Novel ini adalah cerita tentang perjalanan si kembar Kean dan Lean dalam mencari partner terbaik mereka. Saudara kembar itu mempunyai prinsip jika sudah cinta dengan seorang wanita ingin langsung menikah bukan untuk pacaran.
"Kamu itu bagaikan alkohol yang bercampur dengan ganja, begitu memabukkan dan membuatku candu! Bagaikan langit yang sulit untuk kugapai." Adinda Larasati
"Kamu adalah gadis ceroboh yang bisa membuatku jatuh cinta padamu." Muhammad Keane Ar-rayyan
"Andai aku bisa mendapatkan cintamu, aku ingin segera menikah denganmu." Muhammad Leanne Ar-rayyan
"Dari awal aku tak pernah mencintaimu. Jadi jangan paksa aku untuk bisa mencintaimu!" Leandra Monroe.
" Setelah mencintaimu, hidupku menjadi berubah penuh warna." Nala Avrelia Prayoga
Ikuti kisah mereka hanya di My Best Partner .
Follow ig author : Novi_Rahajeng08
Saran baca novel pendahulunya. Anak Genius: Papa Bucin Yang posesif
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Novi rahajeng, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Meeting
"Toilet?" ulang Nada. " Di mana kalian sekarang? Apa yang sedang kalian lakukan? Awas jangan sampai macam-macam kamu!" pekik Nada.
Kean menjadi bingung kenapa Nada terdengar marah-marah seperti itu.
"Kita sedang di private room mau meeting dengan klien, Buk."
Mendengar Kean mengatakan kalau mereka sedang meeting bersama Klien membuat hati nada sedikit tenang. Jantung yang hampir saja copot tidak jadi copot. Ternyata apa yang ada dalam pikiran Nada tidak benar.
Karena marah-marah membuat Nada sampai lupa kalau dia ada perlu dengan Kean. Mumpung sekarang dia bisa berbicara dengan Kean, Nada langsung mengatakan ingin bertemu empat mata dengannya.
"Memangnya ada apa ya, Buk?" tanya Kean yang tak mengerti kenapa Nada mengajaknya bertemu.
"Lebih baik, Ibu minta nomor kamu saja. Nanti biar mudah menghubunginya." Nada bergerak cepat sebelum Dinda datang.
Kean menurut dan memberikan nomor ponselnya kepada Dinda. Entah kenapa Kean begitu menurut, padahal biasanya dia paling sulit jika di minta nomor teleponnya.
Sebelum mematikan panggilannya, Nada mengatakan kepada Kean untuk tidak bilang pada Dinda Kalau dia habis menelfon. Awalnya Kean merasa bingung, bukankah Ibu Nada menelpon karena ingin berbicara dengan Dinda? Lalu kenapa tidak boleh bilang ke Dinda kalau dia habis menelfon? Aneh!
Selepas panggilan Nada berakhir, kebetulan Klien Kean juga datang.
"Selamat siang Tuan Adam," sapa Kean dengan mengulurkan tangan di depan sang klien.
Begitupun dengan sang Klien yang langsung menyambut uluran tangan dari Kean. "Selamat siang juga, Tuan Keane," sahut Tuan Adam.
Setelah itu, mereka duduk saling berhadapan. Tak lama kemudian, Dinda masuk ke ruangan itu. Ketika melihat kliennya sudah datang, membuat Dinda merasa malu dan canggung.
"Maaf kalau saya tidak mengetuk pintu terlebih dahulu," ujar Dinda.
Tuan Adam tersenyum saat menatap ke arah Dinda. Sorot matanya terlihat seakan menilai Dinda dari atas sampai bawah. "Tidak apa-apa, apakah Anda asisten tuan Kean, nona cantik?" sapa Adam.
Dinda tersenyum dan mengangguk. Menandakan bahwa dia memang asisten dari Kean.
"Ternyata selera anda bagus juga dalam memilih asisten Tuan Kean."
Ucapan Adam seakan terdengar bukan memuji dirinya, melainkan Dinda. Tatapannya yang tak lepas ke arah Dinda, membuat Kean sedikit kesal.
Dasar buaya! Bukankah dia sudah memiliki istri? Tapi kenapa masih menatap gadis muda seperti itu. Astagfirullah hal azim ...
Setelah itu, mereka membahas soal kerja sama yang akan mereka lakukan. Saat melihat Kean yang begitu pintar dalam menjelaskan sebuah proyek, membuat Dinda semakin kagum padanya.
Apakah pak Kean masih memiliki kekurangan? Kenapa dia selalu terlihat hebat dan mengagumkan? Dinda ingat ... jangan terlalu mengaguminya. Apalagi sampai jatuh cinta, dia bukanlah orang yang bisa kamu gapai! Jarak antara kalian itu sangat jauh, bahkan dunia kalian berbeda. Jadi, jangan pernah terlalu berhalusinasi. Dinda. Sedang berperang dengan batinnya.
Dia tak mau terjebak mencintai orang yang tak mungkin dimiliki. Karena itu akan terasa sangat sakit jika tidak bisa bersamanya.
Selesai meeting, mereka sekalian makan siang bersama. Karena kebetulan sudah masuk waktu jam makan siang.
Saat melihat buku menu makanan, Dinda terlihat sangat bingung. Makanan di sini hanya ada steak, spaghetti, dan juga seafood. Sedangkan Dinda alergi dengan seafood.
Makan apa ya? Spaghetti atau steak? Tapi, spaghetti yang ini ada seafood nya ... Kalau steak mentah kayak kemarin, gue menyerah deh! "
Raut wajah Dinda yang bingung, telah mencuri perhatian tuan Adam.
"Apa ada masalah dengan menunya, nona cantik? Karena saya perhatikan anda seperti terlihat bingung," ungkap Adam.
Dinda tersenyum canggung, karena tuan Adam menyadarinya.
"Apa yang ingin kamu pesan, pesan saja."
"Em ... Sepertinya saya pesan Car__bonara saja!" pungkas Dinda yang telah menemukan menu Spaghetti tanpa memakai seafood.
"Kamu yakin?"
Dinda mengangguk.
Tak lama kemudian, pesanan mereka datang juga. Saat melihat steak yang di pesan oleh Kean lebih matang dari punya Adam, membuat Dinda dapat menyimpulkan bahwa tingkat kematangan steak ternyata bisa di atur.
Tapi, kenapa tadi Gue nggak mendengar mereka mengatakan matang atau mentah, ya? Dinda mencoba mencerna kalimat yang mereka ucapkan saat memesan.
Dinda memang tidak tahu istilah tingkat kematangan pada steak, karena dia tak pernah memakannya jika tidak di pesankan oleh Aditya saat itu.
Ketika mulai menyuap makanannya masuk ke dalam mulut, membuat Dinda merasa aneh.
Ternyata lidah gue memang cocoknya sama makanan di warteg, atau pedagang kaki lima deh, bukan restoran mewah seperti ini! gumam Dinda dalam hati saat lidahnya tetap tidak bisa di ajak kompromi.
Namun, setidaknya makanan ini masih matang. Jadi, masih bisa masuk ke dalam perutnya.
Selesai makan siang, Adam berpamitan terlebih dahulu karena dia ada urusan lagi. Saat berjabat tangan dengan Dinda, adam berlama-lama sampai harus membuat Kean ber daham agar dia melepaskan tangan Dinda.
Sedangkan Dinda langsung mengelap tangannya pada rok yang ia pakai. Sebenarnya Dinda juga merasa risih sekali dengan tatapan intens sekaligus sentuhan dari adam kepadanya.
Tanpa berkata apa-apa, Kean segera berjalan keluar dari ruangan private room tersebut dan di ikuti Dinda yang jalan mengekor di belakangnya.
Ketika berada di dalam mobil, Kean hanya terdiam tanpa sepatah kata. Dia hanya fokus dengan mengemudi. Melihat mereka tak pergi ke arah kantor, membuat Dinda mengerutkan keningnya.
"Kita mau kemana, Pak?"
Kean masih terdiam dan tidak menjawab pertanyaan Dinda. Melihat Kean yang begitu dingin, membuat Dinda merasa sangat kesal.
Dasar pria kulkas dua pintu! Dingin banget jadi orang, tinggal jawab gitu aja apa susahnya, sih?. Bisu ya? gerutu Dinda dalam hati.
Melihat mobil melaju memasuki kawasan pusat perbelanjaan, membuat Dinda semakin bingung.
" Kenapa kita ke mall pak? Apakah ada pekerjaan di sini? "Dinda mencoba bertanya lagi.
" Turun saja!"
Dinda kembali menghembuskan nafas panjang saat melihat sikap irit bicara bossnya ini. Terpaksa Dinda hanya bisa mengikuti Kean yang terus berjalan, sampai akhirnya mereka berhenti di sebuah toko yang menjual pakaian wanita.
Para pramuniaga di dalam toko, segera berdiri saat melihat Kean memasuki toko mereka.
"Welcome, Mr. Is there anything I can help?" sapa seorang pramuniaga wanita. Dia mengira bahwa Kean adalah orang asing. Jadi, dia menyapanya dengan bahasa inggris.
Sedangkan yang lainnya, tersenyum dan terus memandang Ke arah Kean dengan suara bisikan rasa kagum.
"Sumpah, ganteng banget ...,"
"Iya, bener! Apakah dia artis hollywood?"
"Gue pengen minta foto boleh nggak, ya?"
"Carikan wanita ini setelan celana panjang." Kean. Menunjuk Dinda yang berdiri di belakangnya.
Dinda tercengang, saat mendengar bahwa Kean sedang menanyakan pakaian untuknya.
Semua pramuniaga di dalam toko itu ikut terkejut saat mendengar Kean lancar berbahasa Indonesia.
" Buat apa, pak? "tanya Dinda.
" Buat mengganti pakaianmu yang terbuka!"
Dinda terdiam, entah kenapa ucapan Kean bagaikan tombak yang menancap hatinya. Padahal, Dinda memakai pakaian ini agar terlihat lebih feminim serta sesuai dengan pekerjaannya sekarang.
Jika bukan karena bekerja sebagai seorang sekertaris, Dinda juga tidak sudi memakai rok span seperti ini karena sulit bergerak. Dan sekarang tiba-tiba boss dinginnya ini, mengatakan bahwa ingin mengganti pakaian yang menurutnya terbuka tanpa bertanya terlebih dahulu?
...****************...
Jangan lupa like, komen, vote, dan hadiahnya yang banyak ya...
😊