Novel ini adalah sekuel dari Novel My Secret Agent yang mengisahkan tentang Fey dan Gian.
Novel The Best Sniper, akan membahas mengenai Ryuga, putra pertama Fey dan Gian yang mengikuti jejak sang Ibunda yang berkarier di dunia Agen Rahasia.
Tak hanya membahas tentang karier cemerlang dari Ryuga, namun juga akan membahas perjalanan cinta dari si Pemimpin Pasukan Agen Rahasia.
Selain tokoh Ryuga, Author juga akan membahas tentang dua tokoh lain yaitu adik kandung Ryuga dan juga sahabat - sahabat yang kocak dan tengil. Mereka tentu akan ikut mewarnai kisah hidup Ryuga.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fernanda Syafira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
30. Kedinginan
Tak langsung menuju ke Apartemennya. Ryu mampir ke sebuah Hotel yang sengaja ia sewa hanya untuk membersihkan diri. Ia juga membuang semua pakaiannya yang berlumuran darah.
Di bawah pancuran air hangat, Ryu memejamkan mata. Bayangan tentang pembunuhan yang ia lakukan tadi, berkelebat di benaknya.
Yang ia takutkan bukanlah karena membunuh, karena ia sudah cukup terbiasa dengan hal itu. Namun, ia takut jika Gladys mengetahui sisi kejamnya dan membuat wanita itu menjauh darinya.
Ryu menghela nafas. Ia memakai sabun sebanyak mungkin untuk menghilangkan bau darah dari tubuhnya. Setelah selesai membersihkan diri, ia segera kembali menuju ke Apartemennya.
Begitu masuk, ia mendapati Gladys yang ketiduran di kursi. Sepertinya, Gladys menunggunya pulang sampai - sampai tertidur di kursi.
"Dys..." Ryu mengusap kepala Gladys yang masih terasa panas.
"Abang kapan sampe?" Tanya Gladys saat membuka mata.
"Belum lama." Jawab Ryu.
"Abang udah mandi?" Tanya Gladys yang menghidu aroma sabun dari tubuh suaminya.
"Iya. Tadi ketumpahan kopi." Dusta Ryu.
"Kok aku gak denger Abang mandi?" Tanya Gladys dengan wajah polosnya.
"Kamu terlalu nyenyak tidurnya." Jawab Ryu.
"Kita ke Rumah Sakit, ya?" Ajak Ryu.
"Aku udah baik - baik aja." Jawab Gladys.
"Baik apanya? Badan kamu aja masih demam, Dys." Kata Ryu.
"Istirahat aja, nanti juga sembuh kok. Lagian kan udah minum obat." Ujar Gladys yang hanya di jawab helaan nafas oleh Ryu.
"Yaudah, ayo istirahat." Ajak Ryu.
Mereka pun masuk ke dalam kamar dan beristirahat. Keduanya tidur di ranjang yang sama, berada di bawah selimut yang sama, namun selama tujuh hari ini, tak ada interaksi lebih di antara keduanya.
Saat sedang tertidur dengan pulas, Ryu merasa seperti ada sesuatu yang begitu hangat mendekapnya. Ia segera membuka mata dan melihat Gladys yang memeluknya dengan tubuh menggigil.
"Dys... Dys..." Ryu mencoba membangunkan Gladys, namun Gladys seolah enggan membuka mata. Tubuhnya masih terus menggigil kedinginan sambil memeluk erat Ryu.
Tak lagi membangunkan, Ryu kemudian membuka bajunya dan memeluk erat tubuh Gladys untuk membantu menghangatkan. Ia juga menarik selimut tebal yang mereka pakai dan membalut tubuhnya dan tubuh Gladys agar semakin hangat.
Setelah hampir tiga puluh menit, akhirnya Gladys berhenti menggigil. Kini ia tampak tidur dengan tenang. Sementara itu, Ryu yang masih terjaga, menatap wajah Gladys yang hanya berjarak beberapa centi dari wajahnya.
Tentu saja, Ryu adalah pria normal yang memiliki hasrat pada wanita dalam pelukannya. Namun, ia terus menahannya agar Gladys terus merasa nyaman di sampingnya.
Tentu, ia ingin membuat Gladys merasa nyaman dan aman. Meskipun sudah berstatus sebagai suami - istri, ia tak ingin meminta hak nya tanpa persetujuan dari Gladys.
Ryu merapikan rambut Gladys yang menutupi wajah cantiknya, supaya Ryu bisa leluasa memandangi wajah cantik istrinya itu. Ia tersenyum kala melihat wajah Gladys.
"Tidur gini aja masih cantik banget." Lirih Ryu.
Cup!
Tanpa sadar, ia mengecup dahi Gladys yang masih tertidur dalam pelukannya.
"Astaga! Sorry, Dys." Lirih Ryu yang berbicara pada Gladys. Padahal Gladys masih nyenyak tidur sambil memeluknya.
Ryu kemudian memejamkan mata karena rasa kantuk yang kembali menyerangnya. Ia dan Gladys pun tertidur dengan kondisi saling berpelukan.
Saat alarm berbunyi, Gladys meraba - raba sekitarnya dengan mata masih terpejam untuk menghentikan suara Alarm. Namun ia merasa bingung saat meraba benda yang terasa seperti otot berbentuk kotak - kotak.
"Stop, Dys! Nanti kamu bisa menyentuh yang lain." Lirih Ryu dengan suara serak khas orang bangun tidur sambil menahan tangan Gladys.
Mendengar itu, Gladys langsung membuka mata dan menyadari jika ia sedang memeluk Ryu yang bertelanjang dada.
"Astaga, Abaaangg!" Teriak Gladys sambil menarik tubuhnya beserta selimut yang membalut tubuh mereka.
Gladys kemudian memeriksa tubuhnya di balik selimut. Ia melihat tubuhnya yang masih berpakaian lengkap dan juga Ryu yang masih memakai celana panjang.
"Jangan pikir macam - macam, Dys. Semalam kamu menggigil kedinginan dan kamu yang peluk Abang." Kata Ryu sembari memakai kembali bajunya.
"Terus, kenapa Abang gak pake baju? Semalam kan Abang pake baju." Cicit Gladys.
"Sengaja, biar bisa menghangatkan kamu. Harusnya kamu juga lepas baju sih, biar metode skin to skin itu bekerja dengan baik." Kata Ryu yang justru menggoda Gladys hingga membuat wajah Gladys memerah.
"Gimana, demam mu udah turun kan?" Tanya Ryu sembari menyentuh kening Gladys.
Gladys pun mengangguk. Kepalanya terasa sedikit berat, namun demamnya sudah turun dan ia merasa tubuhnya lebih baik sekarang.
"Kalo semalam kita skin to skin, pasti kamu udah gak demam sekarang." Ujar Ryu yang kembali menggoda Gladys.
"Abang!" Tegur Gladys sambil memelototi Ryu yang justru tertawa melihat ekspresi Gladys.
"Makasih ya, Bang." Lirih Gladys kemudian. Meskipun merasa malu, namun ia bersyukur karena Ryu mau membantunya.
"Gak usah sungkan, kalo mau skin to skin lagi, Abang gak keberatan." Seloroh Ryu sambil tertawa.
"Stop, Abang!" Kata Gladys sambil menutup seluruh tubuhnya dengan selimut.
"Dys, Aku lapar." Keluh Ryu yang juga kembali bergelung di dalam selimut.
Ia sudah memberi taukan kondisi Gladys dan mengenai penyerangan itu pada tiga atasannya meskipun ia tak memberi tau siapa yang menyerang dan alasan penyerangan itu.
Ryu hanya bilang jika penyerangan itu di lakukan oleh preman biasa yang murni ingin menggoda Gladys yang kebetulan keluar sendirian malam itu. Ryu pun meminta izin cuti satu hari untuk memulihkan kondisi Gladys pada tiga atasannya.
"Abang mau makan apa? Aku cuma punya ayam yang sudah di marinasi. Tinggal goreng aja." Kata Gladys.
"Tinggal goreng?" Tanya Ryu yang di jawab anggukan oleh Gladys.
"Biar Abang aja yang goreng, kalau gitu." Kata Ryu.
"Emang bisa?" Tanya Gladys.
"Gampang, cuma goreng aja." Jawab Ryu yang kemudian bangun dan langsung menuju ke dapur.
Sementara Ryu di dapur, Gladys sedang menerima panggilan dari Ibu mertuanya yang menanyakan kondisinya. Namun, Gladys meminta izin untuk menghentikan panggilan itu, karena mendengar kegaduhan di dapur.
"Astaga, Abang!" Seru Gladys yang kemudian tertawa terbahak - bahak.
Ia melihat Ryu menggoreng Ayam dengan menggunakan mantel, sarung tangan, syal, masker juga kaca mata.
"Abang ngapain?" Tanya Gladys yang kemudian mengecilkan api kompor.
"Muncrat - muncrat minyak panasnya, Dys." Jawab Ryu.
"Ya gimana gak muncrat, apinya terlalu besar." Kata Gladys.
"Udah sini, aku aja." Gladys kemudian mengambil alih dapur dari Ryu.
Setelah meletakkan kembali kostumnya, Ryu kemudian duduk di kursi meja makan yang berada di dapur. Ia memperhatikan Gladys yang begitu cekatan menyiapkan sarapan sekaligus makan siang untuk mereka.
"Makasih ya, Dys." Ucap Ryu sambil cengar - cengir saat Gladys meletakkan piring berisi makanan untuknya.
"Sama - sama. Lain kali jangan berani - berani menyentuh dapurku ya, Bang. Dapurku jadi kayak kapal pecah." Cicit Gladys.
"Yes Ma'am." Jawab Ryu sambil hormat ke arah Gladys. Pada akhirnya, mereka berdua pun terkekeh bersama.
🤣🤣🤣🤣🤣🤣
kan lebih besar dan lebar 🤣🤣🤣🤣
manisss bgttt tanpa kepura² an....
love you author ku sayang🩷🩷🩷
Jangan per bopoan aja
tp nanti klo Gladys n Ryu dah dalam tahap bucin... lebih seruuuuuu lagi pastinyaaa..
gak sabar mereka bucin🤣
eehhhh skrg dibikinin cerita ttg anak²nya
thanks bgttt ya author tersayang ku🩷🩷🩷