Kamila yang terpuruk setelah kepergian cinta pertamanya Randi, akhirnya bisa membuka hatinya untuk Anton. Namun saat Kamila benar-benar mencintai Anton, ternyata ada perbedaan besar diantara mereka berdua. Meskipun pada akhirnya mereka berdua menikah, namun keluarga Anton tidak pernah menyetujui pernikahan itu, hingga akhirnya Anton dan Kamila bercerai karena fitnah yang ditujukan padanya.
Ketika Kamila sudah memiliki kehidupan baru, datanglah Randi. Kamila yang masih mencintai Randi dengan mudahnya terbujuk hingga masuk ke dalam perangkapnya, dia dicampakkan oleh Randi dan diusir dari rumah, bahkan Kamila juga menjadi penyebab ibunya meninggal.
Saat diusir dari rumah Kamila diculik dan diperkosa oleh Randi, saat itulah Kamila baru mengetahui siapa Randi sebenarnya. Bagaimana nasib Kamila selanjutnya, pada siapa dia memberikan anaknya dan pada siapa akhirnya cintanya berlabuh?
Jangan pernah lewatkan kisah Kamila pada tiap babnya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Weny Hida, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Orang Tua Bayiku
Karena begitu penasaran, ketika Bu Sugeng mematikan telepon aku segera bertanya padanya."Bu Sugeng kenapa? Siapa yang telepon Bu? Kenapa terlihat panik?"
"Itu tadi Bapak yang telepon, Ibu cuma kaget saja, Pak Arif dan Bu Winda minta ibu berhenti berjualan dulu dan fokus merawat Nak Mila sampai melahirkan."
"Aduh maaf ya Bu Sugeng jadi merepotkan, Bu Sugeng tetap jualan saja, saya bisa merawat diri saya sendiri kok, kalau Ibu berhenti jualan, nanti Ibu dapat uang darimana?"
"Sudah nak Mila tenang saja, ibu gapapa kok tadi cuma kaget Bapak ngasih tau mendadak, Ibu juga lebih seneng kalo suruh ngurusi Nak Mila soalnya Pak Arif dan Bu Winda juga kasih Ibu bayaran yang besar." katanya sambil tersipu malu.
Aku hanya tersenyum mendengarnya, sebenarnya hatiku dipenuhi tanda tanya, mengapa mereka begitu baik padaku? Berbagai kecurigaan muncul dalam benakku, tapi rasa curiga itu berusaha kutepis. Aku mencoba berfikir positif dan tidak banyak berfikir berat demi kesehatan bayi dalam kandunganku.
Sudah dua minggu, aku berada di rumah sakit. Tubuhku sudah jauh lebih baik, perut ku juga tidak pernah lagi kontraksi, aku sudah diperbolehkan pulang. Namun aku tetap harus mendapat pendampingan dari psikolog sampai aku benar-benar sembuh dari trauma. Selama di rumah sakit, tiga hari sekali seorang psikolog datang memberikan terapi untukku.
Aku memang tidak meminta pendampingan, namun tiba-tiba ada psikolog yang datang, dan dia mengatakan mendapat perintah dari Pak Arif. Aku hanya menurut saja, toh aku memang membutuhkannya untuk menyembuhkan semua rasa traumaku.
Aku semakin penasaran dengan mereka berdua, siapa sebenarnya Pak Arif kenapa dia begitu baik padaku. Aku belum diperbolehkan berjalan terlalu jauh sehingga saat keluar dari rumah sakit aku menggunakan kursi roda, Bu Sugeng yang mendorongku dan kulihat Pak Sugeng sudah menunggu kami di depan pintu keluar rumah sakit.
"Mari Nak Mila ikut bapak." aku dan Bu Sugeng lalu mengikutinya masuk ke sebuah mobil. Aku pikir Pak Sugeng memesan taksi online untuk membawaku pulang. Tapi ternyata dugaanku salah, bukannya pulang menuju rumah Pak Sugeng tetapi setelah kuamati kami menuju sebuah jalan raya antar kota.
"Maaf Pak Sugeng, sebenarnya kita mau kemana? kenapa kita seperti mau pergi ke luar kota?"
"Iya nak Mila, kita mau ke Madiun ke rumah Pak Arif dan Bu Winda."
"Loh kok Madiun pak? Mila pikir rumah mereka di Banyuwangi?"
"Ya memang mereka memiliki rumah di Banyuwangi tapi itu hanya sebagai rumah persinggahan saat mereka mengurus bisnisnya di sana, sudah nak Mila istirahat saja perjalanan masih jauh."
Aku hanya bisa mengangguk, dan kemudian tertidur. Setelah melewati perjalanan selama kurang lebih enam jam kami lalu sampai di sebuah rumah mewah bergaya Victorian dengan halaman rumah yang begitu luas. "Apa kita sudah sampai pak?"
"Ya Nak Mila ini rumah Pak Arif dan Bu Winda, mari kita masuk, mereka sudah menunggu kita."
Kami lalu turun dari mobil dan melangkah masuk ke dalam rumah itu. Baru masuk ke dalam ruang tamunya aku sudah berdecak kagum, begitu banyak barang-barang mewah yang menghiasi rumah ini.
Tak berapa lama Pak Arif dan Bu Winda keluar dari dalam kamar dan menyalami kami satu per satu. Usia mereka sepertinya sudah memasuki 40 tahun tapi Bu Winda masih tampak begitu cantik dan muda, wajahnya sungguh begitu terawat, dia tampak begitu anggun mengenakan gamis bermotif bunga warna pastel dengan warna hijab yang senada.
"Pak Arif, Bu Winda ini yang namanya Kamila, yang saya ceritakan."
Mereka lalu mengangguk dan tersenyum menatapku.
"Gimana Kamila? Kamu sudah sehat? Kondisi bayi kamu bagaimana?"
"Alhamdulillah sudah sehat Pak, Bu terimakasih atas kebaikan Bapak dan Ibu, maaf untuk saat ini saya belum bisa membalasnya."
"Ya Mila sebagai sesama, kita harus saling menolong, itu tidak usah dipikirkan yang penting kamu sehat."
"Iya Pak Bu, tapi Mila penasaran kenapa Bapak dan Ibu mau menolong Mila? Bahkan banyak memberikan fasilitas terbaik, meski kita belum pernah saling mengenal sebelumya?" kataku sambil menunduk.
Kulihat Pak Arif menarik nafas begitu dalam, Bu Winda lalu mengusap pundak suaminya, dan mengangguk.
"Saya minta maaf jika mengatakan ini terlalu cepat padamu Mila, sebenarnya kami ingin mengatakan saat kamu sudah sepenuhnya sehat."
"Tidak apa-apa Pak Arif, katakan saja, Mila sudah sehat."
"Begini Mila, kami sudah mendengar semua cerita tentangmu dari Pak Sugeng, serta tujuan awal kepergianmu ke rumah kakakmu untuk memberikan bayi dalam kandunganmu kepada seseorang. Mila, saya dan isteri saya sudah menikah selama 18 tahun tapi kami belum diberikan keturunan, jika kamu bersedia kami ingin kamu memberikan anakmu pada kami saja, kami berjanji akan merawat anak tersebut dengan sepenuh hati dan menyayanginya seperti anak kami sendiri, kami juga tetap akan memperbolehkanmu berjumpa padanya kapanpun kamu mau."
Aku begitu kaget mendengar perkataan dari Pak Arif, di satu sisi aku bahagia namun di sisi yang lain aku begitu sedih membayangkan perpisahan dengan anakku. Aku lalu tertunduk dan menangis. Aku terdiam cukup lama, ingin kuberkata namun rasanya lidah ini begitu kelu, hatiku juga terasa begitu sakit.
"Maaf Mila sudah membuatmu bersedih, tapi kami tidak memaksa, jika kamu tidak bersedia, itu tidak masalah bagi kami, sebaiknya kamu beristirahat terlebih dahulu dan berfikirlah masak-masak sampai kamu benar-benar memiliki jawaban."
Akhirnya kupaksakan diri untuk membuka mulutku, meski dada ini terasa begitu sesak.
"Tidak Pak, saya sudah memiliki jawaban, dan saya tidak memerlukan waktu untuk berfikir lagi, saya bersedia memberikan bayi dalam kandungan saya, saya yakin Bapak dan Ibu akan menjadi orang tua yang baik untuk anak saya."
Pak Arif dan Bu Winda begitu bahagia mendengar kata-kataku, mereka lalu berpelukan sambil menangis. Aku begitu terharu melihatnya, sungguh aku tak menyangka bisa membuat mereka begitu bahagia akan keputusanku. Lalu Bu Winda mendekat padaku dan memelukku, dia menangis dalam pelukanku. Rasanya seperti sudah tidak ada sekat lagi antara aku dengan dia.
"Terimakasih banyak Mila, terimakasih telah memberikan kami kebahagiaan, terimakasih telah memberikan kami suatu hal yang tak ternilai harganya, entah dengan cara apa kami bisa membalas kebaikanmu Mila."
"Ini sudah lebih dari cukup Bu Winda."
Tak berapa lama Pak Sugeng lalu pamit untuk pulang ke Banyuwangi. "Nak Mila bapak pulang dulu ya, ibu jaga Mila baik-baik sampai dia melahirkan ya."
"Kok cepet banget Pak, kenapa ga menginap dulu semalam?"
"Kalau Bapak pergi terlalu lama nanti tidak ada yang mengurus masjid dan Rahma."
"Oh ya sudah terimakasih banyak Pak Sugeng atas kebaikan yang pernah Bapak berikan, semoga Allah membalas semua kebaikan Bapak."
"Ya sudah Bapak hati-hati di jalan ya Pak, jaga Rahma baik-baik selama Ibu ga di rumah"
Pak Sugeng mengangguk lalu meninggalkan rumah ini setelah berpamitan dengan kami semua.
"Ya sudah sekarang kamu istirahat dulu saja Mila, itu kamarmu, Bu Sugeng yang akan merawatmu sampai kamu melahirkan, karena kami mungkin sering keluar kota, kami tidak mungkin tega meninggalkanmu sendirian, anggap saja seperti rumah sendiri." kata Pak Arif.
Aku lalu masuk ke kamar. Saat akan mulai berbaring tiba-tiba pintu kamar diketuk.
"Masuk!" kataku. Ternyata Bu Winda yang mengetuknya."Mila, Pak Sugeng kemarin bilang kalau ponselmu hilang, ini sudah saya belikan ponsel yang baru, kamu bisa menghubungi keluargamu Mila, kamu tinggal memakainya saja."
"Terimakasih banyak Bu." kataku, Bu Winda mengangguk lalu meninggalkanku dan menyuruhku beristirahat. Kulihat ponsel yang ada di tanganku, sebuah ponsel keluaran terbaru dengan harga yang sangat mahal tentunya. Aku lalu menyalakan ponsel tersebut. Karena aku tidak hafal nomer Mba Rani dan Mba Tari, aku lalu mencari nomor telepon mereka di sosial media milik mereka.
Setelah mencari beberapa menit, akhirnya aku menemukan nomor Mba Rani. Lalu kuhubungi Mba Rani, beberapa kali nadanya masih melakukan panggilan, saat kudengar suara Mba Rani, air mataku tak bisa lagi dibendung.
"Mbaaa Rani ini Mila Mba!" kataku sambil menangis sesegukan.
*kamila wanita bodoh dan munafik yang beruntung dicintai oleh anton sedangkan anton sama sekali tidak beruntung dapat kamila, ini buktinya
*kamila kamila wanita bodoh yang tidak mau memafkan anton tapi dia gampang memaafkan Rendy (Terima hasil kebodohanmu) randy yang jelas melakukan kesalahan gampang dian maafkan malah melakukn zinah tapi anton yang hanya karena salah paham (anton berfikir kamila selingkuh) tidak mau dimaafkan, kamila bodoh coba kau pikir anton salah paham padamu saja kau tidak mau memafkan apalagi anton sampai selingkuh pasti aku tidak mau memaafkan anton dan itu lah yang terjadi pada anton dia berfikir kau selingkuh jadi dia melakukan kesalahan yang tidak dia sadar sama sekali karena dia salah paham, mengerti kamila
* kamila beruntung dapat anton, anton menerima kamila dengan ikhlas setelah kamila mencampakanya dan menerima pria lain sampai berzina dan menghasilkan anak, anton berjuang untuk kamila, anton berkorban untuk kamila, anton tidak permasalahkan kesalahan kamila dan ikhlas menerima kamila tampa syarat
selebihnya cerita ini bener² diluar exspetasi saya karna diluar jangkauan pemikiran saya, ceritanya bener² bagus dan teratur. semangat thor berkarya nya💪💪💪💪
up lagi thoor😘😘