Hidup Luna sudah sempurna. Memiliki kekayaan dan popularitas di usia muda. Punya Casey, Kekasih baik hati yang selalu berusaha memberikan yang terbaik untuknya. Dia berpikir akan terus bahagia seperti itu.
But everything’s gonna change along the time. Pekerjaan mulai membebaninya, membatasi ruang gerak Luna. popularitasnya berusaha menghancurkan segala batas privasinya. Dan Casey ternyata terlalu menginginkan yang terbaik hingga tidak sanggup mentolerir perubahan Luna yang baru beranjak dewasa.
Luna merasa dirinya sedang berada di titik bawah hidupnya. Hingga Bagian terburuk dari semua itu mulai tampak, Luna harus bertemu Drey Charleville. Cassanova dengan segala catatan buruknya. Menggunakan pesonanya, Drey berusaha keras menjerat Luna dan menambahkan namanya dalam catatan wanita yang pernah ditaklukannya. Betapapun kerasnya Luna mencoba untuk tidak goyah, Drey selalu punya cara manis untuk menggodanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sarashina18, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Turn Over A New Leaf (Drey POV)
Memiliki pacar yang harus banyak bersentuhan dengan pria lain terutama mantan kekasihnya. Tidak ada pria yang menyukai itu. Namun kenyataan itu yang baru saja aku ketahui dari pekerjaan kekasihku. Aktris pertama yang kukencani.
Aku bukan penggemar film, apalagi yang bergenre romansa. Jika film action seperti film Luna, "Breakthrough", aku masih bisa menontonnya. Karena itu aku tidak bisa membayangkan apa yang akan dilakukan Luna selama Syuting film romansa-nya. Saat ternyata mengetahui dia harus melakukan skinship dengan Casey, aku tidak bisa menahan rasa cemburu Dan amarahku.
Belum lagi Ada adegan pelecehan Dan kekerasan di dalamnya. Bahkan harus dilakukan Luna dengan pria lain. Rasanya hatiku Akan meledak. Aku saja memperlakukan Luna begitu berharga selama ini.
Untuk kedua kalinya aku kehilangan kendaliku. Menampakkan kemarahanku pada Luna. Tetapi reaksi Luna berbeda dari sebelumnya. Dia kelihatan syok Dan bingung. Sehingga aku merasa bersalah, Dan memilih pergi dari hadapannya.
Aku selalu mengatakan pada Luna bahwa dia pengecut. Selalu melarikan Diri dari masalah. Namun saat ini aku tidak bedanya dengan dia. Aku menghindarinya, Dan bersembunyi seperti ini. Mengabaikan seluruh pesan Dan panggilannya.
Aku berusaha keras pergi dari rumah Tanpa diketahuinya. Lalu menghabiskan waktuku berpesta untuk melupakan sejenak bahwa aku sedang marah padanya.
Namun aku tidak ingin semakin melukai Luna. Aku adalah orang yang akan melakukan apa saja saat marah. Di luar kesadaranku. Dan aku takut aku Akan melakukan sesuatu saat bertemu dengan Luna dalam keadaan marah seperti ini. Aku tidak ingin Luna melihat sisi burukku ini.
**********************************
Hari ini latihan hanya berakhir di sesi pagi. Aku sebenarnya ingin sekali pulang ke rumah. Bersantai di ruang tengah Luna sambil menunggunya pulang bekerja. Namun ego-ku menolaknya.
Akhirnya aku memilih pergi ke pesta. Sudah Dua hari ini aku selalu kembali dalam keadaan mabuk sehingga aku memilih menginap di hotel. Dan pulang ke rumah Hari ini Akan terasa canggung bagiku. Aku tidak tahu sampai kapan aku Akan terus begini.
Saat aku tiba di klub, di Sana sudah ramai. Sepertinya mereka tidak pulang dari kemarin. Seperti biasa, aku Akan mengambil segelas sampanye Dan duduk santai di sudut ruangan yang lebih sepi. Seperti ini aku menikmati pesta.
Tak lama Setelah aku duduk, para wanita mulai berdatangan Dan duduk bersamaku. Bahkan Tanpa aku harus merayu, mereka sudah datang dengan sendirinya padaku. Tetapi Tak satupun menarik perhatianku. Mereka berbeda dengan Luna.
"Drey, akhirnya kau datang juga"
Gracey, host dari pesta Hari ini menghampiriku. Dia juga ikut bergabung di tempatku duduk.
Gracey Dan aku pernah berkencan dulu. Aku tidak ingat kapan Dan berapa lama. Yang jelas saat Gracey baru Naik daun sebagai model. Sehingga kami cukup dekat.
"Kenapa kau tidak pernah mengajak kekasihmu?"
Tanya Gracey. Aku mendengus kesal. Kenapa semua orang selalu menanyakan Luna. Dari satu pesta ke pesta lain, mereka menanyakan Hal yang sama. Aku tidak suka Cara mereka memandang Luna bahwa dia sama seperti kami.
"Aku tidak Akan mengenalkan dia pada orang berbahaya seperti kalian"
Jawabku sarkas. Gracey hanya tertawa menimpalinya.
Tapi itu benar. Luna ku adalah gadis manis yang polos. Aku tidak mau menyeretnya dalam dunia malam seperti ini. Lalu mengubahnya menjadi liar seperti Gracey Dan teman-temannya.
"Sepertinya kau bertemu gadis yang membosankan"
Ejek Gracey. Aku tidak terlalu tersinggung mendengarnya. Ini sudah kesekian kalinya orang bertanya tentang Luna Dan mengatakan Hal yang sama. Mereka hanya tidak tahu bahwa justru karena Luna adalah gadis membosankan, aku jadi kecanduan dengannya.
"Apa Ada pesta lagi besok?"
Tanyaku pada Gracey. Aku harus mengalihkan pembicaraan. Meski tidak tersinggung dengan caranya membicarakan Luna, tetapi telingaku bisa panas jika terus mendengarnya.
Malam semakin larut. Makin banyak juga orang yang datang. Dan ruangan ini mulai bising. Aku masih setia duduk di tempatku. Lama kelamaan aku bosan juga dengan pesta ini. Mungkin Hari ini aku Akan pulang cepat.
Saat itu, Gracey yang pergi mengambil minuman sudah kembali. Tapi pandangannya terpaku pada pintu masuk.
"Drey, sepertinya aku melihat pacarmu"
Ujarnya. Aku sedikit terkejut mendengarnya, namun itu kedengaran mustahil.
"Apa kau sudah mabuk?"
Tanyaku tidak percaya.
"Aku benar-benar melihatnya. Tidak mungkin aku salah mengenalinya. Dia masuk kemari Dan langsung pergi setelahnya"
Gracey masih ngotot menjelaskan. Kupikir dia hanya salah lihat. Aku berani bertaruh Luna tidak Akan kemari. Lagipula dia pulang larut dari bekerja. Untuk apa repot-repot kemari Tanpa bicara padaku. Jadi aku mengabaikan kata-kata Gracey.
Karena diingatkan lagi tentang Luna, aku jadi tidak ingin pergi dari pesta ini. Rasa frustasiku selalu naik tiap Kali ingat tentangnya. Aku sangat merindukannya namun tidak bisa menemuinya. Setengah mati aku menahan perasaanku setiap Hari.
"Bagaimana kalau kau pulang ke tempatku Setelah ini"
Bisik Gracey yang ternyata sudah duduk di sampingku. Dia sudah memelukku. Tangannya mengelus-elus dadaku seolah ingin menggoda.
Aku melihat ke arah Gracey. Dia salah satu teman kencanku yang Paling cantik. Dan tahu apa yang kumau. Bahkan malam ini, mengenakan one piece berpotongan rendah. Sangat seksi. Aku mungkin bisa menggunakan dia sebagai pelampiasan rasa frustasiku.
Jika aku yang dulu, mungkin aku tidak Akan berpikir Dua Kali menerima tawaran Gracey. Namun bertemu Luna mengubahnya. Aku lebih suka melihat Luna yang mengenakan pakaian panjang kebesaran, dengan wajah merah Dan histeris Melihatku bertelanjang dada. Bagiku itu lebih seksi.
"Aku pulang dulu"
Tolakku sambil menepis pelukan Gracey. Pesta ini memang membosankan bagiku.
**********************************
"Triiing...triiing..."
Aku berdecak kesal mendengarkan suara dering ponsel menyebalkan itu. Sejak tadi terus berbunyi. Padahal aku baru saja merebahkan tubuhku hendak tidur. Hari ini sebenarnya aku pergi ke klub tapi langsung pulang karena bosan. Dan sejak aku masih di klub, ponsel itu terus menerima panggilan.
Aku tidak berniat mengangkatnya apalagi melihat nama Daniel yang tertera di layar. Mungkin saja itu Luna menggunakan nomor Daniel karena panggilannya kutolak. Karena sudah berdering puluhan Kali, aku akhirnya mengangkatnya.
"Ada apa?"
Sapaku malas. Aku berharap dengan sikapku yang dingin, siapapun itu akan segera memilih menutup telfon ini.
"Luna kecelakaan"
Namun jawaban dari seberang sana sukses membuat tubuhku membeku. Kantukku langsung hilang. Jantungku juga serasa berhenti berdetak.
Apa aku salah dengar? Apa Daniel sedang bercanda?
"Dia dilarikan ke ruang gawat darurat"
Lanjut Daniel. Dan aku tahu bahwa dia tidak sedang berbohong. Suaranya panik Dan bergetar. Setelah menyadarinya, rasanya dadaku seperti dihantam sesuatu. Sakit.
Aku bergegas pergi ke rumah sakit. Terburu-buru, tidak sempat memikirkan apapun, dengan pakaian seadanya berlari kesana.
Aku memacu kencang mobilku. Tidak peduli, menerobos kendaraan lain. Sepanjang jalan, aku hanya memikirkan satu Hal, aku harus segera melihat Luna. Aku tidak bisa membayangkan jika gadisku yang rapuh itu sampai mengalami patah tulang atau hal yang lebih buruk dari itu.
Setelah berlari seperti orang gila begitu sampai di rumah sakit, aku merasakan tubuhku lemas saat melihat Luna. gadis itu sedang terbaring tidak sadarkan diri di ranjang. Dengan selang infus terpasang di lengannya. Segala pikiran buruk menghantamku tanpa ampun.
Aku menghampiri Daniel yang juga memasang ekspresi cemas di samping Luna lalu memberondongnya dengan pertanyaan bernada panik.
“kenapa dia bisa jatuh? Bagian mana yang terluka? apa kata dokter?”
Jantungku serasa ditabuh kencang saat menanyakan semua itu. Daniel tidak langsung menjawab. Dia membuat gestur yang mengatakan “tenang dulu bung”, lalu menunggu kepanikanku mereda.
Setelah aku bisa menguasai diriku, barulah Daniel menjelaskan secara detail kronologi kecelakaan itu. Luna harus memperagakan sebuah adegan aksi, saat tali sling yang menahan tubuhnya mengendur lalu terlepas. Kemudian Luna jatuh. Meskipun sudah disiapkan alat pengaman lain di bawah, karena terlempar dari ketinggian hampir 5 meter, Luna mungkin masih merasakan dampak benturan. Untungnya menurut dokter, tidak ada luka yang parah. Mungkin hanya nyeri dan lebam. Sehingga untuk sementara Luna harus beristirahat.
“Para kru sudah memeriksa semua perlengkapan termasuk tali sling sebelum syuting. Luna juga baik-baik saja saat rehearsal. Semua murni karena kecelakaan Drey. Meskipun begitu sutradara dan para kru sudah menyampaikan permohonan maafnya”
Ujar Daniel setelah melihat ekspresi marah di wajahku mendengar penyebab Luna jatuh. Daniel mungkin tahu jika aku berpikir bahwa perlu ada yang disalahkan.
Aku hanya bisa menghela nafas berat. Aku bisa menerima perkataan Daniel. Lagipula yang paling penting saat ini adalah aku bisa memastikan Luna baik-baik saja.
Namun ternyata cerita Daniel tidak berhenti sampai di situ. Menurut dokter, Ada Hal yang lebih darurat ketimbang dia jatuh. Luna mengalami kelelahan, stress, kurang gizi Dan dehidrasi. Dia sempat pingsan saat adegan jatuh itu. Karena itu dia harus menerima suntikan IV. Dan untuk membuatnya beristirahat, dokter memberikan obat tidur.
Rasanya aku seperti disambar petir. Menyadari ternyata Luna tidak dalam kondisi baik selama kutinggalkan.
"Kenapa sebagai manajer kau tidak bisa mengontrol waktu istirahat Dan makannya?"
Secara spontan aku langsung menyalahkan Daniel. Aku ingat diet berat yang harus dijalani Luna demi Syuting ini.
"Ya, aku memang salah. Tapi wanita Mana yang bisa makan Dan tidur Saat kekasihnya marah dan tidak bisa dihubungi?"
Balas Daniel menyalahkanku. Aku langsung bungkam, karena itu memang benar. Aku juga bersalah atas kondisi Luna. Ini karena aku terlalu kekanakan Dan mengikuti egoku.
********************************
Luna harus dirawat inap untuk mengembalikan kondisinya. Untuk itu aku Dan Daniel Akan bergantian untuk berjaga. Daniel Akan menjaga Luna di siang hari, Dan aku tinggal di malam hari. Jadi sekarang aku menjaga Luna sendirian.
Luna belum bangun. Dia masih tertidur pulas sejak aku datang tadi. Aku hanya bisa mengamatinya. Meskipun Daniel mengatakan tidak ada cedera parah dialaminya. Namun aku bisa melihat memar di lengannya. Belum lagi tubuhnya yang terlihat lebih kurus dari terakhir aku melihatnya. Serta wajahnya yang pucat.
Apakah Dua minggu aku tidak melihatnya? Dan selama Dua minggu ini Luna sudah terlihat berbeda. Rasanya hatiku seperti hancur. Marah pada diriku sendiri.
Aku membuat Luna berada dalam kesulitan. Aku tidak pernah berhubungan dengan aktris jadi tidak tahu betapa beratnya pekerjaannya. Luna harus menjadi orang lain di depan kamera. Berbeda dengan model Dan penyanyi. Dia harus berakting mengikuti naskah. Harus tertawa meski hatinya menangis. Harus menangis meski hatinya tertawa. Dan seperti itulah Luna melewati hari-harinya.
Aku sempat melihat naskah Luna yang dibawakan oleh Daniel tadi. Naskah yang sama yang membuatku marah padanya, tetapi sekarang membuat hatiku pilu. Naskah itu sudah lusuh dan dipenuhi coretan. Menunjukkan betapa seriusnya Luna dengan pekerjaannya.
Tetapi dia masih sempat memikirkanku. Aku baru sadar bahwa kemarin Gracey tidak berbohong mengatakan Luna datang ke klub. Pesan Lara yang tidak kubaca adalah buktinya. Lara memarahiku karena membuat Luna sedih.
Sementara aku malah dengan egois marah pada Luna. Menempatkannya pada dilema. Memilihku atau pekerjaannya. Tanpa tahu betapa berat beban dari pekerjaannya. Egois sekali aku berharap dia Akan melepaskan peran yang didapatnya dengan susah payah itu.
Suara rintihan Luna membuyarkan lamunanku. Sepertinya obat penghilang sakitnya sudah mulai kehilangan efeknya.
Sepanjang malam aku terjaga oleh rintihan kecil yang dibuat Luna dari bawah alam sadarnya. Terkadang kerutan keluar dari dahi Luna. Aku tahu jika gadis itu merasakan nyeri di sekujur tubuhnya dan merasa tidak nyaman. Meskipun aku sudah mencoba mengganjal dengan bantal di sana sini, Luna sepertinya tetap tidak bisa tidur pulas.
Aku menjadi semakin tidak tega. Dengan hati-hati aku naik ke ranjang lalu menaruh kepala Luna ke lenganku. Setelah itu satu tanganku menggosok lembut bagian tubuh Luna yang mengeluarkan lebam. Terus, hingga Luna sudah tak lagi merintih dan kerutan di dahinya mulai memudar.
“sakit..sakit..”
Luna bisa mengeluarkan keluhan lebih jelas dengan air mata yang mulai menyembul dari kedua matanya yang masih terpejam. Hatiku merasa teriris melihatnya kesakitan.
Aku mengusap tangis Luna dan membelai kepalanya pelan.
“Aku di sini”
Bisikku berkali-kali. Membuat Luna akhirnya benar-benar mulai merasa nyaman. Dia menelusupkan kepalanya lebih dalam ke dadaku dan tertidur nyenyak. Sementara aku masih terjaga memastikan Luna tidak akan terbangun tanpa diriku. sambil terus mengusap lembut punggung gadisku itu.
********************************
Sebelum Luna bangun, aku sudah lebih dulu pergi keluar. Mencari sarapan Dan memberitahu klub ku bahwa aku izin tidak mengikuti latihan Hari ini. Saat aku kembali, Luna ternyata sudah membuka Mata.
Dia sedang bicara di telfon dengan panik. Sepertinya menghubungi Daniel. Luna khawatir dengan proses syuting Dan merasa bersalah harus dirawat di rumah sakit. Dia tidak ingin sakitnya ini menghambat proses syuting.
Kemarin Daniel Dan aku sudah membicarakan ini. Daniel kasihan pada Luna Dan tahu bagaimana karakter gadis itu, yang Akan lebih memilih tetap pergi Syuting dalam keadaan sakit. Karena itu dia membuat rencana.
Kecelakaan Luna adalah kesalahan kru, sehingga Daniel memanfaatkannya dengan mengatakan bahwa Luna harus dirawat akibat kecelakaan itu tanpa menyebutkan sakitnya yang sebenarnya. Sehingga pihak produksi yang merasa bersalah memberi waktu istirahat pada Luna dan melanjutkan perekaman adegan yang tidak Ada Luna di dalamnya. Di saat yang sama, Luna bisa fokus menyembuhkan dirinya.
Sepertinya rencana Daniel itu berhasil. Luna terlihat menyerah di akhir pembicaraan mereka. Dan gurat kekhawatiran di wajahnya juga mulai menghilang.
"Bagaimana keadaanmu?"
Sapaku saat Luna sudah menutup telfonnya. Dia langsung terkejut Melihatku. Mungkin tidak menyangka bahwa aku Ada di Sana.
"Sejak kapan kau di sini?"
Tanyanya balik.
"Sejak semalam"
Aku melihat Ada binar bahagia di mata Luna mendengar jawabanku.
"Apa kau masih marah padaku?"
Tanya Luna lagi. Aku pasti sudah membuatnya sangat tertekan sampai dia menanyakan itu.
Aku masih tidak suka dengan isi naskah film itu. Aku juga tidak suka Luna beradu peran dengan Casey. Tapi Ada Hal yang lebih tidak kusukai.
"Ya, aku marah. Sangat marah. Sudah kubilang jangan melakukan Hal berbahaya. Jangan terluka. Dan kau tidak mendengarkannya. Apa kau tahu betapa khawatirnya aku?"
Jawabku.
"Kalau begitu pulanglah ke rumah. Jogging denganku, makan denganku, Dan menyambutku pulang. Rumah sepi tanpamu"
Ujar Luna sambil tersenyum. Gadis itu memang tahu betul Cara meluluhkan hatiku.
Ada getaran aneh saat aku mendengarnya. Tersentuh Dan bahagia. Dan membuat kemarahanku menjadi tidak berarti.
Aku langsung memeluknya. Berkata jujur padanya.
"Aku juga ingin pulang"
sayang sekali dri awal sdh sangat bagus tpi eksekusi di akhir nya malah ga nyambung klo bagi saya😁😁
di tunggu ya thor right chapter nya🥰🥰