Kevin Setiawan, 25 tahun, adalah seorang pengusaha muda kaya, yang kabur dari rumah karena menolak di jodohkan oleh orangtuanya.
Untuk menutupi identitasnya, dia tinggal di sebuah rumah kos dan bekerja sebagai pegawai minimarket.
Suatu malam dia menemukan seorang bayi tepat di depan pintu rumah kosnya, pertemuan dengan bayi perempuan itu membuat hidup Kevin berubah, dan kini dia menyandang status ayah.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dewi tan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Gara-gara Joni
Kevin memarkir mobilnya di depan minimarket, hari ini dia mulai masuk kerja. Sambil menurunkan stroller dari bagasi mobilnya, Kevin mulai meletakan Meira di dalam Stroller itu.
Minimarket itu nampak sepi, motor Joni tidak ada, biasanya suara Yanti juga sudah menggelegar memanggilnya.
Perlahan Kevin mendorong stroller Meira memasuki minimarketnya. Yanti nampak sedang sibuk menyusun barang di rak.
"Selamat Pagi Mbak Yanti...kok sibuk sendirian? Joni mana?" Tanya Kevin.
"Eh, kau sudah datang Mas...tau nih si Joni dari tadi susah di hubungi, biasanya dia paling rajin kalau datang!" Keluh Yanti.
Dengan sigap Kevin membantu Yanti menaikan barang-barang yang lebih berat ke atas rak.
"Biar aku saja yang mengerjakan ini Mbak! Mbak Yanti jaga kasir saja, sekalian jaga Meira!" Tukas Kevin.
"Huh! Untung hari ini kau masuk kerja Mas, kalau tidak aku bisa mati di tempat karena kecapean!" Sungut Yanti.
"Memangnya si Joni kemana sih Mbak? Dia ijin atau apa?" Tanya Kevin.
"Tau tuh anak! Padahal kemarin biasa saja, sekarang ijin malah tidak bilang-bilang! Awas saja kalau sampai ketemu, aku Gibas Dia!!"
Kevin terkekeh mendengar gerutuan Yanti. Dengan wajah kesal Yanti segera menuju meja kasir. Dia mengangkat Meira sebentar sambil mengajaknya bicara.
Tiba-tiba seorang laki-laki paruh baya masuk ke dalam minimarket itu, dia menatap Yanti dan Kevin bergantian.
"Itu mobil siapa yang terparkir di depan minimarket?" Tanya laki-laki itu. Kevin langsung mendekat kearahnya.
"Itu mobil saya Pak!" Sahut Kevin.
"Kamu??"
"Iya saya Pak....!" Tegas Kevin. Laki-laki itu mengerutkan keningnya.
"Kamu pasti sedang menyamar ya! Gajimu setahun kerja disini tidak akan cukup untuk membeli mobil itu!" Sengit Laki-laki itu. Kevin mulai ciut.
"Ta...tapi Pak, Saya baru jual tanah warisan lho...!" Ujar Kevin meyakinkan.
"Betul Pak! Kemarin teman saya ini ke Jakarta, dia ngurus tanah warisan nenek moyangnya ternyata, nenek moyangnya seorang pelaut Pak!" Bela Yanti.
"Lho! Aku juga pelaut, tapi aku tidak punya tanah, aku hanya punya satu rumah, itupun rumah warisan orang tua!" Tambah laki-laki itu serius.
"Yah....bapak saja yang tidak pandai menabung!" Cetus Kevin.
"Siapa bilang? Dulu mobilku banyak berjejer...semuanya keluaran terbaru, dan kau tau, mobilku itu adalah mobil termewah di jamannya!" Seloroh laki-laki itu.
Tak lama masuklah seorang perempuan muda, ke minimarket dan langsung menghampiri laki-laki itu.
"Ayah! Ternyata kau disini? Aku mencarimu kemana-mana, ayo kita pulang Ayah...!" Ajak perempuan muda itu sambil menarik tangan laki-laki itu.
Kemudian perempuan itu menoleh ke arah Kevin.
"Maaf ya Mas, Ayahku baru aku ajak jalan-jalan, dia pasien di rumah sakit jiwa, Ayahku mengalami gangguan kejiwaan sejak usahanya bangkrut, dulu dia senang mengoleksi mobil, makanya dia sangat antusias saat melihat mobil yang terparkir di depan itu...!" Jelas Perempuan itu. Kevin dan Yanti terperangah mendengarnya.
"Oalaa....ku pikir dia bicara sungguh-sungguh!" Seru Yanti.
"Jantungku hampir mau copot!!" Tambah Kevin.
"Dulu mobilku banyak berjejer...semuanya bagus dan mewah...!" Ujar laki-laki itu, sementara anaknya menariknya keluar dari dalam minimarket.
"Ya Ampun Mas Kevin! Ada-ada saja...kupikir dia serius...tapi ternyata gila!" Yanti menggeleng-geleng kan kepalanya.
"Iya Mbak! Aku juga sudah deg-degan...takut dia laporkan aku ke polisi...!" Kevin memegang dadanya dan menarik nafas panjang.
"Lho...kok Mas Kevin takut dia lapor polisi? Memangnya Mas Kevin salah apa??" Tanya Yanti.
"Eh...Ah....itu...yah takut saja..." Kevin menggaruk kepalanya. Sebab dia takut polisi karena takut identitasnya di ketahui.
*******
Sore itu Kevin bersiap akan pulang, Tania sudah menunggunya duduk di depan minimarket sambil menggendong Meira. Kevin dan Tania berencana akan kerumah sakit untuk pengobatan Ibunya Tania.
"Mas Kevin, masa kau tega meninggalkan aku sendirian? Kau lihat sendiri si Joni menghilang dan susah untuk di hubungi....!" Rajuk Yanti saat melihat Kevin berkemas-kemas.
"Waduh Mbak, aku sudah janjian sama Tania mau kerumah sakit...gimana ya...ini semua gara-gara si Joni!" Sungut Kevin.
"Kalau kita tutup toko cepat, kita pasti kena tegur sama boss besar...gimana dong Mas...aku takut kalau jaga toko sendirian...kalau ada maling atau rampok bagaimana? Kalau aku di culik bagaimana?" Wajah Yanti nampak cemas.
"Halah Mbak! Kau ini lebay sekali...siapa juga yang mau menculikmu? Melihat rambut keriting mu bahkan penculik juga takut Mbak...Mbak..." Ledek Kevin.
"Mas Kevin!! Benar-benar kau tidak berprikemanusiaan! Keterlaluan!" Dengus Yanti.
"Maaf...maaf deh Mbak....jangan marah...manisnya hilang lho...!" Goda Kevin. Wajah Yanti memerah seketika.
"Kita tutup toko cepat saja Mas...kalau boss tanya bilang saja toko sepi, toh boss juga tidak tiap hari kontrol toko..." Usul Yanti.
Kevin nampak berpikir, kemudian diapun Menganggukan kepalanya.
"Ide bagus tuh Mbak, sekali-kali tidak apa-apa dong tutup toko cepat...yuk kita tutup saja tokonya, aku bantu Mbak...!"
Merekapun dengan cepat menutup minimarket itu.
"Huh! Kalau bukan gara-gara si Joni, kita tidak mungkin tutup toko secepat ini...!" Sungut Yanti sambil mulai membereskan barang-barang yang ada di depan toko.
"Yaah....tokonya tutup ya Mas?" Tanya seorang yang hendak belanja ke minimarket.
"Iya...khusus hari ini tutup cepat!" Sahut Kevin sambil memasukan banner kedalam toko.
Setelah minimarket di tutup, Yanti bersiap akan pulang kerumahnya yang kebetulan tidak jauh dari minimarket itu.
"Aku antar ya Mbak...!" Tawar Kevin. Yanti melirik sekilas ke arah Tania, kemudian menggelengkan kepalanya.
"Tidak usah Mas, aku jalan kaki saja, dekat kok!" Tolak Yanti.
"Oke...yang penting aku sudah nawarin lho ya...!" Ujar Kevin.
Kemudian Kevin segera masuk kedalam mobilnya di susul oleh Tania. Kevin mulai menyalakan mesin mobilnya itu.
"Mbak Yanti tidak mau diantar Vin?" Tanya Tania yang kini duduk di sebelah Kevin sambil memangku Meira yang sudah tertidur.
"Dia tidak mau di antar, rumahnya dekat dari sini!" Sahut Kevin.
"Ooh....Apa mungkin karena ada aku??"
"Entahlah...memangnya ada yang salah dengan dirimu...?" Tanya Kevin.
"Kevin...Kevin...kau ini polos sekali...aku kan juga perempuan Vin, sama seperti Mbak Yanti..." Ujar Tania sambil tersenyum.
"Aku juga tau kalau kau ini perempuan Tania...!" Cetus Kevin.
"Ah Kevin...bukan itu maksudnya...kau sungguh tidak peka!" Sahut Tania sambil menepuk tangan Kevin dengan gemas.
Biiip.....Biiip...Biiip...
Kevin merogoh ponselnya yang sejak tadi berbunyi. Dia menatap ke ponselnya yang sudah di penuhi pesan singkat dari Paul.
[Vin! Gawat...Om Herry sudah tau kalau rekening perusahaan diambil alih olehmu...!]
[Vin...dari tadi gue telepon kenapa tidak di angkat? Gue harus bagaimana Vin? Om Herry mengintrogasi gue!]
[Kalau lu tidak jawab gue, dengan terpaksa rahasia lu gue bongkar Vin!]
Melihat pesan dari Paul Kevin membulatkan matanya.
********