"Zee, kalau Zee udah besar nanti. Zee nikahnya sama Kak Bian, ya?" ucap Albian pada bayi mungil yang ada di dalam pangkuan sang Ibu. Seolah mengerti maksud Bian. Zeeviana kecil pun tersenyum, sambil menggerakkan tangganya. Mencoba untuk menyentuh wajah tampan Albian yang menatap ke arahnya.
"Janji, ya?" Bian memberikan jari kelingkingnya, dan Zeeviana menggenggamnya, dengan genggaman yang begitu erat.
× × ×
"Aku tidak menyangka, kalau aku benar-benar jatuh cinta padanya!"
- Zeeviana.
"Aku akan melakukan apapun yang membuatnya bahagia. Tidak akan memaksa jika dia tidak ingin menepati janjinya!"
- Albian Wijaya Saputra.
× × ×
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Icha Annisa Amanda, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
"Aku Mencintaimu, Zee."
...💙 Episode - 22 💙...
Zeeviana membuka pintu depan, setelah ia memastikan Teng sudah pulang.
Gadis itu menghembuskan napas pelan. Dia tidak sanggup jika keadaan terus seperti ini. Dia tidak ingin memberikan harapan pada Teng. Namun juga tidak bisa mewujudkan apa yang Teng harapkan dari dirinya. Zeeviana tidak bisa memaksa hatinya untuk mencintai Teng. Zeeviana benar-benar tidak bisa!
"Zee?" Ayunda menyentuh bahu Zeeviana yang kembali melamun sambil bersandar pada pintu depan. Gadis itu tersadar lalu tersenyum pada Ayunda.
"Ibu." Zeeviana meraih tangan sang Ibu. Seperti biasa, gadis itu menciumi punggung tangan dan juga kedua pipi Ayunda.
"Oh, ya, Bu. Ini ada titipan dari Tuan Bian. Khusus untuk Ibu," ucap Zeeviana sambil memberikan bingkisan yang Bian berikan untuk Ibunya. Sedangkan untuk Zeeviana ada juga.
"Tuan Bian?" Ayunda mengerutkan dahinya.
'Apakah Bian mengetahui siapa Zeeviana yang sebenarnya?' Batin Ayunda.
"Tuan Bian bilang, itu sebagai ungkapan salam kenalnya pada Ibu," ucap Zeeviana membuat Ayunda semakin bingung dan penasaran saja.
"Zee sebenarnya kurang faham maksud Tuan Bian. Zee tidak ingin dia kecewa, oleh sebab itu, Zee mengambil apa yang dia berikan, Bu," jelas Zeeviana.
"Tidak apa, Nak. Sampaikan salam terimakasih dari Ibu, ya, untuk Tuan Bian. Dan salam kenal juga dari Ibu." Ayunda pun memilih untuk mengikuti permainan Bian saja.
"Besok Zee sampaikan Bu. Zee masuk kamar dulu, ya, Bu?"
Ayunda hanya mengangguk kepalanya. Dan Zeeviana pun mulai melangkah mendekati kamarnya. Tiba-tiba saja langkah kaki Zeeviana terhenti saat teringat tentang ajakan Teng tadi.
"Bu?" Panggil Zeeviana sambil memutar arah mendekati Ibunya.
Ayunda menaikkan sebelah alisnya. "Kenapa, Nak?"
"Bang Teng mengajakku untuk keluar nanti, Bu," ucap Zeeviana. Ayunda bisa melihat gurat tidak nyaman di wajah putrinya itu.
"Terus Zee mau?"
Zeeviana menangguk pelan. "Zee tidak tega, Bu. Matanya menatap Zee dengan harapan yang begitu besar pada Zee. Zee benar-benar tidak tega padanya," lirih Zeeviana.
"Zee..., Dengar Ibu, Nak." Ayunda mengelus pelan lengan Zeeviana.
"Sebaiknya Zee jujur saja pada diri Zee sendiri. Tanya pada dirimu, Nak. Apakah kamu juga memilik cinta untuk Teng di hatimu?"
Zeeviana menggeleng pelan. "Tidak, Bu."
"Apakah Zee tega membiarkan Teng terus berharap seperti ini pada Zee?" tanya Ayunda. Zeeviana kembali menggeleng.
"Jangan biarkan dia berharap lebih jauh lagi Zee. Hasilnya pasti akan lebih sakit nanti. Katakan semuanya dengan pelan, Ibu yakin, Teng pasti akan mengerti."
"Apakah dia akan membenci Zee setelah Zee mengatakan semuanya, Bu? Zee tidak ingin dia sampai membenci Zee. Zee tidak ingin ada orang baru lagi yang benci pada Zee, Bu," lirih Zeeviana.
Ayunda memeluk tubuh putrinya. Ia mengelus pelan punggung Zeeviana.
"Tidak akan, Zee. Dia tidak akan benci pada Zee. Ibu yakin, dia akan mengerti apa yang Zee katakan. Ibu yakin itu, Zee," ucap Ayunda meyakinkan.
"Zee coba dulu, ya. Ingat katakan semua dengan pelan dan dengan bahasa yang bisa diterima oleh Teng nanti. Ibu yakin Zee bisa melakukannya!"
"Zee akan mencobanya, Bu."
"Ya sudah, sekarang Zee masuk ke kamar dulu!" ucap Ayunda lalu melepaskan tubuh Zeeviana, ia menepuk pelan bahu gadis itu.
"Jangan khawatir, Zee. Ibu selalu ada untukmu."
"Terimakasih, Bu. Zee sayang Ibu."
'Ya Tuhan...., Hamba mohon, lindungilah Zeeviana dari segala bentuk bahaya yang ada. Jangan biarkan bibit kebencian tumbuh lagi di hati seseorang untuk Zeeviana. Lindungilah dia. Hanya Engkau sebaik-baik pelindung dan tempat berlindung yang kami punya.' Batin Ayunda berdo'a.
...*****...
Teng merapikan kembali baju dan juga jambulnya. Teng ingin terlihat sempurna di hadapan Zeeviana. Tidak ingin berlama-lama lagi, pria itu pun mengetuk pintu depan rumah gadis yang dicintainya.
"Selamat malam, Bu," sapa Teng ketika melihat Ayunda yang membuka pintu untuknya.
"Selamat malam juga, Nak. Silahkan masuk," jawab Ayunda tersenyum ramah.
"Tidak apa, saya di sini saja, Bu."
"Kalau begitu, tunggu sebentar, Ibu panggilin Zeeviana dulu, ya," ucap Ayunda lalu melangkah meninggalkan Teng menuju kamar Zeeviana.
Zeeviana sedang menelpon dengan Fathia di dalam sana.
"Nak?" Panggil Ayunda pelan. Zeeviana pun menoleh ke arahnya.
"Teng sudah datang. Dia menuggumu di luar."
"Sudah dulu, ya, Fat. Dia sudah datang!" ucap Zeeviana lalu memutuskan sambungan telepon dengan Fathia.
"Bicarakan dengan pelan dan tenang, ya, Nak." Ayunda mengingatkan putrinya.
"Iya, Bu. Zee akan berusaha untuk menyelesaikannya malam ini juga."
Ayunda hanya tersenyum menanggapi ucapan Zeeviana.
"Sudah siap, Zee?" tanya Teng saat Zeeviana sudah ada di hadapannya.
"Sudah."
"Kita jalan dulu, ya, Bu," ucap Teng pada Ayunda. Pria itu meraih tangan Ayunda lalu mencium punggung tangan wanita itu.
"Zee jalan, Bu." Zeeviana juga melakukan hal yang sama.
"Hati-Hati di jalan, Nak. Jangan ngebut-ngebut!"
"Sip, Bu!'
Mereka pun naik ke atas motor yang sebelumnya sudah dicuci dua kali oleh Teng. Semua sudah Teng siapkan dengan matang. Motor itu pun melaju ke arah barat melewati taman kota, lalu berhenti di sebuah rumah makan yang cukup ramai malam ini.
Teng memarkirkan motornya, ia menatap sejenak ke
arah Zeeviana yang mengunakan baju lengan panjang berwarna abu muda, dipadukan dengan celana hitam panjang. Sederhana, namun tetap mempesona dimata orang yang mencintainya.
"Mari masuk, Cinta," ucap Teng sambil mempersilakan Zeeviana untuk berjalan terlebih dahulu.
"Seharusnya wanita yang berjalan di belakang pria," tolak Zeeviana. Teng hanya tersenyum mendengarnya.
"Itu artinya, kamu merasa aman kan berjalan di belakangku?" Goda Teng kepedean.
Teng kembali tersenyum lalu melangkah memasuki rumah makan. Teng memilih meja di bagian pojok kanan rumah makan. Meja ini cukup aman dari pandangan orang-orang lain.
Teng memesan dua porsi nasi dengan telur baloda, sayur sup, ayam goreng, dan perkedel. Sementara minumnya, Zeeviana memilih air putih dingin saja, begitu pula dengan Teng.
Sembari menunggu pesanan datang. Teng mencoba untuk mencairkan suasana dengan mengajak Zeeviana bicara.
"Zee?"
Zeeviana menatap Teng dengan tenang. "Ada apa?"
"Emmm, bagaimana dengan pekerjaan barumu?" tanya Teng basa basi.
"Aku suka, dan pekerjaan juga cocok denganku."
"Syukurlah," gumam Teng. Teng ingin berkata lagi. Namun sayang, makan yang mereka pesan sudah datang.
"Selamat makan malam, Zee." Pria itu tersenyum tulus lagi pada Zeeviana. Membuat Zeeviana tidak tega untuk menyelesaikan semua ini sekarang juga.
Tidak ada yang bicara di antara mereka lagi. Teng sibuk dengan makanan dan pikirannya. Pria itu sudah bertekad untuk menyatakan cintanya pada Zeeviana malam ini juga. Sebenarnya, tanpa Teng katakan pun semua orang sudah tau kalau dia begitu mencintai Zeeviana. Tapi tetap saja, Teng butuh kepastian dari Zeeviana.
Sementara Zeeviana. Gadis itu sedang menyusun kata-kata yang tepat, yang tidak menyakiti hati Teng apabila mendengar setiap kata yang keluar dari mulutnya nanti. Zeeviana tidak ingin Teng kecewa.
Usai makan, Teng memberanikan dirinya untuk menatap wajah Zeeviana. Yang ditatap biasa-biasa saja. Tidak ada rona merah di wajahnya. Apalagi dengan jantungnya yang berdetak seperti biasa. Tidak berdebar seperti saat mendapatkan tatapan dari Bian.
"Zee...," Teng meraih kedua tangan Zeeviana di atas meja. Zeeviana masih tenang saja. Ia akan mendengar apapun yang Teng akan katakan, tanpa menyela sekarang.
"Aku tau, Zee. Tanpa kukatakan hal ini padamu, kamu pasti sudah mengetahui perasaan yang kumiliki untukmu. Aku mencintaimu Zee. Apakah kamu juga mencintaiku?"
jdi om Mateng inikah yg akan jdi pendamping omom.
tapi benar jangan tatap matanya takutnya kena hipnotis ...