Dari bab awal akan banyak revisi kata ya. Maafkan author yang masih sering typo dalam penulisan. Jangan lupa untuk terus dukung author dengan memberikan like, komentar, dan jadikan novel "Cinta Terpendam" sebagai favorite agar kalian tidak ketinggalan update episode terbarunya. Eiittsss jangan lupa kasi vote buat author ya, biar author tambah semangat.
Ini adalah kisah tentang sepasang sahabat yang diam-diam saling menyimpan rasa. Ya, mereka adalah Hutama dan Ayu. Mereka adalah sepasang sahabat yang bisa dikatakan cukup dekat, hampir seperti sepasang kekasih. Tetapi di antara mereka tidak pernah terlontar ucapan cinta, hanya dari perbuatan saja. Ikuti terus kisah Hutama dan Ayu.
ig : whyelok
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon why_elok, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 24
"Kamu kenapa bih? Kok ninggalin aku gitu aja sih?" Tanya Tama bingung melihatku tiba-tiba masuk mobil.
"Kamu sih bikin aku malu, masak tiba-tiba nyium di tempat umum kayak gini..aku kan malu." Jawabku yang tak kalh ketus, karena memang aku merasa malu dengan tingkah Tama yang menciumku di tempat umum.
"Hahahaha aku kira kenapa. Maaf sayangg. Sekarang kita mau kemana lagi?"
"Pulang aja, aku pengen mandi, badanku lengket banget ini."
"Ya udah kita langsung pulang."
Tak lama kemudian kita sudah sampai di rumah baru kita. Tama menyerahkan kunci rumah kepadaku dan menyuruhku agar membuka pintu, sedangkan Tama mengambil belanjaan yang ada di bagasi, karena memang jumlah barangnya tidak sedikit.
Setelah membantu Tama mengangkat belanjaan ke dapur, aku dan Tama masuk ke kamar kita. Tama membawa koperku dan kopernya ke dalam kamar. Aku merebahkan tubuhku diatas kasur berukuran king. Tak lama kemudian Tama juga ikut merebahkan tubuhnya di sampingku.
"Bih, gak mandi dulu?"
"Bentar lagi yank, badanku masih capek banget, dari kemarin kita kurang istirahat, apalagi hari ini kita perjalanan jauh." Aku menjawab pertanyaan Tama sembari mengangkat kepalaku dan menyandarkan di dada Tama dan tanganku memeluk pinggangnya dengan erat.
"Iya, rasanya masih seperti mimpi aku bisa di sini sama kamu bih, sekarang kamu istriku, Tuhan begitu baik padaku dan mengabulkan semua doaku." Tama membelai rambutku dan mencium puncak kepalaku.
"Sayang..."
"Iya, kenapa bih?"
"Mandi gih, kamu bau hahaha." Aku menjahili Tama dan berlari menuju kamar mandi lalu mengunci pintu kamar mandi. Tama tidak tinggal diam, dia juga langsung berlari mengejarku, tapi kalah cepat denganku, karena aku sudah lebih dulu mengunci pintu kamar mandi. Diluar, Tama masih terus mengetuk pintu kamar mandi...
"Bihh, buka pintunya dong..tadi katanya aku disuruh cepetan mandi, kok sekarang malah dikunciin gini sih..biihhh buka dong"
"Gantian sayang, aku mandi dulu terus masak, kamu mandinya nunggu aku selesai ya."
"Bareng aja bih, biar selesainya bareng"
"GAAAKKKK. Kalau masih maksa, nanti kamu tidur di kamar sebelah ya!"
Setelah itu, Tama berhenti mengetuk pintu, dan entah kemana. Aku berendam di bathtub, keramas dan luluran. Ingin rasanya memanjakan badan yang sangat lelah ini. Entah kenapa tiba-tiba bayangan malam pertama muncul di otakku, kata teman-temanku rasanya sakit sekali, apalagi untuk yang pertama kali seperti aku. iihhhhh kok aku jadi ngeri sendiri ya.
Aku mencoba menghilangkan bayangan itu dengan bangun dari bathtub dan mengguyur tubuhku dibawah shower. Setelah cukup lama aku memanjakan diriku, aku mengeringkan badanku dengan handuk, tapi ternyata aku lupa membawanya.
"Aduh, handuknya kan masih di dalam koper, tadi aku juga langsung lari ke kamar mandi..duh gimana nih, ya masak aku keluar tanpa handuk?" Aku coba mengintip ke dalam kamar, moga aja Tama lagi diluar kamar. Dan ternyata Tama sedang tiduran di kasur. Aku menepuk keningku dan memikirkan cara untuk keluar dari sini, tapi bagaimana pun aku tetap membutuhkan bantuan Tama untuk mengambilkan handuk di koper.
"Sayangg...boleh minta tolong ambilin handuk di koperku? Aku lupa tadi ke kamar mandi gak bawa handuk." Teriakku dari dalam kamar mandi dan berharap Tama menjawabnya. Setelah bebera menit ternyata masih sunyi, tidak ada jawaban sama sekali dari Tama. "Apa Tama ketiduran ya?" Aku coba mengintip lagi dari pintu yang ku buka sedikit. Dan betapa terkejutnya aku, ketika aku membuka pintu kamar mandi, ternyata Tama sudah berdiri di depan pintu dengan membawa handukku.
"Kamu ngapain disitu?" Aku yang kaget langsung reflek menutup pintu kamar mandi.
"Kan kamu tadi teriak minta handuk bih, yaa ini aku nganterin handuk kamu." Jawab Tama dari luar. "Kalau pintunya di tutup gini, gimana caranya kamu ambil handuknya? Buka dulu pintunya"
Karena aku sudah merasa kedinginan, aku membuka pintu dan mengeluarkan tanganku untuk meraih handuk yang di bawa Tama, tapi ternyata Tama malah menjahiliku dengan menjauhkan handuknya.
"Tamaaaaaaa...cepetan dong, aku kedinginan ini."
"Sini aku peluk aja biar gak kedinginan." Bukannya memberikan handuk itu tapi Tama malah terus menggodaku.
"Oke fix malam ini kamu tidur di kamar sebelah."
"Jangan gitu dong bih, nih handuknya." Karena takut aku usir dari kamar, akhirnya Tama memberikan handuknya.
Setelah memakai handuk, aku keluar dari kamar mandi. Tama juga masih duduk dipinggir ranjang. Aku berjalan ke koperku tanpa menghiraukan Tama. Aku membuka koperku dan ternyata sudah kosong.
"Sayanggg...bajuku mana? Aku udah kedinginan." Badanku sudah sangat menggigil karena kedinginan.
Tiba-tiba Tama memelukku dari belakang dan menempelkan pipinya ke pipi kiriku.
"Gak usah pakai baju bih, aku peluk aja biar anget dan kamu gak kedinginan lagi." Entah kenapa badanku terasa kaku dan diam seperti patung.
"Bih..." Panggilan Tama menyadarkanku. Aku mendorong pelan dan menyuruh Tama untuk mandi.
"Mandi dulu sayang, setelah itu aku masak buat makan malam. Sekarang ijinin aku pakai baju ya? Bajuku kamu taruh dimana?"
"Beneran ya, nanti setelah makan malam, aku mau kamu sebagai menu penutupnya hahaha." Jawab Tama sembari melepaskan pelukannya dan menuju ke kamar mandi. Tiba-tiba Tama kembali lagi dan berbisik "Bihh, baju kita udah aku rapiin di lemari."
Aku memilih baju daster tanpa lengan dengan panjang di atas lutut sedikit. Memang sudah menjadi kebiasaanku kalau di rumah selalu pakai daster. Setelah ganti baju dan memoles wajahku dengan sedikit bedak, aku menguncir rambutku ke atas dan memperlihatkan leher putihku.
***
Di dapur aku membereskan belanjaan, ada sayuran, buah, ayam, daging dan bahan yang lain. Aku menyalakan kulkas ke listrik, karena memang kulkas ini baru dan masih belum ada isinya, setelah itu aku memasukan bahan makanan ke dalam kulkas bawah, untuk daging aku taruh di frezeer atas. Tama membeli kulkas 2 pintu, jadi aku lebih leluasa untuk menyimpan persediaan daging. Sebelum memasukan daging ke frezeer atas, aku mencucinya terlebih dulu kemudian memasuknnya ke wadah box lalu kumasukan ke dalam frezeer.
Malam ini aku ingin masak capcay dengan campuran sosis dan bakso. Tapi sebelum aku memasak, terlebih dulu aku menanak nasi di magic com, jadi nanti setelah selesai memasak, nasinya juga sudah matang dan selesainya bisa barengan.
Ceklek...
Terlihat Tama keluar dari kamar, dia memakai kaos tanpa lengan dan celana pendek. Setelah itu dia berjalan ke arah dapur menghampiriku.
"Bih, aku yang bersihin rumah ya? Kamu masak aja di dapur." Ya, Tama memang suka kebersihan, mulai dari rumah, pakaian, dan sepatu pun kebersihannya selalu dia perhatikan.
"Iya, di sapu aja sayang, gak usah di pel, biar besok aku yang ngepel. Kamu juga udah mandi, nanti keringetan lagi kalau kamu ngepel."
"Gapapa bih, sekalian aku pel aja."
***
Kegiatanku di dapur sudah selesai, aku juga sudah selesai mencuci peralatan memasak yang baru saja digunakan. Masakan juga sudah aku tata di meja makan, dan Tama juga sudah selesai membersihkan rumah.
"Sayang, ayo makan dulu, nanti keburu dingin." Terlihat Tama membaringkan tubuhnya di sofa ruang tamu, mungkin dia lelah. Aku mengahampirinya dan berjongkok untuk membangunkan Tama. "Sayang, bangun, kita makan dulu." Ternyata Tama sangat lelah, dia tidak bereaksi sama sekali. Aku kembali ke meja makan, mengambil nasi dan menambahkan lauk, tak lupa juga membawa gelas yang sudah aku isi air dan membawanya ke sofa dimana Tama sedang tidur.
Aku meletakkan piring dan gelas di meja sofa lalu membangunkan Tama lagi. "Sayangnya aku ayo bangun, kita makan dulu." Aku berusaha membangunkan Tama dengan membelai pipinya. Terlihat Tama menggeliat dan langsung duduk.
"Maaf bih, aku ketiduran." Tama bangun dan membetulkan posisi duduknya.
"Gapapa sayang, ini makanannya udah aku bawain kesini, takut keburu dingin." Aku memberikan piring makanan pada Tama.
"Suapin bih..." Rengeknya manja seperti anak kecil minta disuapin ibunya.
"Ya udah sini.."
"Kamu makan juga ya, biar romantis gitu sepiring berdua hehehe." Keusilan Tama muncul lagi.
Selesai makan, aku mencuci piring dan gelas kotor, setelah itu aku meilhat dapur untuk memastikan apakah masih ada barang yang harus di bereskan. Ternyata sudah beres semua. Aku mematikan lampu dapur dan menuju ke kamar. Tama masih menonton televisi, aku mengurungkan langkahku ke kamar dan menghampiri Tama, aku menggeser tempat duduk Tama.
"Sayang, geseran dong." Tama menggeser tempat duduknya. "Geser lagi" Tama tetap menurutiku dan menggeser posisinya. "Geser lagi yank." Geseran Tama sudah mentok sampai ke ujung sofa.
"Udah? Masih disuruh geser lagi?" Tanpa menjawab pertanyaan Tama, langsung saja aku merebahkan tubuhku di sofa dan meletakkan kepalaku dipangkuan Tama.
"Bih.."
"Hmm..."
"Kamu gak ngantuk? Pindah ke kamar yuk..." Tanpa menunggu persetujuanku, Tama meraih remot tv untuk mematikannya dan menggendongku ke kamar. Aku yang terkejut hanya bisa diam dan melingkarkan tanganku ke leher Tama karena takut terjatuh.
kayak mimpi dapet notif darimu😘😘
abisnya lucu
ga ditanggepin masiiiih aja ga tau diri
ga kaya di tempet lain
malah di ladenin sm pemeran cowonya jadiiii aja berantem Mulu