Area 21+
Harap bijak untuk membaca di bawah usia.
Clara wanita yang sudah bersuami dan memiliki anak laki-laki. Keadaan rumah tangganya tak seperti rumah tangga yang lain, penuh dengan penderitaan dan kesusahan.
Suatu hari, saat mereka berdua bertengkar lagi ada seorang pria yang masuk tanpa permisi dan membeli Clara dan Reno.
Clara yang tersentak kaget dan bingung, "Apa yang terjadi sebenarnya, kenapa aku di beli oleh pria yang tidak aku kenal sama sekali?"
"Aku di jual oleh suamiku sendiri! Apa aku sehina itu?"
"Kesetiaan ku yang ku berikan padanya dengan ketulusanku dibalas dengan hina seperti ini."
"Apa kesetiaan ku berujung Cerai seperti mimpi yang tak ku inginkan." Kata Clara dengan menangis sambil menidurkan Reno anaknya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Triya Widodo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 20
"Memberimu hukuman..." terangnya dengan wajah dinginnya seraya melepas kancing baju ku.
"Aku tidak mau..." seru ku menghalangi tangannya dan menyilang kan kedua tangan ku.
"Sebuah hukuman membuat mu akan mengerti semua..." jelasnya menarik kedua tangan ku dengan keras.
"Aku mohon... Jangan..." lirih ku mulai panik dan takut.
Dengan senyum menyeringai dia menarik baju ku hingga terlepas kancingnya lalu membuang ke sembarang arah.
"Tuan... Anda sangat buruk dan jahat..." pekik ku kesal dan marah.
"Apa kamu seperti ini dengan Riko Hilman?" tantang nya dengan tersenyum miring.
"Tidak..." desis ku meneteskan satu air mata.
Dia mulai mencumbu ku dan meninggalkan kesan yang amat menjijikkan bagiku.
"Aku mohon... Jangan lakukan..." lirih ku karena takut. Dia menatap ku seolah-olah ingin melanjutkan nya.
Terlihat keringat di lehernya turun dengan pelan, dia melanjutkan mencium bibir ku dengan serakah.
"Tuan... Aku... Benci..." desis ku lalu dia berhenti sejenak.
"Apa yang kamu benci dari ku?" tanya nya menyeringai.
"Kamu tidak tahu saya yang sebenarnya..." imbuhnya yang akan mencium ku lagi.
"Anda seperti monster bagi ku..." tantang ku padanya.
Tak terlihat di wajahnya yang marah malah terlihat senang, "Akan ku beri tahu..." ujarnya.
Dia melanjutkan aksinya bersama Clara. Belum menyelesaikan aksinya, tangis yang tak tertahan olehnya membuat Tuan Abbas mengakhirinya.
"Kenapa..." lirih ku. Dia diam dan berhenti seraya menatap ku seolah-olah ada perasaan kasihan pada ku.
"Kenapa tak di teruskan..." lirih ku masih meneteskan air mata.
"Anda sudah melepas semuanya... Kenapa berhenti?" tambah ku padanya.
"Pakailah baju mu." titahnya seraya duduk di tepi ranjang.
Aku tak tega memaksamu karena hanya sebuah amarah dan kerasnya aku. Batinnya seraya memijit pelipisnya.
"Kenapa diam?" Apa anda tak bergairah dengan ku selain orang lain." ledek ku padanya seraya duduk di sampingnya mengusap wajahku karena air mata.
"Aku tak tega melihat mu terpaksa melakukannya. Dan aku tak mau merenggut mahkota mu karena belum sah menjadi istri ku." jelasnya seraya memakai kemejanya dan pergi ke dress room.
Aku terdiam sejenak mendengar ucapannya barusan. Masih menghargai wanita, tapi kenapa amarahnya dan kerasnya dia seperti batu.
Usai mengambil kemeja miliknya, dia membantuku memakainya, "Katakan yang sebenarnya kenapa kamu pergi tanpa pamit.." ujarnya.
Apa aku harus jujur padanya. Jantung ku saja berdegup kencang tak berhenti, aku pernah merasakan ini degupnya jantung saat bersama laki-laki yang pernah ku sukai, dia melupakan ku dan entah dimana sekarang. Batinku menatap kedua bola matanya.
"Tak mengatakannya..." tuntut Tuan Abbas mengancingkan kemeja ku.
"Apa anda ayah Reno yang sebenarnya?" tanya ku memberanikan diri. Dia berhenti sejenak lalu menatap ku.
"Darimana kamu mendapatkan semuanya?" timpal nya kembali mengancingkan kemeja ku.
"Aku mencari informasi dengan bantuan teman ku." sahut ku dengan jujur pada nya.
"Kamu mau kejujuran saya atau kebohongan..." kelitnya membuatku ingin menamparnya.
Seketika aku beranjak dan mencari berkas yang dia lempar tadi, "Dimana dia melemparnya..." ucapku pelan seraya sibuk mencari.
"Jangan menghindar!" sahutnya seraya berjalan mendekat ke arah ku.
"Saya tidak suka mengulang kedua kalinya." timpalnya menarik lengan ku.
"Apa anda tidak bisa lembut dengan seorang wanita." sindir ku padanya dengan tatapan kesal.
Seakan-akan aku bisa memarahinya.
"Tergantung..." bisik Tuan Abbas mendekatkan wajahnya.
"Kejujuran yang ku inginkan." putus ku tanpa berpikir panjang. Karena yang aku butuhkan sekarang ayah Reno yang sebenarnya.
"Duduklah... Aku akan mengungkapkan yang sebenarnya." titahnya mendudukkan ku di sofanya.
Aku mencoba menurut dan dia duduk di sebelahku seraya menatap serius, "Sungguh benar dan sesuai dugaan mu. Bahwa Reno adalah putra ku, ****** yang di suntikkan dalam indung telur mu itu milikku bukan milik Riko Hilman. Dan selama kurang lebih 10 bulan kamu mengandungnya dan merawatnya hingga sekarang adalah anak yang kamu sebut monster itu adalah aku." ujarnya.
Mendengar ungkapan nya rasanya amat sakit hati ini seperti tersayat pisau dan terjatuh dari tebing paling tinggi sehingga aku tersentak dan menangis. Menutup mulut ku dengan kedua tangan agar tak terdengar suara tangisan ku dari luar.
"Kamu... Licik... Kamu pembohong... Kamu monyet..." lirih ku seraya terisak-isak dalam tangis ku dan memukuli nya.
"Aku minta maaf..." ucapnya menurunkan nada suaranya menyesali perbuatannya.
Lalu dia mencoba menenangkan Clara dengan memeluknya. Namun Clara saat ini sangat marah dan jengkel sehingga menepik tangan Tuan Abbas.
"Jangan sentuh aku..." pekiknya dengan menangis seraya bangkit dari duduknya.
"Clara..." panggilnya menghalangi ku lalu mendekap ku.
"Jangan sentuh... Aku muak dengan mu..." sindir ku meronta dari pelukannya. Lalu dia menggendongnya dan menurunkan di ranjang.
"Jangan sentuh aku lagi..." seru ku seraya meronta ingin segera jauh dan pergi darinya.
"Dengarkan aku..." titahnya mendekap ku lebih erat dari arah belakang.
"Kamu belum tahu semua bagaimana aku yang sebenarnya..." imbuhnya mendekap tubuh kecil ku ini.
"Sudah jelas, kamu sama seperti Riko Hilman. Sama jahatnya..." sungut ku padanya.
Dengan senyum menyeringai dia mencium ku dengan sekilas, "Bibir mu terlalu manis," ujarnya.
"Hingga aku tak ingin melepasnya..." imbuhnya berbisik dengan manis dan menggoda.
Lalu menatap Clara dengan perhatian dan ambisius. Aku ingin berbalas budi pada orangtuamu karena sudah menolong ku hingga kini aku sukses. Batin Tuan Abbas lalu beranjak pergi darinya.
"Dasar menyebalkan..." pekik ku padanya seraya mengusap bekas ciumannya.
Tuan Abbas keluar mencari Reno di bawah, "Reno..." ujarnya, "Dimana dia ini?"
Dia mencari Reno ke setiap ruang hingga ke taman, namun tak dapat menemukan nya. Lalu Tuan Abbas kembali mencari di kamar Reno.
"Reno...." panggil nya mencari ke setiap sudut ruang kamar.
"Kemana dia ini?" gerutunya mulai panik dan cemas.
"Clara..." ucapnya seraya membuka pintu kamarnya.
"Iya, Tuan Abbas." balasnya berbalik seraya mengenakan pakaiannya.
"Sebelum ke sini Reno dengan siapa?" tanya nya dengan panik.
"Dengan Bi Ani, ada apa? Kenapa anda panik begini?" pungkas ku.
"Reno tidak ada..." ucapnya menurunkan nada bicaranya seraya duduk di tepi ranjang.
"Apa ...." seru ku tersentak.
"Apa anda sudah mencarinya? Tadi dengan Bi Ani..." jelas ku seraya berjalan keluar.
Tut ... Tut ... Tut ...
Tuan Abbas menghubungi Bi Ani seraya menyusul Clara keluar. Clara bertanya pada penjaga satu hingga yang lain.
"Pak, apa anda melihat Reno dan Bi Ani keluar?" tanya Clara panik.
"Tidak, Nyonya." jawabnya dengan santai.
"Apa yang kalian lakukan..." pekik Tuan Abbas dari arah belakang Clara.
"Cepat cari Tuan Muda Reno..." marahnya seraya masih memegang ponsel menghubungi Bi Ani.
"I-iya, Tuan." balasnya dengan gelagapan.