Namaku Hilya Nafisah. Lahir dari keluarga sederhana dipelosok desa. Mendapat jodoh diperantauan dengan orang kaya raya. Hidup berkecukupan, semua yang ku inginkan terpenuhi.
Namun hidup tidak selalu melulu tentang uang. Aku mendapat suami yang kaya harta namun miskin hati. Selalu cuek dan dingin serta selalu mengabaikan ku. Akankah aku kuat untuk terus bertahan? Memilih cinta atau harta?
dimanakah aku akan menemukan kunci bahagia?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon an-nashihah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Apakah Dosa Cemburu Sama Suami Sendiri
Kali ini aku berbuka dirumah sakit. kakek harus dirawat inap meskipun sudah siuman tapi masih perlu alat-alat medis untuk penunjangnya. Belum boleh pulang.Masih sangat lemah bahkan belum bisa berjalan lagi.Namun sebelum asar tadi sudah keluar dari ruang ICU, sudah dipindahkan keruang rawat.
Alhamdulillah. Meskipun masih lemah tapi kakek sudah kembali bisa diajak interaksi, namun dengan bicara yang susah dipahami.
Aku dan mas Faris dari pagi belum pulang kerumah, belum mandi. Mas Faris nampaknya enggan untuk meninggalkan ruangan,berbuka puasa dan makan dilakukan didalam kamar rawat kakek.
Kini hanya ada aku dan mas Faris yang menunggu kakek.Yang lain sedang pulang sebentar. Sedangkan kakek sendiri sedang istirahat setelah makan dan minum obat.
Hening. Tak ada yang mau memulai percakapan. Aku sendiri masih merasa sedikit marah dengan pengakuan mas Faris tadi pagi, ternyata kakek yang menyuruhnya untuk tidur dikamar yang sama dengan ku.Tapi aku bisa apa?
"Assalamualaikum." Terdengar suara salam dan pintu terbuka.
"Waalaikum salam." Nampak Hamzah dan Azlin masuk.
Azlin adalah anak angkat kakek paling muda, baru kelas 3 Sekolah Dasar. Jangan tanya berapa jumlah anak angkat kakek, aku tak tahu pasti. Kalo yang saat ini tinggal dirumah ada sepuluh orang,dan Hamzah salah satunya.Beberapa sudah pindah berkeluarga dan ada juga yang mencari ilmu keluar kota.
"Kalian kesini tak bawain kami baju ganti?" Ku lihat mereka hanya membawa rantang makanan.
"Nggk.Kalian pulanglah dulu,biar kami ganti yang jaga kakek.Kami nggk berani masuk kamar kalian untuk mengambil baju ganti ." Jawab Hamzah duduk disamping mas Faris yang masih diam melamun.
Kayak ada hantunya aja pake nggk berani segala.
Aku sebenarnya belum rela meninggalkan kakek.Takut jika saat kami pulang kesehatan kakek turun lagi.Tapi sungguh badanku rasanya gerah banget, lengket semua.Dari pagi belum mandi, karna bangun langsung kerumah sakit.
"Pulanglah dulu! Percayakan kakek sama kami sebentar." Ucap Hamzah menepuk bahu mas Faris pelan, menyadarkannya dari lamunan. sedang Azlin berdiri disampingku,samping kakek.
"Lihatlah! Bajumu masih sama saat kau datang." Kayaknya Hamzah ini lumayan dekat dengan mas Faris .
"Aku nggk mau ninggalin kakek." Jawab mas Faris menggeleng pelan. Tak mau beranjak pergi, meskipun memang pakaiannya sangat berantakan. Kalo aku meskipun tadi tak mandi pagi tapi tetap ganti baju, tak mungkin keluar pake baju tidur kan?
"Nanti kalo ada sesuatu langsung kami kabari." Bujuk Hamzah lagi.
Aku hanya diam. manut aja aku mah. sedangkan Azlin mulai membuka Al-Qur'an untuk dibaca. Azlin orang yang pendiam, lebih suka membaca. Kutu buku.
"Kamu pikir kakek senang jika lihat cucunya seberantakan ini? Pulanglah dulu nanti kesini lagi." Aku hanya mendengarkan.
"Tapi kamu janji akan mengabarkan apapun perkembangan kakek." Akhirnya.
"Sip. Janji." Setuju Hamzah
Mas Faris berdiri mendekat.
"Kek, Faris pulang sebentar ya. Kakek cepat pulih ."Pamit mas Faris menggenggam tangan keriput kakek, dan mencium punggung tangan itu.
"Yuk pulang dulu." Mau ngajak siapa coba?
"Assalamualaikum."
"Waalaikum salam. "Jawab mereka serempak.
"Hati-hati dijalan,jangan ngebut." Pesan Hamzah.
"Aku pulang dulu ya!" Pamitku.
"Iya non." Padahal sama mas Faris pake aku kamu, kenapa aku masih pake non aja sih. Tapi biarlah, aku lagi nggk mood banyak bicara.
Aku dan mas Faris keluar bertepatan dengan beberapa anak yang mau masuk.
"Mau pulang mas?"Tanya salah satu dari mereka.
"Pulang lah dulu mas, gantian kami yang jaga." sambung yang lain. Mas Faris tak menjawab, hanya tersenyum dan mengangguk tanda mengiyakan.
Memang mas Faris itu tak banyak bicara atau karna ada aku aja? Karna waktu itu dia nampak cerita seria dengan kawan SMA nya.
Sebenarnya siapa sih yang membuat kita sakit hati? Kebanyakan rasa sakit hati yang kita rasakan adalah kita sendiri yang menciptakan, dengan buruk sangka, iri dan cemburu. Tanpa mau menyelidiki dulu apa yg terjadi.
Aku masih diam. Hingga menaiki mobil berjalan pulang aku masih diam. Mas Faris pun juga diam .
"Kamu kenapa? Dari tadi diam aja. Ada yang mengganggu pikiranmu?" Tanya mas Faris memecah keheningan.
Tumben kan perhatian. Tapi aku tak ingin merasa bahagia, takut sakit hati lagi.
"Aku nggk papa." jawabku, melihat keluar jendela enggan untuk melihatnya.
"Beneran? Diammu tak seperti orang yang lagi sedih. Kamu lagi marah?Kecewa?."
"Aku sangat kecewa dan juga marah." Ingin rasanya ku berteriak begitu,namun suara teriakanku tercekat di kerongkongan.
"Aku nggk papa." Hanya kata itu yang keluar. Ku coba melihat mas Faris dan memasang ekspresi meyakinkan.
"Aku tak akan mengulang pertanyaanku. Aku tak akan memaksamu bicara." Ucapnya serius.
Mas Faris sedang mengizinkan ku bicara bukan? Apakah aku boleh bertanya tentang Rani dalam situasi seperti ini?
"Oke. Simpan sendiri masalahmu selamanya." Lanjutnya.
Apa maksudnya coba? Apakah ini suatu ancaman untuk hubungan ini? Atau hanya gertakan agar aku mau bicara? Baiklah, ku coba terbuka dengan suami, tanpa ada yang ditutup-tutupi.
"Tapi mas janji nggk boleh marah?"
"Hemm." Ku anggap itu tanda setuju.
"Mas ada hubungan apa sama si Rani yang katanya teman SMA itu?"
"Itu udah kamu jawab." Jawabnya ketus.Rasanya pengen marah dengan jawabannya.
Bukankah tadi dia yang minta aku cerita jika ada masalah? Tapi kenapa tanggapannnya tak berminat gitu? Bikin malas.
"Mas dari dulu sama aku cuek banget,selalu bersikap dingin ,selalu menghindar jika diajak bicara, tak banyak bicara..." Ku coba bercerita.
"Kalo aku menghindar. Trus kamu apa namanya kalo sampai pergi kerumah kakek tanpa minta izin." Potongnya.
"Kan aku udah bilang kemaren kalo aku mau kerumah kakek." Berusaha membela.
"Iya kamu memberitahu. Tapi apakah aku mengizinkan?"
Kenapa malah jadi aku yang disalahin sih. Seharusnya aku yang marah. Kenapa jadi begini?
"Kamu belum jawab pertanyaan awalku. Ada hubungan apa mas sama Rani? Sama dia mas bisa cerita, bisa tertawa , bisa bersikap hangat.Beda banget kalo mas lagi sama aku. Mas punya hubungan spesial sama dia?" Ocehku panjang, karna tak mau disalahkan.
Eh, dia malah diam, fokus pada jalanan. Tak menanggapai ucapanku.
"Mas." Teriakku marah.
"Apa lagi? Kan aku dari awal sudah bilang kami hanya kawan lama, kawan SMA. Sudah bertahun-tahun tak bertemu, baru bertemu saat reunian dan kemaren itu waktu makan juga tak sengaja ketemu.Dia mau pulang nunggu jemputan suaminya. Lagian dia juga sudah menikah, sudah punya anak." Jelasnya tanpa ragu. Kayaknya jujur deh.
"Tapi mas bertemu dengannya dari waktu makan siang sampai sore kan mas. Apa yang mas bahas? Kenangan tentang mantan...?" Ku lihat wajahnya berubah, namun sesaat kemudian biasa lagi.
"Kita cuma cerita biasa. Tidak ada yang spesial."
"Bukankah dia dulu juga kuliah di Jakarta?"
"Katanya. Tapi Jakarta itu luas dan padat penduduk. Disana aku tak pernah ketemu dengan dia, beda kampus. Yang satu kampus aja belum tentu ketemu, apalagi satu Jakarta." Jawabnya sambil tersenyum samar.
"Emang kenapa? Cemburu kah? Atau jangan-jangan kamu mengunci diri dikamar dan kabur kesini karna cemburu? Bahkan sampai nyuruh aku nikah lagi." Aku palingkan wajahku tuk lihat jalanan, tak ingin mas Faris lihat wajahku yang tersipu karna malu.
"Hemm? Atau..?" ucapnya menggantung.
"Apakah dosa cemburu sama suami sendiri?" tanyaku.
Mas Faris tak menanggapi,hanya tertawa pelan.