Lonceng di menara yang sudah lama 'tidur' tiba-tiba berdentang di tengah malam. Tepat di hari pertama kedatangan Monica Steward; gadis kota yang baru pindah ke desa tersebut. Ada sebuah legenda yang di percaya penduduk desa mengenai dentang lonceng itu. Legenda yang mengatakan jika lonceng di menara berdentang dua belas kali tepat pukul dua belas tengah malam, menandakan akan adanya hal buruk yang terjadi. Hal buruk seperti apakah itu?
Di waktu lain muncul seorang pemuda asing membantu Monica. Anehnya pemuda yang sama sekali tidak di kenal itu bisa langsung mengetahui nama Monica. Sebuah peristiwa mengerikan perlahan membuka ingatan Monica melalui mimpi-mimpinya. Siapakah pemuda itu? Apa hubungannya dengan Monica?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eriza Yuu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab. 24
"Ada seseorang yang ingin bertemu denganmu, Nona!" jawab Sander.
Tiba-tiba Betsy muncul dari belakang Sander. Monica terkejut tak menyangka Betsy akan datang menemuinya.
"Hai, Monica!" sapa Betsy.
"Ka- Kakak Betsy ... Apa kakak baik-baik saja? Aku ... Aku benar-benar minta maaf tentang kejadian waktu itu!" ucap Monica yang nampak menjaga jarak karena masih agak trauma.
Betsy maju beberapa langkah.
"Sebaiknya kakak tidak terlalu dekat denganku!" Monica memperingatkan.
Betsy tetap berjalan mendekati Monica.
"Jangan cemas. Aku baik-baik saja! Aku tahu kau tidak sengaja melakukannya. Aku juga pernah melakukan kesalahan yang sama," terang Betsy.
"Apa?" Monica tak mengerti.
Betsy tersenyum.
"Apa kami boleh masuk?"
"Te- tentu saja! Kakak, silahkan masuk. Sander juga!" jawab Monica.
Setelah semuanya duduk di ruang tamu.
"Maaf ya, aku tidak segera menemuimu. Seharusnya aku mengatakannya lebih awal. Aku terkejut setelah mendengar kabarmu. Kau pasti sangat tertekan," kata Betsy.
"Aku masih tidak mengerti maksud kakak. Aku justru berpikir kakak akan takut padaku," ucap Monica.
"Tidak, aku tidak takut padamu. Monica, kita adalah makhluk yang sama. Aku juga sama sepertimu," jelas Betsy.
"Benarkah?! Kakak juga ...."
"Iya. Hanya saja aku sudah hidup jauh lebih lama darimu. Aku sudah tahu kau sama sepertiku saat pertama kali kita bertemu. Tapi aku tidak menyangka akhirnya akan seperti ini. Sampai membuatmu takut ke luar rumah. Maaf ya!" kata Betsy sambil tersenyum ramah.
"Tidak, tidak. Harusnya akulah yang meminta maaf. Aku tidak bisa mengendalikan diriku," tukas Monica.
"Jadi sekarang kau tidak perlu takut dan merasa bersalah lagi. Kembalilah ke kehidupanmu yang normal dan datanglah ke toko tehku lagi. Bukankah kau bilang akan mengajak teman-temanmu ke sana juga?!" ucap Betsy.
"Iya. Aku hanya takut kalau tiba-tiba aku kehilangan kendali lagi dan menyerang orang lain." Monica sedikit tertunduk.
Betsy meremas tangan Monica.
"Kau pasti bisa mengendalikan pikiranmu. Aku bisa membantumu dengan beberapa tips. Setelah kau kembali sehat, datanglah ke toko. Aku akan membagi pengalaman denganmu," katanya.
Monica tersenyum.
"Em.. Terima kasih!"
"Jadi, Sander ...." Monica menatap Sander.
"Aku hanya menemani Betsy saja. Juga sebagai penunjuk jalan baginya," jelas Sander.
Betsy tersenyum malu-malu.
"Aku meminta bantuan Sander untuk mengantarku ke tempat tinggalmu ini," timpal Betsy.
"Oh, aku mengerti," ucap Monica.
'Apa Arthur yang pergi memberitahu mereka?' batin Monica.
"Monica!" panggil Sera yang datang terburu-buru. Lalu disusul Nathan.
"Kalian berdua?" ujar Monica.
"Oh akhirnya ...." Sera berjalan masuk dengan Nathan mengikuti di belakang.
"Kau kedatangan tamu. Kalau begitu kami pergi dulu!" Betsy undur diri.
Monica mengangguk.
"Terima kasih, kakak sudah datang!"
"Jangan berkata begitu! Jaga dirimu, ya! Aku menunggumu mengunjungi tokoku lagi," ujar Betsy.
"Iya. Aku pasti akan datang!" janji Monica.
Betsy dan Sander meninggalkan apartemen Monica. Sera langsung memeluk Monica dengan perasaan senang dan lega.
"Akhirnya ... Aku sangat lega melihatmu baik-baik saja!" kata Sera.
"Memangnya aku kenapa? Aku kan sudah bilang aku baik-baik saja," tanya Monica berlagak bodoh.
Sera melepas pelukannya.
"Kau ini ... Baik apanya? Kau membuat kami semua mati kecemasan tahu!" omel Sera.
"Iya. Kau tidak masuk sekolah berhari-hari. Tidak mau bertemu kami bahkan tidak keluar dari apartemenmu. Apa yang kau pikirkan?" timpal Nathan.
"Kalau kau punya masalah, kau kan bisa cerita pada Sera dan aku, Monica!" sambungnya.
"Terima kasih, kalian berdua sudah mencemaskanku. Aku tidak apa-apa. Senin nanti aku akan masuk sekolah lagi," kata Monica.
"Benar ya? Jangan bohong!" seru Nathan yang lebih semangat mendengarnya.
"Iya, Nathan!" jawab Monica pasti.
"Bagus. Aku akan pinjamkan buku catatan pelajaran sekolahku supaya kau tidak ketinggalan pelajaran. Kau bisa menyalinnya," kata Nathan sambil mengeluarkan tumpukan buku-buku dari dalam tasnya.
"Juga ada beberapa pekerjaan rumah minggu ini. Kau bisa mengerjakannya supaya bisa d kumpulkan saat masuk sekolah senin nanti," lanjutnya.
Mulut Monica ternganga melihat tumpukan buku-buku yang dikeluarkan Nathan.
'Sepertinya rasa takutku bukan apa-apa, dibanding buku yang menumpuk dan tugas sekolah!' batin Monica.
"Ish, kau ini! Mau membunuh Monica ya?" Sera memukul Nathan dengan sebuah buku yang di ambilnya.
"Kau tidak lihat kondisinya yang lemah dan kurus ini! Dia baru saja pulih dan kau sudah memberinya setumpuk pekerjaan. Benar-benar tidak berperasaan!" omelnya.
"Ah, maaf-maaf! Aku tidak bermaksud begitu! Ini kan demi Monica juga. Dari pada nanti dihukum karena tidak mengerjakan tugas." Nathan berusaha menjelaskan.
"Sudah jangan ribut lagi! Nathan, terima kasih ya, sudah bawakan aku salinan bukumu. Kebetulan besok juga minggu, jadi aku bisa mengerjakan semuanya," kata Monica yang juga hendak menenangkan suasana.
"Monica, ayo ikut aku pulang ke rumah! Ibu juga mencemaskanmu! Sekalian kita makan malam bersama. Kau sudah lama tidak datang ke rumahku. Jangan pedulikan tugas-tugas itu! Yang penting pulihkan dulu kesehatanmu," ajak Sera setengah memohon.
"Mm.. baiklah."
Setelah bersiap sebentar, Monica, Sera, dan Nathan meninggalkan apartemen. Monica ikut Sera ke rumahnya. Keduanya berpisah dengan Nathan di tengah jalan. Begitu melihat kedatangan Monica, Amariz segera menyuruhnya masuk. Dia juga memperhatikan Monica dengan seksama.
"Monica, lihat dirimu! Kau jadi lebih kurus," tanya Amariz.
"Apa iya? Aku merasa tidak ada yang berubah," jawab Monica.
"Kenapa kau menyiksa dirimu sampai seperti ini? Jika ada masalah kau kan bisa cerita pada Bibi. Jika kau tidak mau meninggalkan apartemen, kau bisa menghubungi Bibi. Biar Bibi yang pergi menemuimu," jelas Amariz.
"Iya, bibi. Maaf sudah membuatmu cemas. Lain kali aku tidak akan begini lagi," janji Monica.
"Ingat kata-katamu tadi, ya! Sekarang Bibi siapkan makan malam. Kau harus makan lebih banyak malam ini," ujar Amariz.
"A ...." Monica tak bisa berkata apa-apa.
Tiba waktu makan malam. Amariz memasak banyak makanan.
"Kalian berdua makanlah yang banyak! Terutama kau, Monica!" suruh Amariz.
"Iya, bibi!" jawab Monica.
Usai makan malam, Amariz menyuruh Monica menginap saja. Tapi Monica menolak.
"Tidak bisa, bibi. Aku harus pulang mengerjakan tugas sekolah. Banyak pelajaran tertinggal saat aku tidak masuk sekolah," jelasnya.
"Padahal kau baru kembali sehat. Jangan terlalu memaksakan diri, ya! Bibi dan Sera akan mengantarmu pulang nanti," kata Amariz.
"Tidak perlu repot-repot, Bibi. Aku bisa pulang sendiri," tolak Monica.
"Heh, ini sudah malam. Bibi ingin memastikan kau pulang dengan selamat," terang Amariz. Monica pun tak bisa menolak lagi.
bersambung....
bisa lihat apa aja yg udah terjadi, bahkan yg akan terjadi
i'm really really
Like