Pernikahan itu tidak lahir dari cinta. Melainkan dari sebuah kesepakatan. Ketika keluarga Alyssa berada di ambang kehancuran, satu-satunya jalan keluar adalah menerima tawaran keluarga Maheswara. Menikah dengan Alvaro Regantara Maheswara. Pria yang terkenal dingin. Pria yang dijuluki pewaris paling berbahaya. Pria yang bahkan tidak percaya pada cinta. Bagi Alyssa, pernikahan itu seperti masuk ke dalam sangkar emas. Mewah. Indah. Tapi menyesakkan. Namun semakin lama mereka bersama, Alyssa mulai melihat sisi Alvaro yang tidak pernah diketahui siapa pun. Sisi yang terluka. Sisi yang kesepian. Dan perlahan kebencian berubah menjadi perasaan yang jauh lebih berbahaya. Cinta. Tapi ketika rahasia masa lalu Alvaro terungkap dan mantan tunangannya kembali untuk merebut segalanya. Akankah pernikahan yang dimulai karena ambisi itu berakhir menjadi cinta? Atau justru menjadi kehancuran bagi keduanya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Reyanza Rayyan Fahlevy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 32
Pagi itu, ruang rapat utama Maheswara Group di lantai empat puluh terasa lebih dingin dari biasanya. Meja oval panjang dari kayu mahoni yang dikelilingi oleh para pemegang saham mayoritas dan dewan komisaris tampak tegang. Sifat taktis Alyssa membuatnya memilih duduk di jajaran kursi eksekutif samping, mendampingi Alvaro yang berada di kepala meja sebagai Direktur Utama.
Rapat triwulanan ini seharusnya berjalan formal dan prediktif. Namun, kehadiran Arsen yang duduk di ujung meja dengan senyum tipisnya yang penuh teka-teki menjadi sinyal kuat bahwa ketenangan ini tidak akan bertahan lama.
Ketika agenda rapat memasuki pembahasan evaluasi kinerja dan investasi masa depan, Arsen menegakkan tubuhnya. Pria itu sengaja berdeham, menarik perhatian seluruh hadirin di dalam ruangan.
"Tuan Komisaris dan para pemegang saham yang terhormat," buka Arsen, suaranya terdengar ramah namun sarat akan manipulasi. "Sebelum kita melangkah lebih jauh ke agenda proyek siber Pradipta yang bernilai triliunan itu, saya rasa ada hal krusial yang perlu kita refleksikan bersama terkait stabilitas kepemimpinan di Maheswara Group."
Alvaro tidak bergeming, namun sepasang mata elangnya langsung mengunci pergerakan sang paman. Aura predatornya mulai menguar, bersiap menghadapi provokasi.
Arsen melirik sekilas ke arah Alyssa sebelum melanjutkan dengan nada prihatin yang dibuat-buat. "Kita semua tentu melihat bagaimana konsumsi media publik selama dua puluh empat jam terakhir. Drama personal, perseteruan di ruang gala, hingga isu-isu domestik. Saya hanya khawatir... rumor yang beredar di luar sana benar. Bahwa sejak menikah, Alvaro mulai kehilangan fokus utamanya dalam memimpin korporasi ini. Keputusan-keputusan strategisnya belakangan ini tampak lebih didorong oleh sentimen emosional untuk melindungi pencitraan baru keluarganya, ketimbang kalkulasi bisnis yang murni."
Bisik-bisik langsung menjalar di antara beberapa pemegang saham konservatif. Kata 'kehilangan fokus' adalah momok menakutkan bagi para pemilik modal.
"Arsen benar," sahut salah satu komisaris senior, pria paruh baya yang selama ini dikenal vokal. "Alvaro, Maheswara Group dibangun di atas fondasi logika yang dingin. Jika konsentrasimu terpecah oleh urusan domestik dan eksposur media yang negatif seperti kemarin, kami berhak mempertanyakan efektivitas keputusanmu untuk proyek besar ke depan."
Mendengar hal itu, Alyssa mengepalkan tangannya di bawah meja. Sifat cerdasnya langsung membaca arah permainan Arsen; pria itu sedang memanfaatkan sisa-sisa badai gosip kemarin untuk menanamkan keraguan di benak para pemegang saham, mencoba mengikis legitimasi mutlak yang selama ini dipegang oleh Alvaro.
Meskipun serangan ini belum sampai ke tahap membahayakan posisi Alvaro secara hukum, benih konflik dan ketidakpercayaan jelas mulai tumbuh di dalam ruang rapat tersebut. Retakan pertama dalam dinding pertahanan Maheswara Group baru saja dibuat oleh Arsen.
Di ujung meja, Arsen menyandarkan punggungnya ke kursi dengan gestur kemenangan yang halus. Ia menatap keponakannya yang masih membisu dengan senyum puas yang tersembunyi di balik cangkir kopinya. Langkah pertamanya untuk menggoyang takhta sang predator telah berjalan persis sesuai dengan rencana busuknya.
...****************...
Keheningan mencekam kembali menguasai ruangan seiring dengan bisik-bisik para pemegang saham yang kian merayap. Arsen semakin melebarkan senyum tipisnya, merasa berhasil menancapkan duri di dalam forum tertinggi itu.
Namun, ketenangan Alvaro sama sekali tidak terusik. Pria 28 tahun itu perlahan menutup berkas fisik di hadapannya dengan satu ketukan pelan yang entah mengapa sanggup membungkam seluruh suara di dalam ruangan. Tatapan elangnya yang tajam beralih, menatap lurus ke arah pamannya.
"Kehilangan fokus, Paman Arsen?" suara bariton Alvaro terdengar rendah, namun bergaung penuh intimidasi yang mematikan. "Jika yang kau maksud dengan kehilangan fokus adalah keberhasilan Maheswara Group mengamankan hak eksklusif infrastruktur digital untuk lima bank terbesar di negeri ini dalam waktu kurang dari dua belas jam setelah gala semalam, maka kurasa kita memiliki definisi yang berbeda tentang arti kata fokus."
Alvaro memberikan isyarat mata kepada Xavier yang berdiri di sudut ruangan. Dengan sigap, Xavier menekan tombol kendali, mengubah tampilan layar proyektor utama di belakang Alvaro.
Seketika itu juga, data grafik pertumbuhan saham Maheswara Group yang melonjak naik sebesar 4,8% sejak lantai bursa dibuka pagi ini terpampang nyata. Di sampingnya, terdapat dokumen hitam di atas putih mengenai nota kesepahaman proyek siber baru yang dipimpin oleh Alyssa, lengkap dengan tanda tangan para petinggi BUMN yang semalam hadir di gala.
"Kalkulasi bisnisku tidak pernah didasarkan pada sentimen emosional," lanjut Alvaro, setiap katanya menuntut ketegasan yang tak terbantahkan. Ia menegakkan punggungnya, memancarkan aura dominan seorang pemimpin dinasti. "Gosip di luar sana hanyalah bumbu bagi publik yang lapar skandal. Namun di dalam ruangan ini, yang berlaku adalah angka dan profit. Dan seperti yang Anda semua lihat, Nyonya Alyssa Maheswara baru saja membawa profit triliunan ke dalam kas perusahaan kita sebelum jam makan siang dimulai."
Para pemegang saham yang tadi sempat termakan provokasi Arsen seketika terdiam. Mereka saling berpandangan, lalu mengangguk-angguk kagum melihat pergerakan taktis Alvaro dan Alyssa yang begitu cepat membungkam rumor dengan pencapaian nyata. Komisaris senior yang tadi sempat menyudutkan Alvaro kini berdeham kikuk, mencoba memperbaiki sikapnya.
Alyssa melirik ke ujung meja, mendapati senyum puas di wajah Arsen kini telah lenyap sepenuhnya, digantikan oleh rahang yang mengeras dan tatapan mata yang berkilat gusar. Langkah pertama Arsen mungkin berhasil membuat retakan kecil pada kepercayaan dewan, namun Alvaro baru saja menunjukkan mengapa ia disebut sebagai predator tertinggi di Maheswara Group. Pria itu tidak akan membiarkan siapa pun, termasuk pamannya sendiri, merusak apa yang sudah menjadi miliknya.
...****************...
Alyssa tidak ingin menyia-nyiakan momentum yang sudah dibangun oleh suaminya. Sifat taktis dan kecerdasannya langsung menuntunnya untuk mengambil alih kendali pembicaraan sebelum Arsen sempat menyusun pembelaan diri.
Ia menegakkan posisi duduknya, lalu menyalakan mikrofon di hadapannya. Suaranya yang jernih dan penuh percaya diri langsung menggema di seluruh ruang rapat.
"Menambahkan apa yang baru saja disampaikan oleh Tuan Alvaro," ujar Alyssa tenang, matanya menatap lurus ke arah para pemegang saham tanpa ada keraguan sedikit pun. "Proyek siber Pradipta yang kini berada di bawah bendera Maheswara Group bukan sekadar tameng atau pengalihan isu. Ini adalah langkah ekspansi digital terbesar yang pernah diambil korporasi ini. Jika ada di antara Anda sekalian yang merasa terganggu oleh berita di media hiburan, saya sarankan untuk lebih fokus membaca halaman bisnis. Karena di sanalah nilai investasi Anda sedang digandakan."
Jawaban telak dari Alyssa membuat beberapa komisaris tersenyum kagum. Mereka tidak menyangka bahwa wanita yang selama ini diisukan hanya sebagai pemanis kontrak ternyata memiliki taji yang begitu tajam di ruang sidang.
Arsen mengepalkan tangannya di bawah meja, menyembunyikan amarahnya yang mulai menyala. Rencana matangnya untuk mempermalukan Alvaro dan membuat posisi Alyssa goyah justru berbalik menjadi panggung pembuktian bagi keduanya. Kehadiran Alyssa di samping Alvaro ternyata tidak membuat sang predator melemah, melainkan membuat cengkeramannya pada takhta Maheswara Group menjadi semakin kokoh.
"Rapat hari ini selesai," pungkas Alvaro dingin, berdiri dari kursi kebesarannya tanpa memberikan kesempatan bagi Arsen untuk membalas. "Xavier, pastikan laporan keuangan triwulan ini dikirim ke meja komite audit sore ini juga."
Satu per satu pemegang saham mulai meninggalkan ruangan, menyisakan Alvaro, Alyssa, dan Arsen yang masih terpaku di kursinya. Sebelum melangkah keluar, Alvaro menyempatkan diri berhenti di dekat kursi pamannya. Ia menunduk sedikit, membisikkan kalimat yang hanya bisa didengar oleh mereka bertiga.
"Ini baru permulaan, Paman," bisik Alvaro dengan nada rendah yang sangat mengintimidasi. "Setiap retakan yang coba kau buat di dindingku, akan kupastikan runtuh dan menimbun dirimu sendiri."
Dengan langkah anggun dan tegas, Alvaro menuntun Alyssa keluar dari ruang rapat, meninggalkan Arsen yang hanya bisa menatap punggung mereka dengan kedengkian yang semakin mendalam. Retakan pertama mungkin gagal menghancurkan mereka, namun perang dingin di dalam dinasti Maheswara kini telah resmi memasuki babak yang jauh lebih berbahaya.
...****************...
Begitu pintu kaca tebal ruang rapat menutup otomatis di belakang mereka, suasana koridor lantai empat puluh yang sepi terasa sedikit melegakan. Alyssa melepaskan napas panjang yang sejak tadi ditahannya, sementara langkah Alvaro di sampingnya perlahan melambat, menyesuaikan dengan ritme langkah sang istri.
"Kau luar biasa di dalam tadi, Alyssa," ucap Alvaro tanpa menoleh, namun nada suaranya telah kembali melunak, kehilangan seluruh kebiasaan diktatornya yang baru saja ia tunjukkan pada Arsen.
Alyssa tersenyum tipis, menatap lurus ke koridor marmer di depan mereka. "Saya hanya tidak suka melihat seseorang mencoba merusak papan permainan yang sudah kita susun dengan susah payah. Arsen terlalu meremehkan kita."
"Dia tidak hanya meremehkan aliansi ini, dia meremehkanmu," balas Alvaro tegas. Pria itu menghentikan langkahnya tepat di depan lift khusus eksekutif, membalikkan tubuhnya menghadap Alyssa. "Dan itu adalah kesalahan terbesar yang pernah ia buat."
Tatapan elang Alvaro kembali mengunci manik mata Alyssa, namun kali ini bukan dengan intimidasi, melainkan dengan rasa hormat dan pengakuan yang teramat dalam. Di dalam ruang rapat yang kejam tadi, Alyssa tidak berdiri di belakangnya sebagai wanita yang rapuh; wanita itu berdiri di sampingnya, menyerang balik dengan kecerdasan yang setara.
"Retakan yang coba dibuat Arsen hari ini memang gagal," Alyssa mengingatkan, sifat taktisnya kembali berbicara saat mereka melangkah masuk ke dalam lift yang kosong. "Tapi dia tidak akan berhenti di sini, Alvaro. Dia sudah menanamkan benih keraguan pada dewan komisaris senior. Ke depan, setiap keputusan yang kau ambil akan diawasi dengan jauh lebih ketat."
"Biarkan saja mereka mengawasiku," sahut Alvaro dingin sembari menekan tombol lantai dasar. Pintu lift menutup, membawa mereka turun dengan kecepatan tinggi. "Selama kau berada di sampingku untuk mengendalikan proyek ini, tidak ada satu pun celah yang bisa mereka gunakan untuk menjatuhkan kita."
Di dalam ruang lift yang bergerak turun dalam keheningan, tangan Alvaro perlahan bergerak, menepis jarak yang tersisa di antara mereka hingga jemarinya menyentuh punggung tangan Alyssa sekilas. Sebuah sentuhan singkat yang tidak tertulis dalam pasal kontrak mana pun, namun menjadi penanda kuat bahwa perang dinasti yang baru saja dimulai ini tidak akan mereka hadapi sebagai rekan bisnis yang asing, melainkan sebagai satu kesatuan yang tak terpisahkan.