Hanya karena salah paham! Darren Cedric dengan tega merenggut kesucian wanita yang dicintainya dengan paksa. Tanpa tahu kenyataan yang sebenarnya Darren pergi meninggalkan wanita itu begitu saja.
Hingga delapan tahun berlalu, Darren kembali dan menjadi sosok Ceo dari perusahan ternama, hingga ia dikejutkan dengan sebuah kebenaran yang terungkap tentang wanita masalalunya yang sampai saat ini masih ia benci, ditambah lagi dengan fakta hadirnya seorang anak lelaki yang sangat mirip dengannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nanang Oke, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 23
.
.
.
Tuan Sandreas dan Feronica tertawa cukup keras mendengar ucapan Davin, begitupun dengan para gengster yang berdiri di bawah panggung juga ikut menertawakan ucapan Davin yang mereka anggap sebagai lelucon anak kecil.
"Lihatlah anak kecil ini Darma! sekarang aku yakin kalau dia memang cucumu, karena sifatnya tidak beda jauh dengan kakek dan ayahnya" tuan Sandreas menunjuk Davin dengan tawa mengejek.
"Sepertinya anda melupakan satu fakta lagi tuan Sandreas, bahwa setiap penerus keluarga Bimantara mempunyai kualitas yang tidak bisa dimiliki oleh keluarga manapun" ucap tuan Darma yang membuat tuan Sandreas terlihat kesal.
"Baik, sekarang kita buktikan saja sampai dimana kualitas Bimantara yang anda banggakan itu bisa bertahan" ucap tuan Sandreas dengan senyum meremehkan.
Dengan sekali tepukan tangan semua anggota gengster itu sudah merangsek maju dan mengelilingi keluarga Bimantara yang berada di atas panggung.
Dengan sigap dan secepat kilat tuan Darma dan Darren berdiri menjadi perisai untuk melindungi Davin dan Nyonya Hera yang tampak sangat ketakutan.
"Apa yang kamu inginkan Sandreas?" teriak tuan Darma dengan emosi.
Tuan Darma merasa situasinya benar-benar tidak menguntungkan untuk melawan, semua pengawal bahkan asisten pribadinya yang cukup pandai bela diripun sudah dilumpuhkan para oanggota gengster itu, hingga Tuan Darma berpikir untuk bernegosiasi untuk melindungi keluarganya.
"Ha..ha..ha..! apa hanya ini kualitas Bimantara yang anda banggakan Tuan Darma? bukankah terdengar sangat mengecewakan" Tuan Sandreas tertawa puas dengan ketidak berdayaan keluarga Bimantara yang harus tunduk padanya.
"Katakan, apa yang kamu inginkan dari mereka sayang?" Tuan Sandreas menatap Feronica yang tersenyum ke arah Darren.
"Aku ingin laki-laki yang sudah menolakku diberikan pelajaran yang setimpal ayah" ucap Feronica dengan senyum meyeringai menatap Darren.
"Tentu sayang, apapun untuk putri kesayangan ayah"
Tiga orang anggota gengster maju setelah mendapat aba-aba dari Tuan Sandreas, mereka mendekati Darren dan melayangkan pukulan beberapa kali pada wajah Darren yang terlihat pasrah tanpa perlawanan.
"Hentikan, tolong jangan pukuli putraku lagi" teriak Nyonya Hera yang melihat Darren sudah tersungkur kelantai dengan darah segar di sudut bibirnya.
"Lanjutkan!" teriak Feronica pada gengster yang memukuli Darren.
"Lepaskan aku, aku mohon jangan pukuli putraku lagi" teriak Nyonya Hera yang berusaha berontak saat dua gengster memegangi kedua tangannya.
"Brengs*k! akan ku pastikan kamu menyesal telah melakukan ini pada keluargaku" teriak Tuan Darma penuh emosi, ia tidak bisa membantu Darren karena dua anggota gengster telah meletakkan senjata tajam pada lehernya agar Tuan Darma tidak maju dari tempatnya berdiri.
Darren yang sudah tersungkur kelantai untuk yang kesekian kalinya tetap mencoba bertahan, jika saja ia hanya seorang diri mungkin itu akan menjadi mudah untuknya melawan dan meloloskan diri, tapi disini ada keluarganya yang juga harus ia lindungi terutama putranya. Jika ia melawan tentu mereka akan menyakiti keluarganya.
"Dasar papa payah!" gumam Davin pelan, ia masih terlihat tenang saat melihat sang papa tersungkur kelantai dengan menahan sakit.
"Ha..ha..ha..! lihatlah mereka sayang, apa kamu senang?" dengan tawa renyah Tuan Sandreas menatap putrinya.
"Tentu saja aku senang ayah, tapi aku ingin melihat, apa masih ada perempuan yang mau dengannya kalau dia sudah cacat" Feronica menatap Darren dengan tatapan membunuh.
"Kalian dengar apa yang dikatakan putriku! lakukan sekarang" perintah Tuan Sandreas dengan suara lantang.
Tiga gengster yang tadi memukuli Darren kembali maju untuk melaksanakan perintah dari Tuan Sandreas.Mereka menyeringai jahat dan terlihat bersemangat untuk kembali menghajar Darren tanpa ampun.
Bug..brak..bug ..brak.........
Semua orang terkejut dan melotot tidak percaya dengan apa yang baru saja mereka lihat, tiga orang berbadan kekar yang hendak menghajar Darren Sudah terkapar tak berdaya hanya dengan beberapa pukulan dari Davin.
Ya, bocah kecil itu maju secepat kilat sebelum tiga gengster itu kembali menghajar papanya yang terlihat tak berniat melakukan perlawanan. Dia tidak boleh membiarkan papanya dihajar apalagi sampai cacat, bisa-bisa mamanya benar-benar tidak mau untuk bersama papanya lagi kalau sampai pria itu cacat, lalu apa kabar dengan keluarga kecil yang ia inginkan! begitu pikir Davin.
"Putraku bisa bela diri?" gumam Darren dengan suara lirih, ia sama sekali tidak menyangka jika putranya bisa semenakjubkan itu dalam berkelahi.
"Apa papa sangat nyaman terus berbaring di lantai seperti itu!" ucap Davin menatap kesal ke arah Darren yang masih tenggelam dalam pikirannya sendiri.
Dengan segera Darren bangun dan berdiri di samping putranya yang langsung berhadapan dengan Tuan Sandreas dan juga Feronica.
"Kakek gendut! bukankah tadi aku sudah mengatakan kalau hanya dengan menjentikkan satu jariku saja semua anak buahmu ini akan tunduk dan menjadi tidak berguna untuk keluarga Sandreas, Jadi sebaiknya kakek gendut dan tante nenek sihir bersiap-siap saja mendapat balasan dari perbuatan kalian" ucap Davin dengan wajah datarnya menatap Tuan Sandreas.
"Das*r bocah kecil kurang aj*r!!" teriak Tuan Sandreas dengan penuh amarah, ia tidak terima dirinya di remehkan apalagi oleh seorang anak kecil seperti Davin.
"Kalian semua! cepat habisi keluarga Bimantara sekarang juga" Tuan Sandreas tersenyum penuh kemenangan, ia yakin keluarga Bimantara sudah tiba di ujung kehancurannya, semua bisnis dan perusahaanya akan hancur dan akan tenggelam secara perlahan.
tik..tik..tik...
Suara jentikkan jari Davin seolah membuat semua orang terpaku dan terdiam ditempat. Semua anggota gengster mengangkat kedua tangannya ke atas setelah mendapat todongan senjata api dari anggota mafia yang sedari tadi sudah bosan melihat drama yang terjadi di atas panggung, entah dari mana mereka datang, karena jumlah mereka yang lebih dari lima puluh orang itu sama sekali tak terlihat sejak tadi.
"Kalau kalian berani mengusik keluarga Bimantara sedikit saja, maka kalian akan tahu sendiri akibatnya" semua orang menoleh ke arah sumber suara yang berasal dari pria berjas hitam yang tengah duduk santai di meja vip.
"King.......!" ucap semua anggota gengster serempak, mereka bahkan langsung bersujud memberi hormat pada sang ketua mafia tersebut.
Tuan Sandreas dan Tuan Darma begitu terkejut begitu mendengar nama itu disebut, walaupun belum pernah bertemu tapi mereka cukup tahu nama itu adalah satu-satunya orang yang tidak boleh mereka usik. Lalu kenapa sekarang pria itu bisa hadir di acara seperti ini?
"Maafkan kami King, kami benar-benar tidak tahu kalau mereka dalam lindunganmu" ucap salah seorang gengster yang berperan sebagai ketua.
"Kali ini ku maafkan, tapi tidak untuk yang kedua kali!" pria dengan rambut sedikit gondrong yang disebut dengan King itu tetap duduk santai dengan segelas minuman ditangannya.
"Sekarang bangunlah, bawa semua anak buahmu pergi dari sini" perintah King dengan nada santai.
"Terima kasih King, kami akan selalu mengingatnya" ucap sang ketua gengster menunduk hormat sebelum berlalu keluar dari balroom hotel itu.
.
.
.
Bersambung.......
.
.
😙😙😙😙😙
.