Dhanil anak yatim piatu yang mencoba untuk menggapai cita cita, selesai SMA bersama dengan beberapa teman akrabnya, Dhanil juga meneruskan studinya di salahsatu perguruan tinggi swasta di Ibukota Sumatera Utara. Dhanil punya pacar bernama Yani, yang sudah memiliki hubungan spesial sejak dari SMA, akan tetapi hubungan mereka ditantang oleh orang tua Yani, karena Dhanil dipandang bukan orang yang tepat karena alasan harta dan kedudukan, akan tetapi keduanya dengan segala konsekuensinya tetap menikah setelah meraih gelar Sarjana, dan memutuskan kembali ke kampung halaman mereka, Kota Sibolga.
Hubungan yang baru sebentar dirasakan manisnya akhirnya bubar, mereka kalah oleh trik yang dilakukan Ibu Yani. Disinilah kisah Dhanil bergulir dan mengalir berubah ubah, mulai dari keputusannya meninggalkan kota tempat dia dibesarkan menuju tanah peninggalan almarhum ayahnya, kehidupan berliku membuat Dhanil menemukan saudara kandung ayahnya dan kakak kandungnya yang sudah lama terpisah.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Syamsuddahri Pulungan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Berusaha Tetap Seperti Biasa
Satu demi satu SMS Fadli dibaca oleh Dhanil, dada Dhanil terus berdegub degub kencang, Dhanil merasa hidupnya memang tak diberi kesempatan untuk bahagia. Dhanil juga tak dapat sepenuhnya menyalahkan Yani dalam hal ini, karena Yani tak punya seorangpun yang dapat dimintai tolong. Ibu Yani memang wanita yang cukup berani, tegaan. Dan keberanian itu tentu semakin besar setelah Paman Aidil yang dulu terus membeking Yani kini telah tiada, Paman Aidil ternyata memiliki umur yang tak panjang. Dhanil ingat betul, kepergian Paman Aidil untuk selamanya beberapa minggu lalu sangat memukul Yani, dia bahkan mengangis lebih dari satu hari.
Hari itu Dhanil hanya beranjak dari kelas yang satu ke kelas yang lain tanpa singgah diruang guru atau kantin seperti biasanya Dhanil berlaku setiap harinya, tak ada yang merasa aneh dengan sikap Dhanil kecuali Fadli, Fadli merasa perlu memahami Dhanil lebih dari yang lain, bukan hanya sekedar sahabat, dimata Fadli Dhanil sudah seperti keluarganya sendiri, apalagi memang Dhanil tak punya keluarga di kota ini, hingga Fadli dan keluarganyalah yang menjadi saudara Dhanil selama ini. Dhanil memilih pulang setelah jam kelima. Dhanil tak ada jam setelah itu, Dhanil langsung menuju parkiran, hidupkan sepeda motornya dan berlalu. Dari ruang guru Fadli hanya mampu menatap saja, Fadli juga tak ada niat untuk mencegah Dhanil cepat pulang seperti biasanya ia lakukan.
Dhanil membuka pintu rumahnya dan masuk langsung menuju dapur, Dhanil duduk dimeja makan dan memandangi sekeliling dapur, tangan Dhanil singgah ke pelastik merah jambu yang terletak tak jauh, Dhanil membukanya dan membuang nafas berat, itu adalah sup yang ia beli kemarin, tak jadi dimakan karena yang mau memakannya sudah tak terlihat, Dhanil membukanya dan ternyata sudah basi. Dhanil berdiri dan membuangnya ke tong sampah yang ada dipinggir jalan didepan rumah. Semangat Dhanil saat membeli kemarin berakhir sia sia, makanan itupun akhirnya terbuang percuma. Dhanil masih dikuasai renung yang seperinya tak kunjung usai, Dhanil kembali keruang dapur dan duduk ditempat ia pertama kali duduk tadi dan melanjutkan renungannya. Tak terbayangkan oleh Dhanil, Yani benar benar menghilang dari hidupnya. Dhanil kembali hidup tanpa Yani
OO oo OO
Minggu sudah berganti bulan, namun berita tentang Yani masih belum menunjukkan perkembangan, masih gelap tanpa bekas. Hidup Dhanil terpaksa berubah. Pertanyaan pertanyaan dan bisikan bisikan para tetangganya membuat Dhanil makin lama makin merasa tak betah, SMS terakhir Fadli juga tak menggembirakan, Resti tak berhasil mengetahui kemana Yani pergi, info yang bertambah hanya kalau Ibu Resti yang menemani Yani pergi sekarang sudah kembali.
Kepala sekolah terkejut dan serba salah membaca surat yang disodorkan Dhanil, pernyataan pengunduran diri. “Kenapa Pak Dhanil ?”.
“Saya tak kuat ditanya tanya terus Pak”.
Kepala sekolah sebenarnya paham apa yang dimaksud Dhanil. Tapi, ia juga punya keinginan agar Dhanil tetap bertahan disekolah yang ia pimpin. Dhanil punya banyak kelebihan yang dapat diandalkan, dan hal tersebut sudah beberapa kali dapat dibuktikan dengan prestasi. Intinya, Dhanil adalah investasi yang sayang untuk dilepas dengan mudah.
“Kan Pak Dhanil bisa pindah dari sana, ke Pandan misalnya, atau kemana yang lebih jauh. Itu mungkin bisa lebih tenang”.
Dhanil menggeleng. “Saya tak yakin Pak”.
“Lantas Pak Dhanil mau kemana ?”.
“Ke Tapanuli Selatan Pak, Batang Toru”.
“Tanggung”.
“Itu pilihan hari ini Pak”.
Kepala sekolah tak bisa komentar banyak lagi. Ia meminta Tata Usaha mengeluarkan surat pengalaman kerja, Dhanil juga merasa itu akan perlu untuknya nanti. Dhanil juga cukup berterima kasih saat kepala sekolah tidak hanya mengeluarkan gajinya bulan ini, tapi juga menambahkan dengan uang pribadi dengan angka yang lumayan.
“Terima kasih banyak Pak “.
Kepala sekolah mengangguk. “Jika satu waktu Pak Dhanil ingin kembali, saya sangat senang sekali”.
Dhanil tersenyum simpul, menyalami kepala sekolah dan keluar ruang kepala menuju ruang guru. Ternyata disana sudah banyak guru yang menunggu Dhanil semua mengulurkan tangan dan memberikan nasehat sekenanya. Dhanil cukup terharu dengan keadaan itu, tapi Dhanil berpikir itu akan lebih baik. Fadli memeluk Dhanil erat, Dhanil tak kuasa juga menahan air matanya, kehilangan teman semacam Fadli juga mungkin akan menjadi kehilangan besar dalam hidupnya, kehilangan Fadli tidak hanya kehilangan seorang sahabat yang luar biasa hebat, tapi juga akan kehilangan keluarga dekat tempat selama ini Dhanil menumpahkan suka dan duka.
Dengan langkah cukup tegar Dhanil keluar dari ruang guru dan lansung menuju parkir, Dhanil menghidupkan sepeda motornya dan mengarahkan ke pagar pintu keluar. Masih satu roda Dhanil yang berhasil keluar, Dhanil terpaksa memberhentikan motornya.
“Paman ...”.
Dhanil berhenti karena panggilan itu, Dhanil cukup terkejut karena yang memanggilnya Resti, tak pakai Bapak pula. Resti langsung mendekat Dhanil menyalami Dhanil sambil mencium tangan Dhanil, Dhanil merasa tangannya basah, ada air mata Resti. Tentu membuat Dhanil jadi ikut haru, apalagi Resti memanggilnya Paman, sebagai bentuk pengakuan kalau Dhanil masih suami dari bibinya Yani.
“Maaf Resti Paman, Resti tidak bisa membantu”.
Mata Dhanil jadi ikut berair, tangan kanan Dhanil meraih kepala Resti dan mencium ubun ubunnya. “Tak apa apa Res..”.
“Tapi Paman…”.
“Sudahlah… itu sudah terjadi”.
Dhanil berusaha tersenyum walau Cuma tipis. Walau dalam hati Dhanil sangat sakit, tapi tak seharusnya ia menunjukkan semua itu pada Resti. Dhanil merasa, apapun itu, Dhanil juga seorang guru, guru Resti. Sehingga, Dhanil merasa perlu memberikan kekuatan pada Resti walaupun ia sesungguhnya dalam keadaan rapuh sebelum benar benar beranjak dari depan Resti.
Resti tetap berdiri dan baru berbalik masuk kedalam kelasnya setelah Dhanil benar benar hilang ditikungan jalan Diponegoro. Sejujurnya Resti sudah sangat simpati pada Dhanil yang juga gurunya. Resti juga sudah berusaha semaksimal yang ia bisa untuk merubah cara berfikir neneknya. Tapi Resti tak berhasil dengan baik. Pada akhirnya Resti menjadi berubah isi hati, kini Resti justru punya rasa benci pada Neneknya, Ayah dan Ibunya serta semua keluarga yang tak melihat sisi baik dari kehidupan Dhanil dan Bibinya Yani. Resti bahkan hampir tak percaya saat ia mengatakan kalau Bibinya Yani sedang hamil, Neneknya tetap tak peduli bahkan punya niat buruk. Itu yang membuat Resti berubah marah, tapi kemarahan harus ia pendam, membuat dadanya panas dan air matanya tak mampu tertahan lagi.
.... BERSAMBUNG ...
kebaikab selalu menemukan jalan untuk meraih bahagia.. syukurlah Anggi akhirnya terbuka hatinya