"Sekarang topinya dulu, besok hatinya." Ucap El pada Diska.
AWAS SENYUM SENYUM SENDIRI DAN JADI BAPER!!
Cerita cinta ditahun 90'an.
Yg kangen cerita 90an silahkan merapat dan mengenang bersama masa-masa cinta monyet dan cinta pertama.
Diska Adalah Seorang Remaja Yang Ceria, senang membaca buku dan hobi membeli banyak buku dan Pandai membuat puisi Sementara Eldirga atau yang biasa dipanggil El Seorang Pria Cool dan Galak yang mempunyai hobi bermain gitar dan menciptakan lagu.
Diam Diam Mereka Saling Jatuh Cinta Namun Saling Gengsi.
Bagaimana Kelanjutannya? Simak Terus Kelanjutannya Ya.
Mohon Kritik dan Saran Yang Membangun Untuk Penulis Agar Lebih Berkreatif.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Shann29, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
KEPERGIAN EL
Tiga bulan berlalu sejak hari El berbicara dengan ayahnya Diska di kafe itu.
Waktu berjalan cepat, seolah hari-hari ingin berlari meninggalkan masa-masa mereka yang indah. Selama itu, El tidak pernah absen menjemput dan mengantar Diska ke sekolah. Ia menebus setiap waktu yang dulu terlewat, setiap jarak yang pernah membuat mereka renggang. Dan setiap pagi, Diska akan menyambutnya dengan senyum yang sama—senyum yang dulu membuat El jatuh cinta pada pandangan pertama.
Hubungan mereka makin hangat. Tidak ada hari tanpa tawa, tanpa kehadiran satu sama lain.
El tahu, hari-hari ini adalah sisa waktu yang ia punya sebelum kepergiannya ke Paris. Ia menyimpannya dalam hati, tanpa pernah berani mengucapkan kepada Diska.
Hari kelulusan tiba.
Sekolah penuh dengan sorak sorai dan pelukan bahagia. Diska berdiri di antara teman-temannya, memegang map berisi nilai yang nyaris sempurna. Ayah dan ibunya tersenyum bangga, sementara El menatap dari kejauhan, merasa bahagia sekaligus berat.
Keesokan harinya di rumah Diska. “Diska!” panggil Airin, teman dekatnya, sambil melambaikan tangan. “Ayo, habis ini kita ke Dufan, yuk! Merayakan kelulusan!”
Diska menoleh ke arah El yang tengah berbincang dengan Ryan di bawah pohon besar dekat gerbang sekolah.
“Yuk,” katanya, tersenyum kecil. “Sekali-kali senang-senang, kan?”
Ryan menatap El, memberi isyarat halus.
Tinggal hitungan hari.
Tinggal dua hari sebelum El meninggalkan semuanya.
⸻
Langit siang itu cerah ketika mereka tiba di Dufan.
Rombongan kecil itu—El, Diska, Airin, Ryan, Bima, dan Rizki—tertawa bersama di tengah riuhnya wahana. Tapi di tengah tawa itu, hati El terasa sesak. Ia mencoba menutupi keresahannya dengan senyum, tapi Ryan tahu, setiap tawa El menyimpan sesuatu yang berat.
“Naik Halilintar yuk!” seru Bima dengan semangat.
Diska langsung mundur setapak, memegang lengan El. “Aku… nggak, deh. Aku takut ketinggian.”
El menoleh dan tersenyum geli. “Baru tahu aku, ternyata Diska Alya Sabrina takut halilintar juga.”
“Eh, jangan ledek!” protes Diska sambil manyun.
“Anak manja,” ujar El pelan sambil tertawa kecil.
“Lo ngeselin!” balas Diska, tapi matanya tetap lembut.
El menatap wajah itu lama, mencoba merekam tiap detailnya—cara Diska tersenyum, cara pipinya menggembung saat kesal, dan caranya menunduk malu.
Ia tahu, tak lama lagi semua itu hanya akan jadi kenangan.
El meraih tangan Diska dan mengecupnya singkat. “Gue bakal kangen cemberut lo.”
Diska terdiam, menatap El curiga. “Kenapa ngomongnya kayak gitu sih? Emang lo mau pergi ke mana?”
El menggeleng pelan. “Nggak ke mana-mana. Kan gur di hati lo terus.”
“Tapi nada kamu aneh,” ujar Diska, tapi ia tak mau memaksakan tanya lebih jauh. Ia hanya menggenggam tangan El lebih erat. “Asal lo jangan pergi aja.”
El tersenyum. “Capek, Dis?”
“Enggak. Asal sama lo, gue nggak pernah capek.”
Hening sejenak, lalu El berkata lirih, “Dis… lo mau nunggu gue, nggak?”
“Nunggu? Maksudnya?”
El menarik napas panjang, lalu menggeleng. “Ah, nggak. Lupa gue tadi mau ngomong apa.”
Diska menatapnya penuh tanya, tapi El hanya menatap langit. Dalam hatinya, ia tahu—ia tak sanggup mengucapkan perpisahan itu hari ini.
⸻
Malam menjelang.
Di rumah, Ryan menatap El yang duduk di depan rumah dengan wajah kosong.
“Gimana, El? Lo belum bilang juga?” tanya Ryan lembut.
El menggeleng pelan. “Berat, Yan. Gimana gue bisa ngomong kalau setiap kali gue lihat dia, gue malah pengin mundur dari rencana ini.”
Ryan diam sejenak. “Tapi lo harus jujur, El. Diska berhak tahu.”
Air mata menetes perlahan di pipi El. “Gue takut, Yan. Takut lihat dia nangis lagi.”
Ryan menepuk bahunya pelan. “Lo kuat, El. Tapi jangan bohong sama perasaan lo sendiri.”
⸻
Dua hari kemudian.
Hari terakhir.
El menatap koper kecil di sudut kamar.
Dalam hati ia berbisik, hari ini gue harus pamit… walau cuma dalam diam.
Ryan menatapnya dari pintu kamar. “Lo yakin nggak mau pamit langsung?”
El mengambil kotak kecil yang sudah dibungkus rapi. “Ini buat Diska. Tolong kasih besok pagi, ya, waktu gue udah di pesawat.”
Ryan menerima kotak itu, menatapnya sebentar. Ryan mengangguk pelan. “Lo beneran berangkat tanpa bilang?”
El menghela napas panjang. “Kalau gue lihat Diska nangis, gue nggak akan bisa pergi, Yan.”
⸻
Siang itu, El mengenakan topi milik Diska yang dulu pernah ia pinjam. Di punggungnya tergantung gitar kesayangannya.
Ia berjalan menuju rumah Diska, membawa seluruh perasaannya yang campur aduk.
“Diska ada, Bu?” tanyanya sopan ketika sampai di depan rumah.
“Iya, tapi dia lagi ke minimarket sebentar,” jawab Ibu sambil tersenyum. “Masuk aja, El.”
El duduk di ruang tamu, menatap dinding penuh foto keluarga Diska.
Tak lama, ayah dan ibu Diska menghampirinya.
“El,” kata sang ayah lembut, “kalau kamu harus pergi, jangan khawatir. Kami akan jaga Diska.”
Mata El memanas. “Terima kasih, Yah, Bu. El janji… El bakal kembali buat Diska.”
Ibu mengusap matanya yang mulai basah. “Apa yang harus kami bilang ke Diska nanti?”
El menunduk. “Bilang aja… El harus belajar buat masa depan. El nggak mau Diska terbebani.”
Suara pagar terdengar terbuka. Diska pulang dengan senyum cerah di wajahnya.
“Udah datang?” Tanya nya. Lalu orang tua Diskan pun memutuskan pergi untuk memberikan ruang lebih untuk mereka.
“Tumben bawa gitar, El,” katanya sambil menaruh kantong belanjaan di meja.
“Gitar ini… boleh aku titip di sini?” tanya El.
“Lho, itu kan gitar kesayangan lo dari SMP?”
El tersenyum kecil. “Biar nanti kalau gue ke sini lagi, gue nggak perlu bawa-bawa.”
Diska memiringkan kepala. “Kamu aneh hari ini.”
“Boleh minta es teh manis, nggak?” tanya El.
“Siap, Bos!” balas Diska sambil berjalan ke dapur.
Beberapa saat kemudian, El menyusul ke dapur. Ia memeluk Diska dari belakang.
“Dis,” bisiknya pelan.
“Kenapa?” tanya Diska, sedikit terkejut.
“Gak apa-apa. Gue cuma pengen peluk.”
“Kalau lo peluk gue, gimana gue mau ngaduk gula,” kata Diska pura-pura kesal.
El tertawa pelan, tapi kemudian suaranya berubah lembut. “Lo bahagia, Dis?”
Diska menoleh sedikit. “Banget. Soalnya ada lo.”
El menunduk, suaranya hampir tak terdengar. “Kuliahnya nanti yang bener ya, Dis. Lo harus lulus dengan nilai terbaik.”
“Pasti. Gue mau bikin ayah, ibu, dan lo juga bangga.”
El menatapnya lama. “Hati lo… nggak akan ke mana-mana, kan?”
“Hati gue di sini,” jawab Diska, menepuk dada El. “Selalu buat lo.”
“El, lo kenapa sih?” tanya Diska curiga.
“Saking cintanya gue sama lo, jadi begini,” jawab El sambil tersenyum pahit.
Diska tertawa kecil, tapi matanya lembut. “Lo aneh banget hari ini.”
El memegang pipinya, menatapnya penuh cinta. “Dis…” katanya pelan, sebelum akhirnya mencium Diska lembut.
Diska terdiam, lalu membalasnya perlahan.
Ciuman mereka yang sederhana, tapi penuh makna.
⸻
Beberapa menit kemudian, mereka duduk berhadapan di meja makan.
“Makan dulu, yuk,” kata Diska.
“Gue pengen makan mie instan buatan lo,” ujar El.
“Lho, ibu udah masak.”
“Gue pengen buatan lo,” katanya tegas tapi lembut.
Diska terkekeh. “Yaudah, tunggu sebentar.”
El memperhatikan gerak Diska di dapur—cara gadis itu meniup mie panas, cara tangannya cekatan, dan wajahnya yang terlihat tenang.
“Spesial banget nih buat gue?” tanya El saat Diska menyodorkan semangkuk mie instan dengan telur.
“Banget,” jawab Diska.
El tersenyum, lalu berkata manja, “Suapin gue, dong.”
Diska melotot kecil. “Makan sendiri.”
El menatap mangkuknya dengan pura-pura sedih.
Akhirnya Diska tertawa dan mengambil sendok. “Nih, makan. Biar nggak drama.”
El membuka mulutnya, menatap Diska dalam diam.
“Terima kasih, Dis,” katanya lirih. “Gue nggak akan pernah lupa rasa mie instan buatan lo.”
⸻
Malam turun pelan.
Ayah dan ibu Diska baru pulang menjelang magrib. Mereka shalat berjamaah, dan El meminta ayah untuk jadi imam.
“Nanti, di masa depan,” kata sang ayah lembut setelah doa selesai, “kamu yang jadi imamnya Diska, ya, El.”
El menunduk, menahan tangis. “Iya, Yah.”
Setelah makan malam, El duduk di tepi tempat tidur Diska.
“Tidur, Dis. Udah malam.”
“Lo gak pulang, El,” tanya Diska dengan mata sayu.
“Iya.” Jawab El.
”Tapi nyanyi dulu, dong. Gue pengen denger lo nyanyi ‘Mahadewi’.” Kata Diska dengan manjanya.
El mengambil gitar dan mulai memetik senarnya.
Suaranya lembut, bergetar di udara malam, membuat Diska perlahan memejamkan mata.
Di sela-sela lirik yang ia nyanyikan, El menatap wajah Diska—wajah yang ingin ia ingat seumur hidup.
Saat lagu berakhir, Diska sudah tertidur.
El meletakkan gitarnya di sudut kamar, lalu membungkuk mencium keningnya.
“Jaga diri kamu, Dis. Aku akan kembali,” bisiknya pelan.
Ia berjalan keluar kamar, menahan sesak di dada.
Ayah Diska menunggunya di teras.
“Kamu baik-baik aja, El?” tanyanya.
El mengangguk, meski air matanya mulai jatuh. “Berat, Yah. Berat ninggalin dia.”
Ayah memeluknya erat. “Kembali secepatnya, Nak. Diska menunggumu.”
El menyalakan motor, melambaikan tangan perlahan, dan pergi menembus malam.
Di tengah jalan, angin malam membawa tangisnya yang tertahan.
⸻
Keesokan paginya, mobil hitam menjemput El.
Ryan sudah menunggu di depan rumah, memegang kotak kecil yang tadi malam diberikan.
Mereka berpelukan lama.
“Titip Diska, Yan,” kata El lirih. “Jangan biarin dia sendirian.”
Ryan menepuk bahunya. “Tenang. Gue jaga dia.”
El tersenyum samar. “Gue bakal balik, Yan. Buat dia.”
Saat mobil melaju meninggalkan halaman, El menatap ke luar jendela.
Langit pagi itu biru, tapi di matanya hanya ada bayangan seorang gadis—gadis yang ia tinggalkan demi masa depan yang lebih baik.
“Aku akan kembali, Dis… lima tahun dari sekarang. Dan waktu itu, aku nggak akan pergi lagi.”