NovelToon NovelToon
Cincin Kedua

Cincin Kedua

Status: tamat
Genre:Romantis / Cintapertama / Cerai / Single Mom / Konflik Rumah Tangga-Pernikahan Angst / Tamat
Popularitas:300.6k
Nilai: 4.8
Nama Author: IkeFrenhas

Novel romance pernikahan

Aku telah bertahan semampu yang aku bisa. Jika di sinilah pertahananku kandas. Maka biarkan diriku pergi dari kehidupanmu. Selamat tinggal.

Olivia meninggalkan sepucuk surat di atas meja riasnya. Sungguh, dirinya tidak pernah menyangka jika beginilah nasib pernikahannya. Lima tahun bersama seakan tiada berarti apa-apa. Kebahagiaan dan perjuangan dalam mempertahankan keutuhan rumah tangganya telah berakhir. Saatnya Olivia melangkah pergi, meninggalkan segala kenangan yang ia ukir bersama suaminya di rumah itu.

Derai air mata mengiringi langkahnya. Bagaimanapun kepedihan itu terjadi. Olivia harus mampu bertahan, demi janin yang dikandungnya.

Bagaimana Olivia dan calon anaknya menapaki hidup selanjutnya? Mampukah ia bangkit dari keterpurukan yang dialaminya? Atau, malah menyerah dan memilih kembali kepada kehidupan yang sebelumnya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon IkeFrenhas, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab Dua Empat

Entah bagaimana ceritanya, Olivia pun tidak ingat sama sekali saat tiba-tiba matanya terbuka dirinya telah berada di tempat asing. Ia menoleh ke kiri dan ke kanan, semuanya serba putih. Mengabaikan rasa pusingnya, Olivia bergerak cepat untuk beranjak duduk memastikan di mana kini ia sedang berada. Tiba-tiba, pintu terbuka lebar menampakkan sosok yang sangat dikenalnya.

“Sayang, kamu sudah bangun?” Vino melangkah lebar mendekati ranjang, tempat di mana istrinya di rawat.

Vino berdiri di sisi ranjang, tangan besarnya menangkup kedua pipi Olivia lalu memberikan banyak kecupan di sana.

“Kamu membuatku khawatir,” ujar Vino lirih.

“Apa yang terjadi?” Olivia menempelkan telapak tangannya di punggung tangan Vino, menunggu lelaki itu menjawab pertanyaannya.

Kedua manik kelam lelaki itu menatap dalam ke arah Olivia, seakan tengah memastikan jika istrinya itu telah baik-baik saja.

“Aku pulang dan kaget banget saat lihat kamu pingsan di lantai.” Vino melepaskan tangannya di sisi wajah Olivia, menepis pelan tangan wanita itu lalu mengusap wajahnya secara kasar. “Ya Tuhan, Olivia! Jantungku rasanya berhenti berdetak saat itu juga,” lanjutnya frustrasi.

“Maafkan aku.” Olivia bergerak maju meraih pinggang Vino lalu memeluk erat dengan kedua tangannya. Kepalanya ia senderkan di dada bidang itu. Olivia mendongak, memperhatikan ekspresi Vino yang tiba-tiba berubah ceria.

Vino menunduk dengan senyum terkembang. Ia mengecup pucuk kepala Olivia lama dan dalam. “Syukurlah kamu tidak kenapa-kenapa,” lirihnya. “Hanya gejala morning sicknes di awal kehamilan,” lanjutnya lirih dengan senyum yang semakin terkembang.

Vino mengurai pelukan, lantas kedua tangannya mencengkeram bahu Olivia, tetapi tidaklah menyakitkan. Ia menatap lurus ke arah istrinya yang tampak kebingungan itu dengan mulut terbuka.

Vino gemas melihat ekspresi Olivia. Ia pun membungkam mulut istrinya itu lalu berujar penuh penekanan, “Setelah ini, kamu enggak boleh capek-capek. Kalau pingin makan sesuatu harus bilang sama aku. Kalau ada yang sesuatu yang mengganjal enggak boleh dipendam sendiri. Kalau ada apa-apa pokoknya—“ Ucapan lelaki itu terhenti saat Olivia memeluknya dengan erat. Sepertinya istrinya itu mengerti dengan apa yang dialami saat ini.

“Lho, kenapa nangis? Kamu enggak boleh sering-sering nangis, lho. Enggak baik untuk anak kita.” Vino berujar dengan nada khawatir.

Olivia menggeleng pelan. “Aku menangis bahagia,” balasnya dengan suara serak.

Tidak berapa lama kemudian, dokter datang beserta perawat untuk memeriksa keadaan Olivia.

“Hari ini sudah boleh pulang,” ujar sang dokter yang dibalas anggukan oleh sepasang suami istri itu. tidak lupa, Vino mengangguk hormat dan mengucap terima kasih ketika dokter itu berpamitan pergi.

“Aku lapar,” ucap Olivia begitu pintu kamarnya tertutup rapat.

“Ah iya. Sebentar ....” Vino mengeluarkan ponselnya lalu melakukan panggilan.

Olivia mendengar dengan seksama percakapan suaminya itu dengan seseorang di seberang sana.

“Oke. Aku tunggu, Ma.” Vino tersenyum ke arah Olivia lalu memasukkan benda pipih itu ke saku celana. “Bentar ya,” ujarnya pelan.

Beberapa menit berselang, pintu kamar terbuka. Seorang wanita yang ditaksir Olivia berusia tidak jauh dari ibunya itu masuk menenteng palstik hitam di tangan kanan. Sedangkan di tangan kirinya wanita tersebut memegang tas tangan.

“Sayang, ini Mama,” ucap Vino memperkenalkan wanita tersebut kepada istrinya.

Sesaat Olivia diserang gugup, tubuhnya pun kaku. Namun, ia mengulurkan tangan meminta salim kepada wanita itu yang disambut dengan senyum hangat.

“Aku semalam nginap di rumah Mama.” Vino memberikan penjelasan singkat.

Olivia hanya mengangguk, tidak tahu harus melakukan apa di depan ibu mertuanya itu.

“Makan dulu,” ujar wanita itu seraya tersenyum.

Vino dengan cekatan membuka bungkusan yang diletakkan di atas nakas, lantas mengambil wadah streoform dan membukanya.

“Makan nasi uduk, enggak apa-apa ya?” tanyanya kemudian.

“Iya.” Olivia mengangguk. Ibu mertuanya telah berpamitan keluar karena ingin menghubungi orang rumah, katanya.

Vino telah bersiap memberikan suapan pertama kepada Olivia, ketika istrinya itu menolak. “Aku makan sendiri aja.” Tidak ingin berdebat, Vino pun memberikan wadah itu ke tangan Olivia.

“Kakak ke rumah sama mama gitu, ya?” tanya Olivia tiba-tiba dengan mulut mengunyah.

“Enggak. Aku pulang sendiri dan langsung menghubingi mama saat melihatmu tidak sadarkan diri. Terus, mama menyusul ke sini.” Olivia mengangguk-angguk mendengar penjelasan suaminya.

“Mm, ada adegan apa gitu enggak di rumah?” tanya Olivia lagi. Ia sengaja memperlambat suapan demi suapan agar lebih bisa bertanya kepada suaminya itu.

“Eh, kamu enggak merasa mual ya makan itu?”

“Enggak.”Olivia menjawab singkat. “Jadi, kapan sampai rumah dan gimana ceritanya?” tanyanya lagi. Kini dengan suara menuntut dan tatapan tajam.

“Nanti di rumah aja ya ceritanya. Di sini suasananya enggak kondusif, enggak bisa santai juga. Kalau di rumah, ‘kan, kita bisa sambil baring gitu.” Vino mengedipkan mata dan tersenyum jahil. Sedangkan Olivia mendengkus sebal. Selalu saja, suaminya itu mengalihkan pembicaraan.

“Ya udah. Terserah aja.” Olivia buru-buru menghabiskan makannya. Ia ingin segera pulang mendengar cerita suaminya.

Setelah makanan Olivia habis. Vino menyodorkan air mineral dalam botol kepadanya, lalu mengambil bungkusan dari tangan Olivia dan membuangnya di tong sampah.

Tidak ada yang perlu dipersiapkan untuk mengajak Olivia pulang ke rumah, sebab Vino memang tidak membawa apa pun. Bahkan, ia memilih naik taksi agar aman saat membawa istrinya itu ke rumah sakit.

Vino dan Olivia keluar ruangan rawat inap itu. Sesampainya di lobi, Olivia menghentikan langkahnya dan menahan lengan suaminya saat melihat ibu mertuanya berdiri di depan meja bagian administrasi.

“Jangan bilang mama yang bayar perawatan aku hari ini, Kak,” ujar Olivia dengan suara tertahan.

“Mama yang minta. Aku enggak bisa nolak,” balas Vino mengelak.

“Menolak perjodohan aja bisa, masak nolak gini aja enggak bisa,” sindir Olivia.

“Ya kan, mama pakai alasan cucunya, Sayang. Mana bisa ditolak. Pokoknya semua yang berhubungan sama kamu aku enggak bisa nolak.” Vino masih berusaha membela diri.

“Walaupun kamu disuruh nikahin wanita lain dan pisah sama aku?” ketus Olivia pada akhirnya.

“Ya ... ya ... kalau itu aku milih mati aja, deh. Udah.” Vino menatapnya dengan sorot mengiba.

“Dasar gombal.” Olivia mencubit pinggang suaminya dengan kesal. Terdengar desisan dari lelaki itu, tetapi ia pura-pura tidak mendengarnya. “Bodo.”

Akhirnya, Sekar pun telah duduk di kursi penumpang bersama menantu barunya. Ia masih memilih diam, tidak mengatakan apa pun dan tidak berkomentar apa pun. Sampai mobil berhenti di depan kontrakan Vino dan mereka keluar satu persatu. Lagi-lagi, Sekar yang memilih untuk membayar ongkos taksi mereka. Mengabaikan penolakan yang dilakukan putranya itu.

Olivia tampak salah tingkah saat ibu mertuanya menginjakkan kaki untuk pertama kalinya di kontrakan sempit mereka. Wanita itu tampak mengamati setiap sudut ruangan dengan mata yang menatap tajam dan penuh selidik. Lantas, ia pun memilih menuju dapur untuk menyiapkan minuman.

“Mama masih sanggup membiayai hidup kalian bertiga Vino jika kalian tinggal bersama Mama.” Ucapan Sekar terdengar jelas sampai ke sekat paling akhir, yaitu dapur.

Tangan Olivia yang tengah mengaduk teh panas pun terhenti mendengar ucapan ibu mertuanya.

“Jadi kamu enggak perlulah kerja nguli begitu. Malu-maluin.”

Setelah ini Olivia sadar, hidupnya tidak akan sama lagi. Kesulitan di depan tengah menghadang langkahnya.

1
Satria Devi
Luar biasa
Lienda nasution
gak seru akhirnya ..enak saja si veno mudah x diterima olvia gampang x ya dapatkan olivia
Yuliana Tunru
sakit bgt baca x thor ..jika tdk berdosa saat ini lbh baik minta cerai drpd jd mabtu yg tak dianggap dan disalqhkan trs ..vino jd suami tak guna dan mengabaikan istri demi hal yg tak jelas krn sampqi mati alvin jg viona sekalipun.mama x bino tak akan oernah mengagqp x ada ..murisss
Lina aja
terkena jebakan pelakor ni
Lina aja
klw suami kaya gtu emang cape k kita nya....
Lina aja
ahk suami luchnut itu malah nemenin bibit pelakor....istri lagi trauma juga....
Lina aja
mertua gda akhlak itu...suami nya juga lagi jaga anak malah di tinggal"udah celaka j g bisa txnggung jawab
Lina aja
kayanya Raisa tu cuma adik angkat....n vino mulai selingkuh tu m raisa
Lina aja
euleuh itu udah berapa tahun menunggu kehamilan Olivia ni
Lina aja
apakah vino udah punya Wil
Lina aja
keinginan yg harus di ikuti orang adalah keinginan yg egois itu.....
Lina aja
ihk ibu nya vino kayanya blum mau trima menantu nya dengan ikhlas tu
Lina aja
uhk kasian ni mna gda siapa" juga
Lina aja
masih suasana prihatin klw kita memulai semua dari nol.....sabar semoga berkah
Ike Frenhas: aamiiinnn
total 1 replies
Lina aja
klw mertua nya mau menerima menantu y kita juga senang lah
Ike Frenhas: Bener banget
total 1 replies
Lina aja
lanjut
Ike Frenhas
semangat bacanya sampai tamat ya, Kak
Lina aja
lanjut n semangat
Lina aja
lanjut
Lina aja
lucu
Ike Frenhas: 😁😁😁😁😁
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!