Ini adalah kisahku dalam menunggu cinta pemuda yang kata peramal keluarga adalah keturunan ksatria.
Pemuda yang katanya menguasai ilmu-ilmu Jawa yang sudah tua umurnya.
Pemuda yang membuatku takut akan terkena mantra peletnya saat berjumpa pertama kali dengannya.
Pemuda yang banyak pacarnya, yang untuk mendapatkannya aku harus antri dan berebut dengan wanita lainya.
Namaku Selia, wanita yang terjebak cinta paranormal muda tapi tidak diceritakan dalam petualangan asmaranya.
Kan kam*pret namanya!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Al Orchida, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
ch 24
Alih-alih makan malam romantis ini lebih masuk akal jika dibilang lomba makan. Tempatnya memang bagus, di salah satu hotel ternama di kota ini. Tapi jumlah makanan yang dipesan Al ini untuk sepuluh orang.
"Gila kamu, Al. Siapa yang mau makan segini banyak?"
"Kita berdua," jawabnya cuek dan seringainya sangat jahil.
Dia memesan kopi susu dan satu koktail, salad buah, salad sayur, ikan bakar dan entah apalagi yang katanya untuk dimakan berdua. Aneh.
Tak lama delapan orang masuk ke ruangan dan menyapa Al dengan hormat dan sopan. Aku juga mendapat beberapa sapaan, jadi aku hanya tersenyum ramah tak mengerti apa maksud semua ini.
"Beb, kita meeting bentar sama team ya! Ini acara bulanan buat karyawan," katanya serius.
Kita? Sejak kapan aku masuk jajaran team work kamu, Al? Kerja kamu ngapain aja aku nggak tau.
Al membuka acara dengan santai, mengucapkan terima kasih atas kedatangan mereka. Membahas tentang pencapaian target penjualan bulan kemarin, dan sebagai apresiasi Al mengundang mereka untuk makan malam bersama. Manis sekali.
Setelah sedikit ceramah, Al mempersilakan mereka menghabiskan makanan yang sudah dipesannya. Lalu menarik tanganku untuk mengikutinya ke ruangan lain yang hanya ada dua tempat duduk berhadapan dengan dekor ruangan cantik dan alunan musik lembut.
Ini baru romantis…!
"Suka tempatnya?"
"Iya, suka sekali." Untung tadi dandan cantik, sesuai ekspektasi untuk acara makan berdua.
Makanan dan minuman dihidangkan sesuai permintaan Al. Dan malam ini dia sedang tidak usil, dia sedang dewasa layaknya pria yang mau melamar wanita.
Kami berbincang banyak tentang pekerjaannya, tentang team work yang diundangnya dan hal remeh temeh tentang petualangannya menjelajah alam bersama teman-teman mapalanya.
Hingga tak terasa waktu berlalu dengan kecepatan tinggi, kami akhirnya menyudahi makan malam dengan bahagia.
"Thanks ya, Sayang!" Aku sedikit berjinjit dan mengecup pipinya ketika kami hanya berdua di dalam lift yang sedang turun ke parkir lower ground.
"You are blushing!" Tangan kirinya langsung meraih pinggangku, membuat kami bertatapan dalam jarak dekat. Dengan tersenyum miring dia berkata, "Bisakah kecupan di pipi tadi diulang? Tapi sekarang di bibir!"
"..." Aku tidak sanggup melakukannya.
"Biar aku saja yang mulai kalau kamu masih malu…" katanya pelan seraya mengusap-usap pipiku dengan ibu jarinya dan menarikku lebih rapat dalam pelukannya.
"Ish…"
Aku sedikit menahan tanganku di bahunya agar ehm… dadaku tak bersentuhan dengan tubuhnya. Tapi dia memindahkan kedua tanganku untuk merangkul leher dan menempel padanya yang sedang berdiri bersandar di dinding lift.
Selanjutnya hembusan nafas dan kecupan ringan mendarat di pipi, suaranya lembut terdengar berbisik di telingaku. "Kamu tegang banget, Beb! Ini kan bukan ciuman pertama kita…"
Iya, tapi pelukan seperti ini baru pertama terjadi. Aku deg-degan banget, Al. Apalagi dadaku… nempel semua, kamu nggak gelisah?
Aku langsung memejamkan mata begitu bibirnya menyentuh bibirku, membukanya perlahan, membiarkan dia mengulum dan menghisap dengan lembut.
Melepasnya sebentar karena lift sudah sampai tujuan, tapi bukan Al kalau mudah dihentikan. Dia menutup pintu lift lagi dan memencet tombol naik ke lantai 17 tempat kami makan malam tanpa melepaskan pelukan.
Lidahnya kembali menjajah mulutku dengan liar, nafasnya sedikit lebih cepat dan tangannya mulai menjalar mengusap punggungku.
"Stop Al … please!" Desisku tertahan karena dia hanya memberikan jeda sebentar untuk mengambil nafas dan terus menyiksaku dengan bibir tipisnya yang kelewat nakal.
Ampun...!
Untunglah begitu lift sampai atas ada dua sejoli yang akan turun. Aku melengos ke arah lain karena pasangan tersebut memperhatikan mukaku yang pasti sudah sewarna tomat matang.
Al justru senyum-senyum nggak jelas, nggak ada malunya dikit aja hampir ketauan orang. Tangannya menggenggam erat jariku yang masih gemetaran. Setidaknya wajahnya sudah normal, tidak seperti orang mabuk lagi.
"Kita lanjut nanti ya, Beb!" Bisiknya lirih dan santai di telingaku.
"..."
Emang rada-rada nih boyfriend…!
**
Kalingga dari jauh terlihat hendak menghampiriku, dia minta bertemu saat kuliah selesai. Dia sengaja menungguku entah untuk urusan apa. Aku sendiri sedang ada janji mau makan bakwan sama Ara.
"Ra, tunggu depan bentar ya! Aku ada urusan dikit sama Kalingga," ucapku menunjuk pada cowok berbaju ala pak dosen yang sedang berjalan ke arahku.
Ara mengikik seraya mengingatkan, "Sweet banget penampilannya, kayak judul novel ya Sel? Dosen muda mencari cinta."
"Sayangnya ekspresinya selalu tidak menyenangkan. Kamu tau kan type orang yang nggak bikin kesalahan apapun tapi tiba-tiba kita kebelet nggampar mukanya?" Kataku menyambung lawakan Ara.
"Kayak muka orang nahan kentut ya?" Ledek Ara makin menjadi-jadi.
Aku menutup mulut dengan punggung tangan agar tidak terbahak karena Kalingga makin dekat, "Tepat."
"Ya udah, aku tunggu di depan. Take care, Sis!" Pamit Ara melambaikan tangannya.
Kalingga tersenyum dingin saat sudah dekat, "Aku mau bicara sebentar bisa?"
Jaga image man …!
Yang jelas gayanya udah nggak bucin lagi, walaupun sebenarnya matanya tetap aja nggak bisa bohong kalau dia itu suka aku.
"Dimana?"
"Mau sambil ngopi?"
"Aku sudah ditunggu Ara di depan, mau makan. Kalau cuma sebentar di sini aja nggak apa-apa kan?"
"Sama Ara atau kakaknya?"
Unbelivable. Masih aja ngurusin pribadi orang!
"Itu Ara kelihatan dari sini," jawabku jujur, lembut tapi kesal. Menunjuk Ara yang sedang main ponselnya sambil berdiri.
"Aku mau minta maaf, sekaligus minta kesempatan untuk memperbaiki hubungan!"
"..." Aku mendengar dengan jeli, berusaha tidak melewatkan satu katapun agar tidak salah paham nantinya.
Kalingga menarik nafas dalam sebelum melanjutkan, "Aku ingin memberikan image yang baik pada Ibumu. Beliau pasti sudah memberikan nilai minus untukku."
Aku bingung dengan kalimatnya, "Maksudnya gimana, Kak? Ibunda nggak seperti itu, kami di rumah tidak membicarakan lagi kejadian yang sudah lewat itu."
"Sel, aku sudah menjelekkan kakak Ara di depan Ibu kamu, itu nggak fair. Maksudnya aku ingin ibu kamu lebih mengenal aku seutuhnya sebelum menentukan masa depanmu."
Oh, jadi pendekatan lewat orang tua. Maunya Lingga kalau Ibunda suka dia dan setuju dia jadi menantunya pasti aku juga tidak punya kuasa menolaknya.
Ini bukan zaman Siti Nurbaya, Lingga…!
"Jadi?"
"Kamu boleh tidak suka sama aku, Selia. Tapi aku akan tetap berusaha menunjukkan pada orang tuamu niat baikku.
Jadi jika aku mungkin datang berkunjung ke rumahmu itu murni aku tamu orang tuamu."
Sebagai perempuan yang dididik dengan adat darah biru aku memahami konsep ini, hanya saja Kalingga lupa kalau Ibunda tidak menikah dengan putra Jawa sesuai stratanya.
Tapi aku jelas tidak bisa menolak idenya, aku tetap harus menjunjung tinggi tata krama dan adat yang juga dianut Kalingga.
"..." Aku mengangguk setuju.
"Aku hanya ingin menyampaikan itu saja. Sampai ketemu di babak berikutnya, Selia!" Kalingga mengangguk sopan dan meninggalkanku yang masih tidak percaya dengan ungkapannya.
Ini murni, tanpa pengasihan!
Dengan gontai dan pikiran ruwet aku melangkah menuju ke tempat Ara berdiri menungguku.
"Kenapa Sel? Muka kamu kok kayak butuh di setrika gitu?" Cerca Ara dengan tatapan iba.
"Asdos nggak jelas, rasanya aku tetap bakal sering ketemu dia di rumah." Gerutuku pelan.
"Kok bisa?"
"Lingga nekat mau pendekatan lewat jalur orang tua, Ra. Itu sah-sah aja, tapi apa nggak terkesan maksa setelah kejadian kemarin itu?"
"Udah nggak usah diambil hati. Jadi ke bakwan nggak kita?"
"Jadilah, mau makan yang banyak aku, Ra. Stress…"
"Ya udah ayo!"
Kami sedang bersiap menyeberang gedung C ketika mobil yang aku kenali milik Al berhenti tidak jauh dari tempat kami berdiri. Jantungku langsung berhenti berdetak sesaat melihat Wulan turun dari sana dengan wajah ditekuk. Dia melihat sekilas ke arahku dan pergi berlawanan arah begitu saja.
Ara yang menyadari kakaknya juga turun dari mobil dan berniat menghampiri kami segera cari alasan untuk meninggalkanku.
"Sel, makan bakwannya besok aja ya! Aku lupa ada janji sama Yudha," pamitnya seraya melangkahkan kaki tanpa melihatku lagi. Sial.
Aku juga ingin melarikan diri, hatiku nyeri melihat pemandangan barusan. Tapi gravitasi bumi tempatku berpijak rasanya naik 100 kali lipat, aku bahkan tidak bisa bergeser satu inchi pun ketika Al berjalan mendekat.
Dia berdiri satu meter di depanku dengan tatapan rumit dan tanpa senyum. Ekspresinya seperti seorang suami yang baru saja kepergok jalan dengan wanita lain.
"Aku bisa jelaskan semuanya, Beb!"
...Hei Sephia......
... Malam ini ku takkan datang...
...Mencoba tuk berpaling sayang...
... Dari cintamu...
...Hei Sephia......
... Malam ini ku takkan pulang...
...Tak usah kau mencari aku...
... Demi cintamu...
...Hadapilah ini kisah kita takkan abadi…...
...(Sephia - SO7)...
***