Pikiran Nara masih saja penuh dengan ajakan menikah dari direktur gilanya itu, Nara jadi tidak begitu konsen dalam bekerja.
Kenapa aku bisa sesial ini pergi ke perjodohan malah ketemu sama bos sendiri?!
Masalahnya Nara hanya wanita yang menyamar sebagai sahabatnya.
Akankah perjalanan cinta Nara dengan statusnya sebagai janda berjalan mulus?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Duajempol, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tidak Sah!!
"Aku rasanya senang sekali." Natha berjalan oleng, "Ternyata kita juga sehati!" Wanita itu tersenyum bahagia.
Bastian mencoba untuk memapah Natha, tetapi wanita itu hanya bersandar pada lengannya dan berjalan sesuka hatinya. "Aku ga tau kamu bisa semabuk ini, lain kali jangan minum terlalu banyak." Bastian memasang wajah cemas.
"Ayo ke mobil, aku antar pulang."
"Aku tidak mau pulang!" Natha menghadap wajahnya pada Bastian, "kamu ga tau betapa selama ini aku menunggu momen ini? Ada seseorang yang muncul dan di takdirkan untuk aku, mempunyai perasaan yang sama dan yang paling penting aku jatuh cinta pada pandangan pertama!" Natha menunjuk nunjuk hidung mancung Bastian membuat pria pemalu itu merona.
"Na.. Natha kamu terlalu mabuk." Bastian berusaha untuk tidak terlalu grogi mendengar pernyataan cinta segamblang itu seumur hidupnya.
"Aku seeerraatus perseen sadar!" Natha bertolak pinggang. "Dan kamu tau, apa yang ada di pikiran aku sejak pertama kali kita ketemu??" Natha menarik dasi Bastian hingga wajah mereka sangat dekat. "Menghabiskan malam yang panas sama kamu!" Bastian membolakan matanya, bukan hanya pernyataan cinta yang dia terima malam ini dengan sangat gamblangnya bahkan wanita yang baru resmi menjadi kekasihnya beberapa jam lalu sudah menggodanya seperti itu. "Aku ga mau pulang malam ini." Tambah Natha.
Pintu apartemen Bastian dibuka dengan sedikit tergesa, Bastian menubruk dibalik pintu saat Natha mendorongnya dan menutup pintu bersamaan. "Natha tungg.. tunggu sepertinya kita.." Bahkan pria itu tidak diberi cela sedikitpun oleh Natha yang menyerangnya dengan brutal. "Seb.. baiknya kita mandi.."
Natha terus menyudutkan Bastian hingga mereka tiba di kamar dan wanita itu langsung mendorong hingga tubuh Bastian rebah diatas kasur, sedangkan posisi Natha bertumpu pada kedua lututnya diatas Bastian. "Kamu terlalu banyak bicara!" Natha melepas blazer kerjanya, "Untuk saat seperti ini harusnya kamu diam." Natha tersenyum dan melepaskan kacamata Bastian membuat pria itu tergugu menatap Natha dengan wajah yang merona gugup hingga rasanya degupan jantungnya terdengar hingga keluar.
"Nnghhh" Natha memegang kepalanya yang terasa berdenyut.
"Kamu sudah bangun??"
"Ini??" Natha masih berusaha mengerjapkan matanya yang silau dengan cahaya lembut matahari yang menerobos masuk lewat horden putih tipis.
"Apartemenku." Bastian memakai kemeja putihnya dan bersiap akan ke kantor. "Aku pikir akan jadi masalah kalau orang melihat kita ke hotel."
"Hotel?!" Natha tersadar sepenuhnya, terlebih dia mendapati tubuh polosnya hanya terbalut dengan selimut. "Hah??? Ki.. kita????" Wanita itu jelas shock dan terkejut setengah mati.
"Kita melakukannya, tepatnya kamu yang menggoda aku duluan." Bastian tersenyum masih dengan rona di pipinya. Namun setelah melihat ekspresi Natha, Bastian terdiam. "Aku bisa terluka kalau kamu memasang ekspresi seperti itu. Kamu tidak ingat apa apa??"
Natha menganga, dia mencoba untuk mengingat dengan jelas namun sekarang semua hanya potongan potongan adegan tidak jelas. Natha tidak ingat sama sekali bagaimana brutalnya dia mencium Bastian, atau tingkah gilanya yang agresif menggoda Bastian semalam. "Ke.. kemarin aku minum terlalu banyak, kamu juga banyak minum!! Bi.. bisa saja kamu mabuk dan tidak bisa membedakan antara khayalan dan kenyataan." Natha berkilah panik.
Bastian masih diam menatap Natha, "Sepertinya kamu merasa terbebani dengan semua ini." Bastian duduk di sebelah Natha diatas kasur.
"Aku... sebenarnya.. kondisi seperti ini.. aaaargh! Tidak mungkin!!! Ini tidak sah!"
Bastian cukup terkejut dengan reaksi Natha, lalu dalam sudut hatinya merasa sedih dan sakit. "Aku ga minta kamu tanggung jawab, meski bagi kamu ini cuma buat main main tapi jangan ngomong begitu sama aku." Pria itu bangkit berdiri dan mengambil jas nya.
"Bu.. bukan begitu!!" Natha semakin panik.
"Kalau begitu saya harus berangkat kerja, kamu bisa mandi baru pergi." Bastian kembali berkata kata formal pada Natha.
"Tunggu Bastian, bukan..."
'Braaaaakkk!' Bastian membanting pintu cukup keras.
Natha meremas selimut yang membungkus tubuhnya kesal, "Maksud aku bukan begitu!! Ini juga pertama kalinya buat aku! Tapi bagaimana aku bisa ga ingat apa apa, tidak Sah!! Ulangi lagi ini tidak sah!!!!" Jerit Natha kesal.
****
Nara merenggangkan tubuhnya, meski semalam mabuk berat dia masih bisa mengingat sebagian besar pesta kemarin dan yang paling penting dia bisa sampai dengan selamat dirumah. "Hoaaamm!" Nara menguap lebar. "Kepalaku sedikit pening, aku banyak minum dan mabuk. Semoga aku tidak bertingkah yang memalukan, tapi harusnya tidak." Nara memiringkan kepalanya, "Aku saja bisa memesan taksi dan pulang dengan aman." Wanita itu masih berpikir keras, "Aku naik taksi kan yah?? Aaah sudahlah yang penting aku sudah dirumah."
Setelah mandi dan memakai pakaian kerja, Nara berias di cermin. Saat memakai lipstik kemudian dia seperti tersadar akan sesuatu, "Apa ini rasanya ada ingatan samar, seperti ada sesuatu yang lembut menempel di bibirku. Juga.. rasanya seperti ada yang masuk geli dan mendebarkan." Tiba tiba Nara berkeringat, "Kiss? Ciuman?? Haha haha haha tidak mungkin! Pasti itu daging panggang sapi yang lembut!" Nara mengipas dengan tangannya, tiba tiba dia merasa gerah. "Tapi aku juga merasakan hangat nafas??" Nara kembali membeku. "Haha haha itu pasti hangat ayam goreng."
Seberapa besar usaha Nara menyangkal tapi jelas dia merasakan yang menempel di bibirnya adalah bibir orang lain. "Ini gila?! Aku ciuman?? Aku berciuman dengan siapa??!!" Tekanan darah Nara mendadak rendah, samar samar dia mengingat siluet pria. Siluet buram lama lama semakin jelas hingga menampilkan gambar Rey. "INI GILA!!! AKU PASTI MIMPI BURUK!!!!! Ini tidak sah! SEMUANYA TIDAK SAH!!" Jerit Nara.
****
Bastian menunggu di depan lift dan melirik ponselnya, "4 misscall dari Natha." Ucapnya murung.
Rey datang dari belakang, "Kamu terlambat." Pria itu melirik arlojinya.
"Pak direktur juga terlambat." Bastian menipiskan bibirnya.
Mereka berdua berdiri di depan lift, Rey bersenandung kecil, pria itu jelas terlihat senang hari ini. Berbeda dengan pria di sebelahnya, Bastian melirik Rey. "Sepertinya pak direktur sedang senang hari ini."
"Tidak juga." Rey balas melihat Bastian, "Sepertinya kamu sedih hari ini."
"Tidak juga."
"Kamu sudah pandai bohong sekarang!" Bersamaan dengan itu pintu lift terbuka dan Rey berjalan masuk.
"Kalau soal perasaan biarkan saya mengatakan apa yang saya mau." Dengus Bastian.
Saat pintu lift hendak menutup terdengar suara orang berlari dengan sepatu hak tinggi. "Tunggu tunggu!!! Saya juga mau naik!"
Bastian dengan sigap menekan tombol lift terbuka untuk menahan pintu.
"Fyuuhh terima kas... hah???"
"Selamat pagi nona Naranika." Rey tersenyum lebar.
"Anda ke lantai 8 kan? Saya pencet yah."
"Ter.. terimakasih pak direktur." Nara merasa canggung dan tanpa sadar melihat kearah bibir Rey.
Aku berciuman dengan bibir itu??? Tidaakk!! Ini semua hanya mimpi yang tidak sah!!!!! Nara memukul pelan kepalanya.
"Apa anda pulang dengan selamat?" Rey berdiri menatap Nara dengan senyumnya.
"Iya pak direktur hehe." Nara cengengesan.
Aku saja tidak ingat jelas bagaimana aku pulang!!
"Anda minum cukup banyak, apa perutnya tidak apa apa?"
"Iya saya baik baik saja!" Nara tersenyum kaku.
Tidak kepala saya mau pecah apalagi mengingat mimpi tidak masuk akal itu!!
'Ting' lift berbunyi dan sudah sampai di lantai 8.
"Ah sudah sampai, saya pamit dulu untuk bekerja." Nara bergegas kelua lift dan merasa akhirnya dia bebas dari jeratan yang menyiksa.
Masih pagi sudah ketemu aja! Menyeramkan!! Tapi apa benar itu direktur? Rasanya antara nyata dan tidak nyata!
Nara lagi lagi memukul keningnya.
Tidak mungkin! Pasti ini tidak nyata.
"Kenapa aku tidak bisa mengingat dengan benar yah?"
"Apa yang tidak bisa anda ingat?!"
"Hah??!" Nara menoleh terkejut kearah sumber suara dan mendapati Rey tengah menatapnya dengan tatapan tak senang, terlebih Bastian juga disana menatap bingung.
"Pak direktur sedang apa di lantai 8? Sepertinya manager Wulang belum tiba." Nara tertawa hambar.
Rey mengernyitkan alisnya, "Jangan bilang anda tidak ingat kejadian kemarin??!"
Nara terdiam dan tidak tau harus menjawab apa, sedangkan kedua pria itu menatapnya seakan menunggu reaksinya. "A.. aduh lambungku." Nara berpura pura memegang perutnya, "Se.. sepertinya aku harus.."
"Pencernaan anda jadi tidak baik setelah banyak minum semalam, ayo pergi makan sesuatu yang hangat."
"Hah?!" Jelas ini bukan skenario Nara, dia berniat lari dengan berpura pura sakit tentu saja. "Ti.. tidak perlu aku baik ba.."
"Bas, di sekitar sini ada restoran?" Rey menoleh kearah Bastian.
"Ada, di belakang blok kantor ini ada restoran chinese food yang menyajikan menu sehat dan enak. Pak direktur mau kesana?"
"Iya, minta manager Wulan untuk menunggu." Rey menekan tombol lift dan kembali masuk. "Ayo pergi." Dia menatap Nara.
"Sa.. saya benar benar tidak apa apa." Keringat dingin Nara bercucuran deras.
"Jangan menolak! Bastian yang akan mengatakan pada manager anda. Cepat naik!" Tatapan Rey berubah tajam dan mengintimidasi membuat Nara bergetar ketakutan.
"CEPAT!" Tegasnya sekali lagi.
****
"Selamat menikmati." Pelayan restoran menyajikan hidangan sup hangat dan aneka sayuran diatas meja.
Nara hanya dia duduk bersingut mencoba mencerna apa yang sedang terjadi.
"Silahkan makan." Rey mengambilkan sumpit untuk Nara.
Nara menerima sumpit dengan kaku, "A.. anu pak direktur, saya ingin bertanya. Apa saya membuat kesalahan saat mabuk semalam??"
"Kesalahan seperti apa?" Tanya Rey acuh.
"Yah.. mungkin kesalahan yang dibuat secara tidak sadar saat mabuk." Jawab Nara gemas.
"Kesalahan yang dibuat secara tidak sadar seperti apa contohnya?" Rey memiringkan kepalanya.
"Contohnya yah hehe hehe hehe." Nara tertawa hambar. Contohnya seperti berciuman!!!
"Contohnya... seperti tindakan yang diinstruksikan dari otak bukan dari hati karena ketidak adanya sadaran dalam pengaruh alkohol." Nara tertawa kaku. Omong kosong apa yang aku bicarakan?!
"Anda tidak berbuat kesalahan apapun!" Tegas Rey sambil bersidekap.
"Hah? Benarkah??" Wajah Nara berseri, "Syukurlah hahah haha." Rasanya tiba tiba hati Nara plong.
Benarkan, ternyata ciuman itu hanya mimpi!! Sampai bermimpi soal itu apa karena aku sudah lama tidak mempunyai pasangan? lebih baik aku mencari kekasih secepatnya.
"Mari makan!" Nara mencicipi sayur juga sup ikan di hadapannya. "Waaah enak banget! Rasanya pencernaan saya mendadak lancar!" Nara tersenyum lebar.
Rey menatap Nara, "Pesan lagi saja kalau kurang."
"Tidak ini saja cukup, terima kasih direktur." Nara makan dengan lahap. "Pak direktur juga makan sup nya, itu memang bagus dimakan saat habis banyak minum seperti semalam."
"Saya tidak minum."
"Iya benar, anda...... apa tidak minum???!!!" Nara terkejut, "Sa.. satu gelaspun? Satu tegukpun??"
Rey menganggukkan kepalanya. "Tidak!"
Nara menelan ludahnya kasar, entah kenapa perasaannya kembali tidak enak. "Itu.. berarti anda.."
Rey menengak teh panasnya, "Berarti saya.. MENGINGAT DENGAN JELAS APA YANG TERJADI SEMALAM." Rey berkata tenang dengan penuh penekanan dan tersenyum mengerikan dimata Nara.
Je.. jelas??! Nara merasa tiba tiba restoran ini berubah menjadi ruang sidang untuknya.
"Karena anda sudah makan, giliran saya yang bertanya. Jadi bagaimana anda bertanggung jawab??"
"Tang.. tanggung jawab apa yah?" Nara membuang arah pandangannya dan tersenyum kikuk.
"Bibir saya!"
Nara membelakkan matanya, "Nona Naranika sudah mencium bibir saya." Tegas Rey sekali lagi.
"Sa.. saya tidak mengerti maksud pak direktur!" Jawab Nara gugup.
"Saya yakin nona Naranika mengerti." Rey tersenyum miring.
"Sa.. saya tidak ingat!!"
"Anda tidak ingat sama sekali??" Rey menatap Nara dalam, "Anda tau saya paling tidak suka dengan kebohongan kan??"
"Tadi pak direktur bilang saya tidak melakukan kesalahan??" Nara membela diri.
"Ciuman kan bukan kesalahan tanpa sadar. Jadi mari kita diskusikan bagaimana cara nona Naranika akan bertamggung jawab." Rey menyilanglan kakinya dan tersenyum lebar.
"............." Nara tau sampai kapanpun dia tidak akan menang berdebat. "Baik saya akan bayar makanan ini." Nara berdiri dan mengambil dompetnya.
"Jadi bibir saya hanya seharga 800 ribu saja???" Rey bangkit berdiri dan merasa dongkol.
"Apa??? Makanan ini 800 ribu???" Nara menggigit bibirnya kesal, menyesal sudah makan banyak.
"Pak direktur ini, padahal kan bibir kita hanya bersentuhan begitu saja." Nara menggumam sebal.
"Bersentuhan begitu saja??" Rey tidak terima.
"Ma.. maksud saya kan, kita sudah sama sama dewasa. Tanpa sadar karena alkohol bisa saja hanya berciuman begitu saja." Nara menjawab gugup.
"Nona Naranika pasti tau dengan jelas kalau bibir kita tidak hanya bersentuhan begitu saja." Rey berdecih.
"La.. lalu apa jika bukan?"
"Masih perlu saya jelaskan??" Rey sedikit menunduk menatap pada Nara yang terlihat mungil, "Bibir kita lebih dari sekedar bersentuhan, lidah kita juga. Bahkan kita berbagi naf..." 'Hupp'
Dengan wajah yang sudah semerah tomat Nara menutup mulut Rey. "Berapa harga yang harus saya bayar untuk ciuman itu??!" Seru Nara.
aku baca bab ini pas lagi makan Ampe keselek,gara2 Nara baca UUD.
KK jgn sampe Nara dan Natha musuhan karna cowo.