Stop plagiat!!
Dan ini karya prematur, jadi jangan bandingin sama Kun.. Ini genre romance bukan detektif, jadi jangan nyari teka-teki di sini. Kalau mau mecahin teka-teki, belilah buku teka teki silang 😗
.
Jangan sekali-kali melupakan sejarah (Jas Merah) -Ir. Soekarno.. atau maksudku, jangan sekali-kali merubah sejarah...
Aku seorang gadis bernama Ayu yang benar-benar mencintai sejarah romantis tentang Raja Anggara namun aku malah begitu membenci ratu yang bersamanya.
Dia pengkhianat dan tak pantas untuk raja.
Ya, itu yang sebelumnya selalu ku katakan, sebelum aku terdampar pada masa-masa berdirinya kerajaan yang di pimpin oleh Raja Anggara..
Ternyata... ini yang sebenarnya terjadi..
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Gerimis Senja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Menyetujui
Suasana menjadi tegang ketika tiga lelaki ini saling adu pandang dengan tatapan mata yang tajam. Aku tak tahu harus berbuat apa, mereka bertiga tak mungkin berkelahi di sini kan? Ku rasa Agam dan Kun bukanlah tipe yang suka bermain kekerasan pada fisik, meskipun Kun agaknya suka sekali mencari keributan pada orang lain.
"Maaf, apa perbuatanku termasuk lancang?" Ujar si prajurit, bertanya dengan penuh kebimbangan.
"Bagus kalau kau menyadarinya." Singkat Agam. "Kami di sini tak ingin mencari keributan pada siapapun. Hanya saja, jika kau ingin membawa gadis ini, kau harus meminta persetujuan ibunya dulu. Lebih beradab kan?" Tambah Agam, membuat jantungku kian berdebar.
"Apa kalian akan berkelahi?" Tanyaku panik, namun Agam dan Kun hanya menggeleng tanpa menolehku. Dan aku malah di abaikan oleh mereka bertiga.
"Baiklah.. kalian ada benarnya. Hanya saja, kalian harus memikirkan kalau permintaan dari kerajaan itu mutlak, dan meski ibumu melarang, maka kau tak punya pilihan." Ujarnya, dan aku dapat melihat Agam mengepalkan kedua tangannya. Meski tak melihat wajahnya, itu sudah menjadi bukti kalau ia sedang marah sekarang.
"Kami tahu tentang hal itu. Bahwa permintaan raja itu mutlak. Tapi sayangnya, aku lebih suka mati karena tak menuruti keinginan raja, ketimbang melawan keinginan orang yang telah melahirkan ku." Seketika perkataan Agam membuat prajurit tadi mengeluarkan semacam tombak yang ia bawa di belakang tubuhnya.
Ia mengayunkan senjata tersebut dan mengarahkannya kehadapan Agam. Namun teriakan si penjaga toko membuat prajurit ini menghentikan serangannya.
"HENTIKAN, NAK!!" Ibunya memekik. "Mereka semua adalah orang yang telah membantu ibu ketika sakit!!" Lanjutnya, membuat Agam mengembangkan senyum sinis yang benar-benar membuat mental siapa saja yang melihatnya menjadi ciut.
"Kenapa?" Tanya Agam datar. "Kenapa kau berhenti dan mendengarkan ibumu? Bukankah kau mau menyerangku karena telah menghina rajamu?" Lanjutnya.
Lelaki tadi terus menggenggam tombak tersebut dengan erat, hingga aku bisa melihat permukaan tangannya yang nampak memerah, serta tombak yang bergetar hebat.
Prajurit tadi mengerekatkan giginya sambil menatap penuh kekesalan pada Agam. "Sialnya, kau benar!! Meski aku menghormati rajaku, tapi aku akan lebih mendengarkan perkataan dan perasaan ibuku." Ia mulai berujar seraya menurunkan tombaknya dari hadapan Agam, membuat kedua mataku mengerjap.
"Kalau begitu, izinkan kami untuk membawa gadis ini pada ibunya. Kalau kami tak kembali, artinya kami menolak permintaan itu." Lanjut Agam sambil berbalik, dan menarikku serta Kun menjauh dari rumah ini.
.........
Di perjalanan pulang, Agam dan Kun benar-benar mengabaikanku. Apakah ada kesalahan fatal yang ku lakukan lagi?? Sebenarnya meski telah bersama mereka dalam beberapa waktu, aku masih menganggap dua orang ini sebagai sesuatu yang misterius.
Aku tak dapat menebak jalan pikiran mereka, dan bagaimana mereka itu sebenarnya. Meski begitu, aku yakin kalau mereka berdua adalah orang baik yang tak akan berlaku buruk kepadaku.
"A.. Anu, apa gue boleh bicara sesuatu?" Aku bergumam pelan, benar-benar takut jika mereka akan menatap dengan raut wajah mencekam.
"Hn." Singkat Agam, tanpa menoleh.
"Kenapa tadi itu, kalian gak izinin aja gue ikut cowok tadi. Kalian kan bisa ngomong sama Bu Sari kalau gue mau masuk ke istana." Perkataanku lantas terhenti ketika Agam berbalik seketika.
Ia menatap ku dengan kedua mata yang sendu namun terlihat tajam. "Itu cara lu berterimakasih?" Singkatnya, namun perkataan itu benar-benar menghantam jantungku. "Kalau hanya bodoh dan ceroboh, itu adalah hal yang bisa gue maklumi, tapi kalau elu gak menghormati orang yang tulus apalagi umurnya lebih tua dari kita, gue gak akan-"
"Gyaaaaa!! Ampuuuun!!" Aku memekik takut, bahkan sebelum Agam menyelesaikan perkataannya. Aku yakin kalau kalimat yang akan keluar dari mulutnya itu adalah sesuatu yang mengerikan.
Ia hanya menghela napas panjang. "Gue cuma pernah bunuh iblis, jadi jangan bertingkah seolah-olah gue mau ngebunuh manusia juga." Keluh lelaki tampan ini.
Dan lagi, kenapa sejak tadi Kun hanya terdiam?? Bukankah ini adalah hal yang tak wajar terjadi?? Dia kan sangat-
"Saya mendengarnya tahu!!" Bentak Kun hingga membuatku kembali ketakutan.
"Jangan baca isi hati gueeee!!" Jeritku sambil menekan kepala dengan kedua tanganku. "Lagian kan kalau lu diem, itu justru bikin gue ngerasa curiga." Lanjutku.
Kun melirik ke bawah sekelabat. Mata hijaunya terlihat berkilau meski tatapan matanya cenderung kosong.
"Saya sedang memikirkan.. apakah sebaiknya kita tidak melarang Ayu melakukan sesuatu." Ujarnya sambil menatap Agam, seolah meminta persetujuan dari lelaki tinggi ini.
Agam menghela napas panjang. "Gue juga sempet mikirin itu Kun." Ia terdengar setuju. Namun malah aku yang merasa bingung.
"Kenapa kalian ngomong begitu? Kalau Agam udah mikirin hal itu, harusnya Kun kan bisa denger dan tahu. Kenapa kalian bicara seolah-olah kalian berdua saling gak tahu." Perkataanku membuat Kun melirik penuh ambigu.
"Saya tak bisa mendengar suara hati Agam."
Dan perkataan itu benar-benar membuatku terkejut bukan kepalang. "Gi.. gimana bisa? Elu bahkan bisa mendengar suara hati semua orang, tapi.. kenapa Agam gak bisa??"
Mereka berdua hanya terdiam, sebelum akhirnya menjelaskan padaku. "Gue reinkarnasi dia dalam bentuk tubuh, sementara dia adalah sebagian dari diri gue dalam bentuk ruh. Meski gak bisa saling membaca isi hati, kami bisa saling memahami karena kami memiliki pola pikir sejenis. Tapi terkadang kami butuh konfirmasi satu sama lain, apakah kehendak kami sejalan atau enggak. Meski pada akhirnya, kami selalu berakhir dengan tujuan yang beriringan."
Aku mengerjap. Serasa tak percaya mendengar penjelasan Agam. "Ta.. tapi gue gak ngerti apa maksud lu. Reinkarnasi itu kan terlahir kembali. Tapi kok.. kalian ada dua?? Gimana sih?"
"Itu gak penting untuk di bahas. Hanya aja gue sekarang lagi mikir, masa depan itu ada, karena masa lalu yang udah pernah terjadi. Jadi, mau apapun yang elu lakuin, masa depan tetap akan begitu. Karena semua sejarahnya udah terukir. Itu udah lewat dan udah terjadi. Itu sesuatu yang di sebut takdir."
"Logikanya, gak akan mungkin masa depan berubah, hanya karena elu melakukan sesuatu kayak ketemu raja atau apapun. Itu berjalan sesuai kronologi, jadi spekulasinya.."
"...mau elu ketemu raja atau enggak, mau elu ikut campur atau enggak. Masa depan tetap akan begitu. Dan buku sejarah yang tertulis tetap akan begitu. Jadi.. menurut gue, kita gak harus diam dan menahan diri, tapi.. kita harus-"
"Bergerak sesuai keinginan diri sendiri." Kun melanjutkan potongan perkataan Agam dengan wajah penuh ambisi.
Sesampainya di rumah Bu Sari, aku mengatakan perihal ini kepadanya. Dan di luar dugaan, ia nampak sedih hingga matanya berkaca-kaca.
Ia berpura-pura tegar dengan mengucek matanya. "Ah, jadi begitu.. kamu di minta untuk menjadi tabib para prajurit kerajaan?" Suaranya terdengar sengau, seolah ada ingus yang memenuhi ruang hidungnya.
"Kalau Bu Sari tak mengizinkan, aku tak akan memaksa. Lagi pula sepertinya ibu juga tak ingin aku masuk istana dan meninggalkan rumah. Jadi.. aku berpikir untuk menahan diri dan memikirkan Bu Sari." Ujarku lirih.
Bu Sari langsung terkesiap mendengar perkataanku. "Tidak.. sama sekali tidak. Meski ibu sedih, ibu tak akan melarangmu untuk pergi. Kau mendapat mandat dari yang mulia raja. Kau tak boleh membantahnya." Ia terdengar tegar, meski sorot matanya nampak kesepian.
"Benarkah? Tapi.. bukankah Bu Sari tak rela jika aku mengikuti sayembara tujuh belas. Itu.. karena ibu tak mau aku meninggalkan ibu kan?" Terkaku, sesuai dengan apa yang di katakan oleh Agam dan Kun.
"Apa?" Ia terdengar kaget.
"Apa aku keceplosan?" Tukasku cepat, sementara Agam dan Kun hanya menghela napas lelah.
"Ibu.. ketahuan ya?" Gumamnya pelan.
"Jadi.. itu benar??" Tanyaku, dan Bu Sari hanya mengangguk malu. "Tapi.. kenapa? Apakah ibu memang tak mau kalau aku pergi dan meninggalkan ibu sendiri?"
Ia terdiam sesaat. Di tuangnya air minum dalam teko dari tanah yang di bakar ke dalam cangkir, lalu di sesapnya sedikit demi sedikit.
"Apakah ada hal aneh yang terjadi dari sayembara tujuh belas itu?" Tanya Agam, yang sebelumnya hanya bisa terdiam dan menyimak.
Bu Sari menatap lirih ke arah Agam, namun masih enggan menjawab.
"Ku dengar dari anak Bu Dewi, kakak perempuannya yang mengikuti sayembara tak pernah pulang setelah mengikuti hal tersebut." Lanjut Agam, dia terlihat keren ketika berbicara dengan nada suara rendah begitu.
"Apakah dia di pilih jadi ratu? Jadi selir?? Atau bagaimana? Bukankah tak semua wanita yang di pilih menjadi istri raja. Hanya gadis yang benar-benar cantik saja yang bisa menjadi istrinya. Lalu pertanyaannya, kemana para gadis yang tak di pilih itu?"
Bu Sari benar-benar membisu. Ia menenggak ludahnya sambil menatap kami bertiga secara bergantian.
"Ibu juga tidak tahu. Tapi, kata beberapa orang yang sudah bekerja di dalam sana.. para gadis di pekerjakan di dalam istana." Terangnya.
"Kalau benar, dan setiap tahun selalu ada gadis yang mengikuti sayembara.. bukankah itu tak efektif, mengingat akan terlalu banyak pekerja yang berada di dalam istana, sementara meski umur mereka terus bertambah, tapi.. tujuh belas tahun itu umur yang sangat belia dan masih jauh dari kata pemangkasan pemberhentian kerja karena umur yang sudah tua." Agam benar-benar cerdas, terlihat sekali dari cara bicara dan intuisinya. Bahasanya rumit, kepalaku jadi sakit.
"Raka juga pernah berkata demikian." Ujar Bu Sari, dan Agam terlihat tersentak ketika Bu Sari mengatakan hal tersebut.
Kun langsung tersenyum dengan wajah yang serius. Dan terus-terang saja, itu benar-benar membuatku takut.
"Jadi begitu?" Kun langsung melirik Agam, dan Agam hanya diam sambil mengangguk.
Apa?? Apa yang mereka ketahui?? Apa sih??
"Ada apa? Jadi begitu apa maksudnya?" Tanya Bu Sari, benar-benar mewakili pertanyaan ku.
"Tak ada.. sepertinya kami akan mulai berjualan di pasar dekat balai kota. Kami harus kembali ke pekerjaan awal kami." Tukas Agam mantap, sementara aku jadi bimbang untuk benar-benar meninggalkan Bu Sari.
"Begitu? Jadi, Ayu juga akan pergi untuk mulai bekerja di istana?"
Aku hanya terdiam ragu. "Lalu.. bagaimana dengan Bu Sari? Ibu akan sendirian setelah ini?" Tanyaku bimbang.
Ia hanya tersenyum. "Mungkin ibu akan sering-sering ke rumah Nur. Atau bahkan menginap di sana."
Aku mengernyit sendu. "Apakah tak apa?"
Bu Sari mengangguk mantap. "Meski mendadak, entah kenapa ibu telah memikirkan kalau ini memang akan terjadi. Tapi tak menyangka kalau kau akan di pekerjakan secepat ini." Lanjutnya.
Selepas membicarakan ini pada Bu Sari, Kun dan Agam membantu mempersiapkan barang-barang milikku yang pernah di berikan oleh Bu Sari. Mereka juga mau membawakannya untuk ku.
Kami pun berpamitan dengan Nur dan juga ibunya, serta aku meminta tolong agar mereka mau menerima Bu Sari dengan baik.
Di satu sisi, Nur malah terlihat sedih, dan aku tahu di mana kesedihannya itu berasal. Pasti karena Kun akan ikut ke kota bersama Agam, jadi dia tak bisa ke rumah setiap hari dan memasakkan sesuatu untuk Kun.
"Kun, Agam.. dan Ayu.. berhati-hati lah di perjalanan. Jangan lupa makan kalau kalian kelaparan." Ujarnya mengingatkan. Dan aku tahu, itu sebenarnya adalah perkataan untuk Kun. Dan bodohnya, hantu ini malah sok-sok tidak tahu.
"Hei Kun!! Katakanlah sesuatu!" Ucapku sambil mendorong tubuh Kun ke arah Nur. Ia terkesiap, sedikit kesal menatapku. Namun ekspresinya seketika berubah ketika menatap Nur yang masih menekuk wajah.
"Kau.. terimakasih karena telah memberi saya makan. Makananmu enak, meski tak seenak buatan Agam. Belajarlah memasak yang rajin. Nanti kau akan dapat suami yang baik." Tutur Kun, dan nampaknya Nur senang sekali dengan ucapannya itu.
Selepas berpamitan dengan orang-orang di desa, kami mulai melakukan perjalanan lagi yang memakan waktu beberapa jam dari desa pesisir ke kota. Kakiku akan menangis lagi hari ini.
Di perjalanan, aku melirik ke arah Kun. Meski Nur bilang untuk tak mengatakan ini pada Kun, seharusnya Kun sudah tahu kan perasaan Nur padanya. Dia kan bisa membaca suara hati.
"Ya, saya tahu kok."
Aku langsung merinding ketika Kun kembali melakukan hal itu. Dia langsung menjawab suara hatiku.
"Jangan baca isi hati gue dan langsung ngejawabnya begitu!! Nakutin tau!! Lagian tahu apa maksud lu?! Tahu tempe?" Bentakku menggerutu.
"Saya tahu Nur itu suka saya."
"Apa?!" Kini malah Agam yang terlihat kaget. "Nur suka Kun?" Ekspresinya tampak terguncang. Sedetik kemudian ia langsung terbahak, tak tahu apa yang membuatnya merasa kalau itu adalah hal yang lucu.
"Kenapa, Gam?" Tanyaku heran.
"Pantesan, Kun sedikit menjaga sikapnya. Gue rasa, dia sering bertingkah buruk pada semua orang. Tapi ke Nur enggak, apa elu suka dia juga Kun?" Tanya Agam, sedikit meledek agaknya. Mirip seperti kakak lelaki yang menjahili adik kecilnya.
"Tidak. Saya bahkan tak memiliki ketertarikan khusus pada lawan jenis atau manusia. Saya hanya suka makanan." Singkatnya datar. "Tapi.. darimu saya belajar untuk menjaga perasaan orang lain. Memberi harapan itu bukan gaya saya. Tapi tak berlaku buruk bukan berarti saya suka."
"Saya juga merasa kalau sikapnya itu seperti Ayuk saya. Jadi saya menghargainya sebagai itu. Dia merawat saya." Ucapnya.
"Wah wah wah.. Si manipulatif dan orang yang antisosial bisa menghargai orang lain. Ternyata banyak juga hal baik yang bisa di dapat dari sini." Ujar Agam sambil tersenyum.
Kami pun meneruskan perjalanan menuju rumah si penjual cilok waktu itu. Beberapa jam waktu berlalu, dan kami sampai pada tempat tujuan.
Ketika sampai di sana, prajurit tadi telah menyambut kedatanganku dengan senang.
"Ternyata kalian datang!! Artinya kalian mengizinkan gadis ini untuk mengikuti ku masuk ke dalam istana?" Tanyanya senang, namun Agam dan Kun masih dalam mode melindungiku.
"Kau tak memiliki jabatan atau wewenang untuk membawanya masuk. Aku tak ingin terjadi sesuatu padanya dan orang-orang istana akan menganggap mu membawa penyusup." Ujar Agam, aku jadi senang. Rasanya seperti sangat di pedulikan.
"Lalu apa yang harus ku lakukan?" Tanya si prajurit.
"Bawa salah satu ketua prajurit yang memang di perintahkan untuk membawa gadis ini."
"Atau kalau perlu, bawa jenderal itu kemari!" Perkataan Agam membuat kami semua terbungkam.
Ma.. mana mungkin, seorang prajurit.. harus menjemput ku kesini??
.......
.......
.......
.......
...Bersambung.......
dan belati itu yg akan menikam ayu sendiri