Kisah cinta rumit si gadis culun yang berusaha mengambil hati seorang direktur tampan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon V Lestari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
GOSIP
Gosip menyebar dengan cepat di kalangan karyawan. Gosip yang mengatakan bahwa direktur muda mereka tengah bermesraan dengan seorang office girl di dalam elevator.
Namun, gosip miring itu sama sekali tidak mempersalahkan Gilang, justru Pelangi-lah yang menjadi bulan-bulanan para karyawan kantor. Sudah ada pulahan gelar yang disematkan untuk Pelangi dari sekumpulan wanita yang patah hati dan kesal.
"Dia itu memang penggoda. Apa kalian tidak tahu, kalau orangtua si babu itu tuh pela-cur!" ujar salah seorang karyawan bagian HRD yang saat itu sedang berada di lobi. Kebetulan juga Pelangi ada di tempat yang sama, sedang mengepel lantai seperti biasanya.
"Ooh, jadi orangtuanya dia itu pela-cur. Aku jadi tidak terlalu terkejut kalau akhirnya anaknya pun murahan. Tidak tahu malu, sekelas direktur saja dia goda," sahut salah seorang lagi.
"Ya, begitulah, mungkin dia membuka beberapa kancing bajunya saat Pak Gilang masuk ke elevator."
Suara tawa yang mengejek kemudian terdengar, membuat telinga Pelangi sakit dan hatinya juga perih. Baginya, ia memang hina, begitu juga dengan ibunya. Akan tetapi, ucapan dari sekumpulan wanita itu tidak dapat dibenarkan. Ia tidak murahan dan tidak menggoda Gilang di dalam elevator tadi. Gilang-lah yang bertingkah aneh. Bukan dirinya!
"Pak Gilang itu bermartabat. Belum pernah ada gosip miring yang terdengar tentang dia!" teriak seorang wanita lagi, yang Pelangi tahu bernama Yolanda, karena wanita itu sering memerintah Pelangi membeli kopi dingin saat sedang sibuk dengan pekerjaan.
"Heh, kamu, Pela-cur! Jangan kotori kantor kami ini dengan tingkah kotormu! Karyawan di sini banyak yang sudah beristri. Jangan gatal!" teriak Yolanda lagi, yang disambut oleh gelak tawa rekan-rekannya.
Pelangi yang sudah tidak tahan dengan semua hinaan itu memutuskan untuk beranjak dari sana, biar nanti Amara yang meneruskan pekerjaannya.
Pelangi berbalik dan berjalan dengan cepat sambil menyeret alat pel di tangannya. Lebih baik menghindar, daripada terus merasa sakit hati.
Buk!
"Aah!" Karena tidak memperhatikan keadaan di sekitarnya, Pelangi tanpa sengaja menabrak tubuh seseorang. Kakinya bahkan kehilangan pijakan, sehingga ia hampir terjatuh. Namun, tangan seseorang yang ia tabrak, dengan cepat menarik lengannya dan menahan tubuhnya agar tidak terjatuh.
Pelangi mendongak untuk melihat siapa yang telah membantunya. Ternyata Andrew.
"Hati-hati," ucap Andrew.
"Trims."
Andrew menunduk untuk mengambil alat pel yang Pelangi jatuhkan, kemudian memanggil salah seorang office boy yang berdiri tidak jauh dari tempatnya berdiri.
Office boy itu berlari kecil menghampiri Andrew. "Ya, Pak," ucap si Office boy, sambil membungkuk hormat. Andrew menang salah satu orang penting di kantor, yang dihormati sama seperti Gilang.
"Ambil ini." Andrew memberikan alat pel serta kain lap yang masih berada di tangan Pelangi kepada Office Boy itu.
"Tidak usah, biar aku saja--"
"Sudahlah, jangan membantah." Andrew kemudian menarik pergelangan tangan Pelangi dan menuntunnya menuju elevator.
Sikap Andrew yang seperti itu tentu saja membuat karyawan wanita yang melihat segera memasang tampang jelek. Siapa yang tidak kesal, jika dua pria paling tampan di kantor tiba-tiba saja manaruh perhatian pada Pelangi, si babu!
Sesampainya di ruangan Andrew, Pelangi segera melepaskan pergelangan tangannya dari cekalan Andrew. "Ada apa?" tanya Pelangi.
"Tidak ada. Aku hanya ingin membawamu pergi dari sana. Sepertinya kamu sedang diserang tadi." Andrew menjawab sambil berjalan menuju sofa, kemudian duduk di atasnya dengan nyaman.
Pelangi mengikuti langkah Andrew dan ikut duduk di sofa. "Mereka mengata-ngataiku."
"Bisa ditebak. Pasti gara-gara Gilang, 'kan? Gilang itu punya banyak penggemar, wajar saja kalau akhirnya kamu diserang."
"Anda juga sepertinya memiliki banyak penggemar, Pak, banyak yang menatapku dengan sinis tadi."
Andrew tersenyum ke arah Pelangi, senyum yang benar-benar manis. "Mereka hanya cemburu karena aku memperhatikanmu. Sebelumnya aku tidak pernah memperhatikan siapa pun."
"Oh, ya, kenapa? Apa Anda sudah memiliki kekasih. Biasanya pria setia jika sudah memiliki kekasih, maka akan bersikap jutek ke wanita lain."
"Tidak, aku tidak punya kekasih. Menurutku wanita itu sangat merepotkan, lebih baik menghindar daripada harus menjalin hubungan yang memusingkan."
"Oh, jadi Anda penyuka sesama jenis?" Pelangi menyipitkan mata saat mengatakannya, seolah sedang menilai apakah Andrew normal atau tidak.
Andrew tertawa terbahak-bahak mendengar pertanyaan dari Pelangi. "Apa aku terlihat tidak normal?"
"Tidak juga, sih. Anda itu terlihat sangat normal, gagah, tinggi, memesona dan rich!"
"Baguslah, itu berarti aku mampu bersaing dengan Pak Gilang, 'kan?"
Pelangi mengangguk. "Tentu saja. Semangatlah mencari jodoh."
Andrew merubah posisi duduknya, menopang dagu dengan tangan lalu menatap Pelangi lekat-lekat. "Ngomong-ngomong masalah jodoh, bagaimana kemajuan hubunganmu dengan Gilang, apa dia masih bersikap kasar padamu?"
"Tidak ada kemajuan." Pelangi menghela napas. "Dia masih marah-marah padaku hingga kemarin malam. Baru tadi pagi saat berada di dalam lift, dia sedikit ramah padaku. Gisel juga kemari datang, dan dia menghajarku habis-habisan."
"Aku tahu semua ini pasti tidak mudah. Tapi, karena gosip sudah menyebar, belum lagi pihak RT di daerah tempat tinggalmu sudah tahu apa yang telah terjadi, dapat dipastikan kalian pasti akan menikah."
Pelangi menjadi gugup. Ia melempar tatapan ke seluruh ruangan, karena tidak tahu harus menanggapi seperti apa pernyataan Andrew.
"Mungkin Gisel tidak akan tinggal diam. Tapi, aku yakin Pak Farhan tahu apa yang harus dilakukannya."
"Ngomong-ngomong, apa yang direncanakan Pak Farhan setelah ini?" tanya Pelangi.
"Tentu dia sudah merencanakan semuanya dengan matang. Kalian akan menikah minggu depan."
"Whaaat!!"
***
Gisel membanting semua barang yang ada di kamarnya. Mulai dari pakaian, tas, hingga perlengkapan make up. Botol-botol parfum bahkan pecah dan berhamburan di lantai.
Gisel sedang merasa kesal saat ini. Bayangan Gilang yang berbaring di atas tubuh Pelangi terus-menerus muncul di dalam kepalanya. Bukan, dirinya bukanlah cemburu. Ia meyakini dirinya sendiri bahwa ia tidak cemburu, ia hanya merasa kesal karena Gilang menaruh perhatian pada wanita lain.
Walaupun Gilang berkata bahwa dirinya tidak memiliki hubungan atau perasaan apa pun pada Pelangi, tetapi tetap saja Gilang ingin menikahi gadis itu demi kesopanan dan agar nama baik gadis itu tetap terjaga. Siapa yang tidak kesal, coba?
"Apa yang terjadi? Astagaaa, Sel!" Alex memasuki kamar Gisel, dan sangat terkejut mendapati kamar wanitanya itu berantakan.
Gisel yang sejak tadi terduduk di tepi ranjang, seketika bangkit berdiri dan memeluk Alex. "Aku bukan satu-satunya, Lex. Aku sungguh bukan satu-satunya!" seru Gisel, sambil terisak di dalam pelukan Alex.
Alex mengernyitkan dahi. "Apa maksudmu, Sayang. Aku tidak mengerti."
Gisel mendongak, memandang wajah tampan Alex yang terlihat kebingungan. "Dia akan menikahi wanita lain selain diriku. Dia akan memiliki dua istri!"
"Siapa? Gilang?"
Gisel mengangguk. "Iya."
Alex tertawa terbahak-bahak. "What the ... mana mungkin, Sel, aku tahu dia itu cinta mati sama kamu. Lagi pula dia itu bukan tipe pria Playboy."
"Iya memang, tapi dia memang akan menikahi wanita lain. Gadis yang saat itu menamparku di hotel, dialah yang akan dinikahi Gilang!"
"But, why? Apa yang terjadi?"
Gisel menggeleng. "Aku tidak tahu sejak kapan mereka saling kenal, tetapi menurut cerita Gilang, beberapa malam yang lalu Gilang tertidur di ranjang gadis itu saat Gilang tengah berada si rumahnya. Dan paginya, ada beberapa warga yang melihat Gilang di sana. Mau tidak mau Gilang harus menikahi gadis itu demi kehormatan gadis itu."
"Begitu. Aku sempat melihat gadis itu sekilas saat di hotel. Dia memang cantik, tubuhnya mungil dan wajahnya itu sungguh cantik natural dan ... Aaaw!" Gisel mendaratkan cubitan di pinggang Alex.
"Kelewatan! Bisa-bisanya kamu mendeskripsikan kecantikan gadis itu di depan wajahku!"
"Giseeel sayang, ayolah, jangan marah. Aku hanya mengatakan bahwa dia cantik, bukannya berarti aku ingin menyentuhnya. Hanya kamu yang ingin kusentuh setiap saat!" Alex megarahkan tangannya ke bagian belakang tubuh Gisel, turun perlahan hingga ke bo-kong, lalu meremasnya.
Gisel merintih, kemudian mendorong tubuh kekar Alex ke atas ranjang. Ia butuh pelepasan amarah saat ini juga, dan bergelut dengan Alex adalah pelepasan terbaik yang bisa ia lakukan.
Bersambung ....
dan ending yang menyedihkan untuk Gisel and the Genk..
btw..
soal visualnya mereka ,aku liat² wajah mereka pada serupa yaa sama para pasangan nya..
jangan ² mereka beneran jodoh di dunia nyata 🖤🖤
rasa nya kok sedih yaa..
Selamat ber bahagia Gilang pelangi dan semua nya🤗🖤
gemes sama Toni ..
satu demi satu
kebahagiaan mu akan trcapai
terlebih Gilang harapan saya kpd outhor smoga Gilang sembuh seperti sedia kala
supaya pelangi semakin bahagia 🙏❤️