Di dunia yang selalu mencari pemenang, ia memilih untuk berjalan sendirian, tidak untuk menang tapi untuk menghentikan sesuatu yang tak pernah benar-benar ia pahami.
Ia kembali, bukan sebagai anak yang ingin belajar, tapi sebagai seseorang yang sudah tahu terlalu banyak, dan percaya terlalu sedikit. Di matanya, dunia ini belum berubah, hanya lebih pandai menyembunyikan niat buruk di balik tradisi dan kehormatan.
Ia tak datang mmembawa dendam. Tapi tidak juga datang dengan damai.
Dalam bayang-bayang kesunyian malam, medan perang telah menanti di ujung waktu, satu langkah kecil menjadi pemantik sejarah baru. Atau hanya jejak lain yang hilang bersama debu?
(Remake)
Zhong Li -> Shi Yexian
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Raffa Alief, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ch. 23 - Mengingat Kenangan
Tian Zhi memaksakan kaki kecilnya untuk terus melangkah maju menaiki jalanan tanjakan. Dirinya saat ini sedang mendaki Gunung Agung sendirian, “Sebentar lagi, bertahanlah sebentar lagi!”
Di puncak gunung itu perempuan berambut putih dengan iris biru cerah, dengan satu-satunya tangan kanannya yang tersisa, sedang menanti kepulangan adiknya yang berharga dengan duduk di atas kursi yang ada di depan rumahnya.
“Aku pulang! Ah akhirnya sampai juga, mendaki gunung memang sangat melelahkan!” Tian Zhi pulang ke rumahnya dengan raut wajah yang cemberut. “Kak! Bisakah kita berganti posisi, aku sudah sangat lelah untuk mengawasinya.”
“Selamat Datang! Kau ini, baru saja sampai kesini sudah langsung mengeluhkan hal yang tidak perlu… Kau lihat kan bagaimana keadaan kakak mu tersayang ini.” Gaia menutup mulutnya manis.
“tolong jangan bersikap seperti itu, entah kenapa itu membuatku merinding.” Tian Zhi merasakan rasa geli menggelitik punggungnya. “Aneh! Biasanya kau tidak terlihat bisa tersenyum selebar itu, apakah ada yang membuat hati mu tergerak?”
Tian Zhi tersenyum tipis, dirinya berjalan mendekati kakak perempuannya dengan santai, berniat untuk membantunya masuk ke dalam rumah. “Hei, jangan anggap aku seperti orang cacat, aku ini masih bisa berjalan.”
Kepribadian perempuan itu berubah dengan sangat cepat , Tian Zhi yang sudah terbiasa dengan hal ini hanya akan terkekeh pelan sebelum akhirnya menjawabnya dengan kebenaran. “Kau bisa berjalan?… jangan bercanda kak, kau sudah tidak bisa melakukannya lagi… mungkin hanya untuk keluar dari rumah itu saja harus membuatmu merangkak berjam-jam.”
“Atau mungkin dengan cara terbang? Ah, terserah kau saja…” Tian Zhi bergerak dengan cepat membopong perempuan itu di atas bahunya, berniat untuk membawanya ke dalam rumah.
Gaia jelas memberontak karena diperlakukan seperti itu oleh adiknya. “Hei anggap aku seperti orang normal! Aku ini kakak mu, tolong sopan lah sedikit!”
Ribuan perkataan menghujani telinga Tian Zhi dengan beruntun, tidak ada celah untuk istirahat sama sekali. “Sudahlah cepat lah tidur sana, pekerjaan ku masih banyak” Tian Zhi melemparkan tubuh kakaknya itu ke ranjang, dan menyuruhnya untuk tidur agar tidak mengganggunya bekerja.
“Sialan! Andaikan saja aku masih memiliki kekuatan, aku berjanji akan membunuhmu! Andaikan saja anak kecil itu tidak membuatku cacat seperti ini.” Gaia berdecak kesal, menggigit bibirnya dengan kuat dan memalingkan tubuhnya.
“Kau sudah mengakui jika kau adalah orang cacat jadi aku tidak akan berbuat apa-apa lagi. Selamat malam!” Tian Zhi berbalik menuju ke arah pintu masuk ruangan.
“Tu-tunggu! Bukankah ini masih siang!? Kenapa aku harus tidur saat ini.” Perkataan Gaia membuat langkah Tian Zhi terhenti.
“Kau adalah orang cacat jadi tidur lah.” Tian Zhi memutar pandangannya.
“Bukankah sudah ku bilang jika aku tidak cacat! Tolong akhiri penyakit sok tahu mu itu.” Gaia merubah posisinya menjadi duduk, rautnya terlihat sangat cemberut, dengan pipinya yang ia gembung kan di kedua sisinya.
“Apa yang kau inginkan, apakah aku harus menceritakan dongeng lagi agar membuat mu tertidur.” Setelah perkataan itu keluar dari mulutnya, Tian Zhi bisa melihat jika pipi dari kakak perempuannya itu sedikit memerah. “Akui saja itu… aku akan mengambil bukunya sebentar jadi tunggulah dan jangan kemana-mana.”
“Jangan mengambil sebuah kesimpulan dengan terburu-buru!” Gaia berteriak kencang, tapi saat itu Tian Zhi sudah tidak lagi ada di tempatnya.
***
“Achoo!”
“Hmm?… Ada apa, apakah kau sedang terkena flu?” Perempuan dengan rambut berwarna cerah dengan mata yang berwarna emas itu melirik dan bertanya kepada perempuan yang ada di belakangnya.
“Tolong jangan samakan penyakit dewa dengan manusia, itu sangat berbeda…” Rambutnya berwarna hitam polos dengan matanya yang berwarna biru gelap, menjawab santai perempuan yang sedang berjalan di depannya.
Perempuan bermata emas itu melebarkan matanya. “Bukankah kau dulunya hanyalah seorang manusia, jadi mungkin bisa saja jika penyakit lama mu itu akan menyerang mu lagi.”
“Itu sama sekali tidak bisa di sandingkan lagi, aku yang sekarang adalah dewa dan dulu adalah manusia. Perbedaan besar itu tidak akan bisa di tembus atau di lewati, bahkan dengan kekuatan ku sekali pun.”
Perempuan bermata emas ganti mengerutkan keningnya, dia kembali melirik perempuan berambut hitam polos yang masih berjalan dengan santai di belakangnya.
“Jujur setelah sekian lama kau mengabdikan dirimu kepada ku, aku masih belum mengetahui apa kekuatan mu beserta artinya sebenarnya.”
“Aku bisa melihat jika terdapat Unsur Jiwa Es di dalam tubuh mu tapi ada sesuatu yang tidak lebih besar dari itu, namun sampai sekarang masih belum ku ketahui… Dirimu itu sangatlah jauh dari kata sempurna, tapi anehnya kau malah bisa duduk sejajar dengan dewa di saat ini.”
“Ayah ku pernah mengatakan jika sesuatu yang tidak sempurna, akan jauh lebih cepat dan giat untuk mencari kesempurnaannya dari yang lain… Itu lah yang ku percayai.” Tanpa memberhentikan langkahnya untuk berjalan menyusuri lorong yang megah, mereka berdua bertukar mulut dengan santai.
“Sepertinya kau memang mencintai keluarga mu lebih dari siapapun ya? Tapi aneh sekali! Saat aku menyuruhmu untuk membunuh mereka semua, kau malah menurutinya dengan senang hati! Sangat menarik…” Perempuan bermata emas itu tertawa dengan sangat keras.
Sedangkan di sisi lain, perempuan berambut hitam tampak mengelus dagunya sedang memikirkan sesuatu. “Sepertinya salah satu dari mereka sedang membicarakan hal buruk tentang ku.”
Mendengar itu perempuan bermata emas menelan tawanya kemudian kembali bertanya. “Hmm, Maksudmu salah satu dari dua saudara yang masih hidup setelah serangan mu itu… tapi aneh sekali, bisa-bisanya kau menghubungkan penyakit mu itu dengan omongan buruk mereka kepada mu.”
“Eh? Apakah anda tidak tahu tentang mitos seperti ini… bahkan jika saja aku dan anda membicarakan hal buruk tentang Gaia dan Fanrou saat ini, kemungkinan besar mereka juga akan mengalami hal yang sama dengan hal yang ku alami beberapa saat yang lalu.”
“Heh… Pemikiran manusia memang sangat menarik-…”
***
“Achoo!”
“Hmm? Aku bisa melihat jika kakak sialan itu sedang membicarakan mu di atas sana. Apakah kau ingin mendatanginya, berharap mungkin saja nyawa mu akan segera di cabut dan mengikuti jejak kaki ayah dan ibu yang sudah berada di surga.” Tian Zhi sudah selesai menceritakan sebuah dongeng untuk kakaknya, tapi kakaknya masih juga belum terlelap tidur.
“Lebih baik kau diam saja, kau tidak memiliki hak untuk berkomentar tentang kematian mereka.” Gaia memanyunkan bibirnya, membuang mukanya mentah-mentah ke arah lain.
“Yah itu wajar saja, dirimu dan kakak sialan itu adalah anak ke sayangan ibu dan ayah sedangkan kami hanya mendapatkan sisanya saja.” Tian Zhi berdiri dari kursinya, dengan membawa buku dongeng di tangannya dirinya berjalan keluar ruangan.
“Benar, tapi itu adalah kesalahannya, andaikan saja kami berdua tidak mendapatkan cintanya lebih dari kalian mungkin takdir ini tidak akan terjadi.” Gaia bergumam pelan, tapi itu masih bisa di dengar oleh Tian Zhi.
“Tapi meskipun begitu, kau adalah orang yang paling di sayangi nya, berpaling dari ibu yang sudah meninggalkan kita dan ayah lebih dulu, kau adalah orang yang paling mirip dengan ibu sehingga bisa di jadikan pengganti… Selamat Malam!”