
"Okelah semoga saja." Jawab Kiran lirih.
Maya tersenyum dan mendoakan semoga bosnya bahagia.
Kiran tampak keluar, Andrian lalu cepat-cepat membukakan pintu mobil.
"Silahkan non." Ucap Andrian sopan.
"Hmmm licik amat sih." Gerutu Kiran dalam hati.
Didalam mobil mereka membisu tanpa sepatah katapun, Andrianpun membisu bingung dengan pikiran yang menghantui. Pernikahan tinggal sebentar lagi, hati Andrianpun terasa berat melangkah. Pernikahan bukanlah mainan. Andrian bimbang.
~ Jangan lupa like, dan komennya ya. Jika berkenan vote juga ya. Terimakasih🙏
aku asli lo Thor ngikutin kamu dri thn 2020,sampe skrng blm ada apdate terbaru si...