NovelToon NovelToon
Senyum Tuhan Untuk Marissa

Senyum Tuhan Untuk Marissa

Status: sedang berlangsung
Genre:Romantis / Romansa-Percintaan bebas / Tamat
Popularitas:72.6k
Nilai: 4.6
Nama Author: basiyem

Longsor di Kemanukan Purworejo, menjadikan Marissa dan teman-teman Resimennya menjadi relawan. Di lokasi longsor, ia bertemu dengan kakak tingkat, mahasiswa bunga kampus yang kebetulan menjadi korban longsor bernama Syamsya, anak manja yang akhirnya mampu menyihir perasaan Qomar, sang komandan Resimen mahasiswa. Hal ini menyebabkan hati Marissa yang mulai jatuh cinta pada Qomar menjadi terluka.
Di saat Marissa gundah dengan hatinya, seorang tentara, bernama Seno mendekatinya. Ia menawarkan perhatian yang hampir membuatnya bisa mengalihkan luka menjadi bahagia.
Ketika hatinya sedang berbunga-bunga karena perhatian Seno, dua orang utusan Irawan Adityawarman datang mengajukan lamaran padanya, meskipun Marissa belum mengetahui jati diri orang yang melamarnya. Di tengah kebingungan karena kebingungan karena lamaran Adityawarman dan kegembiraan atas perhatian yang diberikan Seno padanya, tiba-tiba Sisy teman kosnya memutuskan pertemanan karena mengetahui orang yang dicintainya, Seno, jatuh cinta pada Marissa.
Dalam kejenuhan dan kebimbangan karena teman se kosnya memusuhi, ia mengayuh sepeda milik Mas Kiki, bapak kosnya menuju sebuah hutan pinus di gebang rejo. Ketika dia sedanf menikmati indahnya alam, ia melihat seorang laki-laki sedang asyik dengan jepretan kameranya. Karena panik, ia mencoba untuk menghindar. Namun sebelum ia berhasil meninggalkan tempat itu, pemuda bernama Adit sudah berada di hadapannya.
Berdua mereka meninggalkan Gebang rejo, mengayuh sepeda beriringan meski sebenarnya Marissa tidak menyetujuinya. Saat sedang melewati jalan pulang, sepeda Adit menabrak batu, oleng dan akhirnya menyenggol sepeda Marissa. Sebenarnya Marissa sudah bisa mengendalikan sepedanya, namun lubang besar di hadapannya menyebabkan ia harus jatuh ke badan jalan. Anah gembur yang menerima badan dan sepeda Marissa akhirnya ambruk, sehingga Marissa bersama sepedanya jatuh ke persawahan di bawah jalan setinggi tiga puluh meter.
Adit mencoba untuk menolong Marissa, namun ia menolak. Tanpa berfikir panjang, Adit mengeluarkan identitasnya, dan saat itulah Marissa tahu kalau pemuda di hadapannya adalah orang yang sudah mengajukan lamaran atas dirinya. Aditya membawa Marissa ke sebuah rumah sakit tempat, Nancy, adik sepupu Adit, dan merawatnya selama sehari di sana.
Kedekatan marissa dan Adit membuat Rosa teman kos Marissa cemburu, karena Rosa. Beberapa informasi tentang Marissa dan Adit sudah diketahui Rosa dari kakaknya yang ternyata temannya Adit semasa SMA.
Marissa merasa tidak nyaman dengan kondisi tempat kosnya, namun dengan bijak ia bisa menyelesaikan permasalahannya. Rosa meminta maaf pada Marissa dan merelakan Adit untuk memiliki Marissa. Akhirnya Marissa menerima Adit, satu bulan kemudian mereka menikah.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon basiyem, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Perayaan di Kampus

Entah berapa lama aku terpaku saat mobil kijang innova memasuki kampus. Kulihat banner besar menyambut kedatanganku.

Seluruh elemen masyarakat kampus berkumpul menunggu kehadiran rombonganku. Berjejer di depan gerbang dan semua membawa bendera merah putih tanda kemenangan. Sorak sorai mahasiswa membahana, meneriakkan namaku dan Maulana dan bagiku itu sangat berlebihan. Aku tak punya nyali untuk menampakkan diriku. Aku bahkan bersembunyi, menghindari jepretan kamera yang bagiku bagaikan mata malaikat pencabut nyawa. Kupandang ujung kaki yang sejak tadi kumainkan untuk menghilangkan grogi yang menyelimuti seluruh badanku.

“Marissa, mengapa kau tak mau melambaikan tanganmu sekedar membalas sambutan mereka ?” pertanyaan Pak Junaidi bagaikan sebuah bogem yang menggelegar, menghantam dan menyadarkanku dari lamunan.

“Ayo, keluarkan kepalamu dan lambaikan tangan agar mereka tak kecewa kepadamu.” Maulida menarik tanganku. Aku terpaksa menurut. Dengan senyum yang terpaksa kukembangkan, aku merasa seluruh wajahku menjadi kaku. Lima menit kemudian, rombongan sampai di tempat parkir rektorat. Semua dosen dan staf berdiri menyambut kami dan mengucapkan selamat atas kemenangan. Upacara penyerahan medali dilaksanakan di auditorium dengan hikmat. Meski hari sudah gelap, namun semua nampak antusias.

Aku dan Maulana menjadi bintang hari ini. Banyak wartawan mewawancarai. Lima juta rupiah diberikan untukku dan Maulana dari kampus. Lima juta juga hadiah dari pemerintah kabupaten dan bagiku, ini luar biasa. Banyak pejabat hadir dan aku sangat tidak menduga. Dalam keadaan wilayah kabupaten terkena bencana, pemerintah masih meluangkan waktunya memberi aplaus yang luar biasa kepada pihak kampus. Dalam sambutannya, Bupati menyampaikan kebahagiaan atas apa yang sudah kami raih. Meski Bupati tidak bisa hadir sendiri, kami merasa sangat tersanjung. Anganku melambung, tinggi ke udara menikmati pemandangan di bawahku dengan menyusun mimpi-mimpi baru.

Usai acara, kuhampiri pak Junaidi dosen pembimbingku. Kuberikan sebuah kotak kado yang sudah kupersiapkan saat kami melakukan perjalanan wisata bersama rombongan sekedar untuk mengucapkan terima kasih atas bimbingannya. Meski awalnya beliau menolak, namun akhirnya beliau menerimanya dengan senang. Kuberikan sebuah amplop yang kuterima dari pihak rektorat, namun kali ini beliau mengatakan telah menerima sejumlah yang saya terima sebagai hadiah pembimbingan. Kulihat Maulana juga mendekati Bu Merty. Mereka berdua berbincang akrab di bangku barisan depan.

Selesai acara, adalah sesi pemotretan. Aku, maulana, Bu Merty dan Pak Junaidi berpose dengan pose yang sama, rektor, wakil bupati dan pembantu rektor serta seluruh civitas akademika kampus matahari berganti-ganti mendampingi kami. Setelah semua pejabat rektorat meninggalkan ruangan, seluruh pengurus BEM datang. Satu persatu menyalamiku dan kami mengabadikan momen indah di kehidupan kami.

“Selamat ya atas pencapaian kalian. Kami bangga pada kalian berdua,” berkali-kali kalimat itu kudengar. Aku benar-benar merasa bahagia mala mini. Setelah mengucapkan terima kasih akhirnya aku kembali ke rumah kos.

***

Ini hari pertamaku di rumah kos setelah tiba dari Jakarta.

“Assalamualaikum,” aku, Maulida dan Sisy mengucap salam. Aku tidak tahu mengapa Sisy kembali ke kos lagi. Yang jelas hari ini kami bertiga bisa berkumpul di rumah kedua ini. Sulis masih belum pulang dari pengungsian, sedangkan Nur, penghuni baru yang jatanya baru masuk tadi siang lebih memilih untuk tinggal di kamar Maulida.

Suasana rumah sangat sepi, berbanding terbalik dengan suasana kampusku tadi. Hari ini, anganku melayang, membayangkan banyak peristiwa yang sudah kulalui. Di Kemanukan, di Jakarta dan masih banyak lagi. Kubayangkan masa-masa indah bersama sahabatku di resimen dan semua kenangan indah tentang Qomar.

Anganku kembali mengajakku untuk bergumam “Qomar, Bersamamu aku merasakan betapa nyaman hidupku. Tak seekor lalatpun berani menginjakkan kaki di dekatku, apalagi menginjak tubuhku. Tak seorangpun mengusikku dan tak ada sebuah masalah singgah berlama-lama di hatiku. Tapi sekarang, aku merasakan hampa. Hampa tiada tara dan semua karena dirimu. Tulang-tulang sulbiku serasa sirna. Lolos satu persatu dari tubuhku dan aku rapuh.

Qomar !!!!

Inilah mungkin takdirNya untuk kita. Untuk aku dan untuk semuanya. Aku yakin dia bukanlah wanita paling istimewa diantara sekian banyak wanita di sekelilingku karena masih ada Sasa, Sazkia dan teman lain dengan keistimewaannya.Tapi mengapa? Mengapa kau tega menyakiti hatiku dengan memilihnya justru di saat aku sudah mulai merasakan getar-getar aneh, getaran yang selama di kampus tak pernah ada. Meski kata Lina, kau selalu mengharap kehadirannya.

Qomar, Aku masih ingat saat itu. Lina sibuk meyakinkanku, meyakinkan hatiku, bahwa hanya ada aku di dalam jiwamu. Kau seharusnya tahu, betapa aku sangat tidak mengharapkan kehadiranmu disaat seperti itu. Saat yang sama sekali tak tepat. Saat yang salah !!!

Aku tahu, konsentrasiku sudah mulai terbagi antara tugas, organisasi dan dirimu. Hanya waktu yang memang tak tepat untukmu. Ternyata aku keliru. Kau tak pernah mengertiku. Mungkin harus aku katakan kau tak pernah sungguh-sungguh mencintaiku. Aku harus belajar mengendalikan diri untuk tidak menuruti emosi. Mungkin harus mulai kudengarkan suara-suara angin yang selalu membisikkan kata-kata indah untukku bahwa jodoh, riski, dan mati sudah ada di catatan Illahi. Semuanya sudah kering dan tak bisa dihapus lagi. Meski masih ada waktu untuk bisa meraih mimpi.

Qomar, mungkin dirimu memang harus segera kulupakan dan aku berharap, semoga datang laki-laki lain yang lebih baik untukku.

“Kamu melamun terus, Ris? Ada yang sedang mengganggu pikiranmu ?” usik Maulida. Aku hanya menggeleng.

“Buka tas biru itu, Da. “ perintahku sambil meletakkan ransel dan koperku di kamar.

“Memangnya ini apa ?” tanya Maulida sambil mengambil benda yang kumaksud.

“ Buka saja !” ucapku masih sibuk dengan kegiatanku. Melepas kerudung, kaos kaki lalu meletakkan di keranjang baju kotor yang sekarang kosong.

Maulida masih sibuk membuka tas biru yang dibantu oleh Sisy.

“Aduh, Risaa, ini sulit sekali. Resletingnya kejepit sehingga harus disobek. Atau dipotong.” Jerit Sisy.

“Potong saja, tidak apa-apa. “

“ Memang boleh ?” kulihat Sisy mengambil gunting di meja belajarku. Dan tak berapa lama benda-benda yang kubeli mereka keluarkan.

“Kalian boleh bagi benda-benda itu yang adil ya. Aku mandi dulu.”

“Hei, memang kamu membeli pakaian ini untuk kami ?’ tanya Sisy.

“ Untuk siapa lagi ?” sahutku sambul berlalu.

Aaaaa

Mereka menjerit histeris. Selanjutnya aku sibuk dengan aktivitas mandiku.

Setelah kuselesaikan mandiku, aku menuju ruang sholat untuk mendirikan shalat, jamak maghrib dan isya. Lalu menuju kamar kembali. Kutemukan mereka sedang mencoba pakaian masing-masing.

“Terima kasih ya Marissa, kamu baik deh. Semoga Allah membalas kebaikanmu dengan yang lebih baik.”

“Aamiin”

***

Pukul delapan pagi sebuah Whatsapp dari Lina masuk. Ia bertanya mengapa aku tak ke Kemanukan padahal tugas kampus sudah selesai. Sakit hati ? No way. Sudah kuikhlaskan Qomar untuk Syamsya. Lina membalas lagi.

“ Sekarang mereka sedang bersama lho” kata Lina sambil mengirimkan foto kebersamaan Qomar dan Syamsa. Ada rasa nyeri, mencubit ulu hatiku. Lina memang menyebalkan. Sebuah pesan lagi, kali ini nomor baru.

“ Hi, what are you doing ? ”

Pesan Lina lagi.

“ Pak Seno mencarimu lho.”

“Pak Seno ? Siapa dia ? “ Lima, sepuluh, lima belas menit dan tak terasa setengah jam berlalu. Jawaban Lina tak kunjung hadir. Kubayangkan satu persatu orang-orang di kampusku, barangkali ada yang namanya Pak Seno, namun nihil. Seingatku semua dosen dan staf tata usaha dari fakultas psikologi sampai ekonomi tidak ada yang namanya Seno. Warga di Kemanukankah ?

“ Sepertinya dia ingin bicara sesuatu.” Empat puluh menit Lina sekali lagi mengirim pesan.

“ Sesuatu itu apa ? Pak Seno itu siapa ?” balasan kukirimkan.

“ Ya embuh. Nggak tahu apa. Makanya kesini. Aku yakin kamu sudah sembuh dari lelah. Cuma hatimu barangkali. Eh, kalau hatimu yang sakit aku yakin seratus persen.”

Gemes aku sama Lina. Tapi iya sih bagaimanapun hatiku memang sedang sakit. Sakit karena keputusan Qomar. Keputusan yang membuat mereka bahagia namun membuatku sengsara.

“Aku ke situ ya” tawarnya.

“Ke rumah kosku maksudnya ?”

“ Ya mau kemana ? Ya iya dong masa ya iya lah.”

“ Boleh tapi bawa makanan ya. “ godaku.

“ What ? Makanan apa ?”Tanya Lina.

“ Ya apa saja. Coklat boleh, buah boleh apa aja yang penting bisa dimakan okey ?.”jawabku sekenanya.

“Ye, maunya. Bukannya harusnya kamu yang kasih aku oleh-oleh khas Jakarta. Nanti kubilang Pak Seno kalau kamu minta dibelikan coklat ya.”

“Kok Pak Seno sih. Pak Seno siapa ? Kamu dong. “

“ Terserah.”

Percakapan berhenti. Aku kembali membaringkan tubuhku di tempat tidur. Sebenarnya tidak enak rasanya bermalas-malasan di rumah sementara di Kemanukan banyak sekali pekerjaan yang bisa kulakukan. Tanpa menunggu lama, Lina datang. Luar biasa, dia membawakanku jeruk.

“ Hanya ini yang ada.” Katanya.

“ Terima kasih ya. Kamu kok baik banget sih. Padahal aku cuma bercanda lho.”

“ Aku memang baik kemana-mana lagi. Aku tahu ketika kamu sedang bercanda itu artinya kamu sedang serius. ”

“ O Iya? Bagaimana kabar teman-teman ?”

“ Seperti biasa. Semakin akrab.”Lina merebahkan tubuhnya di tempat tidur sambil memandangku serius.

“ Siapa ?”

“ Ya mereka. Sekarang sedang keluar.” Lina pura- pura menyibukkan dengan telepon selulernya.

“ Keluar ?”

“ Iya, keluar. Tidak tahu mau kemana.” Kulihat Lina sedang memandangku geram. Aku pura-pura tak melihat dan dengan ringan kutinggalkan dia untuk mengambil minum di dapur.

“ Biarkan saja. Toh mereka sudah menjadi suami istri.” Kuletakkan gelas berisi teh dan Lina langsung mengambil serta menghabiskan isinya tanpa sisa.

“ Kamu bilang juga sama kembang kampus itu, jangan sok.” Lina bangkit dengan penuh semangat.

“ Eit, sok bagaimana maksudmu ?”

“ Kepedeanlah. Dia memang cantik, tapi bagiku, kamu jauh lebih berbudi.”

“Tidak usah sewot begitu. Kamu cemburu ya ?” Kucubit pipi Lina pelan dan seperti biasa dia hanya cemberut manja.“ Ih nggak banget deh.”tegasnya.

“ Syamsya bilang kamu sikapnya aneh. Benar ? Kenapa ?”

“ Ya sebel saja. Melihat kamu disakiti diam saja. Akhirnya nih aku yang harus turun tangan.”Lina membetulkan posisi duduknya. Berbicara berapi-api dan akhirnya diam lagi menahan geram

“ Bagiku, Lin, kebahagiaannya jauh lebih penting dari kebahagiaanku sendiri.”Ucapku pelan. Pandangan kualihkan keluar kamar melihat Wina, anak tetangga kosku berjalan sambil berjoged bahagia.

“ Ya, tapi untuk urusan cinta seharusnya nggak begini. Ada usaha mempertahankan, jangan cuma mengalah dan mengalah. Kamu berhak untuk bahagia, Ris” ucap Lina pelan. Aku tahu dia sedang bersedih melihatku. Seperti hari-hari saat kami bersamanya. Dia memang selalu menjadi pembelaku.

“ Kalau Qomar sudah menentukan jawaban ya saat Syamsya memintanya untuk menikahinya berarti ia bukan jodohku. Eh tambah tidak minumnya ?” tanyaku membelokkan topik pembicaraan. Aku memang tak ingin Lina memperpanjang masalah yang sebenarnya sudah selesai.

“ Aku bisa ambil sendiri kok kalau ingin minum.”jawab Lina kalem.

“ Iya, ya ambil sendiri!”

“ Tapi aku tetap tak rela Ris, setelah dia menikah dengan Syamsya terus seenaknya saja dia menyakiti kamu. Kamu masih orisinil lagi, nggak pas buat dia sama sekali saat ini.”

“ Tidak mungkin dia memilih aku. Dia kan sudah menikah. Sudah, santai saja, Allah sudah menentukan tulang rusuk siapa yang Dia gunakan untuk menciptakan aku. Ada laki-laki keren dan bertaqwa yang sudah Dia siapkan untuk menjadi ladang amalku menuju surganya. Amin.”

Lina diam. Ia membuka hpnya dan untuk beberapa saat ia aktif dengan kegiatannya.

“Kamu mengenal pria ini ? “Lina menunjukkan sebuah foto. Tiga laki-laki berkaos biru yang duduk di bawah pohon mahoni. Aku pura-pura tak tertarik, meski sebenarnya ada satu godaan yang mengajakku untuk tetap memandang salah satu dari makhlukNya di sana.

“Ada apa dengan foto itu ? “

“Salah satu dari mereka adalah Pak Seno. Orang yang telah mengirim salam untukmu yang tadi kukatakan padamu via Whatsapp. Ingat ? Jangan katakan kamu lupa.” Katanya sambil mengepalkan telapak tangannya.

“Pak Seno itu siapa Lina?”

Dengan geram Lina memperbesar foto dan fokus terarah ke laki-laki berwajah tirus.

“Dia orangnya. Kamu masih mengatakan tak kenal ? “ Aku menggeleng. Kubuang pandanganku ke bawah. “Begitu ya ? Setelah kau berdua di belakang balai desa, kamu masih berpura-pura tak mengenalnya ?” Kali ini Lina benar-benar geram. Aku bingung. Dari mana dia tahu kalau aku berdua dengannya di belakang nalai desa?

“Da . . . darimana kamu tahu kalau a . . .aku berdua dengannya di belakang balai desa, Lina ?”

“Mengapa kamu gagap ?” tegasnya. Tajam pandangannya ia arahkan pada wajahku. Menelanjangi percaya diriku dan meluluhlantakkan pertahananku. “Apakah ini aku ? “ sambungnya. Ia menunjukkan foto keberadaanku berdua dengan lelaki tirus yang kata Lina bernama Seno di belakang balai desa. Jantungku berdesir. Bilik kanan bilik kiri, serambi kanan serambi kiriku berebut untuk memompa darah dengan cepat. Melewati aliran yang kalau bisa berlawanan arah.

“Kau masih belum ingin mengakui kalau kau mengenalnya Risa ? Mengapa ?” Kutarik nafasku pelan.

“Aku hanya tidak tahu kalau namanya Seno, Lina. Bukan ingin mengingkari kalau aku sudah mengenal dia sebelum kamu.”

“Kamu tahu Ris ? Tanpamu dia tak bergairah. Semangat dan nafsu makannya hilang sama sekali. Di hari ketika kau pergi, dia murung sepanjang hari. Risa, jangan sia-siakan dia. Aku yakin dia mencintaimu.”

“Tidak, Lin. Jangan terburu-buru mengartikan itu sebagai cinta. Aku tak ingin terlalu cepat memutuskan bahwa itu adalah cinta. Cinta membutuhkan waktu.”

“Tapi setidaknya, jangan kau sia-siakan kesempatan baik untuknya.”

“ Entahlah Lin. “

Itu topik kami siang ini sebelum akhirnya dia pulang dan meninggalkanku di kamar.

***

1
MeliMelo💦
Kk kok blm up sihhh....Ayoo donkkk up lagi...
Nurwulan Destyana
Kapan UP nya thor, ceritanya bagus, semangat
Ilham Risa: Hai kak, mampir juga yuk kak ke novel aku "bangkitnya pria terhina" makasih kak🙏
total 1 replies
MeliMelo💦
Segala sesuatu kalo di lakukan dgn cara kotor maka hasilnya jg tidak akan baik...
MeliMelo💦
Wahhhh kepalanya sigit pelu di getok nih....Ngatain mas adit miskin blm tau dia seberapa.Kaya nya mas adit...Sbnrnya gak harus kaya yg penting iman nya kuatbdan itu mas adit bgt...Pokok nya paket komplit ganteng kaya soleh wisss lah ....😍😍😍
MeliMelo💦
Kk up lagi donkkk....Carzy up lah....😄
MeliMelo💦
Punya temen kayak sisy pngen tak pites..Greget bgt jdi orng kok ehois bgt...
MeliMelo💦
Kasian nya mas senO andaikan sisy gak ngejebak mas seno....Nasi udh mnjdi bubur...
MeliMelo💦
Sisy terlalu egois
MeliMelo💦
Penyesalan selalu datang di akhir sy....Hdeuhhhh saking terGila2 nya sama mas senojfi pke cara kotor...
MeliMelo💦
Segala sesuatu yg di dapat dgn cara kotor tidak akan berbuah manis....Tp entahlah smuanya trgantung kaka author....😊😊😊
MeliMelo💦
Wahhhh parah sisy...Si seno kok bisa si di jebak sisy klo udh hamil gtu kn gak bisa lari lagi
Author SUPERSTAR: Hi, baca Aku (Bukan) Wanita Murahan yuk...
total 4 replies
MeliMelo💦
Suara siapakah itu...Senokah???
MeliMelo💦
Sisy oh sisy...Untung marisa dpt ny pak adit...
MeliMelo💦
Wahhhh seno mw cari perkara nih sama mas aditya
Naila Putri
lanjut thor
✈전Arynn: Hai kak. Mampir ke karyaku yuk.

Judulnya CYGNUS dan SINCERELY.

Tap aja profilku dan temukan karyaku di sana 😉

Mohon dukungannya 🙏 terima kasih 🥰❤️
total 1 replies
Ari
kok up nya dikit bgt dan lama thor
✈전Arynn: Hai kak. Mampir ke karyaku yuk.

Judulnya CYGNUS dan SINCERELY.

Tap aja profilku dan temukan karyaku di sana 😉

Mohon dukungannya 🙏 terima kasih 🥰❤️
total 1 replies
MeliMelo💦
Ayooo kak up lagi....Semangaattttt....
Aniest.nisya
bagus thor semangat ya..

maaf baru mampir🧡🧡🤗
✈전Arynn: Hai kak. Mampir ke karyaku yuk.

Judulnya CYGNUS dan SINCERELY.

Tap aja profilku dan temukan karyaku di sana 😉

Mohon dukungannya 🙏 terima kasih 🥰❤️
total 1 replies
Reena Azza
lanjut...
jgn ad pelakor/pebinor y thor...
Meli_ekayanti
Smangattt
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!