Ibu adalah orang yang paling bisa mengerti dan mengenal tentang kita. Tak ada cinta yang sekuat Cinta ibu. Kasih sayangnya begitu tulus sampai tak ada yang bisa menandinginya.
Novita adalah wanita paruh baya yang berstatus single parent, dia menghidupi kedua anak-anaknya seorang diri. Masalah dalam hidupnya datang silih berganti tak ada hentinya. Namun dia selalu berusaha sabar dan tegar untuk menghadapi semua masalah yang menimpanya. Baginya pengalaman adalah sebuah pelajaran berharga untuk dirinya.
Tapi hati ibu mana yang tak hancur ketika kedua anaknya berani untuk membenci ibunya sendiri. Akankah mereka sadar betapa besarnya kasih sayang yang tulus dari sang ibu? Bisakah Novita bertahan dan menyadarkan kedua anak-anaknya dengan cinta dan kasih sayang tanpa batas, walaupun di balas dengan kebencian?
Yuk berkelana dalam kisah hidup Novita bersama-sama😊
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon yessie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Arka
“Hallo Radit,”
“Iya Arka.”
“Bagaimana apakah surat panggilan kerjanya sudah sampai di rumah kamu?” Tanya Arka.
“Sudah, sudah. Baru tadi siang surat itu sampai.”
“Ha… Ha… Cepat sekali ya ternyata sampainya.”
“Iya,”
“Jadi, apa kamu sudah berkemas-kemas untuk ke sini?”
“Belum sih,”
“Tapi kamu jadi ke sini kan Dit?”
“Iya jadi sepertinya,”
“Kok gak yakin gitu sih jawabanmu Dit?”
“Hem? Em, maksud aku, aku jadi kok. Aku jadi akan bekerja di perusahaan pamanmu itu Arka.”
“Baguslah kalau begitu, sebenarnya maksud aku cuman ingin memastikan saja, dan ingin bertanya apakah surat itu sudah sampai di rumah kamu atau belum.”
“Sudah kok Arka, tenang saja. Besok aku pasti akan memberikan yang terbaik untuk perusahaan kamu nanti.”
“Baiklah aku percaya kamu. Kalau begitu, aku tunggu kedatangan kamu besok.”
“Siap Arka, tapi,”
“Tapi apa?"
“Em, tapi aku belum mencari tempat tinggal di sana.”
“Astaga Radit, bukan kah sudah aku katakan berulang-ulang kali pada mu. Untuk tidak usah mengkhawtirkan tempat tinggal. Tinggal lah bersama ku.”
“Iya, tapi kan Arka,”
“Hust! Sudahlah kamu tenang saja, aku tidak akan meminta uang bulanan padamu. Ha… Ha…” Gurau Arka.
“Baik lah Arka, sekali lagi terimakasih banyak atas bantuannya ya.”
“Iya sama-sama, pokoknya besok kalau kamu udah sampai sini kabarin aku saja. Nanti aku akan menjemputmu.”
“Kamu memang teman yang baik. "
“Ah, biasa saja. Ya sudah, aku tunggu kedatangan mu besok.”
“Baiklah Arka.”
Raditya kemudian menutup panggilan masuk itu. Ia lalu kembali masuk dan duduk di depan tv.
“Dari siapa kak?” Tanya Cantika.
“Ini dari teman kakak.”
“Cewek?”
“Bukan lah,”
“Owh,”
“Ini tadi Arka yang menelepon aku.”
“Arka teman kakak kuliah itu?”
“Iya,”
“Tanya soal rekrutan pegawai baru?”
“Iya, dia ingin memastikan kalau kakak jadi atau tidaknya bekerja di sana besok.”
“Tuh kan, terus kakak jawab apa?”
Tak lama Novita keluar dari dalam kamarnya.
“Jawab saja “IYA” nak,” sahut Novita yang kemudian duduk mendekati Raditya.
“Apa? Jadi ibu benar-benar mengizinkan aku?”
“Iya, pergilah. Raih masa depan mu nak.”
“Baik ibu, baik. Terimakasih banyak ya ibu.”
Radit kemudian memeluk ibunya lagi, wajahnya nampak kegirangan.
“Nah gitu dong. Nggak usah berbelit-belit ngasih jawabannya. Kalau langsung ngasih keputusan kan jadi enak!” Sahut Cantika.
**
Beberapa hari kemudian, Raditya menyiapkan semua keperluan pribadinya yang hendak akan di bawa ke tempat tinggal barunya nanti. Novita datang ke kamar Raditya dan membantunya menyiapkan barang-barang bawaannya.
“Hay kak,” sapa Novita lalu duduk di tempat tidur anaknya.
“Eh ibu.”
“Lagi sibuk ya?”
“Iya beginilah bu, ada beberapa barang pribadiku yang akan aku bawa besok.”
“Sini biar ibu bantu nak.”
“Tidak usah ibu, ibu duduk dan temani aku saja,”
Namun, Novita kemudian membantu melipat-lipat beberapa baju, lalu memasukkannya ke dalam koper milik Raditya.
“Rumah ini pasti akan terasa sepi saat kamu sudah pergi nanti nak,” ucap Novita seraya melipat baju.
“Emm, ibu. Jangan bicara seperti itu ah. Pokoknya Raditya janji akan selalu video call ibu setiap saat. Supaya ibu tidak merasa kesepian di sini. Toh juga masih ada Cantika kan yang menemani ibu?”
“Tapi, pasti nanti kamu akan sibuk dengan pekerjaan kamu di sana nak.”
“Semoga saja tidak bu. Ya, semisal Radit benar-benar sibuk, Radit janji akan luangkan waktu untuk memberi kabar kepada ibu. ”
“Iya ibu harap sesibuk apapun pekerjaan kamu di sana nanti, tolong luangkan sedikit waktu sebentar saja untuk memberikan kabar kepada ibu ya nak.”
“Pasti itu bu. Jangan khawatir.”
“Radit, kamu masih ingat kan pesan ibu. Kalau sudah sampai sana, kamu harus bisa menjaga diri kamu ya nak. Jaga kesehatan dan kondisi tubuh kamu. ibu pasti akan selalu merindukan mu nak.”
“Siap komandan. Iya ibu ku sayang.”
Kecemasan wajar terjadi ketika adanya perpisahan dengan orang yang kita sayangi, terutama pada salah satu dari keluarga kita. Apa lagi seorang ibu juga tak pernah bosan untuk terus menginggatkan soal kebaikan pada anak-anaknya.
“Teruslah tersenyum ketika nanti kamu di hadapkan dengan persoalan yang rumit, sebab akan ada hal indah yang bisa kamu syukuri dari kesulitanmu itu nanti.”
“Baik ibu. Ibu juga ya, jaga diri ibu baik-baik di sini. Terutama kesehatan ibu.”
Selesai membantu Raditya membereskan barang-barangnya, Novita mengambil sesuatu dari dalam saku celananya. Dia memberikan beberapa lembar uang kertas yang tak sedikit kepada Raditya.
“Nak, ini ada sedikit uang untuk kebutuhan kamu di sana. Simpan dan pergunakan uang ini dengan sebaik-baiknya ya. Mungkin ini bisa sedikit membantu untuk membeli keperluan mu nanti selama satu bulan ke depan.” Kata Novita yang kemudian menyerahkan uang itu pada anaknya.
“Tapi bu, ini banyak sekali. Ibu mendapatkan uang ini dari mana?” Tanya Radit sambil menerima uang dari ibunya.
Novita hanya terdiam, nominal uang yang di berikan sebesar enam juta rupiah untuk kebutuhan Radit itu dia dapakan dari hasil penjualan kalung emas yang pernah diberikan oleh almarhum suaminya.
“Kamu tidak perlu tahu, dari mana uang itu ibu dapatkan. Yang pasti ibu ingin kamu di sana baik-baik saja tanpa kekurangan apapun nak.”
“Ibu-ibu, tenang lah. Ibu ini berlebihan, aku akan baik-baik saja di sana. Sebaik aku ambil setengahnya saja uang ini. Dan setengahnya lagi ibu simpan untuk kebutuhan ibu atau Cantika. Karena aku tidak ingin, kepergian ku membuat ibu menjadi susah nantinya.”
“Tidak nak, tolong jangan seperti itu. Ambil dan simpanlah uang ini untuk kebutuhan kamu di sana nanti. Ibu masih menyimpan dan mempunyai beberapa uang. Jadi tolong kamu terima ya.”
“Ta—pi,”
“Radit, kamu dengarkan yang ibu katakana tadi?”
“Baiklah ibu, aku akan pergunakan uang ini dengan sebaik-baiknya. Sekali lagi terimakasih banyak ya ibu.”
“Sama-sama nak.”
Tanpa terasa, mereka telah selesai mempersiapkan barang-barang keperluan yang akan di bawa oleh Raditya.
“Alhamdulillah, akhirnya selesai juga ya bu.”
“Iya,”
“Terimakasih ya bu, sudah mau membantu aku membereskan semuanya."
“Sama-sama. Karena ini sudah selesai, sebaiknya kamu segera istirahat saja nak. Karena ini sudah malam. Kamu besok juga harus berangkat ke bandara pagi kan?”
“Iya ibu.”
“Dan jangan lupa, tiketnya harus kamu siapkan sekarang.”
“Baik ibu.”
“Kalau begitu ibu keluar ya.”
Raditya lalu mengangguk-anggukkan kepalanya. Novita memberikan perhatian yang begitu besar untuk anak-anaknya. Dan di setiap doanya selalu dia sebutkan nama kedua anaknya agar mendapatkan hidup yang bahagia dan juga masa depan yang indah.
Setelah keluar dari kamar Raditya, Novita lalu berjalan menuju teras rumah. Ia duduk sambil menyandarkan kepalanya ditembok.
“Ya Tuhan ku, jaga dan lindungi anak-anakku dimana pun mereka berada. Lancarkanlah setiap urusannya yang akan mereka lalui. Luruskanlah setiap jalannya, agar mereka bisa terus melangkah untuk menjadi pribadi yang lebih baik. Pertemukanlah mereka dengan orang-orang yang beriman dan berakhlak mulia. Jauh kan lah sifat yang tidak baik untuk mereka. Aamiin…” gumam Novita yang sedang duduk melamun sambil berdoa di depan rumah sendiri.
bersambung....