kisah ini menceritakan tentang Rehaan, putra konglomerat yang harus menjalani kehidupan sulitnya sejak ia masih kecil,
Rehaan harus kehilangan kedua orang tuanya sejak ia masih berusia 2th karena kejahatan Om dan Tante-Nya.
tidak cukup sampai disitu, hidup Rehaan semakin sulit sejak Nayla pengasuhnya diusir dari rumah Rehaan atas fitnahan oleh Om dan Tante-Nya,
Akankah Rehaan bisa berjuang sendiri menghadapi kejahatan Om dan Tante-Nya?"
ikuti Terus "Pesona pengasuhku" karena kisah ini juga akan diwarnai oleh kisah cinta Romantis antara Rehaan dan Nayla 😉
@Noor.hidayati 💫
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Noor Hidayati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Rehaan Menyatakan Cintanya
Nayla menjadi cemas karena Rehaan mengendarai mobil dengan marah.
Apa lagi cuaca di luar yang menandakan akan turun hujan, ,itu benar-benar membuat Nayla khawatir.
Hingga larut malam Nayla belum juga bisa tidur, selain khawatir, ia juga tak bisa berhenti memikirkan sikap Rehaan padanya.
"Aku tidak bisa mengerti kenapa Rehaan sebegitu marah padaku," ucap Nayla dalam kegelisahannya.
******
Rehaan sampai di rumahnya.
Ia langsung masuk ke kamar dan membanting semua barang-barang yang ada.
"Aaaaaaaarrrrrrggghhhhhhh!!! Kenapa semua ini terjadi!" Rehaan terduduk di lantai dan menangis sejadi-jadinya.
"Kenapa? Kenapa KAU terus menerus memberiku kesedihan,
Kenapa ENGKAU tidak memberiku kebahagiaan yang ku inginkan, Kenapa ENGKAU terus saja merenggut orang-oeang yang kucintai? Pertama ENGKAU merenggut ayah dan ibuku, setelah itu ENGKAU merenggut bibi Nayla dariku, ENGKAU juga membiarkanku kehilangan semu hak ku,
Dan setelah aku kembali menemukan bibi Nayla ENGKAU memberikan rasa cinta dihatiku untuknya, tapi apa setelah itu? ENGKAU membuat orang lain melamar bibi Nayla!!! Heh, Kenapa Tuhan? Kenapa ENGKAU terus saja mempermainkanku? Tidak pantaskah aku bahagia? Tidak pantaskah aku hidup bersama orang-orang yang kucintai hingga kau terus saja menjauhkan ku dari mereka?!!" Rehaan menjatuhkan diri ke lantai.
Air matanya terus mengalir hingga tanpa ia sadari iapun tertidur.
Pagi Hari.
Dirumah Nayla sudah mulai persiapan, banyak orang berlalu lalang membantu persiapan.
Namun Nayla terus melamun memikirkan bagaimana keadaan Rehaan.
"Bagaimana keadaan Rehaan sekarang? Apa dia sudah sampai rumah? Apa dia baik-baik saja?" ucap Nayla dalam hati.
Namun lamunan Nayla terhenti saat ia melihat Rehaan sudah berdiri di depannya.
"Rehaaaaaan....." ucap Nayla lirih.
Rehaan berjalan mendekati Nayla.
"Rehaan kamu baik-baik saja?" tanya Nayla yang begitu mencemaskannya.
"Apa aku terlihat buruk?"
"Rehaan kamu terlihat tidak baik,"
Rehan terseyum masam sambil memainkan jarinya di wajah Nayla dengan lembut.
Nayla memejamkan mata dan memalingkan wajahnya.
"Aku hanya kurang Tidur," kini Rehaan menurunkan jarinya ke lengan Nayla yang memang saat ini sedang memakai lengan pendek.
" Apa kamu masih marah pada bibi?" Nayla mencoba menghindari jari Rehaan yang terus bermain di lengannya.
"Apa aku bisa marah lama dengan bibi?" Perlahan Rehaan berjalan ke belakang Nayla.
Nayla memejamkan matanya saat tangan kanan Rehaan tiba-tiba sudah melingkar di perutnya.
Namun hal itu hanya berlangsung sesaat karena Nayla menyadari jika perbuatan itu tidaklah benar.
"Rehaan cukup! Apa yang kamu lakukan? Jaga sikapmu!" ucap Nayla kesal.
Rehaan terdiam dan meneteskan air matanya.
Nayla bingung melihatnya.
"Rehaan apa yang sebenarnya terjadi denganmu?" tanya Nayla penuh curiga.
"Kumohon jangan menikah bibi," ucap Rehaan menjatuhkan diri ke lantai.
Nayla Terkejut mendengarnya.
"Apa maksudmu Rehaan?" tanya Nayla bingung.
"Bibi aku tidak tau bagaimana aku mengatakannya pada bibi, tapi aku harus mengatakan ini agar bibi tidak menikah," tangis Rehaan.
"Apa yang coba ingin kamu katakan Rehaan!" tegas Nayla.
"A... A.... aku... aku sangat... sangat men cintaimu bibi," ucap Rehaan terbata-bata.
Nayla begitu terkejut mendengarnya
"Apa yang kamu katakan? Aku pengasuhmu, Aku yg merawatmu dari usiamu tujuh hari, apa kamu lupa itu?" triak Nayla.
"Aku tau itu bibi, tapi aku tidak bisa lagi menghindari perasaan ini, aku sudah tidak bisa mengendalikannya, karena itu juga aku begitu marah ketika bibi akan menikah dengan orang lain," jelas Rehaan menundukkan kepalanya.
"Rehaan ini benar-benar tidak masuk akal," ucap Nayla meninggalkan Rehaan.
"Bibiii... Bibiii...." Rehaan menangis di lantai.
Nayla masuk ke kamarnya dan merasa sangat shock dengan apa yang baru saja ia dengar.
"Rehaan? Mencintai ku? Tidak Tidak, ini tidak mungkin, ini tidak mungkin," Nayla menutup telinganya sembari menggelengkan kepalanya.
Nayla terdiam dan kembali mengingat saat Rehaan memainkan jari jemarinya ke beberapa bagian anggota tubuhnya, kemudian Nayla mengingat saat Rehaan begitu marah padanya saat pertama kali mendengar dirinya akan menikah, ia terus mengingat semua moment kebersamaan mereka di Jakarta, kini Nayla menyadari jika sikap Rehaan selama ini padanya bukan sekedar hubungan antara pengasuh dan anak asuhnya, tapi lebih dari itu.
Nayla kembali memegang kepalanya, tapi Nayla kembali terdiam dan mengingat kata-katanya pada Rehaan masih berusia 7th, saat itu Nayla mengatakan tidak menikah karena kekasihnya belum melamarnya (yang Nayla maksud saat itu adalah Rehaan)
Kemudian Nayla kembali mengingat ucapan Rehaan kecil "jika aku dewasa nanti giliranku yang akan menjaga bibi,"
"Rehaan? Benarkah ini?" ucap Nayla tak percaya.
"Ini benar-benar tidak masuk akal, itu hanya kata-kata anak kecil, tidak mungkin Rehaan benar-benar mewujudkannya," Nayla mencoba menyangkal kenyataan ini.
****
Rehaan duduk menyendiri di teras.
"Rehaan kapan kamu datang?" tanya ibu Neli
"Ibu... Aku baru saja datang," jawab Rehaan memaksakan senyumnya.
"Apa kamu sudah makan?"
Rehaan menggelengkan kepalanya.
"Kalau begitu pergilah makan, karna bibi kesayanganmu hari ini tidak bisa mengurusmu,"
canda ibu Neli
Rehaan kembali memaksakan serseyumannya.
"Baiklah Rehaan, ibu akan ke kamar Nayla dulu karena pelukis hena sudah datang,"
ucap ibu lalu meninggalkan Rehaan
Ibu pun mengajak pelukis hena ke kamar Nayla.
"Pelukis hena pun masuk kekamar Nayla, sedangkan ibu hanya mengantarnya.
Rehaan yang melihat ibu telah meninggalkan kamar Nayla, iapun langsung masuk ke kamarnya.
Nayla terkejut melihat Rehaan sudah berdiri di depannya, ia pun jadi merasa canggung.
Kurang dari satu jam Akhirnya tangan Nayla selesai di lukis.
Pelukis pun meminta izin keluar dari kamar Nayla.
Rehaan dan Nayla masih terdiam dan merasa canggung.
Rehaan mencoba mendekati Naiyla, namun Nayla Langsung bangun dari duduknya dan ingin menghindari Rehaan, namun kain Bali yang Nayla kenakan terlepas dari lilitannya.
Rehaan terperangah kaget melihat kain yang mulai merosot kebawah.
Nayla Merasa bingung karena tanggannya penuh hena yang belum kering.
Mereka berdua masih terdiam bingung dengan situasi ini,
"Rehaan apa yang kamu lihat cepat bantu bibi," triak Nayla dengan perasaan malu
Rehaan pun berjalan mendekati Nayla
"Tunggu Rehaan...!!! Tapi dengan mata yang tertutup," tegas Nayla.
Rehaan mengangguk pelan.
Perlahan Rehaan mengambil kain yang terjuntai di lantai, kemudian Rehaan mulai melilitkan kembali di pinggang Nayla dengan mata tertutup.
Sentuhan tangan Rehaan saat menyelipkan kain ke pinggul Nayla, membuat Nayla merasakan desiran aneh dalam tubuhnya.
"Apakah seperti ini?" pertanyaan Rehaan mengagetkan Nayla yang memang sejak tadi memejamkan matanya.
"Ee.. di ikat saja, biar tidak kembali terlepas," ucap Nayla sedikit gugup.
Rehaan pun mengikuti instruksi Nayla dan terhenti saat melihat pinggul indah Nayla.
"Rehaan kenapa kamu diam? cepatlah,"
"Ee... Iya bibi," Rehaan pun mengikat kain dengan kencang.
Rehaan dan Nayla langsung membalikan badan dan saling membelakangi.
Mereka sama-sama merasa canggung dengan apa yang terjadi.
Bersambung....
****
maaf kalau belepotan, masih tahap belajar 😁🙏