Salsabila Nugroho adalah putri dari Malik Nugroho dan Kirana. Saat ini Salsabila menduduki bangku kelas tiga SMA, Salsa yang sudah tumbuh dewasa terkenal dengan kenakalanNya bersama dengan sahabatnya Naura.
Saat Salsa melakukan kesalahan, sang wali kelas Salsa selalu memanggil orang tuanya. Tetapi Salsa tidak pernah mendatangkan orang tuannya melainkan ia akan menyewa seseorang teman dekatnya.
Hingga sesuatu hari kenakalan Salsa sampai ke telinga Malik. Apakah yang akan Malik lakukan menghadapai putri bungsunya itu?.
Yok kepoin cerita dari Cinta Salsabila...😊
dan jangan lupa like commet dan beritahu kepada teman-teman sekalian supaya novel ini banyak yang tau.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yanti sihite, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 24
Selesai mereka menikmati sarapan pagi, kini Liam dan Difa berada di tengah halaman rumah sambil menikmati cuaca di pagi hari.
"Buk lihatlah, ayah rasa Liam sangat cocok sekali dengan nak Difa. Bagaimana menurut ibu?" Ucap sang ayah memperhatikan Liam dan Difa dari dalam rumah.
"Ibu juga berpikir seperti itu ayah. Aahh, bagaimana kalau kita menjodohkan mereka saja ayah? ibu rasa kedua orang tua Difa juga pasti akan setuju dengan perjodohan ini?".
"Ck, ayah juga berpikir seperti itu buk. Tapi ayah tidak suka perjodohan".
"Kenapa ayah? bukankah jauh lebih baik seperti itu yah? jauh dari gosip miring. Ibu sangat menyukai Difa sebagai menantu kita, udah cantik, baik dan juga Difa kuliah di bagian kesehatan. Itu artinya kalau kita sudah tua suatu saat nanti, Difa bisa mengurus kita ayah" Senang sang ibu.
"Iya sih buk, tapi kembali lagi kepada Liam. Ayah tidak mau hal yang tidak disukai Liam terjadi kepadanya. Jadi kita biarkan saja buk, siapa tau dengan dekat-dekat seperti ini, suatu saat nanti ada tumbuh perasaan diantara mereka berdua".
Sang ibu mendengus melihat putra satu-satunya itu, "Mmmmm.. Ibu juga setuju ayah, capat atau lambat mereka secepatnya akan saling mencintai".
"Amin buk" Senyum sepasang suami istri itu melihat Liam dan Difa.
Kemudian Difa melihat Liam yang sedari hanya diam saja, "Liam" Panggil Difa.
"Mmmmm.. Kenapa?".
"Kapan kamu akan membeli hadiah untuk ku?".
"Kamu menginginkanNya sekarang?".
"Iya, menit ini juga".
Liam mengerutkan keningnya memperhatikan Difa yang sedang tersenyum kepadanya. Lalu Difa mendekatkan wajahnya di wajah Liam, "A-ada apa?".
Tampa menjawab pertanyaan Liam, Difa dengan cepat langsung mencium bibir seksi Liam yang Difa sangat sukai, "Thank you, aku mau kamu memberikan ku ini saja Liam" Bisik Difa dengan menggoda.
Sedangkan Liam masih saja mematung begitu Difa tiba-tiba mencium bibirnya yang selama ini tidak pernah lagi ia rasakan setelah lulus kuliah, "Bagaimana bisa ia mencium ku? apa yang sedang wanita ini pikirkan? dia tidak tau kalau orang lain juga bisa melihatnya" Batin Liam melihat sekitarnya tampa mereka sadari kalau kedua orang tuannya ikut melihat kejadian itu.
"Ada apa Liam?".
"Apa yang sedang kamu lakukan di tempat seperti ini Difa?".
"Kenapa? aku hanya mengambil hadiah ku saja Liam. Tidak ada yang salah kan?".
"Ta-tapi ini ditempat yang tidak seharusnya kamu lakukan Difa".
"Aahh.. Apa kita harus melakukanNya di dalam kamar? kalau gitu..
"Yah.." Tahan Liam menarik tangan Difa.
"Kenapa?".
"Hentikan, duduk lah kembali" Jawab Liam sambil melanjutkan dalam hatinya. "Gadis nakal, harunya dia memikirkan masa depan ya dulu baru bertindak seperti ini ckckck".
Difa kembali mendudukan dirinya, lalu Difa mencoba mendekatkan posisi duduknya di samping Liam meskipun Liam sedari tadi mencoba untuk menghindar. "Liam, kamu enggak bosan seperti ini? aku rasa akan lebih menyenangkan kalau kita berdua pergi ke pantai, bagaimana? ayolah Liam mmmmm" Bujuk Difa.
Liam melihat jam yang melingkar di pergelangan tanganNya yang telah menunjukkan pukul 12 siang lewat, "Boleh" Angguk Liam.
"Benarkah?" Senang Difa dengan mata berbinar-binar.
"Mmmm.. Tunggu sebentar, aku ambil kunci motor ayah dulu" Jawab Liam bangkit berdiri memasuki rumah untuk mengambil kunci motor sang ayah. Namun saat Liam ingin memasuki rumah, sang ayah telah berada di depan pintu dengan kunci motor yang berada di dalam genggamannya dan juga sang ibu yang sedang tersenyum manis kepadanya. Dengan wajah mengerut Liam bertanya, "Ada apa dengan ibu dan ayah".
"Tidak ada Liam. Inih, kalian pasti ingin pergi jalan-jalan berdua, pergilah dan hati-hati dijalan" Ucap sang ayah memberikan kunci motornya ditangan Liam.
"Ayo buruan Liam" Ujar sang ibu juga.
"I-iya" Angguk Liam pergi meninggalkan mereka. Begitu Liam menaiki sepada motor milik sang ayahnya Difa pun langsung naik di belakangnya, "Sudah?".
"Iya, ayo maju" Jawab Difa sedikit meninggikan suaranya.
"Mmmmmm" Liam segera menjalankan sepeda motornya menuju pantai yang tidak terlalu jauh dari kediaman kedua orang tuanNya tinggal.
Setibanya mereka disana, dengan senyum mengembang diwajah Difa, ia tak henti-hentinya menunjukkan gigi ratanya yang sedari tadi ia tunjukkan. "Astaga Liam, kenapa pantai ini sangat indah sekali. Coba kamu lihat kearah sana, bukankah pantai ini sangat indah sekali Liam?".
"Mmmmmm" Angguk Liam tersenyum tipis.
Kemudian Difa berlari kearah yang baru ia tunjukkan, lalu ia mendudukan dirinya diatas salah satu kursi yang tersedia disana, "Liam duduk sini".
Begitu mereka berdua duduk dia atas kursi yang telah tersedia, salah satu pelayan datang menghampiri mereka. "Selamat siang tuan nona" Sapanya dengan ramah. "Hari ini kita memiliki menu spesial seperti biasanya, silahkan di pilih" Ucapnya memberikan daftar menu restoran mereka kepada Difa.
"Aahh iya" Angguk Difa menerimanya. "Kamu mau makan apa Liam? sepertinya menu restoran mereka sangat enak-enak".
"Samakan saja".
"Baiklah" Kemudian Difa melihat si pelayan restoran. "Mbak, kami pesan cumi bakar dua dan juga ikan bakarnya dua, terus minumnya es kelapa ya mbak, dua" Ucap Difa mengembalikan daftar menu mereka.
"Baik nona, mohon tunggu sebentar".
"Mmmmm" Senyum Difa. Setelah si pelayan restoran pergi meninggalkan mereka, tampa Liam bertanya Difa bisa mengetahui kalau Liam saat ini berkata dalam hatinya kalau makanan yang baru ia pesan terlalu banyak untuk dirinya dan juga untuknya. "Jangan khawatir Liam, nanti aku yang akan membayarnya".
Liam menaikkan sebelah alisnya melihat Difa yang sedang tersenyum, "Aku tau kalau kamu tadi berpikir makanan itu terlalu banyak sekali di pesan. Tapi percaya kepada ku Liam, ikan laut segar seperi itu siapa yang tidak suka? heheheh".
Liam pun langsung tersenyum sambil geleng kepala, "Soal makanan aku tidak pernah berpikir seperti itu Difa, terserah kamu mau pesan seberapa banyak aku tidak akan keberatan mau itu habis atau tidak, tapi aku harap kamu akan menghabiskanNya" Ucap Liam.
"Ja-jadi aku tadi salah menilai mu? Hhhmmmss.. Maafkan aku Liam, tadi aku tidak bermaksud unt..
"Tidak apa-apa, santai saja" Potong Liam.
"Terima kasih Liam, sekali lagi aku minta maaf".
"Mmmmmm".
Tidak lama kemudian pesanan mereka tiba disana, dengan mata membulat Difa terkejut melihat menu yang tadi ia pesan yang sangat banyak sekali sampai memenuhi meja mereka, "Liam" Lihatnya kearah Liam.
"Kenapa? ayo dimakan".
"Tapi ini sangat banyak sekali Liam dan juga ikanNya besar sekali. Separuhnya saja aku tidak bisa menghabiskanNya dan juga cuminya kenapa bisa sebesar ini? OMG, kalau aku tau ujungnya seperti ini aku tidak akan memesanNya sampai dua".
"Ayo dimakan, kalau sudah dingin jadi kurang enak" Liam segera melahapnya, sedangkan Difa dengan rasa bersalah ia masih saja memandangi makanan tersebut. "Ada apa lagi Difa? ayo makan".
"Mmmmm" Angguk Difa segera melapnya.
"Kalau kita tidak bisa menghabiskanNya, nanti aku akan menyuruh mereka untuk membungkus yang sisa".
"Benarkah Liam?" Senyum Difa akhirnya.
"Mmmmm..".
"Baiklah kalau gitu Liam" Difa dengan semangat menghabiskan ikan segar tersebut semuat di dalam perutnya.