Martini Salsabila Utari.
Dia adalah istri seorang preman terkenal bernama Gres Sandy.
Ini adalah kisahnya dan juga isi diarynya sejak masih di bangku SMP.
Kisah cinta juga persahabatannya yang penuh gejolak rasa serta dilema berwarna.
Kisah perjalanan hidupnya hingga menjadi istri dari seorang preman yang penuh suka serta duka pastinya.
Selamat membaca🙏🙏🙏Semoga tulisan sederhana author amatir ini mendapat kesan di hati para reader🙏🙏🙏
Mohon dukungan like, komen serta votenya jika berkenan🙏🙏🙏 Terimakasih banyak🙏🙏🙏😍😘💞
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon AMY DOANK, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
LEMBARAN KETIGA BELAS
Hai My Dear Diary...
Apa kabarmu, Dear?... Kabarku masih sama seperti yang lalu-lalu. Flat alias datar saja.
Setelah sekolah SMP ku tamat, dan ijazah STTB berhasil kusemat... Aku hanya bisa menghela nafas.
Panjang maupun pendek. Hhhh... Toh helaanku sama saja. Tidak merubah nasib dan takdir hidupku.
Dua hari yang lalu, keluarga besar bang Dodi telah datang dengan membawa sejumput seserahan.
Aku hanya menunduk diam, menerima mahar dan juga pinangannya.
Ada seorang anak laki-laki berusia 4 tahun berusaha menarik-narik rokku, membuatku merasa risih dan kikuk. Hanya senyum segaris yang mampu kukeluarkan. Selebihnya hanya diam menerima percakapan kesepakatan mereka.
My Dear Diary...
Apakah aku ini? Batu? Seonggok manusia dengan jiwa yang kosong?
Mama dan Amih sama sekali tak memperhatikanku. Apalagi menanyakan pendapatku, meski sedikitpun dihadapan mereka.
Hari pernikahanku telah mereka rancang sedemikian rupa. Lebih tepatnya, 20 hari lagi, hari bersejarah itu akan mengakar dalam kehidupanku.
Seorang gadis berumur hampir 16 tahun, akan dinikahkan secara siri (karena usiaku masih dibawah umur, jadi nanti diurus kembali berkas pernikahannya setelah usiaku sudah 20 tahun... itu kudengar kata mereka).
Hhhhh...
My Dear Diary...
Amih dan mama sibuk sekali menyiapkan segalanya untuk hari H pernikahanku nanti.
Kemarin, Bang Dodi mengajakku ke toko mas untuk memesan cincin pernikahan kita nanti. Meski aku menolak dan menerima saja apapun model dan ukuran pemberiannya. Tapi tetap Amih menyuruhku ikut agar tidak cocok nanti ditanganku pas hari H tiba.
Akhirnya dengan terpaksa, aku mengikuti langkah bang Dodi atas dorongan Amih.
"Pilih yang paling mahal ama yang paling gede, Mar!"
Hhhh...
My Dear Diary...
Baru saja Rosita men-chat ku. Katanya hasil pengumuman diterima Sekolah Negeri pilihan sudah diumumkan. Ia bilang, aku harus kesekolah besok. Untuk konfirmasi selanjutnya melanjutkan pendaftaran ke sekolah negeri yang kita dapatkan.
Aku? Kesekolah?... Hhh... Untuk apa?
Masa depanku telah usai.
Apalagi yang kuharapkan.
Tinggal menunggu janur kuning melengkung.
Dan cerita, pada akhirnya "the end".
Gubrakkkk ...
???
Suara apa itu? Seperti terdengar suara pintu di dobrak.
My Dear Diary... Sebentar..., aku keluar sebentar! Suara orang ribut-ribut terdengar jelas sekali. Bahkan ada suara Amih dan juga mamaku.
Bang Dodi?????
Bang Dodi wajahnya lebam tak karuan dengan sebelah tangannya ditenteng seseorang yang mulutnya tertutup masker.
..."Masih mending lu, ga gue 'door' sekalian!... Mana janji lu, dari lima bulan yang lalu, ngaret mulu!!!"...
Ternyata bang Dodi punya hutang 200 juta pada seorang rentenir terkenal.
Ya Allah ya Tuhaaaan!!! Ternyata orang banyak uang belum tentu uangnya sendiri! Tapi justru itu adalah uang orang yang dia pinjam.
Grep!!!!!
Aku terkejut sekali. Tiba-tiba pria yang menjinjing lengan bang Dodi menarik tanganku cepat.
..."Calon bini lu, gue bawa dulu! Buat jaminan utang!!!"...
Ya Allah Gustiiiiiii...!!!!!
Mereka membawaku keluar rumah. Diiringi tatapan semua yang ada termasuk Amih dan juga mamaku.
Aku dibawa mereka keluar gang. Dimasukkan kedalam mobil Toyota Yar*s warna hitam metalik berplat Bogor.
Entah,... akan dibawa kemana aku.
Duduk diantara dua preman yang berwajah bringas sambil sesekali cengengesan melirik kearahku, membuatku sangat ketakutan.
"Anjirrrrr... Jangan lu apa-apain, tuh perempuan!!!!" Kata si pengemudi yang tadi menenteng bang Dodi dengan ringannya, membuat kedua preman disampingku diam tak bergerak.
Aku lagi-lagi hanya bisa menelan ludah. Takutku menjadi dua kali lipat.
Ya Allah ya Tuhanku! Tolong jaga hamba-Mu ini, dari siksaan setan yang terkutuk!
Hatiku berdawam seluruh asma Allah yang aku ketahui. Memohon kebesaran Allah tuk selalu melindungiku dari segala marabahaya.
Mobil berhenti setelah hampir dua jam berjalan didinginnya aspal malam keluar dari Ibukota.
Kota Bogor menyambutku dengan hujan gerimis sedingin hatiku yang membeku.
Mereka berhenti. Entah dimana ini. Jalan apa ini... Tapi yang pasti, posisiku lewat dari Terminal Baranang Siang Bogor.
"Turun!"
Aku menurut. Turun disebuah rumah mewah dengan luas garasi yang besar bak lapangan sepak bola. Membuatku ternganga memandangnya.
Aku mau dibawa kemana ini? Ya Allah...
Aku digendeng masuk oleh seorang pria tinggi, ramping, tapi besar tenaganya. Pria bermasker putih itu mengetuk pintu besar dengan agak keras.
Tok tok, tok tok...
"Koh! Koh Alyang!!!!"
Pintu besar itu terbuka sedikit. Lalu melebar setelah tahu siapa yang datang.
"Elu, Gres?! Hasil ga?..."
Aku terkesima ketika tangannya yang agak panjang itu menarikku masuk kedalam rumah dan menghentakkannya dihadapan BOSS BESARnya.
Aku mulai konek, orang 'kulit kuning' didepanku ini pasti renten yang meminjamkan uang pada Bang Dodi.
Lantas, apa gunanya aku dibawa dihadapannya ini?
Untuk jadi jaminannya?
Tapi bagaimana caranya, aku bisa membayar hutang bang Dodi yang tak sedikit itu?
Apa..., tubuhku mau dipotong-potong? Terus... dijual ginjalnya? Diambil kornea matanya?...
Astaghfirullahal'adziiiim...
Astaghfirullahal'adziiiim...wa atubu illaihi...
Ya Allah, jagalah diri ini dari segala musibah dan marabahaya. Juga dari segala kejahatan yang nyata maupun tak kasat mata. Aamiin ya Allah ya Robbal'alamiin...
Aku disuruh duduk di kursi empuk.
"Siapa ini?"
"Ini, calon istri si Dodi bangs*t itu!"
Aku merinding menahan nafas. Takutku menaik hingga ke ubun-ubun.
"Perempuan ini? Ini masih anak-anak loh??"
Aku hanya diam terpojok. Melihat pria setengah baya itu menunjuk-nunjuk kearahku.
Tiba-tiba seorang anak perempuan, sepertinya seusiaku menuruni anak tangga. Dengan langkah setengah berlari terengah-engah menghampiri pria setengah baya itu.
"Papiiiiih... si Kokoh tuuuh!! Rese' banget! Hellen diusir dari kamarnya cuma gara-gara pinjam laptopnya!!!"
Mungkinkah gadis ini anaknya?
"Laptopmu mana, Hellen? Kalian ni khan punya masing-masing? Kenapa masih suka ribut?"
"Hai Gres...!!! Buka dong, maskernya! Ih, ga usah kau tutupi ketampananmu dihadapanku, Gres!!!"
Gadis itu tak merespon pertanyaan papanya. Tapi malah senyum-senyum dengan orang yang tadi membawaku kemari.
Lalu gadis itu kembali menaiki anak tangga menuju ke atas.
"Hehehe... Cici, kau bisa aja! Jangan buat Gres ge'er, Cici Hellen!"
Aku hanya menyimak dan merangkai satu demi satu potongan peristiwa agar aku mengerti.
"Hey, Gres.... Lantas anak ini, kenapa kau berikan padaku? Aku hanya butuh uangku kembali, bukan jaminan macam ini!"
"Aku titip cewe ini dimarih, koh! Kasian juga dia, beberapa hari lagi dipaksa nikah sama si bangs*t itu!!!"
"Lah? Koq??... Piye iki, Gres??"
Aku jadi bingung. Ternyata, mereka tak sedikitpun berniat menculikku.
Lalu?... Untuk apa aku dibawa kabur??
"Biar dia jaga toko ATK Koko William, aja Koh!"
"Iya juga sih! William mulai sibuk sekolahnya, karena udah kelas 12! Jadi toko ATK nya terbengkalai. Eh tapi... Orangtua anak ini apa tak lapor polisi, Gres?"
"Aman, Koh! Dia justru beban orangtuanya. Sebelum bertindak, saya sudah survey dulu lah, Koh!"
Apa maksud pria bernama Gres (yang ternyata memiliki wajah cukup rupawan setelah maskernya dibuka) ini????
-Bersambung-