Moiro Asahi, seorang anak laki-laki yang tiba-tiba berubah menjadi dingin di sekolah setelah kehilangan kedua orang tuanya dalam kecelakaan.
Ditambah lagi, orang tuanya meninggalkan utang yang amat besar pada dirinya.
Dengan utang besar itu, ia tak punya pilihan lain selain bekerja sepulang sekolah. Sayangnya, setiap lamaran selalu ditolak karena satu alasan: ia masih pelajar.
Hingga suatu hari, ia memutuskan untuk hanya bekerja part-time, dan akhirnya sebuah kafe mewah menerimanya sebagai seorang maid.
Tunggu... Maid?! APA APAAN INI?!
Seberapa lama Moiro harus menjalani hidup absurd itu demi melunasi hutangnya? Apakah ia harus terus mengenakan seragam imut untuk bertahan hidup? Dan yang paling menakutkan... Apakah ia akan kehilangan jati dirinya di tengah semuanya?!
Penasaran sama ceritanya? Ikuti terus kisah absurd hasil gabut ini dan silakan nikmati alur kocaknya!
Novelnya ada beberapa kejadian gak logis, jadi maklumi aja, hehe.
(ada beberapa gambar bikinan AI, bukan ceritanya)
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mujahid Al Fattih, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 3 Ini Harus Kusembunyikan!
Kini, sudah sore menjelang malam, atau sebutan lainnya ialah senja, dan Moiro sedang berjalan pulang dari kafe menuju rumahnya.
Di perjalanan, ia menghela napas panjang, "Kupikir aku bakal jadi pramusaji biasa atau yang lain..."
"Ternyata malah jadi maid! Aku gak nyangka kalo bakal jadi maid!" serunya sambil mendongak, alisnya mengernyit, kedua tangannya diangkat setinggi bahu, lalu jari-jarinya digerakkan acak seperti tentakel.
Matanya melirik datar ke kanan atas, seolah melihat awan khayalannya sendiri, "Dan juga..."
Ia mengingat ucapan bosnya sesaat sebelum pulang dari kafe tempatnya diterima kerja.
...----------------...
"Oh iya. Nanti sepulang ini, kamu latihan membuat suaramu terdengar lebih feminin ya. Diubah sedikit pasti akan bagus," ucap bosnya santai, terlihat profesional.
Bosnya melanjutkan, sambil mengacungkan jempolnya, "Pasti akan semakin cocok denganmu, dan para pelanggan juga pasti akan menyukainya."
Punggung tangannya menutupi sisi mulut di samping lalu berbisik, "Bahkan bisa saja mereka tak sadar kalau kamu sebenarnya laki-laki."
...----------------...
Mengingat itu, Moiro kembali mengernyit tanpa ia sadari. Dahinya membiru, sedikit merasa mual, "'Cocok' apanya...?"
Ia memegang kepalanya seperti orang stres berat, mengacak-acak rambutnya dengan kasar, lalu mendongak dengan tatapan melotot, "Gimana kalo aku kehilangan jati diriii?!"
Ia menunduk, menutupi wajahnya dengan kedua tangannya, "Mustahil, aku dah gak bisa nolak..."
Matanya melotot, menembus telapak tangannya, "YAKALI AKU HARUS JADI MAID?!"
"KENAPA HARUS KAYAK GINI SIH?!" teriaknya sambil kembali memegang kepala dan mengacak rambut.
Sambil berteriak tak karuan, ia mengangkat kedua tangannya tinggi, lalu digerakkannya cepat.
Memutar bahunya seperti atlet renang, sambil berteriak lagi.
Berlari dengan menggunakan tangan—teriak lagi.
Berguling-guling—teriak lagi.
Berdiri. Tatapannya datar.
Ekspresinya berubah stres. Memegang kepalanya sambil berteriak lagi.
Ia menggoyangkan kepalanya seperti pemusik rock dan... berteriak lagi. Satu tangannya diangkat membentuk pose khas penyanyi rock. Kini tampaknya sedikit lebih normal.
Gak sih. Masih keliatan aneh.
Saat Moiro masih berkelakuan aneh—seperti orang gila—ada seorang gadis lewat di depannya.
"A-Asahi?" tanya gadis itu. Matanya mengerjap heran, "Kamu... Asahi, kan?"
^^^Ilustrasi dari AI.^^^
Kok tiba-tiba dikasih foto?! Author...? MAKASIH BANYAK!
Moiro segera berubah menjadi lebih dingin. Ia berdiri tegak, menatap datar padanya, "Sano, ya?"
Lah?! Langsung berubah?!
Mika Sano, itulah nama gadis itu. Dia adalah salah satu teman sekelas Moiro di sekolah menengah atas, yang juga kebetulan posisi bangkunya dekat dengannya, jadi dia cukup mengenal Moiro.
Mika mengangguk singkat, "Benar. Kenapa kamu ada di sini senja-senja begini?"
Moiro sedikit tersentak, namun tak terlihat bereaksi. Ia cukup bingung karena tiba-tiba ditanya begitu saat pikirannya masih terasa pusing karena hal-hal tak jelas yang terjadi di kafe sebelumnya.
Matanya melirik ke samping, berusaha mencari alasan, "Aku... pulang dari toserba."
Boong bet dah ni bocah.
"Toserba?" tanyanya bingung.
Ia memiringkan tubuhnya sedikit ke samping, menatap ke tangan Moiro, "Tapi aku gak ngeliat kamu bawa barang."
Moiro membatu, wajahnya masih serius, "Ah, sial...! Aku keliru ngasih jawaban!"
Makanya jangan boong.
Moiro mengangkat kedua tangannya dan melipatnya di depan dada. Pandangannya dipalingkan, "Yaa.. sebenarnya gak ada yang kuinginkan di sana. Jadi aku pulang gak bawa apa-apa."
Mika mengerjap, lalu kembali menegakkan badannya, "Be-begitu, yaa...?"
Moiro kembali menatapnya, "Kalau kau, kenapa ada di sini?"
Mika sedikit memiringkan kepalanya, jari telunjuknya menyentuh dagu bagian samping, "'Kenapa ada di sini'? Rumahku kan di dekat sini."
"Kamu lupa ya, Asahi?" lanjutnya sambil tersenyum. Kedua tangannya dilipat di belakang tubuhnya.
Moiro kembali membatu, "Haa... Aku gak tau...!"
Bloon bet.
Moiro memalingkan pandangannya lagi, "Benarkah? Sepertinya aku lupa. Maaf."
Mika tersenyum manis, menahan taw kecilnya, "Gak perlu minta maaf."
Dia menepuk tangannya sekali, lalu berkata, "Oh, iya! Mumpung kamu lagi di sini, mau mampir bentar gak?"
Dia melanjutkan sambil memiringkan kepala dan tangannya yang masih rapat, "Mungkin kamu lapar atau—"
"Tidak perlu," sahut Moiro cepat. Tangannya diarahkan pada Mika seolah berkata stop, "Aku langsung pulang aja."
Mika terdiam sebentar, lalu menurunkan tangannya perlahan, "Be-begitu, ya...? Baiklah kalo gitu..."
Moiro mengangguk singkat, lalu berjalan menuju rumahnya.
"Hati-hati di jalan!" seru Mika sambil melambai tinggi.
Moiro tak menoleh, namun ia mengangkat satu tangannya untuk membalas lambaian Mika tanpa berbalik.
Sok keren bet.
.........
Saat Moiro sudah mulai jauh dari tempat Mika, ekspresinya langsung berubah menjadi cemas sedikit takut, "Siapapun gak boleh tau kalo aku kerja paruh waktu jadi maid! Betul, harus kurahasiakan!"
Setelah berjalan beberapa waktu, kini Moiro telah sampai di depan rumahnya. Ia menatapnya sebentar, lalu bergumam, "Mungkin aku perlu kerja tambahan buat lunasin hutang."
Ia pun menghela napas sebelum akhirnya masuk ke dalam rumahnya.
Rumahnya nampak biasa saja, seperti rumah murah pada umumnya. Bangunan dengan desain standar, ukuran yang cukup untuk ditinggali tiga orang, dan memiliki halaman depan yang cukup luas.
Saat masuk ke dalam rumah, ia menatap sekelilingnya yang nampak kosong dan gelap. Tak ada yang menyambutnya, tak ada kehangatan dari senyuman tulus yang menghampirinya. Ia merasa kesepian, sendirian.
Moiro menyalakan lampu, membuat seisi rumahnya menjadi lebih terang.
Saat itu, ia melihat sebuah foto besar hewan lucu dengan bingkai kayu di samping sakelar lampu, dan Moiro langsung terpikirkan hal yang seharusnya ia lakukan sejak dulu.
"Tunggu, ini foto kan gak kepake? Aku bisa jual sama sekalian beberapa barang yang gak dibutuhin, setidaknya mengurangi jumlah hutang yang ada," gumamnya, "Benar juga. Kenapa aku baru kepikiran?"
Ia meletakkan jari telunjuk dan jempolnya di bawah dagu, berpose keren seolah baru mendapatkan petunjuk yang datang. Matanya terpejam dan tersenyum bangga, terlihat sedikit sombong, "Aku memang jenius."
"Meski baru kepikiran, sih..." matanya kembali terbuka dan melirik ke samping, sedikit kehilangan kepercayaan dirinya, "Itu oon bet. Tapi gak papa."
Tangannya turun perlahan, lalu senyuman tipis muncul di bibirnya, "Aku akan melunasi semua hutang kalian, Ayah, Ibu."
Ia melipat tangannya di depan dada, kepalanya sedikit menunduk, "Meski kalian ngutang gak ngasih tau, tapi aku tetap menyayangi kalian."
Tangannya mulai bertolak pinggang, "Baiklah. Kita lihat, barang apa aja yang gak penting buatku."
Matanya melirik sekitar, menyusuri tiap-tiap jengkal rumahnya, mencari barang yang sekiranya tidak akan terpakai olehnya—barang yang tidak ia butuhkan.
Tapi... yang ia liat justru ruangan yang cukup berantakan. Sudah berapa lama ia tak membereskannya?
Moiro menatap datar. Ia menunduk sambil membuang napas panjang, "Mungkin malam ini aku bakal sedikit beres-beres... Lembur, nih."
Ia mulai tersenyum tipis, lalu berkata pelan, "Daripada ngeluh, mending langsung kerja."
Ia menggenggam tangannya, mengkretekkan jari-jarinya. Matanya menatap tajam, lalu berkata berat, "Baiklah... Harus mulai dari mana, ya?"
Itu... gak pengen berantem kan?!
Di malam itu, Moiro berusaha keras membereskan rumahnya, memisahkan barang yang tak terpakai dan meletakkannya di suatu tempat dekat pintu keluar agar mudah dipindahkan, sampai akhirnya tertidur di atas sofa pada tengah malam karena kelelahan.
...***...
Di pagi harinya, saat matahari mulai terbit, ia akhirnya terbangun dalam keadaan masih mengantuk dan sedikit lelah.
Ia duduk, mengerjap, menguap, lalu menggosok matanya pelan.
Hidungnya bergerak perlahan, mencium aroma tak sedap di sekitarnya.
"Bau apa ini...?" gumamnya pelan karena masih mengantuk.
Ia menoleh ke samping, depan, dan belakang, mencari sumber aroma tak sedap itu. Tangannya menggaruk kepalanya sendiri karena bingung.
Sampai akhirnya ia tersadar sesuatu bahwa...
"Oh, iya..." ucapnya pelan, tatapannya datar, "Kemarin aku gak mandi."