Judul sebelumnya 'Sahabatku, Duri Pernikahanku'
Apa wanita ditakdirkan untuk menangis? Apa wanita tidak memiliki kebahagiaan?
Wanita ingin merasa bahagia. Baik istri pertama atau kedua.
Hal apakah yang harus ditangisi oleh wanita? Hal apa yang istimewa?
inilah kisah
Air mata berharga.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon fatmass, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
part 23
Hari ini Bella menuju kantor milik Mahardika. Walaupun Diana mengatakan bahwa Bella boleh membawa anaknya tapi tetap saja Bella merasa tidak enak dan akhirnya memilih menitipkan anaknya ke tetangganya.
Tampilan sederhana dengan rok yang pas selutut dan kemeja peach lengan panjang. Tanpa baluran make up membuat wajah Bella menjadi lebih natural dan manis tidak mencolok.
Memasuki ruangan pemilik perusahaan Mahardika.corp.
"tok tok tok" ketukan pintu di dengar oleh Mahardika kala Bella sedang mengetuk pintu.
"Masuk!" Tegas Mahardika.
Bella membuka pintu ruangan dan nampaklah Mahardika yang menatapnya. Bella sedikit gugup namun ditepisnya dan segera mendekati Mahardika.
'Ini orangnya? cantik! suaminya mungkin katarak!' Gumam Mahardika di dalam hatinya.
"ekhem silahkan!" Seru Mahardika memecah keheningan.
Bella pun mengedarkan pandangannya dan duduk di depan Mahardika siap untuk melakukan wawancara.
"Apa kamu punya keahlian khusus?" Tanya Mahardika.
"Untuk keahlian khusus saya tidak punya tapi jika mencobanya saya bisa karena saya pernah mempelajari!" Seru Bella dengan senyumannya.
"Bagian apa yang ingin kamu coba?" Tanya Mahardika lagi.
"Saya bisa menjadi apa pun yang Tuan perintahkan, jika saya meminta kurang sopan karena saya datang karena usulan--"
"Tidak usah dipikirkan kalau boleh saya tau kamu punya anak?" Tanya Mahardika dengan hati hati.
Entah dorongan apa membuat Mahardika begitu ingin tahu tentang Bella. Tidak pernah sekalipun Mahardika seperti ini. Mengurusi hidup orang lain apalagi sekarang masih jam kerja.
Bella sedikit gugup untuk hal ini bagaimana dirinya bisa membuka aib yang ditorehkan oleh suaminya.
"Saya punya!" Seru Bella tetap senyumannya.
"dan suami?"
DEG.
suami? Bella mendengar kata suami membuat hatinya bergerumuh. Pengkhianatan yang dilakukan suaminya kembali memutari seluruh penyimpanan otaknya.
Entah Mahardika kali ini benar benar kurang ajar. Waktu mendengar cerita dari Diana membuat dirinya ingin tau lebih lanjut dengan masalah yang dihadapi Bella. Entah pertama kali melihat Bella juga membuat hatinya sedikit berdesir.
"Saya tau kamu punya privasi sendiri maaf!" Seru Mahardika.
Bella hanya tersenyum menanggapi. Entah sejak kapan dimatanya kini menggenang air mata. Mahardika yang melihatnya merasa bersalah telah membuka hal menyakitkan dari wanita di depannya.
"Ikut saya!" Tegas Mahardika menarik tangan Bella dan membawanya menuju mobilnya.
...•••••••••••••••••...
Dhani berniat kembali ke rumah Bella namun nihil hasilnya. Bella tidak berada dirumah. Dhani yakin jika saat ini Bella pasti sudah pindah. Dhani benar benar merasa bersalah. Dirinya memutuskan untu kembali ke rumah.
Ditatapnya seluruh isi rumah membuat hatinya kembali sakit bagaimana perasaan Bella saat ini. pikirnya. Dhani pun untuk pertama kalinya memilih untuk sholat. Ya sejenak untuk menenangkan pikirannya.
"Ya tuhanku Maha Pencipta lagi Maha Penyayang. Hamba tau kesalahan hamba sangatlah besar. Berkhianat, menyakiti hati seorang istri, menyakiti hati seorang ibu dan berzina. Banyak sekali dosa hamba! Tolong bukakanlah hamba pintu taubat dan bukakanlah hamba solusi dan jalan terbaik" Gumam Dhani dalam hatinya.
"Bagaimana aku menemukan Bella. Maafkan aku Bel maaf!" Lirih Dhani dengan seluruh penyesalannya.
...•••••••••••••...
Lidya yang tau perihal masalah Dhani dan Bella pun tersenyum puas. Dirinya meminta Santi untuk bertemu di cafe x.
Di cafe x
"Kau benar benar menghancurkan rumah tangga Bella!" Senyum puas Lidya berhadapan dengan Santi.
"Ya begitulah! Namun aku sudah tidak memiliki hubungan apapun dengan Dhani.!" Enteng Santi karena dirinya tidak memang memiliki niat untuk serius dengan Dhani.
"Lalu apa maumu selanjutnya?" Tanya Lidya.
"Aku akan pergi jauh dan mendapatkan pria yang jauh lebih kaya dari Dhani!" Sahut Santi.
"Brengsek apa maksudmu?" Kesal Lidya.
"Kau itu bodoh sekali! Mana ada sahabat yang tega mengkhianati sahabatnya sendiri! Camkan ini. Aku tidak pernah sekalipun mencintai adikmu! Aku hanya ingin memberi penderitaan pada Bella!" Tekan Santi dan la langsung menyelonos pergi meninggalkan Lidya yang masih mematung.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
..
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
😘😘😘
nnti klo udh nymbung lgii
coba ke avan dlu brgkali udh bnyak up nya